Search
Close this search box.

Jejak Visual dalam Gegar Ruang Digital, Cara Dede Cipon Lampaui Omon-omon

Kohesi Initiative, program dari Galeri Srisasanti telah berhasil menyelenggarakan pameran tunggal Dede Cipon bertajuk "Spectral Echoes: The Side of Human" pada 6 Desember 2025 - 18 Januari 2026. Jelang awal bulan ini (10/1), dihelat artist talk bersama Dede Cipon dengan dipandu pimred senirupa.id, Adhi Pandoyo. Nimas Selu Yasmine, penulis dan kurator kolega kami yang turut hadir, kini sengaja menyajikan ulasan bernas atas pameran tersebut berikut telaah wacananya.

Ketika logika algoritmik mengatur konten-konten yang terus dikonsumsi dalam keseharian, pernahkah terlintas dipikiranmu bagaimana kesadaran kita terlibat dalam sistem digital tersebut?

Pertanyaan itu muncul ketika saya mengunjungi pameran tunggal terbaru Dede Cipon berjudul Spectral Echoes; The Side of Human, yang berlangsung di Kohesi Initiative sejak tanggal 6 Desember 2025 – 18 Januari 2026. Berangkat dari kejenuhan sang seniman terhadap ruang digital, pameran ini membahas pengalaman hidup di dalam ruang digital sebagai ruang keseharian. Untuk teks pengantar pamerannya kebetulan ditulis oleh Cipon sendiri dan disesuaikan kembali oleh pihak galeri. Tulisannya ringkas, cukup untuk menjadi penanda arah berpikir serta memberi konteks awal. Mungkin agar pengalaman visual di ruang pamer dapat mengambil peran utama, atau bisa jadi tulisan ringkas itu bertujuan untuk memantik kemungkinan pembacaan lain yang lebih dalam.

Mural yang menghubungkan tiap karya di dinding ruang pamer. (Foto: Dok. Penulis)

Saat memasuki ruang pamer, saya dihadapkan dengan karya-karya Cipon yang dihubungkan oleh bentangan mural berupa pola garis repetitif di setiap dinding tempat karya dipasang. Kehadirannya tidak mencolok, sehingga perhatian saya tetap tertuju pada karya-karya yang dipajang. Meskipun ia membawa beberapa seri karya, setiap serinya ditampilkan secara acak dan tidak berdekatan. Pengalaman melihat yang terus bergerak dan tidak berurutan ini terasa akrab. Ketidakberurutan semacam itu mengingatkan saya pada pola konsumsi visual di ruang digital, di mana perhatian jarang bertahan lama pada satu hal.

Ketika kita berada di ruang digital kemudian berpindah dari satu platform ke platform lain, algoritma dengan sigap menyuguhkan susunan konten untuk kita konsumsi. Mulai dari konten informatif hingga iklan dracin hadir silih berganti, membentuk arus visual yang terus bergerak. Pola semacam ini mendorong kita untuk terus menggulir layar gawai, berpindah dari satu konten ke konten berikutnya. Dari situ, terbentuklah kebiasaan melihat yang kemudian diamati Cipon. Ia menelusuri jejak-jejak visual yang tertinggal dari aktivitas penjelajahan digital sehari-hari, lalu mengolahnya menjadi pola, struktur, dan fragmen dalam karyanya. Jejak tersebut merekam hubungan timbal balik antara sistem ruang digital dan manusia dalam membentuk cara kita melihat.

Salah satu tampakan di dalam ruang pameran tunggal Dede Cipon, Spectral Echoes: The Side of Human di Kohesi Initiative, Srisasanti Gallery. (Foto: Dok. Kohesi Initiative)

Relasi antara kebiasaan dan cara melihat di ruang digital mulai terasa lebih konkret di ruang pamer melalui format karya-karyanya. Selain pilihan material, ukuran dan proporsi karya memegang peran penting dalam pameran ini. Cipon mengadopsi rasio layar yang umum digunakan, seperti 16:9, 4:3, 1:1, hingga 21:9, proporsi yang akrab dijumpai pada layar ponsel, monitor, dan berbagai antarmuka digital. Ketika rasio-rasio ini diterapkan pada karya di atas kertas, cara melihat gambar terasa dekat dengan kebiasaan kita berhadapan dengan layar. Karya-karya tersebut tetap hadir sebagai objek fisik yang digambar secara manual, sementara formatnya membawa rujukan visual yang berasal dari pengalaman melihat di ruang digital.

