“Maneh, Jin?! Mbok baleni maneh?!“
Kalimat itu keluar dari mulut Eki Dimas, saat pertama kali mendengar aku terlibat lagi dalam pagelaran Biennale Jatim. Aku seperti keledai yang terperosok ke lubang yang sama dua kali. Aku ingat kata demi kata karena ucapannya terus menggema di belakang kepalaku.
Lima tahun silam adalah kali pertama aku beririsan dengan Biennale Jatim (BJ8). Setelah tujuh kali terselenggara terpusat di Surabaya, Biennale Jatim saat itu “diambil alih” oleh generasi lebih muda yang bermimpi untuk membuat kata “Jatim” dalam Biennale Jatim sungguh-sungguh menjadi nyata. Sejak itu, mereka membawa gagasan desentralisasi ke permukaan, menekankan pentingnya koneksi antarkota dan kabupaten di Jawa Timur, dan menjalankan program-program yang partisipatif. Aku juga perlu menyebutkan kalau sejak itu, mereka menjadi sangat miskin karena tidak lagi mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah daerah.
Di penghujung tahun 2019, BJ8 direncanakan dan dieksekusi secara kilat, membuka pintu untuk siapa saja yang ingin membuat program secara swadaya. Aku bersama Keliling Art Space terlibat dalam salah satu dari 65 kegiatan yang saat itu diadakan. Kami mengorganisir program art tour mengunjungi beberapa pameran BJ8 yang tersebar di Surabaya.
Dua tahun setelahnya, Direktur Program Biennale Jatim IX (BJIX) mengajak Keliling Art Space untuk kembali mengadakan art tour, mengunjungi sebagian dari 116 program di Biennale Jatim IX. Dalam pandanganku, BJIX nampak jauh lebih serius daripada BJ8, apalagi dengan dukungan Goethe-Institut yang membantu mereka meluaskan teritori dan program ke seluruh kota-kabupaten di Jawa Timur.
Sementara dalam penawarannya, Direktur Program menyampaikan bahwa
BJIX tidak dapat menyediakan dana operasional, tapi BJIX dapat menyediakan transportasi dan penginapan, sehingga Keliling hanya perlu menganggarkan biaya bensin dan mengorganisir titik-titik tur. Bahkan, BJIX juga akan terlibat dalam tim penyelenggaraan program. Penawaran menarik dan masuk akal ini dengan mudah disetujui oleh Keliling.
Beberapa minggu berlalu, padat dengan rapat-rapat panjang untuk menyusun data-data yang menumpuk di layar laptop. Waktu kian berlalu, anggota tim dari sisi BJIX semakin pasif, terdistraksi dengan pekerjaan utamanya di BJIX. Ketika perihal teknis sudah selesai, segala yang dijanjikan—berupa fasilitas transportasi, penginapan, dan divisi sponsor BJIX—lenyap menjadi omongan belaka. Berusaha untuk mempertahankan hasil kerja keras, program ini pun kami undur. Semakin pesimis, kami mereduksinya dalam lingkup Surabaya. Tentu saja, pada akhirnya program ini terpaksa kami batalkan. Poster diturunkan, menyisakan folder berisi segala data yang telah kami susun yang tidak tega kami hapus. Kami berhasil keluar dari lubang itu.

Dua tahun berlalu dan siklus itu kembali dimulai dengan penawaran yang sangat meyakinkan. Ketika Bintang Putra (kurator) dan Ayos Purwoaji (direktur artistik) meminangku sebagai asisten kurator Biennale Jatim X (BJX). Prosesnya sangat jelas. Linimasa, lingkup kerja, hingga rencana venue dan tanggal pameran, semuanya disampaikan sejak awal.
Begitu juga dengan kerangka kuratorial “Cultural Synthesis” yang dibagi dalam tiga wilayah geografis di Jawa Timur, yaitu wilayah perkotaan dengan Bintang Putra sebagai kurator dan aku sendiri sebagai asisten kurator, wilayah pesisiran dengan kurator Lucky C. Pratama dan asisten kurator Kharisma Nanda Zenmira, dan wilayah pegunungan dengan kurator Lisistrata Lusandiana dan asisten kurator Danny Kristiawan. Kontrak juga sudah diberikan setelah rapat perdana kami, lengkap dengan nominal kompensasi kami.
