Aksi memandang, pada kehidupan kita hari ini mengambil kecepatan tinggi dan laju mulus. Mata kita ada di mana-mana: mata digital senantiasa menubruk permutasi kejadian baru, mengurainya berkeping-keping jadi jutaan imaji yang tersiar, terpampang. Waktu, tercerai-berai. Kita tak lagi mudah ingat apa yang hangat dari waktu-waktu tanggung yang lalu—6 bulan? 8 bulan lalu? 2 tahun? 5 tahun? Berlomba-lomba yang sensasionalis menguasai perhatian kita, sampai mati rasa terhadap cemaran. Di mana kita kini? Atau malah, untuk apa menyatakan kita ada dalam waktu bila pilihan sudah serba ada dan jelas? Dalam konteks perbincangan kita di sini soal seni dan lukisan: apa lebihnya seni sebagai sensasi?
Tahun-tahun depan, mata kita bisa bermimpi punya pandangan, seperti udang sentadu, kelelawar vampir, rusa kutub, atau mencit. Pandangan kita, manusia, terbatas. Spektrum penglihatan kita—pelangi seperti kita tahu—berbeda dengan dunia yang diindra hewan-hewan tadi. Mereka mampu memersepsikan inframerah atau purnaungu. Satu lensa kontak hendak dibuat supaya cahaya nanoteknologi bisa disimpan sebentar selengkap-lengkapnya. Lalu, itu disadur jadi mosaik pelangi yang sensasinya manusia mampu pahami. Mengikuti temuan Bryce Bayer, pandangan manusia adalah tata letak dua bintik hijau, satu bintik biru, dan satu bintik merah di satu bidang datar. Beberapa kamera digital sensornya menangkap yang sementahnya buat kita “hanya” hitam-putih. Lewat wewarna Bayer, baru diterjemahkan ke dunia manusia. Utuh versi kita.
Tapi alam dan realitas, natur selalu lengkap. Seaslinya. Terpejam pun, rona inframerah masuk —ke mata kita–kalau bukan malah jadi lebih baik disaring oleh kelopak mata. Hanya saja, kita makhluk-makhluk yang berbeda. Rangsang tak pernah menggerakkan kita atas informasi dan data seaslinya. Yang kita alami disisihkan oleh persepsi. Lewat indra, persepsi, aisthesis atau estetika, makhluk mendarat di dunianya sendiri. Lewat persepsi ia menciptakan dirinya. Ia tahu batasan-batasan siapa ia, organisasi dirinya. Manusia menyintesis. Waktu tercipta.
Lukisan dan Pengalaman Waktu
Lukisan menjejakkan kita kepada satu bidang yang menarik di dalam perlintasan waktu dan sensasi, ketika tak semua memori, tak semua imaji sama kuat. Lukisan adalah gambar-diam, gambar yang dalam baik jalannya men-diam-kan durasi kita dalam waktu.
Pada lukisan segala hal meninggalkan kebendaannya dan kekonkretannya. Yang tampak menjelma ke dunia imajinasi yang punya kodrat sendiri. Syair rupa–dalam kosakata Sanento Yuliman. Lukisan dan karya seni menciptakan waktu yang khusus, padatan yang lebih padat, kontraksi lebih intens akan segala durasi pengalaman kita: tanah bagi memori untuk dihuni. Lukisan tidak menjadikan kita hanya dari informasi seaslinya. Ia memformasi kita, malah mentransformasi. Lewat pinjaman pandangan seni kita menjejak dan mengenali tanah ke-ada-an, ground of being.

Lukisan-lukisan Arin Sunaryo adalah tapak-tapak padat itu. Tanah padat memori pada konfigurasi ekstrem yang ada di luar bayangan. Lukisan-lukisannya menjadikan satu rona antara yang tampak dan yang tak tampak di atas satu bidang. Sebagaimana inframerah, purnaungu, dan pelangi yang selalu ada. Terjaga atau terpejam, semuanya sama jadi kosmos yang bercampur. Dalam lukisan, kalau pun warna-warna ada dan serupa seperti yang kita kenal, semuanya sudah keluar dari bingkai paham kebendaan konkretnya. Yang tinggal daya khayalnya. Merasuk: memecah kita, mempertanyakan sesuatu yang sungguh kita pahami.
Seni lukis selalu menawarkan yang sublim–kesubtilan lebih yang menyentuh sebagai sensasi yang utuh. Jacques Lacan mengomentarinya, “a painting is to be drunk“. Suatu lukisan (dialami sebagaimana) diminum. Kita larut, hanyut, malah mungkin mabuk terbawa tekstur serta iramanya. Tersuasanakan dengan menyatu bersama kecairan “berada” di dalam lukisan itu. Lukisan men-diam-kan: menstabilkan sensasi-sensasi di baliknya itu yang menyelimuti dengan intens.

