Search
Close this search box.

Mudahnya Mencari Makna di Biennale Jogja 18

Jumat bulan lalu (21/11), muncul ulasan dan kritik atas perhelatan dua tahunan, Biennale Jogja 18 (Babak I: 19/9 - 24/9 dan Babak II: 5/10 - 20/11) bertajuk "Kesulitan Mencari Makna di Biennale Jogja 18" (whiteboardjournal.com, 2025) dari seorang penulis dan kurator yang bekerja di Salihara, Jakarta, Ibrahim Arimurti Rashad, yang dikenal dengan nama, Ibrahim Soetomo. Tulisan itu menuai perhatian yang menggugah dari khalayak. Hampir seminggu kemudian, tepatnya Kamis (27/11) redaksi kami menerima surel berisi tanggapan atas kritik tersebut. Kini redaksi menyajikan utuh tanggapan dari seorang penulis dan seniman bernama, Darryl Haryanto, yang berkarya independen di Yogyakarta.

— Tanggapan atas Ibrahim Soetomo

Pertama-tama, perkenankan saya untuk mengatakan, bahwa saya begitu jijik melihat seni kontemporer dan dunianya sekarang. Dalam segala kekurangannya, tulisan pendek ini akan menjabarkan alasannya. Selamat membaca!

Yang Membekas dan Yang Naas dari BJ18

Telah diselenggarakan, pada September (Babak Satu) dan Oktober hingga November 2025 (Babak Dua), Biennale Jogja 18 – KAWRUH: Tanah Lelaku (BJ18), suatu pameran seni kontemporer yang berusaha mendekolonisasi praktik dan gagasan tentang seni dan budaya di/dari Selatan Global. Tepat sehari setelah usai, terbit semacam kritik untuk BJ18 dari Ibrahim Soetomo yang begitu mengharukan. Artikel yang bertajuk “Kesulitan Mencari Makna di Biennale Jogja 18” itu secara garis besar mempersoalkan teknis dan manajemen pameran BJ18, khususnya Babak Dua, yang tidak mengonversikan karya seni dengan tepat, sehingga berdampak besar dalam memperantarai penghayatan artistik. Ibarat kata cinta yang “dari mata turun ke hati”, perjalanan visual itu tak mulus di Ibrahim, tidak ada cinta di BJ18. Tidak ada kerja-kerja perawatan dalam komunikasi bersama khalayak, tidak ada harapan atas jalinan reseptif yang berarti, tidak ada seni karena ia terhalau kecacatan manajemen ekshibisi, sehingga, naas, Ibrahim kesulitan mencari makna. Ringkasnya, bagi Ibrahim, BJ18 adalah suatu pameran yang berantakan.

Fasad Toko Purnama, Kasihan, Biennale Jogja 18 KAWRUH: Tanah Lelaku Babak II. Di tengah desa, setengah dibangun, beragam regional terjalin. Apakah lantai berpasir abu itu tidak mengingatkan kritikus kita pada jejaring regional yang setengah jadi, ketimbang kendala teknis? (Foto: Dok. Biennale Jogja)

Kenaasan tambah-tambah akut ketika Ibrahim menjelaskan kepada kita, dari pembacaan atas persoalan teknis itu, bahwa BJ18 terkesan melihat desa hanya sebagai ruang pamer. Sejak 2023, BJ18 memulai putaran kedua tawaran gagasannya atas jejaring wilayah Selatan Global yang berporos pada gagasan transhistorisitas dan translokalitas, yang menghubungkan pengetahuan antar kelokalan dan antar kelokan sejarah dari Selatan Global dengan semangat dekolonial untuk merawat, membongkar, sekaligus merayakan pengetahuan dan pendekatan historiografi berorientasi pada subjek-subjek yang selama ini terpinggirkan (baca: warga, benda, alam, dan seterusnya). Kurang-lebih begitulah niatnya. Desa bukan hanya venue untuk menggelar panji-panji dekolonisasi, melainkan situs pengetahuan yang berhadapan dengan perubahan-perubahan dunia. Namun, bagi Ibrahim, BJ18 belum sepenuhnya siap dengan ruang desa. Ketidaksiapan itu berimbas pada keoknya proses komunikasi karya yang “menghalau pengetahuan, menghambat penghayatan, dan kita pulang seringnya tanpa kesan.”