“Maneh, Jin?! Mbok baleni maneh?!“
Kata-kata itu mulai menggema ketika pameran utama yang awalnya tegas direncanakan pada tanggal 29 September-29 Oktober 2023, karena ketidakpastian ruang pamer dan keterbatasan dana, diundur pada tanggal 9 Desember 2023-7 Januari 2024. Terus menggema ketika pilihan lokasi awal, yaitu Stadion Gelora Sidoarjo yang begitu lapang, dengan kapasitas untuk ribuan orang dan tata ruang yang didesain oleh biro arsitektur SB301 dengan begitu megahnya, ternyata tidak dapat disewa. Lokasi Biennale kemudian dipecah dalam 7-9 venue yang cekak.
Tepat 25 hari menuju pembukaan pameran. Lebih tepatnya lagi, empat hari setelah Benggala Project pulang ke Jogja selepas perjalanan riset di Sampang. Ketika kami menikmati kopi di sebuah kedai, Asep Saepuloh sedang menyeruput kopinya sambil mewawancara Sudut Kalisat di Jember. Ketika kami duduk dan memulai pembicaraan, Candrani Yulis juga duduk di studionya di Jogja, menunggu tukang mengerjakan packing karya gigantisnya. Itu baru dari tim Perkotaan, belum dari tim kurator Pesisiran dan Pegunungan, yang semuanya—sejumlah 35 perupa—sudah dikontrak. Jadi, bisa dibayangkan perasaan para kurator ketika Direktur Utama BJX menyampaikan dengan berat untuk membatalkan Biennale yang telah kami siapkan selama sebelas bulan terakhir.
Diundur, kemudian direduksi, hingga berakhir dibatalkan. Rasanya aku hampir tertawa karena apa yang dikatakan Eki Dimas menjadi kenyataan.
Merangkum apa yang disampaikan Direktur Utama, Dwiki Nugroho Mukti, tim manajemen kesulitan untuk mendapatkan venue dan pendanaan. Memang sulit untuk menemukan ruang pamer yang cukup longgar di Jawa Timur untuk menampung puluhan karya seniman, sedangkan banyak sekali pertimbangan yang perlu diambil ketika ingin menyulap ruang-ruang alternatif menjadi sebuah venue Biennale—mulai dari akses, keamanan, kelistrikan, pencahayaan, dan masih banyak lagi.
Venue yang tak kunjung menemukan kejelasan ini berpengaruh besar dalam mencari pendanaan. Sulit mempersuasi sponsor ketika venue masih belum ditentukan. Di sisi lain, BJX juga kelewat miskin sampai hanya cukup untuk membayar cancellation fee untuk semua perupa, dan hanya membayar sebagian dari honorarium kurator yang disepakati dalam kontrak. Dana produksi pameran? Nihil.
Sebenarnya, itu sama sekali tidak mengejutkan. Semua orang dalam rapat itu tahu betul, memang begitulah kondisi di Jawa Timur. Rasanya, kami semua sudah bersahabat dengan kesulitan-kesulitan seperti itu. Justru janggal rasanya bila tidak menyusun rencana cadangan kalau-kalau memang tidak bisa mendapatkan keduanya, apalagi dengan waktu persiapan sepanjang satu tahun. Pada akhirnya, aku percaya tim manajerial telah melakukan segala dalam kapasitasnya.

Sebenarnya kesulitan terbesar BJX bukanlah kesulitan keuangan, tapi komunikasi. Karena respons tim kurator kala itu selain ngotot pameran harus ada, juga menawarkan alternatif-alternatif baru. Bintang, yang merupakan bagian dari Institut Seni Tambak Bayan, menawarkan Kampung Tambak Bayan sebagai venue, di mana produksi Biennale bisa dikerjakan secara kolektif. Danny, yang bekerja sebagai staf di Orasis Art Space, mengusahakan dukungan finansial Orasis dalam produksi pameran. Lisis bahkan menghibahkan seluruh honornya untuk tambahan dana produksi. Tidak ada satupun tim kurator yang mengiyakan Biennale dibatalkan. Dalam ekosistem seni rupa di Jawa Timur, bila ada satu hal yang pasti, adalah pegiat di dalamnya sudah terlatih untuk menyiasati. Tapi, bagaimana jadinya dengan para perupa?