Franz Kafka mengungkapkan, “We photograph things in order to drive them out of our minds. My stories are a way of shutting eyes.” Lagi, kita larut berhadapan dengan imaji, terbawa kepada imajinasinya. Men-diam-kan adalah membiarkan yang berlebihan. Lukisan bekerja persis begini, dalam diamnya membuat kita tak menghiraukan ekses visi.
Lukisan yang betul-betul menyelimuti kita mem-bumi-kan, mengantarkan kita untuk menghuni waktu, yang tadinya rumit dan rahasia. Byung-Chul Han menyebut ini sebagai lapis-geno (genolayer), lapisan pengalaman yang genetis, yang menciptakan, mengandung daya cipta, yang tak sekadar bergantung kepada keadaan (contingent). Pada momen-momen itu kita menyatu dengan segalanya, tatkala mencerap dengan memejam, meresapi seperti kata Kafka.
Menjadinya Lukisan
Lukisan sebagai bentang diam adalah yang disebut Han–menelusur dari Martin Heidegger dan Hannah Arendt–sebagai “thing“. Sang benda, yang tetap, yang menstabilkan, yang menetapkan kebenaran. Sang benda itu utuh dan selalu tak bisa habis dikonsumsi maknanya. Ia dibedakan dengan bukan-benda, “non-thing“, yang mewarnai lebih banyak dunia kita hari ini. Bukan-benda adalah ciptaan-ciptaan manusia demi waktu menjadi masuk akal. Michel Serres dengan tak ekstrem sekali menyebutnya “quasi-objects“: isu, topik, perbincangan. Kesepakatan-kesepakatan yang kita punya sebagai kumpulan manusia untuk membincangkan kehidupan bersama: hal sosial, politik, agama, ekonomi. Hari-hari ini mereka menyelimuti kita sebagai yang serba terasa, sensasional, tapi hanya jadi informasi sepotong.
Seni, sementara, adalah sensasi terpadu yang tak bisa dicacah-cacah. Yang menembus. Tak mendistraksi. Menyatukan. Sensasinya satu, adanya merupakan satu tubuh, yang bukan hanya penampilan atau kelir–tapi berdaging dan bernyawa. Adanya suatu karya seni menguarkan afek kepada tubuh-tubuh yang lain, kepada imajinasi lain, perbincangan lain, kepada persepsi kita. Seni sebagai barang yang tercipta bukan sekadar kesinambungan mulus dari satu hal indah ke hal sama indah berikutnya. Tapi merupakan tangkapan nyata yang sublim akan kenyataan itu sendiri.

Lukisan adalah bentang dengan skenario yang jamak, banyak cara memasukinya, banyak arah. Tarikan kepadanya tak pernah dari nol, tetapi dari kita sebagai subjek perjumpaannya yang serba mengalami. Maka Marcel Duchamp menyebut lukisan diciptakan oleh yang memandangnya. Jumlah lukisan adalah sebanyak pemandang dan imajinasi pantikannya. Maknanya ada pada partisipasi dalam menjelajahinya dan ketika saling melapisi dengannya.
Lukisan tak pernah cuma satu adegan nyata atau tentang satu momen khusus dalam waktu. Lukisan menangkap gerak. Lukisan merupakan tatanan bumi (terrestrial order), genis kebenaran dengan caranya bekerja. Menciptakan lukisan adalah selalu menciptakan lahan-lahan baru, tanah dan bumi baru—terra nova—sebagai visi manusia tentang ruang dan waktu.
Bentang Lain, Tanah Baru
Kerja Arin Sunaryo dalam melukis menangkap bagaimana sang benda itu membentuk wujud utuhnya sendiri. Sapuan warna dan tekstur Arin dilakukan sebagai aksi langsung. Lukisan-lukisannya yang berbahan resin berwarna dibuat dalam waktu singkat, dengan mencampurkan secara langsung pigmen yang berbeda-beda di atas bidang.
Pigmen pewarna gambar-gambar itu datang dari bahan-bahan tidak biasa. Macam-macam benda real digerus dan dilebur untuk mengisi suspensi warna dan spektrum dari lukisan-lukisan itu: buah kelapa sawit Kalimantan, abu vulkanis Gunung Merapi, mi instan, ikan asin pasar, kopi, lumpur Porong, Sidoarjo, tanah kota Nusantara, jelaga batu bara. Masing-masing mengandung cerita dari yang menjamah-menilai, yang sehari-hari, sampai yang populis atau tragis.
Namun, semuanya tak bisa dikenali sebagai simbol; semuanya jadi hanya warna yang terbentang. Muatan kehidupan material mereka sebelumnya, bagaimanapun, tak juga hilang. Pesona material berkelindan dengan imajinasi, bahkan opini prakhayal kita akan isu-isu yang dikandung atau dikenang dari bahan-bahan itu.