Dalam struktur visual yang terkesan terukur, perhatian saya kemudian tertuju pada ragam material yang digunakan Cipon. Ia mengkombinasikan pensil, pensil warna, cat air, marker, cat akrilik, cat semprot, serta bahan vinil dalam satu bidang gambar. Perbedaan medium ini membuat satu warna tampil dengan karakter yang berbeda-beda, bergantung pada alat dan cara penerapannya. Garis, bidang warna, dan sapuan cat hadir berdampingan dalam satu permukaan gambar. Bekas coretan, cat yang meleber, hingga noda pensil yang berpindah dari tangan ke kertas dibiarkan terlihat sebagai bagian dari proses kerja. Detail-detail ini lebih mudah terbaca ketika karya dilihat dari jarak dekat, melalui tekanan garis, ketebalan warna, serta respons kertas terhadap bahan yang digunakan. Di titik ini, sisi manusia muncul melalui jejak-jejak proses yang tetap terlihat di dalam struktur visual yang tampak rapi.

Seiring perhatian pada struktur dan proses kerja tersebut, cara karya dipajang turut mempengaruhi pengalaman melihat. Secara umum, pilihan bingkai dan cara pemasangan mendukung kesan rapi yang dibangun sejak awal. Namun, terdapat beberapa detail teknis yang terasa kurang presisi. Pada salah satu karya, saya sempat melihat ada serangga yang terjebak di dalam bingkai. Temuan semacam itu memang tidak menggeser keseluruhan pengalaman melihat, tetapi bagi pengunjung yang memperhatikan detail–seperti saya–menjadi cukup mencolok. Sebagai catatan kecil, hal-hal semacam ini terasa menarik untuk dicermati lebih lanjut, terlebih dalam pameran yang banyak berurusan dengan struktur, pengulangan, dan jejak-jejak kecil yang muncul di luar kendali. Bisa jadi, ketidaksempurnaan dalam penyajian karya itu justru tanpa sadar ikut menegaskan sisi manusia yang dibicarakan pameran ini.

⁠Temuan serangga yang terjebak di dalam bingkai. (Foto: Dok. Penulis)

Pembahasan tentang ragam material dan proses kekaryaan Cipon menjadi lebih mudah dibaca ketika ditarik ke karya-karya tertentu. Melalui beberapa seri, pendekatan visual Cipon terlihat bekerja dengan cara yang berbeda-beda, meskipun masih berada dalam kerangka pameran yang sama. Tulisan ini tentu akan menjadi terlalu panjang jika saya membahas seluruh karya yang dipamerkan satu per satu. Karena itu, saya memilih untuk menyoroti beberapa seri karya saja sebagai contoh pembacaan, tanpa bermaksud menempatkannya sebagai karya yang lebih penting dibandingkan yang lain. Pilihan ini lebih didasarkan pada bagaimana seri-seri tersebut membantu memperjelas arah berpikir dan pendekatan visual Cipon dalam pameran ini.

Seri [hivemachine_initiation] dan [hivemachine_sentient-node] menjadi titik awal yang menarik untuk dibahas. Kedua karya ini tampil monokrom, berbeda dari sebagian besar karya lain yang menggunakan berbagai warna. Pilihan ini berkaitan dengan posisinya sebagai karya-karya awal dalam rangkaian Spectral Echoes; The Side of Human. Warna monokrom yang digunakan memberi kesan seperti cetak biru, sebuah tahap perumusan awal sebelum rangkaian visual Spectral Echoes berkembang lebih jauh. Permukaan karya terasa terukur dan sistematis, dengan struktur yang jelas serta pengulangan bentuk yang ketat, sebagai penanda fase perancangan awal dari keseluruhan karya.

Kesan cetak biru memengaruhi cara melihat karya-karya dalam seri ini sejak pandangan pertama. Tanpa kehadiran warna yang beragam, perhatian saya kemudian tertuju pada struktur, ritme, dan relasi antar elemen visual. Pengulangan bentuk dan keteraturan komposisi mengingatkan pada cara kerja yang saling terhubung, dibangun dari ketergantungan antar elemen visual dalam karyanya. Setiap bagian tampak memiliki perannya sendiri pada pembentukan komposisi karyanya secara keseluruhan. Di dalam keteraturan itu, jejak tangan tetap terasa melalui variasi tekanan garis yang tidak sepenuhnya seragam, menandai bahwa sistem ini masih dibentuk melalui proses manual.