Jadi, datanglah pekerjaan sulit itu. Kami, sebagai tim kurator, punya tugas berat untuk menghancurkan ekspektasi perupa, seperti halnya manajemen meremukkan ekspektasi kami. Hasil rapat masih buram, tapi yang jelas, menit demi menit, mereka sedang merogoh dana produksi yang tidak akan pernah datang. Tidak ada buku, pengalaman, kata bijak yang mempersiapkanku untuk menghadapi ini. Kecuali, hanya untuk bicara seadanya saja.
Tentu, kami tidak memaksa perupa untuk tetap berpartisipasi dalam Biennale ada-adaan ini. Mereka bisa menyelesaikan karyanya dengan dana terbatas, bisa membawa karya unfinished, bahkan menghadirkan sketsa karya saja. Kami tak berharap banyak, bila pada akhirnya semua perupa menghadirkan sketsa, sudah sangatlah cukup. Tapi, di luar ekspektasi kami, hanya tiga perupa yang tidak dapat melanjutkan proses partisipasi.
Sebagian besar perupa, menghadapi segala kelokan yang muncul secara tiba-tiba ini, tetap memutuskan untuk mendukung jalannya Biennale Jatim X. Bahkan, mayoritas perupa membawa sendiri karyanya ke lokasi. Bahkan tidak sedikit perupa yang merogoh koceknya untuk menutupi biaya produksi. Perupa muda Pasuruan bernama Shihabudin misalnya, untuk membangun instalasi kapal sepanjang 3,5 meter tentu memakan biaya yang tak sedikit, belum lagi biaya kirim dari Pasuruan. Asep Saepuloh yang sedang berada di Jember ketika mendapatkan kabar tersebut, malah terus menjalankan residensinya hingga hampir satu bulan.
Barangkali proses penyesuaian ini paling baik diceritakan melalui karya Muhammad Zeian. Beberapa bulan setelah Tragedi Kanjuruhan, insiden penghimpitan kerumunan pascapertandingan sepak bola yang menewaskan 135 korban, Zeian melahirkan karya instalasi berjudul “Penduso Table Game” (2022). Karya miniatur permainan sepak bola meja dalam bentuk penduso atau keranda ini ia pamerkan dalam pameran The Lidos Malang Toys Fest. Di awal diskusi, Zeian berencana untuk memperbesar instalasi tersebut dengan skala 1:1.
Ketika mendapatkan kabar mengenai keterbatasan dana, Zeian memutuskan untuk mengirimkan sketsa karya tersebut dalam 3D motion graphics. Karena keterbatasan dalam pengadaan TV, Zeian menawarkan layar mininya berukuran A6. Tak lama setelah layarnya datang dan kurator memutar otak untuk mencari cara menampilkan karya Zeian dengan layak, Zeian mengirimkanku foto batu nisan. Idenya: menampilkan layarnya dalam frame batu nisan. Dalam waktu satu hari, batu nisan berbahan multiplek bekas selesai dikerjakan di Tambak Bayan. Kurator melengkapi instalasi dengan pedestal rendah menyerupai makam, mengundang pengunjung berjongkok untuk menikmati karya, seolah-olah mereka sedang melayat. Setelah mengirimkan foto tampilan akhir, Zeian menulis narasi baru untuk karyanya yang kini ia beri judul “Setelah Penduso Table Game, Hingga…” (2023).
Karya sebelumnya (Penduso Table Game) merangkum kekacauan yang terjadi dan mempertanyakan siapakah “pemain” dalam insiden waktu itu. Setahun berlalu keadaan menjadi semakin pelik, sang “pemain” belum juga ditemukan, semakin rancu dan berbelit. Banyak kubu terbentuk dan saling bertikai. Jika diurutkan, penduso table game seakan diarak menuju liang lahat lantas dikebumikan ramai-ramai dan ditinggal setelahnya.

Justru siasat yang membuat karya Zeian menjadi jauh lebih relevan dengan narasi Kanjuruhan saat ini, sekaligus merefleksikan proses yang dihadapinya sepanjang BJX. Proses semacam itu juga yang terjadi dengan banyak perupa lainnya.
