Berdiri di Hadapan Odyssey
Saat berhadapan dan menyaksikan lukisan-lukisan karya Liffi Wongso dalam pameran bertajuk Odyssey: Hearth & Mire di Srisasanti, saya mestilah mengakui, keterpukauan awal saya adalah pada ukuran dan dimensi; dan tentu saja pada kenyataan bahwa lukisan-lukisan itu menjadi ada sebab kuasan cat air.
Sepasang mata, tubuh, dan kepala saya, sebagai penyimpan pengalaman, lebih sering melihat dan mengalami lukisan-lukisan cat air berukuran kecil—yang kebanyakan tak sampai A3. Ukuran dan dimensi besar dari lukisan-lukisan Liffi, bagi saya, telah menyuguh kesan lain. Selama ini, setidaknya, dalam pengalaman saya menyaksi, lukisan-lukisan cat air berukuran kecil lebih menawarkan kesan mengintip, atau menyaksi dari suatu bingkai; dan tak sedikit pula yang memberi kesan seperti melihat sebuah foto.

Akan tetapi, ketika berhadapan dengan lukisan cat air berukuran besar, seperti karya Liffi, sepasang mata saya tak berada pada kesan mengintip atau menyaksi dari bingkai, bingkai jendela sebutlah; tetapi seperti tengah berhadapan dengan suatu yang betah membujuk untuk masuk; berhadapan dengan dunia yang meminta, bahkan menghasut, agar beranjak dari sini—dan menuju ke sana. Kemudian, jarak yang awalnya ada pun menghendaki untuk dipangkas lebih dekat: untuk melihat detail-detail yang ada. Karenanya, bagi saya, berjalan mendekat menuju lukisan berukuran besar itu, untuk melihat detail, telah jadi perjalanan; telah jadi bujukan Odyssey itu sendiri—
Dan, seperti yang sudah disampai, kenyataan lukisan-lukisan itu jadi ada sebab kuasan cat air telah menambah kesan pandang tersendiri. Serentetan tanya, yang telah dijawab oleh Liffi pada sesi bincang seniman itu kali, jadi lumrah muncul. Pertanyaan tentang berapa lama mengerja, seberapa tenaga dan waktu yang dikelola, dan bagaimana kerja pracipta, jadi wajar hadir. Dan, soalan demikian jadi semakin ketika Liffi bercerita bahwa cat yang digunanya adalah campuran cangkang telur, bermacam cangkang telur, dari telur ayam sampai telur bebek; dan cerita itu pun membuat sekalian yang hadir tersenyum tertawa kecil—sebab pijakan awal alasan dipakainya campuran itu begitu sederhana-komikal.
Akan tetapi, agaknya, sekalian lekas bisa membayang pula, komposisi dari ukuran lukisan yang demikian, pemilihan figur dan lanskap yang hendak dihadirkan, cat air yang dibuat dari campuran cangkang, telah memberi pijakan cara pandang awal atas lukisan-lukisan Liffi bertajuk Odyssey. Dan, hal demikian, dari ukuran dan jenis cat yang diguna, agaknya, sudah bisa memicu iseng tanya: Apabila ukuran lukisan tak sepanjang-selebar itu, dan cat yang dipakai bukan cat air bercampuran cangkang telur, apa lukisan yang dihadirkan bisa terasa membujuk masuk ke dalam dunia dongeng-dongeng? Betapa, pemilihan ukuran dan media, dalam hal ini, bukan hanya jembatan.
Saat berhadapan dengan lukisan-lukisan Liffi, dalam seri Odyssey, saya tersadarkan kembali, saya tak hanya tengah berhadapan dengan lukisan-lukisan cat air buatan Liffi—dari dan setelah membaca buku berisi dongeng dari tanah dingin. Namun, saya tengah berhadapan dengan hasil pembacaan Liffi Wongso. Ya, saya tak hanya tengah berhadapan dengan figur-figur dan citra dari cat air, tetapi lebih. Lukisan-lukisan yang terpresentasi, dapat dikata, adalah fusi berbagai hal, seperti biografi, pengalaman studi, serta setumpuk bacaan-tontonan memori; dan respon atas situasi yang dialami, baik sebagai seorang perempuan, seniman, ataupun warga negara.

