Search
Close this search box.

USSAUR sampai Orbital Dago; Sebaiknya Kau Pahami Posisi Zeta Ranniry

Zeta Ranniry, lahir di Surabaya pada tahun 2003, adalah seorang seniman muda yang memiliki ketertarikan pada medium lukis. Zeta sudah mencatatkan namanya sebagai pelukis pada berbagai acara kesenian, seperti ARTJOG dan Art Moments. Pada bulan November 2025 ini, Zeta dihadirkan berbagai macam perayaan. Pada 7 November 2025, Zeta mengikuti pameran berjudul “Udah Sampe Sini Aja Udah Rejeki” (USSAUR) di Tjap Sahabat, Bandung, sebagai seorang pameris dan juga pembicara di rangkaian diskusi pameran tersebut. Masih di bulan yang sama, pameran tunggal pertama Zeta di Bandung yang dilaksanakan di Orbital Dago, dengan judul “Recall History; Foresee Destiny”. Sebenarnya, fenomena apa Zeta Ranniry ini, sebagai seniman dalam usia muda, tetapi dengan karya dan peristiwa pameran yang padat hanya dalam beberapa tahun terakhir. Simak ulasan kolega kami mencoba memahami Zeta Ranniry.

Zeta Ranniry, lahir di Surabaya pada tahun 2003, adalah seorang seniman muda yang memiliki ketertarikan pada medium lukis. Zeta sudah mencatatkan namanya sebagai pelukis pada berbagai acara kesenian, seperti ARTJOG dan Art Moments. Pada bulan November 2025 ini, Zeta dihadirkan berbagai macam perayaan. Pada 7 November 2025, Zeta mengikuti pameran berjudul “Udah Sampe Sini Aja Udah Rejeki” (USSAUR) di Tjap Sahabat, Bandung, sebagai seorang pameris dan juga pembicara di rangkaian diskusi pameran tersebut.

Lucky Fortune #1, 2025 (Foto: Dok. Zeta Ranniry)
Lucky Fortune #2 2025 (Foto: Dok. Zeta Ranniry)

Zeta menaruh dua karya yang ternyata merupakan karya-karya saat menjalani kelas studio lukis di Universitas Kristen Maranatha. Karya yang berjudul “Lucky Fortune #1” & “Lucky Fortune #2” tersebut selaras dengan semangat pameran “Udah Sampe Sini Aja Udah Rejeki” yang mengangkat isu seputar seni, tugas, dan capaian mahasiswa. Karyanya, dipajang bolak-balik dengan menggunakan benang yang terikat pada sebuah tiang yang menempel pada tembok dan membentuk seperti plang gantung yang dapat dilihat dari depan dan belakang.

Selain memamerkan karyanya, Zeta juga berperan sebagai pembicara pada diskusi yang melibatkan beberapa seniman muda lulusan jurusan seni rupa seperti Fajar Rustiawan dari Universitas Telkom dan Ramal Kamarama dari FSRD ITB. Pada diskusi tersebut, para pembicara membagikan pengalaman mereka saat pertama kali berkenalan dengan seni dan bagaimana seni membawa mereka sampai saat ini. Zeta, ternyata memiliki ketertarikan pada medium lukis dan gambar sejak berada pada bangku SMP. Dan ketertarikan itu yang kemudian terus diasah oleh Zeta hingga jenjang perkuliahan. Kuliah seni rupa, dengan format tugas dan tuntutan administratifnya justru membantu Zeta untuk melatihnya mengartikulasikan praktik melukis.