Sementara para partisipan merampungkan karyanya, tim kurator dan manajemen menyiapkan produksi pameran. Satu sponsor telah berhasil dikunci untuk membiayai produksi pameran. Buru-buru venue ditetapkan: Orasis Art Space, di bawah koordinasi Lucky dan Zenmira; Rumah Budaya Sidoarjo, di bawah Ayos—yang mewakili Lisis—dan Danny; terakhir, Tambak Bayan, di bawah koordinasi Bintang dan Eugenia.
Pada bulan September 2023, Lisis berangkat ke Amerika untuk menempuh studi doktoral. Sembari menunggu kurator lain mengembangkan pameran, Lisis mengambil peran sebagai penulis esai kuratorial. Sejak awal, karena keterbatasan waktu, tim kuratorial menyepakati untuk menampilkan satu esai kuratorial yang sama untuk semua venue. Sehingga pantas jika esai kuratorial ini hanya mempersembahkan temuan dari setiap teritori di lapisan permukaan saja. Esai tersebut bersifat umum dan merangkum, tidak menyentuh narasi partikular yang hadir di setiap venue. Sebagai gantinya, narasi kuratorial yang spesifik ini berusaha dihadirkan dalam judul pameran. Tentu saja, ini sangat jauh dari ideal.
Ruang-Ruang Pamer yang Menyebar
Perhelatan di Orasis Art Space menawarkan narasi “Invisible Territories”. Padat dengan 19 karya— artinya lebih dari setengah jumlah total karya BJX—yang didominasi dengan karya instalasi. Skenografi pameran dikerjakan oleh biro arsitektur dan desain OTONOM. Tak hanya memenuhi ruang indoor, karya-karya juga tampil di taman belakang dan lorong galeri.
Berdasar informasi dan narasi karya yang terbatas, OTONOM menata ruang pameran dengan menitikberatkan pada pertimbangan-pertimbangan material dan arsitektural. Alhasil, konteks-konteks karya menyebar secara sporadis. Misalnya, “Pecel Memory” (2023) karya Nisrina Aulia tentang bagaimana kerinduan diaspora Jawa Timur akan makanan pecel, ditempatkan berjauhan dengan karya Syamsul Pranata berjudul “Pe(rasa)an Kepada Laut” (2023) tentang bagaimana proses olahan makanan laut bisa sampai ke atas piring kita. Sama halnya dengan perahu Shihabudin yang berlabuh di taman belakang, sementara instalasi perahu Gata Mahardika berjajar di bagian dalam galeri.
Ketika rancangan skenografi tidak secara eksplisit mengelompokkan karya berdasar gagasan teritorial, saat itulah batasan antarteritori menjadi semakin lebur. Peleburan ini membuka ruang bagi perjumpaan-perjumpaan baru yang bisa ditarik ke segala arah. Tidak ada batasan bagi pengunjung untuk menafsirkan hubungan-hubungan teritorial yang hadir dalam setiap karya.

Dinamika peleburan teritorial ini juga hadir dalam karya Gata Mahardika, “Maris Ex Absentia” (2023). Karya tersebut berupa figur perahu-perahu berkaki yang mengembara (atau justru terdampar dan dipaksa mendarat?), menciptakan dialog tentang wilayah pesisiran yang ditaklukkan oleh tembok-tembok kawasan industri. Masyarakat tradisional pesisir terpaksa mengalami proses evolusi dan adaptasi dalam aktivitas keseharian, mengubah mata pencaharian, tata wicara, dan kebudayaannya. Demikianlah, perahu-perahu Gata hidup dalam teritori ambang dalam suasana post-industri.
Wacana invisible territories juga hadir dalam karya “Fragmen Brantas” (2023) karya Rakhmi Fitriani. Melalui karya tersebut, Rakhmi mengeksplorasi hubungan kompleks antara manusia dan air melalui kartografi Sungai Brantas. Merentang dari hulu di kaki Gunung Arjuno, melintasi lanskap kota-kota, hingga mencapai muara di daerah pesisir. Rakhmi menerjemahkan citra satelit menjadi tiga lembar karya tekstil dengan kekayaan tekstur mewakili tutupan lahan dari
peta yang diamati. Ia berupaya untuk menangkap realitas penggunaan ruang di sekitar sungai, yang umumnya merupakan gejala urbanisasi, termasuk pembangunan, permukiman, normalisasi dan naturalisasi. Rakhmi merefleksikan bagaimana fenomena-fenomena tersebut berpengaruh terhadap aliran Sungai Brantas.

