Search
Close this search box.

Mengenang Trubus Sudarsono, Mengenang September Hitam

Trubus Sudarsono adalah seniman korban genosida oleh negara (manuver Angkatan Darat di bawah Soeharto dan memanfaatkan ormas serta didukung CIA) terhadap kaum kiri dan komunis/dituduh komunis; pasca Gestapu (Gerakan 30 September) 1965 hingga 1966; padahal karya-karyanya pernah dielu-elukan negara.

Ketika Kabul Melazimi Lebah Berkoloni, Melihat Bagaimana Sebuah Bentuk Menjadi

Seanyam Trubus hingga Tuwuh, Semekar Bunganya Wisnu Ajitama

MEMBAYANGKAN KEMBALI ARSIP DAN KERJA-KERJA MERAWAT: Refleksi Jelang 10 tahun CIVAS di ITB

Liputan Khusus
Daya Tradisi Kamasan Bali: Meneroka Seni Rupa Kontemporer Bali sebagai Fondasi Timur Merah Project
Daya Tradisi Kamasan Bali: Meneroka Seni Rupa Kontemporer Bali sebagai Fondasi Timur Merah Project
Band Sukatani yang menghadapi penyensoran Lagu Bayar Bayar Bayar oleh pihak kepolisian (Dok. detikpop)
Antara Seni yang Dirayakan dan Seni yang Dibungkam, Adakah Sempadan?
Biennale Anonim: Kekuratoran Kolektif dalam Jakarta Biennale 2024
Biennale Anonim: Kekuratoran Kolektif dalam Jakarta Biennale 2024
SG Contemporary: Memantau Kawasan Seni Rupa Kontemporer (Tetangga) Kita?
SG Contemporary: Memantau Kawasan Seni Rupa Kontemporer (Tetangga) Kita?
ARTJOG (2023) dan Sejarah Kecil-Kecilan: Dan Kaki Seni Kontemporer Indonesia
ARTJOG (2023) dan Sejarah Kecil-Kecilan: Dan Kaki Seni Kontemporer Indonesia
Terbaru

The Office Aesop; Manusia Menatap, Merasakan, Memaknai, Menyikapi Seni

Berangkat dari renungan seniman Auditama Nugraha atas dunia ketergesaan, hadir susunan objek hewani hingga…

Adakah Situasi Kondusif bagi Seniman untuk Berkampanye?

Membaca karya Studio Pancaroba di Sewu Satu, meninjau cara seni dalam membangun sebuah narasi…

Kajian Artistika dalam Seni Kontemporer Bali: Kilas Catatan Moderator

Sebuah diskusi yang menemukan perbedaan antara disiplin (ilmu) dan ilmu, langkah-langkah berkesenian dalam menghadapi…

Jika Sebatas Estetika, Tatah Jepara Sudah Lama Mati

Esai atas pameran “Tatah: Suluk, Sulur, Japara” dengan menyoroti praktik seni kriya ‘ukir-tatah’ kayu…

Mengapa Terkesan Kembali pada Zaini?

Dewan Kesenian Jakarta mengajak kita “Menyibak Kabut” yang menyelimuti pelukis Zaini (1926-1977). Lantas, ada…