Pembukaan Pameran “Recall History, Foresee Destiny” di Orbital Dago (12/11/2025) (Foto: Dok. Penulis)

Perayaan kedua adalah pameran tunggal pertama Zeta di Bandung yang dilaksanakan di Orbital Dago, dengan judul “Recall History; Foresee Destiny”. Pameran tunggal tersebut dibuka pada tanggal 12 November 2025 oleh Erika Ernawan yang juga merupakan dosen dari Zeta di Universitas Kristen Maranatha. Rangkaian karya yang ditampilkan Zeta pada pameran ini merupakan keberlanjutan dari risetnya selama kurang lebih dua tahun mengenai candi, artefak, relief, dan museum. Pameran ini berupaya untuk membaca ulang sejarah dan menafsirkannya melalui bahasa visual kontemporer agar tetap relevan dan dapat dinikmati generasi muda. Setiap karya dibayangkan sebagai portal waktu, ruang di mana gagasan lama dan baru berdialog. Dengan suara yang pelan dan sedikit menggema, Zeta memberikan lukisan-lukisan kecil kepada Ibu Erika Ernawan yang bukan hanya dosen, tetapi juga guru bagi Zeta di luar perkuliahan, dan juga kepada Rifky “Goro” selaku pihak Orbital Dago yang sudah mengenal Zeta sejak awal berkuliah di Bandung. 

Recall History; Foresee Destiny, 2025. (Foto: Dok. Penulis)
Eksplorasi Figur, 2025. (Foto: Dok. Penulis)
Story of Panji #2, 2025. (Foto: Dok. Penulis)

Pada saat masuk ke ruang pamer, terlihat tiga lukisan besar di sebelah kanan ruang dengan warna dominan putih kecoklatan, dan aksen biru. Berseberangan dari tiga lukisan besar tersebut terdapat 2 rangkai lukisan berbahan dasar kanvas dengan bentuk lingkaran bermotif relief. Di sebelah pintu masuk dari ruang pamer, terdapat sketsa-sketsa eksplorasi figur menggunakan medium charcoal. Dan berseberangan dengan sketsa-sketsa tersebut. Terdapat karya interaktif dengan judul yang sama dengan judul pameran. Karya tersebut berbahan kanvas yang menjadi dasar untuk dilapisi dengan stiker. Stiker yang disediakan dapat kemudian diintervensi dengan menuliskan ramalan, atau bentuk ungkapan untuk ditempelkan pada kanvas berbentuk peta daerah yang dahulunya merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Secara menyeluruh, tiga lukisan besar terkesan sebagai “penyerang” dan empat karya lainnya sebagai “gelandang” yang siap mendukung dalam “pertandingan” kali ini.  

Dyah Suhita, 2025. (Foto: Dok. Penulis)
Tribhuwana Tunggadewi, 2025. (Foto: Dok. Penulis)

Menu Recall History; Foresee Destiny

Tiga lukisan besar tersebut menggambarkan ratu-ratu kerajaan Majapahit. Gayatri Rajapatni, Tribhu Tunggadewi, dan Dyah Suhita. Atensi awal, ketika melihat lukisan-lukisan ini, adalah bagian blok-blok putih kecoklatan di setiap lukisan. Blok-blok putih kecoklatan tersebut terkesan renyah, dari sesuatu yang padat, bahkan ada beberapa pecahan dari blok putih kecoklatan itu. Seperti melihat emping, camilan gurih, kering, rapuh dan memiliki warna kecoklatan jejak proses penggorengan. Blok-blok putih itu tidak terkesan setebal dinding, dan ternyata terbuat dari semen putih yang merupakan bahan untuk plester dinding. Blok-blok putih seperti menjadi remahan emping yang terdiam melapisi simbol-simbol ke-ratu-an penuh warna di dalamnya. Suatu permainan visual yang menggambarkan jarak antara lapisan yang “kering” dan yang memiliki kemewahan warna.  

Gayatri Rajapatni, 2025. (Foto: Dok. Penulis)

Menariknya, salah satu dari figur lukisan ratu ini tidak menghadap kita sebagai penonton, melainkan mendongak ke atas dengan tatapan yang dalam. Dilukiskan pada blok putih kecoklatan dengan detail yang tidak berlebihan, raut mukanya dapat terlihat menunjukan ekspresi terdiam terpenjara di antara ragu dan yakin menatap mahkota di atasnya. Lukisan tersebut berjudul “GAYATRI RAJAPATNI — Wisdom Consciousness”, seorang perempuan yang menolak tahtanya namun merupakan otak di balik pergerakan politik Majapahit di era emasnya. Di lukisan ini Gayatri Rajapatni menjadi suatu simbol dari kebijaksanaan dan kerendahan hati yang terlihat dari tatapannya yang terkesan mempertanyakan tahta yang ada di depan matanya. 