Terlepas dari konten pameran, satu hal yang penting untuk dicatat yaitu meski Orasis Art Space terkesan sangat eksklusif, tidak saja karena desain arsitekturnya yang tertutup, tetapi juga lokasinya yang nyaris tersembunyi di dalam kompleks perumahan elit di Surabaya. Tetapi art space ini justru menjadi ruang seni yang begitu inklusif terhadap anak-anak dan difabel. Mereka mengupayakan inklusivitas melalui deskripsi ramah anak pada setiap karya, menyelenggarakan tur pameran untuk anak, menyediakan fasilitas pendukung seperti rampa untuk kursi roda, dan penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Meskipun Orasis Art Space memiliki fasad yang intimidatif, ruang ini sejatinya menjadi tempat yang ramah dan terbuka bagi siapa saja.
Sementara itu, Tambak Bayan dengan tajuk pameran “Masuk Pagar Belok Kiri” menjadi rumah untuk delapan karya yang menyuarakan tentang isu-isu kemanusiaan, lingkungan, dan tradisi. Ruang komunitas (Tha Yang) yang terletak di hati kampung ini, digunakan sebagai ruang berkumpul warga dan inisiatif Institut Seni Tambak Bayan lengkap dengan glangsing dan barang-barangnya. Teras yang ramai dengan aktivitas warga, dinding-dinding bercorak lumut dengan lapisan kapur yang terkikis, serta tak ada rel lampu spot yang menggantung di langit-langit yang terlampau reyot. Ruang pamer di Kampung Tambak Bayan adalah kontras dari Orasis Art Space.

Apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan dengan ruang pameran yang bocor dan selalu banjir di puncak musim hujan? Tidak lain adalah menampilkan karya “Epos Tenggelam” (2023) oleh Benggala Project dalam ruang itu.
Ketika mendengar tentang Kota Sampang, banyak orang berasumsi bahwa tantangan perkotaan masyarakat Sampang adalah banjir yang melandanya setiap tahun. Luput dari perhatian banyak orang adalah kekayaan sejarah Sampang yang sebenarnya mulai terlupakan oleh masyarakatnya sendiri. Benggala menggunakan banjir Sampang sebagai metafora bagaimana sejarah tenggelam dan hanyut oleh arus ketidakpedulian.
Karya ini adalah instalasi berupa kolam air yang terletak persis di bawah celah atap yang bocor. Kolam tersebut menampung tetesan-tetesan air hujan, menjadi representasi nyata banjir, yang di dalamnya menampung beberapa foto-foto artefak yang hanyut. Tembok yang berlumut juga menjadi latar yang tepat untuk memproyeksikan visual mengenai temuan-temuannya ketika riset lapangan, lengkap dengan lagu “Sampang Banjir Pole” yang diputar di speaker mini dengan pendar lampu disko.
Seperti Benggala Project, karya-karya di Tambak Bayan diupayakan untuk menyatu dengan ruangannya. Barang-barang yang berceceran mengelilingi karya tidak lagi mendistraksi, malah menjadi ornamen-ornamen yang menunjang presentasi setiap karya. Giliran ketika masuk ke dalam ruangan Ivan Lou, karya video berjudul “Proyek Instalasi Tumbuh” (2023) diputar melalui layar CRT.
Sebagaimana dapat disaksikan dalam videonya, Ivan juga menghadirkan tanah yang ditaburi bibit-bibit tanaman. Pengunjung seakan-akan sedang dijamu oleh karyanya ketika duduk di kursi plastik yang biasa ditemukan di teras atau ruang tamu. Dengan begitu, barang-barang yang ada di sekitar karyanya, seperti meja lipat, kipas angin rusak, sepeda bekas, dan barang-barang sehari-hari lainnya, menjadi wajar untuk ada di sana.