Lebih gokil lagi, kritik Ibrahim lumayan tersorot publik seni dan budaya, alias cukup agak sedikit viral. Di postingan @whiteboardjournal yang berkolaborasi dengan @ibrahimsoetomo, hingga saat saya menulis catatan ini, ada sejumlah 2.489 akun menyukai, 39 komentar, 142 posting ulang, dan 312 membagikan ke ruang lain. Bjir! Tidak sedikit, kawan-kawan saya, meskipun dalam fitur cerita Instagram yang sementara lagi tertutup dalam teman-dekat, mengomentari kritik Ibrahim. Tidak sedikit yang merindukan kritik seperti ini, tetapi juga banyak yang mempertanyakannya. Inikah sesuatu yang konon kita bicarakan selama ini sebagai kritik seni? Komentar publik mengarahkan, Ibrahim absen melihat BJ18 yang merupakan ajang seni kontemporer. Konon, lanjut lagi dari omongan-omongan tersembunyi dari publik itu, acara semacam ini tidak layak dibaca hanya dari teknis ekshibisi remeh-temeh dan permukaan itu, wacana dong!

Sebaiknya, Ibrahim melihat juga lapisan-lapisan proses, konteks, dan subjek terlibat, agar supaya pembacaan karya seni kontemporer bisa lebih bergizi wacana bagi tumbuh-kembang kebudayaan kita yang stunting permanen ini. Demikianlah polemik retoris yang banyak saya temukan di fitur cerita Instagram, hadir menuruti ontologi mediumnya, menghilang dalam 24 jam atau tersembunyi dalam fitur teman dekat anti cepu (Barangkali, ekosistem kritik seni telah begitu mengkhawatirkan ancaman kepunahannya sampai-sampai tak disadari atau tak mau disadari telah berubah menjadi comberan gosip yang lezat sekaligus menjijikan, sehingga hanya mahir atau lebih-dari-mahir memproduksi gogon-gogon (gosip underground) ganas yang cepat panas, cepat hilang, cepat terulang).

Tanpa perlu terburu-buru setuju, tidak setuju, malu-malu setuju, malu-malu tidak setuju, atau semacam pasrah dengan seni kontemporer, alangkah bijaknya kita bertanya dulu. Jika betul bahwa BJ18 adalah pameran yang berantakan, jika betul bahwa makna sulit ditemukan dalam kondisi yang caur begitu, jika betul serangkaian proses, konteks, gagasan dan pengetahuan warga terhalau. Mengapa, dalam dari ratus-ribu fenomena seni dan budaya, seperti yang sedikitnya terjadi dalam kasus BJ18 ini, cara baca kita terasa begitu miskin?

Panggung Pembukaan BJ18 bersama instalasi dari Perupa Kulon Progo dan Ismu Ismoyo. Apakah kritikus kita tidak mau menyelidiki gestur-gestur pejabat seni di atas panggung ini? (Foto: Dok. Biennale Jogja)

Misalnya, mengapa Ibrahim merasa cukup menyimpulkan seni dan biennale dari suatu lokasi dalam bentangan negeri-negeri kacrut lagi rombeng yang kita kenali kini sebagai “Selatan Global” itu dengan meratapi teknis manajemen acara tanpa berusaha memahami aparatus pemikiran yang berlangsung di belakang, depan, samping, dalam, luar dan sekitarnya? Dan mengapa, hingga saat kalimat ini tertulis, tak kunjung saya temukan seseorang yang berusaha menantang cara baca Ibrahim itu secara terbuka, konstruktif, lantang?

Barangkali timbul pertanyaan, apakah tanggapan saya ini semacam apologi? Tentu saja tidak dan jangan harap. Betul, saya terlibat di BJ18 dalam sesuatu daripada dwifungsi, yaitu sebagai seniman Asana Bina Seni di Babak 1 dan pengunjung biasa seperti Ibrahim di Babak 2. Saya tidak akan menjelaskan proses kerja-kerja artistik kami (saya bersama warga dan kawan-kawan lain) di Padukuhan Boro II, apalagi membelanya mati-matian. Saya juga tidak akan menjelaskan satu per satu karya Babak 2 sebagaimana exhibition sitter atau dalam program tur situs dan memberi sanggahan atas temuan-temuan Ibrahim. Saya akan menjelaskan, bahwa begitu mudah mencari makna di BJ18!