Bersamaan dengan figur Gayatri Rajapatni, terdapat figur seekor rusa, bunga teratai, candi penataran, dan arca prajnaparamita. Simbol-simbol yang merepresentasikan nilai-nilai kehormatan dan kebijaksanaan tinggi dilukiskan dengan warna yang lebih menyala dibandingkan figur Gayatri Rajapatni. Apa yang terlihat dari kontras ini barangkali menunjukkan pentingnya kehadiran nilai-nilai tersebut untuk terasa lebih hidup terlepas dari siapapun yang memilikinya. Jika blok putih dimana figur Gayatri Rajapatni dilukiskan adalah emping, suatu camilan, simbol-simbol mengenai nilai-nilai kehormatan dan kebijaksanaan tinggi adalah menu utamanya. 

Sharing Session. (Foto: Dok. Penulis)

Pameran tunggal Zeta Ranniry “Recall History; Foresee Destiny” berlangsung dari tanggal 12 November sampai 23 November 2025 turut diramaikan dengan adanya dua aktivasi pada tanggal 16 November 2025. Aktivasi ini kemudian bertajuk “sharing session” dan “art jam”, suatu kegiatan diskusi ringan yang berfokus pada praktik kesenian dan kegiatan menggambar bersama menggunakan charcoal. Dua aktivasi tersebut dibantu oleh Dengarupa, suatu kelompok kesenian terdiri dari C.N. Dwaji dan Renitta Karuna yang berperan sebagai pemandu acara. Dibuka dengan cerita oleh Zeta mengenai praktiknya dan sedikit-banyak bersinggungan dengan pengalaman personalnya yang kemudian direspon oleh para audiens yang juga menghubungkannya dengan praktik-praktik pribadi. Zeta, seniman berusia dua puluh dua tahun yang bisa dibilang cukup produktif berangkat dari kegemarannya untuk melukis. Berkarya untuknya tidak secara spesifik bertujuan untuk laris di dalam pasar, Zeta merasa apresiasi dalam bentuk pembelian adalah bonus. Kebanyakan audiens yang menghadiri aktivasi tersebut berlatar belakang mahasiswa, dan banyaknya mahasiswa yang bukan berasal dari jurusan seni cukup memperlihatkan eksistensi Zeta dan praktik keseniannya di lingkup yang lebih luas. Pertanyaan-pertanyaan mengenai teknik melukis yang dilontarkan kepada Zeta dari para mahasiswa seringkali terkesan adanya kekaguman atas bagaimana Zeta berkarya. 

Persoalan teknis seperti manajerial dan proses pendalaman teknik lukis Zeta merupakan lauk lain dari diskusi tersebut. Zeta memaparkan bagaimana kehadiran manajer sangat membantunya untuk mengupas titik buta dari Zeta sebagai seniman. Titik buta yang dimaksud adalah bagaimana kondisi, trend yang terjadi saat ini, dan pemilihan mentor yang mampu membantu Zeta dalam praktik keseniannya. Pemilihan mentor didasari dari kesadaran Zeta atas apa yang perlu ia pelajari, seperti Pak Isur Suroso yang karya-karyanya dekat dengan melukiskan figur. Keputusan Zeta untuk memiliki seorang mentor ternyata terinspirasi dari budaya olahraga bulu tangkis. Dimana seorang juara bulu tangkis memiliki tanggung jawab untuk “mencetak” juara-juara berikutnya. Pada pendalamannya, Zeta menemukan istilah-istilah seperti “golden time” dalam melukis, dimana seniman berada dalam zona berkarya terfokus selama kurang lebih empat jam tanpa henti. Fokus menjadi kata-kata yang sering keluar pada diskusi mengenai teknik melukis. Dikarenakan Zeta belajar secara intensif mengenai bagaimana setiap goresan dari praktik melukis adalah hasil dari kemampuan seniman untuk fokus, bagaimana perubahan fokus berdampak pada perubahan goresan. Tak berhenti disitu, Zeta juga membagikan cerita tentang bagaimana Zeta mengimbangi intensitas praktik melukisnya yang portrait realist dengan sesekali melukis abstrak sebagai alat “kalibrasi rasa” untuk kembali pada titik nol dan kemudian melanjutkan melukis portrait realist.  

