Search
Close this search box.

Kembali ke Kalimantan, Misbach Tamrin Dilanda Rindang Banua

Setelah tujuh dekade bergelut dalam dunia seni rupa, untuk pertama kalinya Misbach Tamrin, seniman asal Amuntai, Kalimantan Selatan menggelar sebuah pameran tunggal bertajuk Rindang Banua yang dikuratori oleh Hajriansyah. Pameran yang berlangsung 23 November—4 Desember 2025 ini menjadi pameran tunggal kedua kalinya (sebelumnya 2015) sejak berkarier sebagai pelukis pada 1957. Hal ini menjadi seteleng khusus perdana bagi Misbach Tamrin yang digelar di tempat ia berasal dan tinggal, terhitung semenjak kembali dari Yogyakarta pasca genosida 1965-1966 silam. Dalam usianya yang tidak lagi muda ini, apa yang baru dan apa yang berubah dari anggota sanggar legendaris "Bumi Tarung", yang konon pada 1960an sangat anti abstrak dan sempat dianggap lebih kiri dari Lekra itu sendiri?

Setelah tujuh dekade bergelut dalam dunia seni rupa, untuk pertama kalinya Misbach Tamrin, seniman asal Amuntai, Kalimantan Selatan menggelar sebuah pameran tunggal di kampung halamannya sendiri. Begitu memasuki ruang pamer yang terletak di kompleks Taman Budaya Kalimantan Selatan ini, karya yang pertama tersaji yakni lukisan besar yang menggambarkan Perang Banjar, dengan Pangeran Antasari sebagai pangliman perang menjadi objek sentral dalam lukisan tersebut. Perang kolosal mengusir kuasa kolonial Belanda dari wilayah Kasultanan Banjar ini menjadi cerita turun temurun sekaligus melegenda bagi rakyat Kalimantan Selatan hingga hari ini.

Demikianlah sajian pembuka dari pameran lukisan bertajuk Rindang Banua yang dikuratori oleh Hajriansyah. Digelar sejak 23 November—4 Desember 2025, inilah untuk pertama kalinya sejak berkarier sebagai pelukis pada 1957, sebuah seteleng khusus bagi Misbach Tamrin digelar di tempat ia berasal dan tinggal semenjak kembali dari Yogyakarta pada 1965 silam. Dalam usianya yang tidak muda lagi, ia masih terus terus produktif berkarya dan kembali menggelar sebuah pameran tunggal setelah terakhir pada 2015 silam. Apa yang baru dan apa yang berubah dari pameran tunggal Misbach Tamrin kali ini?

Lukisan Arakan Pengantin Banjar yang menggambarkan prosesi tradisi pernikahan masyarakat Banjar pada umumnya, dengan sungai dan tepiannya sebagai ruang hidup komunal turun temurun. Dilukis secara khusus oleh Misbach Tamrin untuk pagelaran pameran tunggal perdananya di Taman Budaya Kalimantan Selatan ini. (Foto: Dok. Penulis)

Tema yang “Bergeser”

Diambil dari bahasa Banjar, rindang banua secara harfiah dapat diartikan sebagai rindu kampung halaman/tanah air tempat berasal. Perhelatan Rindang Banua menampilkan pilihan karya Misbach dari berbagai periode mulai dari 1970-an hingga yang terkini, yang khusus dibuat sepanjang tiga bulan jelang pameran digelar. Setidaknya, ada 13 karya yang secara khusus dilukis pada tahun ini guna ditampilkan untuk gelaran pameran tunggal kedua sepanjang kariernya ini. Sedangkan 9 lainnya merupakan karya-karya lama yang berasal dari tahun yang beragam. Dikenal sebagai seorang yang turut serta dalam sebuah gerakan seni rupa yang mengusung tentang perjuangan dan pembebasan rakyat, rasanya perhelatan kali ini menghadirkan sisi yang agak berbeda dari tema-tema yang selama ini lekat dengan citra seorang Misbach Tamrin.