Ketika kepekaan terhadap interaksi karya dengan ruang pamer terbangun, begitu pula dengan interaksi antarkarya. Karya video kanal tunggal Irene Febry yang berjudul “Home in the Afterlife” (2023) tentang tradisi masyarakat Tionghoa yang membakar kertas dupa untuk para leluhur. Dalam deskripsi karyanya Irene menulis bahwa karyanya sekaligus dimaksudkan sebagai “doa khusyuk bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan, di masa lalu dan masa kini”. Dalam deskripsi karya, doa ini sebenarnya ia tujukan juga untuk korban serangan Israel atas Palestina. Tetapi, ketika karyanya ditempatkan berhadapan dengan “makam” milik Muhammad Zeian, ritus tersebut seolah-olah juga sekaligus mendoakan korban dan keluarga tragedi Kanjuruhan. Kedua karya tersebut terhubung dalam tema kematian.
Pameran BJX di Rumah Budaya Malik Ibrahim, memiliki judul cukup janggal dibandingkan kedua venue lainnya. “Sambung Slamet” sebenarnya adalah judul pameran kolektif Serbuk Kayu yang mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pameran ini kemudian disatukan dengan BJX, dengan pertimbangan bahwa karya-karyanya masih berada dalam kerangka kuratorial BJX. Tentu saja, ini juga merupakan siasat untuk memangkas biaya produksi secara signifikan.
Begitu kita melangkah masuk, pengunjung disambut dengan karya-karya perupa Sambung Slamet. Enam karya hadir untuk membongkar ingatan atas lagu-lagu Osing karya M. Arif, yang membawa pesan mengenai kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan. Lagu-lagu seperti “Lurkung”, “Nandur Jagung”, “Genjer-Genjer”, dan “Kembang Kopi”, yang pernah populer sebelum gejolak politik tahun 1965, kini dihidupkan kembali dan dipresentasikan melalu kolaborasi para perupa dengan budayawan Banyuwangi Slamet Menur.
Melangkahkan kaki lebih dalam, pengunjung kemudian disuguhi enam karya seniman partisipan dari BJX. Berbeda dengan venue lainnya, judul pameran tidak mewakili karya-karya di sini. Dengan absennya deskripsi karya, karya-karya disini seakan berdiri sendiri untuk membiarkan pengunjung merefleksikan maknanya. Secara keseluruhan, bangunan peninggalan Belanda ini menaungi karya-karya yang terkait dengan narasi sejarah dan peleburan budaya.

Di bagian tengah ruang pamer, M. Faizi, seorang kyai dari Sumenep menampilkan salinan lembar-lembar arsip karcis bus yang dia koleksi sejak awal tahun 1990. Berbagai rona dan desain karcis dari setiap jaman dipajang acak di tembok, mengajak pengunjung untuk menyusuri perubahan trayek-trayek bus di Jawa Timur dari waktu ke waktu.
Melalui jalur-jalur yang hilang dan jalur-jalur yang muncul itulah, pengunjung bisa melihat perubahan dinamis infrastruktur, seperti pembangunan jalan tol yang mengubah pola transportasi dan jarak tempuh antarwilayah. Peta perjalanan ini menjadi jendela untuk menyibak relasi berbagai kota-kabupaten di Jawa Timur.
Kehadiran karya-karya dengan lingkup geografis luas, seperti karya M. Faizi, barangkali menimbulkan sebuah pertanyaan: di manakah sebenarnya karya M. Faizi dapat dikategorikan dalam sub-wilayah Pegunungan, Pesisiran, atau Perkotaan? Ketika para kurator memutuskan untuk menghadirkan karya-karya dari ketiga wilayah geografis dalam semua venue pameran, barangkali kita sudah tidak perlu lagi mempertanyakan pengkategorian teritorial dari setiap karya.
Pembagian wilayah yang dilakukan Biennale Jatim X didasarkan pada tendensi geografis, dengan pertimbangan “karena kami percaya bahwa karakter kesenian sebuah komunitas masyarakat dipengaruhi oleh tanah dan lingkungan tempat mereka tinggal”. Meski demikian, proses kuratorial tetap berpijak pada tema “Cultural Synthesis”, karena meskipun terikat oleh tanah namun tidak ada satu pun komunitas masyarakat hari ini yang tidak menerima pengaruh dari luar lingkup kebudayaan yang mereka miliki”.