Beberapa pertanyaan mengenai gagasan dan semangat berkesenian Zeta juga muncul, membuat diskusi terasa lebih utuh. Zeta pada awalnya berkarya atas dasar kegemarannya terhadap boyband korea yang dituangkan dalam bentuk fan art, mengembangkan praktiknya dengan melihat kejadian-kejadian yang dialaminya sebagai inspirasi. Contohnya karya-karya pada pameran tunggal ini, berangkat dari risetnya mengenai Majapahit yang beriringan dengan kunjungannya ke Mojokerto dan Kediri. Suatu topik yang awalnya bukan merupakan hal yang digemari, Zeta belajar untuk melihat kepentingan dari topik-topik lain yang juga turut membentuk dirinya sampai saat ini. 

Selain pengalaman berkunjung ke suatu tempat, respon dari berbagai pihak cukup menjadi hal yang ditunggu Zeta. Menurutnya, respon-respon terhadap karyanya merupakan pemantik ide untuk karya-karya berikutnya. Kepentingan untuk memamerkan karya menjadi sangat terlihat dari bagaimana Zeta mampu mengubah respon-respon audiens menjadi dorongan untuk terus melakukan hal yang ia gemari, yaitu melukis. Karya-karya Zeta seperti hadir untuk bertanya, dan jawaban yang didapati adalah daya hidup yang kemudian menjadi sebuah siklus yang terus berjalan. 

Art Jam. (Foto: Dok. Penulis)

Tak kalah menarik, “art jam” yang berlangsung setelah diskusi tersebut mampu mengubah suasana ramai diskusi menjadi lebih ringan. Kegiatan menggambar bersama memfasilitasi audiens dengan charcoal, kertas, serta referensi gambar. Audiens duduk di lantai, berdekatan, dan melingkar namun tetap memberi ruang yang cukup leluasa untuk setiap masing-masingnya menggambar. Menjadi seperti wadah bagi audiens untuk masuk ke zona berkarya yang menenangkan. Obrolan dan gurauan menjadi lebih singkat namun menyenangkan, pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat ditanyakan pada sesi diskusi juga menemukan ruangnya pada kegiatan ini. Kakak dan adik dari Zeta turut hadir untuk menyaksikan dan mendokumentasikan kegiatan tersebut. Dua aktivasi tersebut adalah ruang perjumpaan yang jujur, tak dipaksakan, dan mengalir sebagaimana adanya.  

Zeta adalah Seorang ABCD

Satu hari sebelum aktivasi di pameran tunggalnya, pada 15 November 2025, Zeta merayakan capaian akademisnya pada acara wisuda Universitas Kristen Maranatha. Pada suatu postingan yang diunggah oleh orang tuanya di platform Instagram, Zeta menggunakan baju kebaya, berpose tersenyum sambil mengangkat topi toganya. Postingan tersebut dilengkapi dengan caption yang menuliskan Zeta lulus dengan predikat cumlaude berdasarkan indeks prestasi kumulatif atau IPK, 3.95. Zeta tak hanya bertanggung jawab atas perkuliahannya tapi juga lulus dengan capaian yang membanggakan untuk menutup perayaan beruntunnya selama berada di Bandung.

Zeta seseorang yang gemar melukis. Zeta seorang seniman muda dengan berbagai penghargaan di dunia seni. Zeta seorang seniman yang produktif. Zeta seorang pembicara dalam diskusi. Zeta seorang anak yang pendiam. Zeta seorang penggemar boyband korea. Zeta seorang lulusan cumlaude dari jurusan seni rupa Universitas Kristen Maranatha. Zeta seorang pelukis portrait realist yang dikagumi. Zeta seorang murid dari seniman dengan medium lukis. Zeta seseorang yang sedang secara beruntun merayakan capaiannya. Zeta seorang teman dari seniman-seniman muda lainnya. Zeta seorang adik yang sesekali ikut nongkrong. Zeta a, Zeta b, Zeta c, Zeta d. 