Satu hal yang tetap dari gaya lukis Misbach adalah pada cara ia mempertahankan garis vertikal gelap-terang dalam setiap lukisannya. Gaya ini ia akui sebagai sebuah ciri khas yang sebetulnya terbilang baru, dilakukan sejak periode 2000-an. Memang sangat kontras sekali dengan gaya lukisan Misbach dari periode sebelumnya yang nuansa mooi indie-nya cukup kental terasa. Gambaran tentang sungai yang mengalir, hutan yang lebat di kiri-kanan, hingga gunung yang menjulang di latar belakang menjadi citra utama dalam karya-karyanya yang digambar pada periode sebelum 1998. Dari amatan sekilas terhadap berbagai lukisan yang ditampilkan, langsung dapat dengan mudah ditengarai mana yang berasal dari periode ketika Orde Baru masih tegak berdiri sebagai sebuah rezim yang mengekang dan menindas, serta mana yang dilukis ketika Reformasi telah bergulir.

Entah kebetulan atau tidak, karya-karya Misbach dalam pameran ini kemudian menjadi suatu penanda zaman, membangun sebuah garis batas bagaimana politik dan kekuasaan dalam beberapa aspek tertentu turut memengaruhi pilihan gaya seorang seniman. Tentu saja nyaris musykil bagi seniman untuk menghasilkan gambar-gambar yang kritis, satir, maupun bercorak realisme sosialis ketika rezim diktator yang amat antikomunis tersebut berkuasa dan sedang dalam masa jayanya. Ketika akhirnya Orde Baru tumbang pada 1998, kebebasan berekspresi dapat dirasakan dengan luas sehingga karya yang jauh lebih tegas, menggelegar, dan menghantam relatif aman-aman saja untuk dihasilkan. Sedikit banyak, karya-karya Misbach dapat terbaca dengan alur demikian.

Tajuk utama pameran ini tentu saja merupakan pantulan dari apa yang digambarkan oleh Misbach, terutama dalam 13 karya baru yang ia gambar khusus untuk perhelatan ini. Misalnya saja selain Perang Banjar yang sudah disebutkan di atas, lukisan-lukisan lainnya bertajuk Pasar Terapung, Patung Bekantan, Loksado, Pantai Takisung, yang kesemuanya merupakan ikon Banjarmasin dan Kalimantan Selatan secara umum. Meski demikian, ia tidak meninggalkan sama sekali gaya realisnya yang tetap menghadirkan suasana tempat-tempat itu secara apa adanya. Satu karya yang juga menjadi ciri khas Misbach saya kira ada pada lukisan Pengantin Banjar, di mana ia menggambarkan arak-arakan calon pengantin menuju rumah mempelai. Ada pula lukisan Keluarga Pendulang Intan yang memperlihatkan karakter realisnya yang masih tetap tidak bisa hilang dari diri seorang Misbach Tamrin.

Diskusi Bincang Seniman Misbach Tamrin bersama Hajriansyah yang menjadi kurator dalam pameran ini pada 28 November 2025. (Foto: Dok. Penulis)

Nuansa kerakyatan dan realis yang selama ini menjadi ciri seorang Misbach masih tetap terasa dan tampak sekali dalam pameran ini, meski cara ia menghadirkan tidak segamblang pada karya-karyanya sebelumnya. Kendati objek sepertinya bergeser menjadi lebih kalem, menghadirkan simbol-simbol yang selama ini kerap menjadi ikon pariwisata, dan memotret keindahan banua, tapi tetap ada detail-detail kecil yang terekam dari karya-karyanya. Detail tentang rakyat dengan kehidupan sehari-harinya, mulai dari acara pengiring pengantin tadi, para pedagang di pasar terapung, kerbau-kerbau sungai mencari makan, orang-orang yang berwisata di pantai, sampai hiruk pikuk di pusat kota, menjadi subjek utama dari karya-karyanya yang “kangen kampung halaman” ini.

Hadir sebagai Diri Sendiri

Sosok Misbach Tamrin dikenal terutama melalui kiprahnya dalam Sanggar Bumi Tarung, sebuah kelompok seniman muda yang berisikan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta. Dibentuk pada 1961 dan diketuai oleh Amrus Natalsya, para seniman muda ini mengusung sebuah gerakan seni yang dikenal sebagai Realisme-Revolusioner. Seperti yang dikisahkannya, Misbach kemudian bergabung setelah melalui suatu diskusi dan debat semalam suntuk dengan Amrus mengenai seni dan arah politik kebudayaan masa itu, yang setidaknya terbagi dalam dua kubu antara Lekra dan Manifes Kebudayaan. Jadilah Misbach salah satu eksponen penting dari sanggar yang memunculkan nama-nama seperti Djoko Pekik, Kuslan Budiman, Isa Hasanda, Ng Sembiring, Gutom, Pudji Tarigan, Suhardjija Pudjanadi, dan lain-lain.

