Search
Close this search box.

Ledakan Gunung dan Letupan Spiritual: Pakta Ledak sebagai Puisi dan Zikir

Bergerak menjadi siasat seni dan poetika sinematik atas perubahan lanskap ekologis penghidupan kawasan gunung berapi.

Saya menyaksikan peristiwa pemutaran “Pakta Ledak” dalam dua kali kesempatan; sekali di Padepokan Tjipto Budoyo, September 2025, ketika mereka pertama kali menunjukkan karya ini pada masyarakat sekitar, dalam pelukan senja dan gelap di kaki Merapi itu sendiri, berbaur dengan warga dan para pemain di sana. Kedua, di kompleks Pendopo Ndalem Pakuningratan, pada Februari 2026. Ketika secara khusus peristiwa film pertunjukan ini dibawa ke Jogja untuk masyarakat (seni) yang lebih luas. Setiap ruang membangun dan disajikan secara berbeda, yang selalu kontekstual dan memberikan tafsir yang sesuai dengan ruang dan waktunya sendiri. Mengikuti perjalanan berkesenian Irwan Ahmett dan Tita Salina, saya merasa karya ini seperti sebuah persembahan dari perjalanan dan ziarah panjang, memberi waktu untuk berefleksi lebih dalam.

Film Pakta Ledak tidak hanya memberikan suguhan yang kompleks antara manusia, kekuatan yang tak terlihat (invisible), perubahan lanskap dan lautan, tetapi juga pertarungan politik ekonomi, perang, peralihan sejarah, peningkatan industri ekstraktif dan bagaimana pengetahuan dan kebudayaan berjingkat dalam gerak yang tak terduga.

Poster pemutaran film dan diskusi Pakta Ledak (Foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Pakta Ledak menjadi puisi yang menolak tatapan yang romantis atau nostalgis atas ekologi. Ia puitik, tetapi seperti menyodorkan pisau yang tajam, menusuk tata kelola kehidupan kita semakin menjauh dari upaya menjaga keseimbangan antara makhluk dan semesta. Iwang mengundang kita untuk mengalami—bukan hanya menonton—secara kolektif, mendengar, membaca jejak, mendekati, dan bahkan menguji kembali bahwa kita telah lupa akan perasaan ketika menyentuh batu, menjejak pasir, mendengar angin. Gamelan dan tetembangan seperti mengantar kita pada kepekaan yang telah lama redup serta menguatkan ingatan atas hal-hal yang begitu sering kita terima apa adanya.

Tubuh dan Ingatan 

Kita melihat batu. Kita melihat mesin begitu dekat. Kita menyaksikan yang tumbuh dan yang dikeruk, lubang bumi yang menganga. Kita seperti dipanggil untuk bisa merasakan kembali sebuah ikatan antara tubuh dan seluruh pola kosmos yang terasa purba. Sebuah titik temu antara yang sakral dan profan, antara yang alamiah dan yang difabrikasi. Semua komponen tersebut membangun keterikatan. Meskipun melihat ada perubahan lanskap yang kritis karena proses penambangan pasir yang massif, dalam “Pakta Ledak”, problem ini tidak didekati dengan terpaan data dan sajian komentar, melainkan dengan penggambaran lebih subtil atas kerukan, rute truk pasir, mesin bego, dan simbol lainnya. Penambangan pasir tidak saja berimbas pada keberlanjutan lingkungan dan kesinambungan spiritual, tetapi juga berkaitan dengan relasi kuasa dan ekonomi politik pada pemaknaan gunung api itu sendiri.

Dua mesin bego yang hadir dalam adegan film (Foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Film sebagai offering. Pertunjukan tidak saja film ini menitikberatkan pada seluruh rangkaian peristiwa, tetapi juga persilangan dengan ritual dan ruang/waktu. Pada setiap transisi antarbabak, penampilan Mbah Citras dari Padepokan Tjipta Budaya Tutup Ngisor tidak hanya menjadi narator, melainkan menghantarkan kita memasuki prosesi demi prosesi sebuah upacara. Sebagai penonton, keterlibatan kita pada ritual dan upacara adalah bagian dari bagaimana kita menguji nilai kolektif, berbagi pengetahuan yang dimiliki bersama, untuk kemudian meneguhkan kepercayaan tersebut sebagai semacam “penuntun” dalam tindak keseharian. Dalam konteks Pakta Ledak, bisa jadi nilai dan pengetahuan itu terkait dengan seni, narasi ekologi, ataupun antropologi (modern).