Karya Dede Cipon “Hivemachine Initiation” dalam pamerannya Spectral Echoes: The Side of Human. (Foto: Dok. Kohesi Initiative)

Berbeda dengan pendekatan dari seri karya sebelumnya, seri [The Veil That Shrouds] menawarkan pengalaman visual yang lain. Salah satu elemen yang langsung menarik perhatian adalah penggunaan kaca akrilik hitam yang menutup sebagian permukaan karya. Penutupan ini menciptakan jarak antara apa yang dapat dilihat dan apa yang tertahan di baliknya. Dalam konteks pameran ini, lapisan hitam tersebut dapat dibaca sebagai bentuk sensor di ruang digital, di mana informasi kerap hadir dalam kondisi terpotong atau dibatasi.

Lapisan yang menutupi itu justru memancing keinginan untuk melihat lebih jauh. Ada dorongan untuk membayangkan apa yang berada di balik permukaan tersebut, mirip dengan upaya manusia mengakses informasi yang dibatasi melalui berbagai cara. Pada karya-karya dalam seri ini, akrilik hitam membatasi bagian gambar yang dapat dilihat, membuat pandangan berulang kali berhenti di tepi penutup itu. Melalui ketegangan inilah, [The Veil That Shrouds] memperlihatkan sisi manusia sebagai dorongan untuk menembus batas, membaca celah, dan terus mencari makna di tengah pembatasan.

Dede Cipon, tampak menjelaskan tentang salah satu karyanya dalam serial “The Veil that Shrouds.” (Foto: Dok. Kohesi Initiative)

Meskipun pendekatannya berbeda, dua seri karya ini membantu memperjelas spektrum cara Cipon bekerja dalam Spectral Echoes; The Side of Human. [hivemachine_initiation] dan [hivemachine_sentient-node] menandai tahap perancangan dan struktur awal dari rangkaian karya, sementara [The Veil That Shrouds] mengajak pembacaan yang lebih reflektif terhadap batas dan keterbatasan melihat. Keduanya hadir sebagai bagian dari jaringan visual yang saling berkaitan dalam pameran ini.

Dari Hermetisisme ke Ruang Digital: Pergeseran atau Kesinambungan?

Saya pertama kali mengenal praktik kekaryaan Cipon melalui pameran tunggalnya bersama Stem Project berjudul As Above So Below; As Within So Without di tahun 2023. Pada pameran tersebut, Cipon banyak membicarakan hermetisisme. Ketertarikan ini tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang dekat dengan budaya mistisisme, serta minatnya pada sains dan alam. Karya-karya pada periode ini meninggalkan kesan kuat bagi saya, hingga saat itu saya membaca praktik Cipon sebagai upaya memahami dan merumuskan berbagai persoalan mistikal, filosofis, dan ilmiah melalui bahasa visual.

Setahun setelahnya, saya kembali bertemu dengan karya Cipon di ARTJOG 2024 melalui seri SAKAN AD NRAEKTHISANA: The Rise & Fall of Nraekthi. Dalam seri ini, ia membangun realitas imajiner tentang peradaban bernama Nraekthi, sebuah bangsa yang digambarkan lebih tua dari umat manusia. Kisah tentang kemunculan, kejatuhan, dan kebangkitannya hadir sebagai refleksi atas tindakan kolektif dan konsekuensi yang menyertainya. Karyanya disusun menyerupai altar untuk menghadirkan nuansa ritual dan berfungsi sebagai pengingat spiritual agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Pada saat itu, saya tidak sempat membicarakan karyanya lebih jauh dengan Cipon, namun kecenderungan hermetis dalam praktiknya masih terasa bagi saya.

Karena itu, ketika Cipon kembali berpameran tunggal tahun ini dengan judul Spectral Echoes; The Side of Human, saya sempat merasa terkejut. Cipon yang saya kenal sebelumnya begitu dekat dengan kerangka hermetisisme, kini berbicara tentang ruang digital. Pergeseran ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana praktik-praktik sebelumnya tetap hadir ketika ketertarikannya kini mengarah ke ruang digital?

