Search
Close this search box.

Biennale

Biennale Jogja 18: Membaca Kurasi sebagai Negosiasi Publik

Biennale Jogja 18 (2025) barangkali suatu fenomena yang memicu diskursus quo vadis seni rupa…

Mudahnya Mencari Makna di Biennale Jogja 18

Jumat bulan lalu (21/11), muncul ulasan dan kritik atas perhelatan dua tahunan, Biennale Jogja…

Prananing Boro dan KKN “Kesenian Kerja Ndeso” Biennale Jogja

Pameran yang kami kunjungi punya tema besar Kawruh: Tanah Lelaku. Perhelatan ini adalah pameran…

Apa yang Kita Bicarakan Saat Kita Berbicara Tentang Pesta Boneka

Papermoon selalu merespons beragam situasi melalui teater boneka dengan cara yang paling manusiawi. Di…

Biennale Anonim: Kekuratoran Kolektif dalam Jakarta Biennale 2024

Jakarta Biennale kembali ke Taman Ismail Marzuki pada 1 Oktober – 15 November 2024,…

Mupakara: Merawat Solidaritas, Meruwat Realitas

Mupakara adalah kata kunci yang diusung dalam Simposium Khatulistiwa 2024, salah satu program rutinan…

Setua Apapun Gambar Purba di Maros-Pangkep, Masihlah Dianggap Buatan Setan

Pada tahun 2014, ketika lukisan stensil tangan di Leang Timpuseng, juga di Kabupaten Maros…

Keledai Jatuh Lagi ke Lubang yang Berbeda: Catatan Belakang Layar Biennale Jatim

Setiap dua tahun, kami selalu menerima kritik yang sama: Biennale Jatim lemah, medannya terlalu…

Asa Khatulistiwa Sedasawarsa, Menyibak Perjalanan Biennale Jogja

Dirancang dan disusun terbit sejak Desember 2022, buku terbitan Yayasan Biennale Yogyakarta ini berhasil…