Film ini hadir seperti monolog yang mendalam untuk melampaui gunung sebagai fenomena alam yang geologis dan geografis, tetapi dengan cara meminjam tatapan panoptikon, mendekat, dan menyorot, sehingga kita bisa menyerap sesuatu yang tampak visual menjadi bagian dari ingatan kita. Lirisisme film ini dibentuk oleh dramaturgi antara gerak, narasi lanskap, pergeseran lensa, mesin yang menari, teks-teks yang ada di layar.

Dalam Pakta Ledak, kehadiran para tokoh di sana, Pak Giyanto, Tita Salina, Mbah Sitras, para ibu yang menyaksikan keindahan Merapi, si Babi Hutan, semua merupakan artikulasi tubuh-tubuh yang menjadi bagian langsung dari dinamika pertarungan kuasa di kawasan ini. Dalam tubuh-tubuh itu, beragam sejarah bertemu dan bercakap: tubuh petani, tubuh pekerja tambang, tubuh kota, tubuh hutan, semua membawa sejarahnya sendiri, berperan sebagai dirinya, berhadapan dengan lanskap yang tergerus dan menunjukkan cara warga untuk terus bertahan. Tubuh menjadi perantara dari transformasi alam dan sosial, menjadi jejak dan peta jalan. Performativitas tubuh kemudian sejajar dengan tampilan babi hutan, bebatuan, serpihan pasir dan elemen alam lainnya.

Babi hutan yang menjadi salah satu pemain dalam film (Foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Selama proses penciptaan, Irwan dan Tita tinggal di Padepokan Tjipta Budaya Tutup Ngisor di lereng Merapi dan memulai lelaku dari sana. Di Padepokan yang hampir berusia 90 tahun itu, Mbah Sitras meneruskan warisan tradisi yang lahir dari pergulatan spiritual hidup di kawasan Merapi. Tembang, gamelan, tarian, upacara dan laku spiritual memang bagian yang tak terpisahkan dari geliat kehidupan masyarakat di desa ini, menguat dalam bentuk sinkretisme yang memberi akar bagi identitas budaya mereka. Dalam Pakta Ledak, tubuh Mbah Sitras menyatu dengan mesin bego, batu dan pasir, asap Merapi, mengucap mantra dan menarikan gravitasi, di tengah pemandangan wilayah penambangan pasir yang masif.

Metode dan Siasat Seni 

Dalam praktik seni, seniman selalu dituntut untuk membaca ulang berbagai hal yang telah diterima sebagai pranata: bahwa gagasan pembangunan, kemajuan, atau percepatan tidak boleh menjadi satu-satunya definisi atas peradaban yang dibangun dalam semesta. Seniman diharapkan untuk membuka sensibilitas panca indra untuk mengartikulasikan refleksi masa lalu dan memproyeksikan mimpi masa depan. Sensibilitas menggali sesuatu yang tampaknya remeh dan tak dikenali; yang terlewat begitu saja dan dilupakan, menjadi sebuah penanda, simbol yang perlu untuk terus diartikan kembali sesuai zaman yang berubah. Para seniman membawa kita memasuki situasi tak pasti. Ia mengganggu kenyamanan kita serta membiarkan kita bertanya dan menggugat “keindahan” yang awalnya kita bayangkan sebagai estetika.

Di balik layar adegan film Pakta Ledak (Foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Irwan Ahmett dan Tita Salina telah bekerja memasuki isu-isu yang kompleks tentang ekologi dan antroposen(isme) dalam dua dekade terakhir. Mereka melakoni kerja penciptaan dengan metode keterlibatan tubuh mereka sebagai pencatat peristiwa dan perpanjangan ingatan. Pada awal kerja keseniannya, Irwan dan Tita telah melemparkan kritisisme atas narasi ruang urban: terutama merespons Jakarta sebagai lanskap dan fenomena sosial politik. Dari sini, mereka terus bergerak ke pinggir, menjalani ziarah ke pesisir utara Jawa, mencatat dan mencerap seluruh kompleksitas problem kelautan, menjelajahi titik-titik api (Ring of Fire), untuk menelusuri jembatan laut dan daratan, menghubungkan air dan tanah, serta mempertanyakan gagasan tentang rumah melalui proyek-proyek tentang migrasi dan buruh migran. Mereka berjalan, bercakap dan membaui yang ada di sekelilingnya.