Sesi wicara seniman atau artist talk disambung dengan tur galeri untuk publik disertai tanya jawab terbuka bersama Dede Cipon, dipandu Pimred senirupa.id, Adhi Pandoyo. (Foto: Dok. Kohesi Initiative)

Dalam percakapan kami, Cipon menjelaskan bahwa keterkaitan antara praktik lamanya dan pameran ini memang ada, meski tidak hadir secara langsung dan berada dalam tema yang berbeda. Ia menyebut pameran ini sebagai upaya personal untuk memantapkan struktur dan kerangka kerjanya. Melalui proses reflektif terhadap praktik-praktik sebelumnya, ia mencoba membaca ulang apa yang telah dikerjakannya, memahami kecenderungan berpikirnya sendiri, lalu merumuskan kerangka yang lebih jelas dan mudah dibaca. Dari sana, Cipon mulai menyadari kecenderungannya untuk mengulik sistem dari berbagai hal. Ketertarikannya sering muncul dari upaya memahami bagaimana sesuatu bekerja, lengkap dengan kompleksitas dan detail-detail kecilnya. Pada praktik sebelumnya, kerangka kerja ini ia rasakan masih cukup kabur, bahkan bagi dirinya sendiri. Ia merasa mampu menjelaskan karyanya, namun kesulitan menyampaikannya secara utuh, hingga penjelasan itu kerap terasa berputar-putar. Melalui pameran ini, ia merasa setidaknya telah mampu mengelompokkan dan membaca ulang kecenderungan tersebut dengan lebih jelas.

Jika ditarik ke belakang, pameran-pameran sebelumnya memang masih berhubungan secara tidak langsung. Cipon masih tetap menggunakan kerangka berpikir yang serupa, dengan mengulik sistem pengetahuan mistikal, praktik spiritual, dan natural science. Perbedaannya terlihat pada arah ketertarikan yang ia kerjakan dalam pameran ini. Pada Spectral Echoes; The Side of Human, fokus tersebut bergeser ke ketertarikannya yang sedang ia dalami saat ini, yakni internet, ruang digital, dan kondisi post-digital secara umum.

***

Karya Dede Cipon “Ephemeral Dissolve into Oblivion.” dalam pameran tunggalnya bertajuk Spectral Echoes: The Side of Human di program Kohesi Initiative dari Srisasanti Gallery, Yogyakarta 6 Desember 2025 – 18 Januari 2026. (Foto: Dok. Kohesi Initiative)

Pada akhirnya, Spectral Echoes; The Side of Human tidak secara langsung memberi jawaban tentang posisi manusia di tengah sistem digital. Yang terasa justru bagaimana manusia hadir di dalam sistem digital itu, melalui kebiasaan melihat dan jejak-jejak kecil yang tertinggal dalam proses kerja. Struktur visual yang terukur, format yang familiar, dan detail-detail yang tidak sepenuhnya rapi membuat hubungan antara sistem dan manusia terasa lebih dekat saat dibaca melalui karya-karya tersebut.

Dalam pameran ini, sisi manusia tidak hadir sebagai oposisi terhadap sistem, juga tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang perlu dirayakan secara berlebihan. Sisi manusia muncul sebagai bagian dari proses yang berjalan, kadang selaras, kadang bergeser, dan sering kali bekerja tanpa disadari. Ketidaktepatan garis, perbedaan material, hingga detail yang terlewat menjadi pengingat bahwa dibalik keteraturan visual dan logika layar, selalu ada tubuh, kebiasaan, dan keputusan-keputusan kecil yang membentuknya.

Mungkin pertanyaan tentang sejauh mana kita menyadari keterlibatan diri kita sendiri tidak pernah benar-benar terjawab. Namun, melalui Spectral Echoes; The Side of Human, pertanyaan itu setidaknya dipertahankan untuk tetap terbuka. Di tengah arus informasi yang terus bergerak, pameran ini memberi ruang untuk berhenti sejenak, melihat kembali cara kita membaca, dan menyadari bahwa cara melihat itu sendiri sudah lama dibentuk oleh sistem digital yang kita hidupi setiap hari. []