Yang Kita Butuhkan dalam Kekacauan

Saya menuduh kritik Ibrahim ignoran. Tulisannya kere mampus, hanya mempertimbangkan kekacauan manajemen teknis pameran BJ18 yang menyulitkannya mencari makna dari karya seni lalu menyimpulkan BJ18 berantakan. Ia berusaha (atau tidak berusaha) mendangkalkan tulisannya dengan menyingkirkan seni dari kenyataan yang membuatnya ada.

Karya “City Roots” oleh Faris Wibisono pada Pendhapa Art Space, Biennale Jogja 18 KAWRUH: Tanah Lelaku Babak II. Jika KAWRUH adalah pengetahuan dari warga, tidakkah kritikus kita ingin menyelidiki pengetahuan semacam apa yang berlangsung dalam image-image Faris ini, yang dengan mudah kita temukan tanda-tanda atas ukuran-ukuran Utara di sana? (Foto: Dok. Biennale Jogja)

Saya sepakat dengan netizen, bahwa Ibrahim sepatutnya memperluas caranya melihat BJ18 dan karya seni kontemporer di dalamnya, yaitu dengan mempertimbangkan teks karya itu juga konteks lain darinya seperti proses, gagasan, latar belakang, hingga riset artistiknya. Tapi, tentu saja, tidak dengan niat untuk membantunya berbalik memuji-muji BJ18, melainkan untuk menambah data kekacauan untuknya. Mudahnya, saya sepakat, BJ18 memang pameran yang berantakan, tetapi bukan hanya karena kekacauan manajemen teknisnya, melainkan juga pada prosesnya!

Negara, misalnya, yang bertanggung jawab pada banyak kekacauan yang terjadi belakangan, disembunyikan rapat-rapat dari tulisan. Tahun ini, ada luka pada setiap kita sebagai warga, sebagai pekerja seni dan budaya, yang datangnya banyak dari negara, dan BJ18 berlangsung dalam kekacauan itu (rasanya, saya tidak perlu menyebutkan satu-satu kekerasan yang masih segar dalam duka dan memori kita-kita, bukan?). Bagaimana BJ18, karya seni di dalamnya, dan seniman-senimannya berhadapan dengan kenyataan itu? Apakah kita dapat menemukan respons dari BJ18, selain postingan “HENTIKAN BRUTALITAS POLISI” atau pernyataan sikap solidaritas?

“Kyai Raja Jeruk” oleh Marten Bayu Aji pada Museum Benteng Vredeburg, Biennale Jogja 18 KAWRUH: Tanah Lelaku Babak II. Tersembunyi di balik toilet, tanpa kejelasan peta, menyulitkan Ibrahim mencari makna. Apakah hanya ini yang kritikus kita lihat? (Foto: Dok. Biennale Jogja)

Tentu saja, kita semua tahu, BJ18 mungkin bergerak hanya secara terbatas. Ia diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Jogja yang dananya disokong negara (selain donatur, dilarang ngatur, bos). Sebagai agen kebudayaan negara, perpanjangan tangan kanan Kementerian Kebudayaan, BJ18 tidak atau tidak bisa segera merespons kekacauan-kekacauan sehari-hari itu dalam kecepatan yang sama dengan institusi dari bidang-bidang lain. Hidup mungkin harus terus berjalan dan seni kontemporer bisa mengiringinya dengan pendekatan kultural (perlahan-lahan, halus, kritis, budiman lagi cendekia) sambil menggiringnya dalam harap-harap cemas di kelokan sejarah yang lain. Tentu saja, barangkali memang kita tidak dapat berharap banyak pada seni kontemporer untuk mengubah sesuatu dengan segera, apalagi yang didanai negara.

Dan, tentu saja, dengan begitu, kita perlu malu pada diri kita sendiri sebagai individu, sebagai masyarakat bersama subjek lain, sebagai bangsa, sebagai pekerja seni dan budaya, bahwa ternyata kita telah gagal lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi membuat suatu ruang hidup bersama yang setidak-tidaknya sedikit saja kurang menyakitkan, sedikit saja membuat kita merasa layak untuk bertahan sedikit lebih lama, sedikit saja.