Hanya saja, terjadinya Peristiwa G30S 1965 dan perburuan antikomunis oleh Angkatan Darat setelahnya, menjadikan riwayat Bumi Tarung di ujung tanduk. Semua anggotanya ditangkapi, dipenjara, dibuang, dan bahkan dibunuh. Misbach salah satu di antaranya yang mesti meringkuk dalam tahanan sepanjang 1965 hingga 1978, terutama selain karena keterlibatannya dalam Bumi Tarung juga karena aktivitasnya dalam membangun Lekra di Kalimantan Selatan. Jadilah sepanjang 13 tahun Misbach menjadi pesakitan, dipenjara di tanah kelahirannya, yang tentu saja secara tidak langsung mengambil usia produktifnya sebagai seorang seniman –meminjam istilah yang digunakan Pramoedya Ananta Toer.

Dalam usianya yang sudah menginjak 84 tahun, Misbach kini jadi satu-satunya seniman Bumi Tarung yang tersisa, setelah pada Agustus 2024 silam Gumelar, sebagai rekan Misbach yang tersisa, akhirnya berpulang. Dua bulan sebelumnya, Sanggar Bumi Tarung secara resmi melangsungkan pameran kolektifnya yang terakhir di Galeri Nasional, Jakarta. Itulah yang oleh Misbach disebut sebagai penutup dari riwayat sebuah kelompok yang nasibnya digebuki oleh rezim militer Orde Baru itu.

Foto: Misbach Tamrin dan kawan-kawannya Sanggar Bumi Tarung di Yogyakarta, 1960-an. (Foto: Dok. Misbach Tamrin)

Para anggota Sanggar Bumi Tarung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta pada 2008, yang untuk pertama kalinya kembali berpameran bersama sebagai sebuah kolektif setelah tercerai berai pasca Peristiwa 1965. (Foto: Dok. Misbach Tamrin)

Meski bendera Bumi Tarung serasa berkibar di belakang namanya, dalam pameran kali ini Misbach mencoba untuk hadir sepenuhnya sebagai dirinya sendiri, seorang seniman yang telah 68 tahun berkiprah dalam seni rupa Tanah Air, dimulai sejak masa SMA di Banjarmasin, berkuliah di Yogyakarta, hingga kini menetap dan menikmati hari tua di Banjarmasin kembali. Maka menjadi masuk akal apa yang ia tampilkan dalam gelaran kali ini kembali untuk mengingat atau mengenang apa-apa saja yang selama ini menjadi suatu hamparan pemandangan dan lanskap tempat dari mana ia berasal, yang agaknya justru selama ini jarang menjadi pembicaraan apabila membincang tentang Misbach.

Sekaligus dalam pameran tunggal ini Misbach meluncurkan buku baru berjudul Mejelang Nyala Mendorong Batu Besar. Disunting oleh Hajriansyah, buku ini merupakan kumpulan tulisan panjang Misbach yang selama ini ia unggah di lama Facebook pribadinya. Berbagai macam tulisan yang ada dikumpulkan dan dikategorikan menjadi tiga. Tulisan-tulisan tersebut antara lain komentar Misbach terhadap seni rupa di Kalimantan Selatan, respons atas situasi kebudayaan-politik yang sedang terjadi, serta kenangannya terhadap kiprah diri dan kawan-kawannya sesanggar di masa lalu. Selama ini Facebook menjadi tempatnya menulis catatan-catatan atas berbagai peristiwa aktual maupun reflektif, dan membukukannya menjadi cara untuk “mengabadikan” apa saja yang menjadi pemikiran seorang Misbach Tamrin.

Amatan Peristiwa

Kendati sudah enam dekade menetap di Banjarmasin pasca kepulangan dari studinya di ASRI Yogyakarta, nama Misbach Tamrin justru dapat disebut lebih populer di Pulau Jawa. Statusnya sebagai anggota Sanggar Bumi Tarung tentu saja membawa namanya jauh lebih sering berkibar di sana, terutama di Yogyakarta maupun Jakarta yang sering dianggap sebagai pusat maupun ruang perjumpaan nasional dunia seni rupa Indonesia. Ekosistem seni rupa yang tentu saja jauh lebih masif di Pulau Jawa ketimbang misalnya di Kalimantan Selatan menjadikannya ia bersama kawan-kawannya sesanggar lebih sering terdengar di sana.