Sejak awal, pembagian kuratorial ini tidak pernah bertujuan untuk menciptakan batasan tegas antarteritori. Seperti karya Gata yang berada di ambang antara wilayah pesisir dan urban, Rakhmi yang menghadirkan tiga wilayah sekaligus, dan Benggala Project yang meneliti fenomena perkotaan di wilayah pesisir Madura, sehingga mustahil untuk menghadirkan satu fenomena yang terikat secara singular pada sebuah teritori saja. Disinilah Cultural Synthesis menemukan wujudnya.

Teritori dan Masa Depan yang Tak Pasti
Dalam diskusi penutup Biennale Jatim X, seorang pengunjung mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: “Apakah para kurator telah mampu merepresentasikan esensi kesenirupaan di Jawa Timur melalui biennale ini?” Pertanyaan ini pada akhirnya hanya dapat direspons dengan jawaban-jawaban yang kelewat klise, atau bahkan melemparkan kembali pertanyaan itu ke pengunjung yang dianggap lebih pantas untuk menilai.
Setiap dua tahun, kami selalu menerima kritik yang sama: Biennale Jatim lemah, medannya terlalu luas, budaya dan sejarahnya terlalu beragam. Rasanya, setiap Biennale Jatim, kami selalu dihadapkan dengan sebuah pertanyaan yang berulang: Kenapa harus seluas Jawa Timur? Kenapa Biennale Jawa Timur yang sebelumnya selalu terpusat itu, pada edisi ke 8 di-desentralisasi-kan, bukan di-Biennale Surabaya-kan?
“Maneh, Jin?! Mbok baleni maneh?!”
Gugatan itu menjadi sesuatu yang harus aku tanggapi dengan serius: Mengapa Biennale Jawa Timur harus terus ada?
Hampir 20 tahun silam, pada tahun 2005, karena tak ingin kehilangan momen ledakan pasar seni rupa di Jakarta, Bandung, dan Jogja, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menginisiasi Biennale Jawa Timur untuk pertama kalinya. Tujuan awalnya sederhana: meningkatkan visibilitas seniman-seniman Jawa Timur agar dapat bersaing di pasar seni rupa yang sedang berkembang pesat. Dua dekade telah berlalu sejak perjalanan tersebut dimulai. Hari ini, Biennale Jatim telah menjadi lebih dari sekadar panggung untuk memamerkan karya-karya perupa dan narasi kesenian di Jawa Timur.
Esensi kesenirupaan Jawa Timur mungkin tidak sepenuhnya terwakili dalam satu perhelatan Biennale Jatim saja. Barangkali kita perlu untuk mundur beberapa langkah untuk melihat Biennale Jatim dari jarak pandang yang lebih luas. Dari BJ8 ke BJIX, dan kemudian dari BJIX ke BJX, perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari perhelatannya, tapi juga dari jaringan kerja yang semakin membesar. Biennale Jatim semakin mengenali dirinya sendiri, semakin terhubung dengan bagian-bagian dari dirinya.
Pencapaiannya memang tidak hanya terletak dalam ruang pameran, melainkan juga dalam hubungan-hubungan baru yang terbentuk, yang berhasil menerobos sekat-sekat dan jarak antarkota-kabupaten. Sebagai medan seni di pinggiran kancah seni rupa, perannya telah melampaui dari sekadar mendefinisikan; ia menjadi pemantik bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa. Biennale Jatim menjadi sebuah katalis.
Pengetahuan dan jejaring terus menerus dirawat dan diwariskan. Entah dalam empat, atau mungkin sepuluh tahun lagi, mampukah Biennale Jatim menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara sendirinya?
Biennale Jatim X nyatanya bukan lubang yang sama dengan lubang yang aku injak di Biennale Jatim IX. Keledai-keledai yang berulang kali jatuh dalam lubang ini, telah mengubah bentuk lubang itu sepenuhnya.
Mereka tidak semata-mata mengalami kejadian yang sama, tetapi membawa perubahan dalam setiap jatuh mereka, dengan menelusuri jalur-jalur baru, menggali lapisan-lapisan baru, melahirkan cara baru untuk menavigasi perjalanan mereka. Dwitahun demi dwitahun, lubang itu akan semakin melebar dan mungkin menelan lebih banyak keledai.