Biennale Jogja 18: Membaca Kurasi sebagai Negosiasi Publik

Anam Khoirul
Biennale Jogja 18 (2025) barangkali suatu fenomena yang memicu diskursus quo vadis seni rupa kontemporer kita. Pertama kali menuai tanggapan kritis dari Ibrahim Soetomo (whiteboardjournal.com, 21/11); kemudian menuai respon pertama dari Darryl Haryanto (senirupa.id, 27/11). Efek respon Darryl mengundang pelbagai tanggapan-tanggapan seperti curhat Dhuha Ramadhani (sudutkantin.com, 5/12), hingga yang terbaru tanggapan dari Febrian Adinata Hasibuan (whiteboardjournal.com, 18/12). Tulisan ini diterima redaksi (20/11) dengan beberapa penyesuaian editor hingga terbit hari ini (21/11). Sila simak ulasan dan tanggapan elaboratif dari Anam Khoirul.
Tidak ada artikel lagi untuk ditampilkan
Powered by
Supported by