Karenanya, dapat dikata, lukisan-lukisan Liffi yang itu kali terpresentasi, bukan hanya melukis kembali dongeng, tetapi juga menafsirkan. Betapa, pertanyaan tentang kenapa perempuan yang jadi korban dan hanya hadir untuk diselamatkan, atau pertanyaan tentang akhir yang sedih dan bahagia, adalah suatu upaya penafsiran. Kemudian, sebab berparalel dengan dongeng lain, atau situasi terkini, seperti situasi sosial-politik di dalam negeri dan biografi dari Liffi sendiri, terjadi kerja ulang alik. Dipilihanya cerita A untuk merespon situasi B bukan hanya mempengaruhi cara baca dan pandang atas situasi B, tetapi juga pada cerita A itu sendiri. Penyejajaran, bahkan penumpukan, atas citra dan cerita, sudah membuat perluasan dan pendalaman; dan, sebab itulah begitu terasa suasana puitik-simbolik yang begitu tebal!
Sebagai seri karya seni yang memijak pada sebuah narasi, dalam hal ini dongeng-dongeng dari tanah dingin, soalan pelik yang sekaligus menarik adalah akses terhadap rujukan yang dipakai. Dalam tatapan pertama, sebagai salah satu penonton, sebelum diceritai Liffi, bersama penonton lain, pada tur kecil-kecilan itu hari, saya termasuk kesulitan mengakses cerita dongeng yang dirujuk. Dari sekian lukisan, yang lekas bisa saya tarik ke dongeng kanak dari tanah seberang, adalah dongeng tentang Putri Duyung; dan beberapa figur yang dekat tentangnya. Dan, ketika melihat lukisan yang merujuk dongeng putri duyung, saya tergoda bertanya-tanya sendiri: versi mana yang dipakai Liffi mencipta, ya?
Namun, kemudian, dalam hal ini, lekas pula saya sadari, versi mana pun pada akhirnya adalah versi Liffi: baik ditolak-pertanyakan, atau yang diamini-dikembangkan sesuai visi. Dan soal kesulitan mengakses rujukan lukisan satu dari dongeng mana, dan lukisan lain dari dongeng mana, telah membawa saya kepada beberapa tanya yang kadang muncul ketika berhadapan dengan karya seni. Salah satunya adalah pertanyaan tentang apa lukisan hanya bisa genap dipahami-nikmati saat didongengi seniman, dan diketahui berkait latar belakangnya; atau pertanyaan tentang sejauh apa penonton-penikmat bisa dan boleh untuk menafsiri-memaknai—
Mencari Cara Baca Hearth and Mire
Sebagai seorang penyair-pengarang, yang juga menulis ulasan seni, saya cukup sering punya lugu tanya saat berhadapan dengan karya yang berpijak pada sebuah atau serangkaian narasi, baik sejarah, mitologi, atau cerita fiksi. Dan, tanya itu adalah tanya tentang apakah saya cukup melihat-menonton, atau juga mesti membaca. Dan sebab besar dan dilatih sebagai pembaca, saya memilih melaku kerja membaca ketika berhadapan dengan lukisan-lukisan Liffi. Namun, tanya yang muncul kemudian adalah tanya tentang bagaimana cara membaca; atau bagaimana ketika saya tak mengetahui rujukan narasi yang dipakai seniman.
Dari sana, saya menyadari kembali, saya bukan wadah kosong, saya juga memiliki biografi, pengalaman, dan memori-memori. Dan saya memilih membaca dengan cara sendiri, yang barangkali dilakukan pula oleh penonton lain, yaitu dengan memparalelkan apa-apa yang dimiliki.
Sebagai suatu contoh, saya yang dibesarkan anime dan manga membuat penyejajaran atau juktaposisi visual atas figur perempuan yang dihadirkan: seperti membaca manga bergenre josei. Atau juktaposisi atas citra ombak, seperti dalam lukisan “Ligth Becomes Its Own Feast”, “In The Mouth of Tides”, dan “What the Light Betrays”, yang membawa saya pada lukisan cetak “Ombak Besar di Kanagawa” itu: tapi ombak yang saya pandang itu terasa lebih peri, terasa lebih magis-puitis dibandingkan tragis-dramatis. Dan, sebab dibesarkan puisi, dibesarkan narasi-narasi puitis, sepasang mata dan seperangkat tubuh saya lebih membaca lukisan-lukisan sebagai tanda; dan cerita adalah proses pencarian.

Dari sana, pertanyaan tentang siapa yang memandang atau sebagai apa berhadapan menjadi hal yang penting—untuk tak menyatakan genting. Seperti yang telah disebut, sebagai penyair dan pengarang, saya memandang dengan upaya menelusuri pembacaan, baik cerita maupun tanda; sedang seorang yang saya ajak, sebagai suatu pembanding, yang adalah perangkai bunga dan penonton film drama, lebih fokus-memperhati tentang bebunga. Bahkan, dia bercerita tentang rasa penasarannya pada pilihan bebunga yang dipakai di dalam lukisan-lukisan:
Kenapa bunga Lili, Krisan, dan Mourning Glory ada di sini; kenapa Anggrek, Peoni, dan Krisan ada di sana; kenapa jamur ini yang dipilih dan bukan jenis jamur lain; dan bahasa bunga mana yang dipakai padahal tiap budaya punya bahasa bunga sendiri? Dan, itu kali, saya hanya menyahut tentang Ceplukan yang membawa ingatan pada halaman tetangga, halaman Pak Riboet, halaman Om Aries dan juga Mbah Min; serta Kantong Semar yang tergambar seperti lingga dan juga bunga Telang yang seperti Yoni; lantas perdebatan kecil tentang citra bunga Wijayakusuma ataukah bukan. Dan, saya menyadari, kedatangan saya ke itu pameran, sebagai seorang pemuda akhir likuran yang hendak menulis pendek ulasan, akan membawa lain cara pandang dengan seorang perempuan yang bekerja merangkai kembang; atau seorang mahasiswa seni, atau pekerja yang sejenak menepi dari sibuk Ibukota ke Yogyakarta.