Ibrahim tidak berusaha melihat kondisi itu sebagai kemungkinan kritik dan memilih merengek ketika penanda arah di Vredeburg ditemukannya. Ia tidak ingin turut serta dalam perjuangan politik bersama yang terjal. Ia tidak ingin melihat, misalnya, pameran tribut Mia Bustam di Vredeburg diadakan berparalel dengan ironi pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Barangkali, dengan sedikit tambahan usaha, juga menjelaskan kepada pembaca, bahwa pameran ini bisa jadi cara alternatif bagi transmisi-transformasi pengetahuan atas genosida 1965 kepada generasi-generasi baru. Dan, melalui kritiknya yang tidak ada, BJ18 bisa menegaskan posisinya melalui pameran itu, sebagai perspektif untuk melihat sejarah kita yang telanjur absurd sempurna sekarang. Kritik Ibrahim adalah kritik yang enggan kritis pada sejarah dan perjuangan panjang untuk merawatnya.

Renungan atas kerja-kerja kesenian sebagai kerja-kerja perawatan juga dibaca Ibrahim hanya pada ranah praktis penuturan pameran untuknya dan publik sebagai konsumen pasif. Apakah Ibrahim tidak ingin melihat, membaca, atau bergaul secara aktif dengan kerja-kerja perawatan yang turut menyokong BJ18? Bicara, misalnya, dengan subjek-subjek pekerja: tim pameran, komunikasi, program, produksi, dan seterusnya, atau khususnya warga sebagai kolaborator utama. Apakah Ibrahim tidak ingin mengkritisi tekanan yang dihadapi sukarelawan BJ18, atau relasi kuasa dalam kerja-kerja BJ18 yang belum dapat diatasi dengan baik itu, atau kerja-kerja tanpa kontrak, atau mantra-mantra dekolonisasi yang kadang-kadang terasa aneh ketika melihat kerentanan pekerja seni serabutan di BJ18, atau kerja-kerja emosional penuh waktu antar pekerja BJ18? Ibrahim hanya mau melihat keterangan karya yang berantakan.

Karya “Artist as Meatball Seller” oleh Shoosie Sulaiman dan Ayaka Yoshida pada Biennale Jogja 18 KAWRUH: Tanah Lelaku Babak II. Pengetahuan lokal dari bakso. Jika saja ia menuliskannya, maukah kritikus kita menyelidiki dari mana kedua seniman itu memulai semua ini, ketimbang mengeluh atas kursi bakso atau mangkok yang kurang layak, misalnya? (Foto: Dok. Biennale Jogja)

Dalam situasi sekarang, kritikus dengan pendekatan semacam inikah yang kita butuhkan? Saya pikir, kita butuh kritikus yang melibatkan diri pada fenomena-fenomena seni, budaya, dan hubungannya dengan konteks-konteksnya yang sedang diupayakan menuju perubahan dalam perjuangan politik berjangka panjang lintas semangat juga perspektif (kelas, gender, dekolonial, dan seterusnya). Kita butuh kritikus yang sungguh-sungguh ingin terlibat konkret untuk terlibat mengubah keadaan melalui pembacaan kritis atas karya seni. Kritikus semacam itu akan terhindar dari musibah kesulitan mencari makna. Justru akan sangat mudah baginya, karena makna tidak tersangkut di ujung menara adilihung seni kontemporer atau terdistraksi atensi yang lain, seperti peta yang tidak ada atau informasi yang tidak imbang, melainkan justru berada di mana-mana. Makna ada dalam kegagalan BJ18 beserta kerapuhan-kerapuhan menjadikannya ada. Dalam minimnya kritik BJ18 terhadap kekacauan yang terjadi belakangan. Dalam kerentanan pekerja BJ18. Dalam alasan di balik berantakannya manajemen teknis pameran di BJ18. Makna tidak ada dalam kritik yang cengeng. Kita tidak butuh kritikus yang enggan kritis memandang keadaan-keadaan genting dalam pergolakan artistik dan sekitarnya.

Tanggapan ringkas ini boleh jadi sama kerenya dengan kritik Ibrahim, mungkin sama mental gogon-nya dengan publik seni di snapgram itu, persis sama berantakannya seperti BJ18. Namun, sesungguhnya, tulisan ini diniatkan sebagai undangan awal untuk bersama-sama memikirkan ulang sesuatu yang selama ini kita panggil-panggil dengan nama-nama seperti “seni”, “sejarah”, “politik”, “kritik” atau “Biennale” dan berhenti bertingkah menjijikan dengan mempertahankan pengetahuan yang Anda miliki dalam gosip. Kita butuh lebih banyak kritik yang gokil!