Jika menilik kiprahnya selama ini, terhitung baru dua kali Misbach menggelar pameran tunggal, dengan yang pertama diadakan di Galeri Nasional, Jakarta pada 2015 silam. Di tingkat lokal, ia hanya sebatas mengikuti berbagai pameran bersama yang diselenggarakan di Banjarmasin dan sekitarnya. Alhasil, gelaran akbar macam sekarang ini justru belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga mungkin saja generasi muda dan yang mungkin juga tidak begitu dekat dengan dunia seni rupa di Kalimantan Selatan tidak begitu mengenal namanya, apalgi dengan politik kebudayaan yang menyertainya.

Suasana ruang pameran yang terletak di Gedung Wargasari, Taman Budaya Kalimantan Selatan pada hari terakhir pameran, Kamis, 4 Desember 2025. (Foto: Dok. Penulis)

Lantas, kehadiran pameran di pekan terakhir November 2025 ini membawa sebuah perkembangan yang cukup signifikan, setidaknya dalam mengenalkan kembali nama Misbach Tamrin, kiprahnya, serta riwayatnya dalam dunia seni rupa kepada generasi terkini. Tiap harinya, tidak kurang dari ratusan pengunjung datang dan memadati Gedung Wargasari tempat pameran diadakan. Rata-rata yang hadir adalah anak-anak muda dari generasi milenial akhir dan terutama generasi z. Perbincangan singkat dengan para sukarelawan yang menjaga pameran menyebutkan, hingga gelaran di hari terakhir pada 4 Desember 2025 kemarin tidak kurang dari 4.000 pengunjung telah hadir menyaksikan pameran tunggal ini.

Melampaui karya-karya Misbach itu sendiri dan mulai mengenal riwayat sosok senimannya, setidaknya mereka mulai dapat dibangun kesadarannya tentang kekerasan dan genosida 1965. Misbach sebagai satu dari jutaan orang Indonesia lainnya yang menjadi korban kekerasan negara di masa lalu tentu saja pada hari ini dapat disebut pula sebagai buku hidup sejarah kelam Indonesia. Kemunculan Misbach sebagai perupa yang menarik ribuan pengunjung melalui pameran tunggalnya ini kemudian dapat pula dibaca sebagai sebuah cara untuk melihat kembali bagaimana sejarah seni rupa Indonesia berjalan sedari dulu hingga kini. Artinya, pameran ini sejatinya melampaui penciptaan dan pertunjukan karya seni rupa itu sendiri, melainkan juga membawa ingatan akan episode gelap dalam hayat Indonesia, kendati mungkin saja Misbach sendiri tidak sedang berpretensi akan hal itu.

Lukisan Monumen Bekantan, sebuah ikon Banjarmasin yang terletak di pusat kota, persis di tepian Sungai Martapura. Bekantan, satwa endemik Kalimantan Selatan yang kini terancam ruang hidupnya seiring dengan semakin masifnya deforestasi yang terjadi, baik oleh aktivitas ekstraktif pertambangan maupun alih fungsi hutan menjadi perkebunan. (Foto: Dok. Penulis)

Pameran juga diiringi dengan kegiatan diskusi dan nonton film. Ada tiga diskusi yang diselenggarakan sebagai rangkaian acara, masing-masing diskusi pembukaan, bincang seniman, serta diskusi respons atas pameran yang diisi oleh anak muda. Kemudian dua kali nonton film Kulminasi, sebuah dokumenter biopik Misbach Tamrin yang digarap oleh Akademi Bangku Panjang, Banjarbaru juga dihadirkan sebagai pendamping dari kegiatan pameran.

Rasanya, energi Misbach untuk terus berkarya di usianya yang sudah memasuki kepala delapan ini rasanya belum ada habisnya. Rencananya, sebuah pameran tunggal akan digelar pada 2026 mendatang di Jakarta sebagai bagian dari peringatan ulang tahunnya yang ke-85. Dengan tajuk “Petarung Terakhir”, pameran ini tentu saja layak dinantikan!