Dan soalan lain yang membuat saya cukup mantap berkata bahwa melihat lukisan-lukisan Liffi itu kali adalah membaca, selain godaan rujukan, penelusuran antarkomponen dan figur-figur, adalah bahwa lukisan-lukisan yang disuguhkan Liffi terasa sebagai adegan yang tidaklah hanya hadir untuk menghanyutkan penonton-pemirsanya pada kejadian di dalam itu kali, tetapi juga menghendaki agar penonton-pemirsanya membayangkan adegan sebelum dan sesudah adegan yang menjelma lukisan itu. Karenanya, selain memasukkan seorang dalam dunia, dan mengoda menelusiri apa-apa yang ada di sana, lukisan-lukisan Liffi itu kali betah membujuk membayang tentang yang lalu dan yang akan. Dengan perkataan lain, lukisan-lukisan itu, sebagai sebuah judul mandiri, menyuguhkan sebuah cerita dengan berkata kepada penontonnya: bahwa boleh dirangkainya cerita dan perjalanan itu sendiri.
Mediocrity dalam Mozaik Biografi
Meski demikian, meski senang sendiri mencari-cari tafsiran, mengikuti tur kecil-kecilan yang diusulkan Adhi kepada Liffi, sebagai penggenap bincang seniman kali itu, saya tetap suka ketika mendengar cerita dan proses si seniman. Saya dapati dongeng dan rujukan dari masing-masing judul lukisan; dan menarik saat ditimbang dengan timbangan awal sebelum mendengar cerita-cerita, yang menurutnya bermula dari upayanya mengusung kisah mediocrity, tentang kondidi serba tengah, atau disebut Adhi saat itu, liminality, hingga apa yang disederhanakan Liffi sebagai “hal-hal yang biasa tetapi sebenarnya tak biasa.”
Setelah mendengarkan dongengan sang empunya lukisan tentang apa yang di balik lukisan “When Nothing Clairus A Name”, misalnya, yang begitu menyentuh puitik, saya masih cukup betah mengamini kesan awal ketika melihat itu lukisan; dan jadi kian kaya setelah tahu dongeng di baliknya. Soal menarik lain, yang terasa pribadi adalah saat Liffi bercerita tentang proses kreatif dan apa-apa yang ada di balik lukisan “Moon Dune”, saya lagi-lagi tersadar, tak hanya berhadapan dengan lukisan, tapi hasil sebuah pembacaan.
Dan, yang berhadapan itu bukan hanya saya dan lukisan, tapi biografi saya sebagai penonton pula. Liffi berkisah tentang film bisu berjudul A trip to The Moon, juga cerita tentang Kelinci Bulan dan Dewi Chang’e, dan juga Kue Bulan sebagai bagian dari perayaan. Dan, saya mengingat, citra kelinci bulan, dewi bulan, dan kue bulan saya dapati dari pengalaman yang lain; seperti cerita kelinci saya dapat dari manga Buddha-nya Tezuka, cerita Chang’e dari seri tivi Kera Sakti dan puisi Wendoko, juga imaji kue bulan kemasan dari di toko-toko kelontong dekat rumah. Lukisan itu, sebagai salah satu, telah membawa saya kepada biografi saya sendiri; dan membawa tanya iseng sendiri: Apa yang penonton lain rasakan, ya?


Barangkali, menonton dan mengalami lukisan-lukisan Liffi, dalam seri Odyssey, adalah juga perjalanan menyusuri biografi, adalah juga kelana atas mozaik biografi itu sendiri, baik dibersamai si pelukis atau berjalan iseng sendiri. Ketidakpahaman ataupun ketidaktahuan sumber menjadi suatu yang sah: sebab keterpukauan pada lanskap dan figur itu telah menjadi dorongan tersendiri: untuk menelusuri (diri). Pembandingan pada pangelaman sendiri menjadi suatu opsi. Namun, saya cukup berani berkata, bahwa keluar dari galeri, penonton itu ingin masuk kembali, ingin menonton lagi, dan berlama-lama sendiri, hanyut dalam keterpukauan yang tadi. Atau, satu kemungkinan lainnya: dia akan mendatangi orang lain, kawan atau kekasih dan mengisahkan pengalamannya—seperti ada sebuah sepora yang menempel di benak pun dada.
Dan, agaknya, bisa mantap dikata pula, jika lukisan-lukisan itu berhasil mengajak berbincang: baik penonton dengan lukisan, maupun dengan si seniman. Dari sana pula ucapan itu jadi layak dimunculkan di akhir ini tulisan: Agaknya, yang terpenting dari perjalanan bukan tujuan, tetapi dengan siapa berjalan; dan, agaknya, yang terpenting dari dongeng bukan cerita, tetapi siapa yang bercerita dan bagaimana dia bercerita. Dan Liffi, dalam hal ini adalah pencerita yang menyenangkan. []