Pewarna-pewarna lukisan Arin Sunaryo mengandung kekekalan bahannya. Pada kejadian uniknya masing-masing, mineral dan pigmen dengan sudutnya, kurva, pendar, pantulan, tembus pandangnya, gemercak dan senyapnya serba mengkristal dan mengonstitusi. Masing-masing adalah substansi dengan habitusnya sendiri. Apakah tiap butir tanah dan kerikil mengontemplasikan angin dan terik? Hujan atau pasang? Arus dan badai?
Mereka ada pada keadaan menjadi yang murni (pure becoming), yang bisa jadi apa saja. Persis jamak jalan masuk yang Duchamp maksud. Mereka jadi material murni yang dibentang-dibekukan geraknya. Mudah kita terasosiasi dengan bentang isu di balik material-material pigmen itu dan membayangkan kewargaan—malah kewarganegaraan tertentu—walau yang ada bukan representasi dan pesan langsung. Abstrak. Maka bagaimana?
Di situ, retakan kita sebagai makhluk yang memersepsikan pelan-pelan tersingkap asimetrinya. Bahwa kita juga sama materi, dan mencipta diri dari yang serba sebagian-sebagian. Meski individual, belahan pemahaman kita dividual. Arin menciptakan lukisan sebagai bumi baru, tempat mendarat yang bekerja dalam redam. Kartografi asli, mutasi materi yang dikandung di sana, tampil bukan untuk diekstrak sebagai informasi—sebab berubah jadi warna dan suasana. Bahan-bahan itu saling mengikat, secara magnetis mewujud tersendiri, menjadi yang diam.
Mereka berinteraksi di luar kendali penuh manusia senimannya, tiap sapuan dan tetesan tanpa bisa diulang dan menjadikan eksistensi keutuhan gambar yang sendiri-sendiri. Mereka menjadikan masa depan-masa depannya sendiri. Masa depan, yang bila menyitir Jacques Derrida, bukanlah “future“, melainkan “avenir“. Bukan kontinuitas dan mutasi yang pasti bisa dikenali, tapi transfigurasi menjadi sesuatu yang betul-betul lain, yang menggantikan waktu yang sekarang. Bumi baru ini merupakan lanskap, bentang yang lain.
Ruang dan Waktu Semakin Mendatar
Jelajah terbaru Arin, menariknya, membawanya kembali kepada lukisan cat minyak. Medium itu, sebagai yang paling klasik dalam seni lukis, menawarkan redaman halus yang meski berisiko menjadi sesuatu yang biasa saja yang netral, digubahnya secara sublim menggunakan olahan lanjutan dari pigmen-pigmen.
Tradisi cat minyak dan pigmennya merupakan gerak teknologi yang tak lepas dari perpindahan dunia dan orang-orang dalam peradaban. Warna biru ultramarine, semisal, yang mesti didatangkan dari batu lapis lazuli yang dicacah, dari Afganistan dan diangkut sebagai batu mulia langka pada Jalur Sutra ke Eropa atau merah cochineal dari kumbang kaktus yang ditemukan di Benua Amerika.
Demikian justru kita akan salah menilai lukisan berdasarkan warna yang terberinya saja, sebab proses material mereka menyembul dari kompleksitas dalam ruang, waktu, serta teknis perseptual yang imajinatif. Belum lagi fakta bahwa untuk dapat menjadikan bahan tertentu pigmen cat minyak, bahan itu mesti digerus sangat halus, jauh lebih halus ketimbang yang Arin pergunakan untuk lukisan resin. Proses menjadinya sebuah lukisan selalu adalah amalgamasi, fasceaux atau perca dari yang lain-lain, yang mengambil wujud dalam magnetismenya sendiri-sendiri, menubuhkan bentang lain.

Bukan berarti lalu cat minyak jadi lebih tinggi kembali atau meregresi. Semua karya Arin dalam segala bahannya selalu berupa lukisan. Sang benda lukis bekerja menembus itu. Lukisan yang bekerja dan memberi imajinasi adalah transfigurasi atas yang tampak—transfiguration of the visible.
Lukisan-lukisan Arin Sunaryo adalah tanah tempat mendaratnya ingatan. Natura naturans. Alam terekspresikan secara alami. Tapi tanah itu bukan lagi yang muasali. Bukan hanya mewakili, menggambarkan, merepresentasikan yang fisik-material yang mudah dikenali manusia. Mereka bukan juga bumi batin imajinatif penjangkar ingatan, tapi sudah dasar wilayah yang dihuni-kembali. Yang kita tahu tak jadi baru dalam artian tak dikenal, tapi baru sebab telah bangkit jadi tunggal lagi. Ruang dan waktu, tunggal-mendatar di dalam lukisan. Ada sekarang, ada yang lalu, ada masa depan. Bentang alam, landscape, tanah dalam semua pautannya.
Tanah: (1) Permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali. (2) Keadaan bumi di suatu tempat. (3) Permukaan bumi yang diberi batas. (4) Daratan. (5) Permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara. (6) Bahan-bahan dari bumi; bumi sebagai bahan sesuatu (pasir, napal, cadas, dan sebagainya). (7) Dasar (warna, cat, dan sebagainya). Tanah.
Catatan
Tulisan ini pertama kali diterbitkan di dalam katalog pameran tunggal Arin Dwihartanto Sunaryo bertajuk Terra Nova di Kohesi Initiatives dari Galeri Srisasanti, 22 April–17 Agustus 2025.