Diskusi Hari Pertama Pameran “Udah Sampe Sini Aja Udah Rejeki.” (Foto: Dok. Pecosbil)

Kita dapat selalu melabeli seseorang secara beragam. Melihat dari posisinya, kondisinya, karakternya, “bendera” di belakangnya, ketertarikannya, dan berbagai macam kegiatan yang dilakukannya. Dan keberagaman label yang didapati Zeta menggambarkan kehadirannya karena keragaman kegiatan yang ia jalani. Kehadiran yang terus menerus bertambah selama Zeta masih melakukan praktiknya. Di dunia kesenian, di keluarga, di pertemanan, di kehidupan sosialnya. Apa yang dilakukan Zeta seperti mengajak kita untuk tidak berhenti pada satu label saja. Zeta memiliki berbagai capaian yang patut diapresiasi bukan hanya karena kecanggihan karyanya tapi juga kepribadian dan kegigihannya untuk terus mencoba belajar dan “hadir”. 

Zeta adalah seorang ratu yang terus menerus mempertanyakan posisinya. Sebagai bukti dari kehadirannya di dunia ini, segala capaian Zeta perlu “dirayakan”. Karena dengan “perayaan” tersebutlah kita dialami, direspon, dan berinteraksi dengan sesama dan sekitar. Percobaan untuk terus “hadir” hingga berada di dalam kondisi multi-posisi adalah tanda bahwa kita masih memiliki daya hidup. Mungkin kita tak perlu bertanya dimana posisi tetap kita. Berada di dalam dunia yang terus bergerak dan berkembang, menjadi mungkin bagi kita untuk dapat hadir sebagai seseorang yang fleksibel dan eksploratif. Dari melukiskan fan art menjadi mengupayakan keterhubungan antar waktu. Dari membahasakan lewat medium lukis hingga mengartikulasikan praktik melukis itu sendiri. Dari pendiam menjadi pembicara yang banyak diminta berbagai tips. Dari interaksi menjadi daya hidup. Dari kegemaran menjadi perayaan. Dan dari terus menerus mempertanyakan, dapat menjadi kehormatan dan kebijaksanaan yang ditularkan pada khayalak luas. 

Zeta adalah Manusia 

Segala label dan persepsi atas posisi yang dihadapi seseorang terkadang berubah menjadi sebuah tuntutan yang menakutkan. Kita terperangkap pada ekspektasi yang sering kali imajiner yang terasa dari respon-respon yang kita dapati. Penting bagi kita untuk bisa melihat dan menyusuri respon-respon tersebut untuk mengembangkannya secara optimal. Bukan untuk mematuhi respon-respon tersebut tapi bagaimana respon-respon tersebut kemudian menjadi bahan yang terus kita rekonstruksi dengan kesadaran dan berdasarkan kondisi dan potensi yang kita miliki.

Zeta secara natural merekonstruksi respon-respon tersebut kedalam bentuk lukisan sebagai medium untuk bertanya lagi. Kemampuan tersebut tentu muncul dari proses dan interaksi yang didukung sepenuh hati oleh lingkup sosial dan lingkungan yang kita jumpai. Dari dukungan dan apresiasi berbentuk respon tersebutlah Zeta dapat terbang menggapai segudang pencapaiannya.

Zeta Usai Wisuda/ (Foto: Dok. Pribadi Zeta Ranniry)

Zeta bukanlah sebuah mesin produksi di suatu pabrik yang bekerja karena tuannya atau siapapun yang memaksakan karir keseniannya, bukan juga seekor binatang buas yang melahap segala sesuatu dengan gegabah. Zeta adalah manusia, yang terus menerus mengasah kemampuannya. Meng-indah-kan suatu praktik sebagaimana adanya, tidak berlebihan, dan jauh dari kata kurang.