Pakta Ledak seperti merangkum jejak panjang kerja kesenian  Irwan Ahmett dan Tita Salina dalam sebuah puisi dan ritual persembahan. Mereka tidak memberikan banyak narasi, meskipun setiap fase menunjukkan adanya pijakan konseptual untuk alur gambar; sebuah adegan merangkum cakupan beragam kata kunci dari problem-problem ekologi, mulai dari industri ekstraktif dan politik ekonomi kapitalisme lanjut yang disampaikan oleh Irwan dengan gaya ceracau yang terasa seperti situasi trance, perjalanan atas amarah menjadi ketidaksadaran.

Seni dan Ekologi

Dalam beberapa waktu belakangan, para seniman mengundang kita untuk membongkar tatapan kita terhadap bumi.  Banyak sekali seniman yang menginvestigasi berbagai narasi tentang asal-muasal bumi, kerusakan ekologi, ancaman keberlanjutan, dan konteks sosial yang berlangsung di dalamnya. Berbagai macam isu didiskusikan, seperti narasi kawasan maritim, soal sampah, soal deforestasi, bencana alam, dampak perang terhadap lingkungan, ekstraktivisme pertambangan, dan banyak lainnya.

Sebagian seniman mengupayakan cara-cara membuat karya dengan material yang lebih kecil residunya, membangun moda produksi yang lebih sehat untuk lingkungan, atau secara langsung membuat karya di situs tempat narasi ekologi bisa didiskusikan. Adapula seniman yang menciptakan objek, atau kerja instalasi, gambar, mengolah arsip, yang merupakan serangkaian komposisi dari berbagai temuan yang didapatkan selama proses riset di lapangan, untuk kemudian dipamerkan di galeri, museum, atau ruang-ruang lain.

Babi hutan di lokasi pengambilan gambar (foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Metode lain, misalnya, seniman bekerja bersama komunitas secara langsung untuk menciptakan karya bersama, membangun gagasan secara kolektif, dan mewujudkannya dalam gotong royong. Kerja-kerja semacam ini belakangan menjadi penanda penting dari keterlibatan sosial para aktor seni kontemporer—gairah untuk melampaui galeri dan ruang seni—terutama dapat ditunjuk pada berbagai konteks Global South, menelusuri kembali cara nenek moyang menjadikan seni sebagai praktik keseharian yang erat dengan kemampuan kita bersiasat dan merengkuh tanda alam.

Ada beragam trajektori dan pendekatan yang memungkinkan isu ini dipandang dari berbagai perspektif. Tidak ada metode berkarya yang tunggal. Namun, saya kira, dalam isu semacam ini, seniman perlu untuk selalu membongkar dirinya sendiri, untuk bisa melihat elemen-elemen karya sebagai bagian yang lebih besar dari struktur dan lingkaran produksi yang lebih besar. Mereka juga perlu menghadapkan diri pada zona tidak nyaman, tidak berfokus pada hasil, tetapi pada seluruh pengalaman yang menghubungkan alam dan spirit kolektivisme yang menuntun produksi dan presentasi seni. Irwan Ahmett dan Tita Salina selama ini bekerja secara ulang-alik untuk bisa memberikan tawaran pada keseluruhan proses itu, mempertanyakan definisi dan struktur, serta secara langsung melihat pengalaman dan peristiwa—yang pada akhirnya berfokus pada produksi pengetahuan dan relasi sosial—untuk keluar dari hal-hal tertentu dalam seni.

Para pemain yang sedang melakukan sebuah adegan (Foto: Dok. Irwan Ahmett dan Yuda Samakta)

Dari ruang galeri, museum, gedung, atau ruang pemutaran, bagaimana kemudian gerakan-gerakan ini bisa mendorong perubahan yang sesungguhnya? Bagaimana, sebagai penonton, kita sungguh bisa menciptakan dampak dalam eksistensi kita sebagai manusia? Bagi saya, kata ekologi itu perlu didefinisikan ulang untuk bisa keluar dari konsep dan teori, terutama dalam kerja kesenian. Tentu hal ini sungguh-sungguh merupakan ikhtiar untuk mengembalikan manusia ke posisi yang tidak melampaui alam itu sendiri, melainkan bagian kehidupan bersama seluruh tubuh yang mempunyai jiwa, yang tampak dan tak tampak.