Search
Close this search box.

Selaras dengan Masanya

oleh Nasser Abourahme1
diterjemahkan oleh Nayamullah (Ratna Mufida), 28 Januari 2025

Sampul belakang dan depan pamflet learningpalestine.net
Sampul belakang dan depan pamflet learningpalestine.net

Atmosfer kekerasan dan rudal yang mengancam sama sekali tidak membuat kaum terjajah takut ataupun kalut. Kita telah menyaksikan betapa keseluruhan sejarah mereka baru-baru ini telah menyiapkan mereka untuk ‘memahami’ situasi tersebut. Antara kekerasan penjajahan dan kekerasan kronis yang melanda dunia modern, ada semacam korelasi yang terlibat, sebuah penyeragaman, persamaan watak. Kaum terjajah telah beradaptasi dengan atmosfer ini. Dan untuk pertama kalinya, mereka selaras dengan masanya.
— Frantz Fanon, The Wretched of the Earth, 19612

Akan ada waktu untuk menguburkan yang mati. Akan ada waktu untuk pertempuran senjata. Dan akan ada waktu untuk menghabiskan waktu sesuka hati kita, agar kepahlawanan ini terus berlanjut. Karena sekarang kita adalah penguasa waktu.
— Mahmoud Darwish, Memory for Forgetfulness, 19823

Israel adalah proyek yang kalah. Maksud saya, bukan sebagai kecaman moral. Pada tahap ini, saya menganggapnya sebagai fakta sejarah semata. Kemungkinan tentang Israel yang telah menormalisasi statusnya di dunia dan kawasan, memerintah penduduknya secara ajek, berhenti mempraktikkan apartheid, menutup garis perbatasannya yang terbuka serta mendeklarasikan batas wilayahnya, tidak akan pernah terwujud. Pun Israel yang tidak lagi bergantung pada kebebasan melakukan kekerasan pemukim di luar aturan hukum (diskresioner ekstra-legal), dan beralih dari pijakan perang permanen, juga tidak akan pernah terjadi. Israel yang ini sudah selesai. Paling banter, ini adalah sebuah fantasi usang, namun mematikan. Jenis fantasi yang Anda genggam lebih karena kedengkian alih-alih antisipasi yang tulus. Dalam arti tertentu namun penting—yang perlu dinyatakan dengan jelas—kita sudah hidup di dunia sesudah kemungkinan ini, sesudah Israel. Israel yang ini sudah menjadi masa depan dari masa lalu. Kegigihan hidup orang Palestina serta penolakan mereka untuk mati dan hilang begitu saja telah mencapai titik ini. Dan setiap visi tentang cara hidup bersama tanpa penjajahan di Palestina yang bersejarah, harus dimulai dengan pengakuan ini.

Apa yang kita alami hari ini adalah babak akhir Zionisme. Ini bukanlah sebuah optimisme. Babak akhir penjajahan bisa berlangsung lama; mereka hampir selalu amat brutal. Namun, lebih dari apa pun, kebrutalan itu justru menandakan kekalahan mereka.4 Babak akhir penjajahan ditentukan oleh semakin sedikitnya pilihan dan fakta bahwa setiap gerakan mengarah lebih cepat secara eksponensial menuju akhir. Babak akhir Zionisme tidak lahir hanya dari mencuatnya kontradiksi-kontradiksi imanen proyek Israel ke permukaan. Ia lahir secara mutlak dari kegigihan berabad-abad perjuangan antipenjajahan Palestina, yang selama dua dekade terakhir menjadi tantangan paling berkelanjutan dalam perang pembebasan kebangsaan terbarukan dalam beberapa generasi. Dalam hal ini, kita harus bersikap jelas dan tak perlu merasa bersalah: perang pembebasan bangsa Palestina menjadi tantangan yang sulit diatasi bagi tatanan penjajahan. Zionisme bukan gagal. Zionisme sedang dikalahkan.

Serangan mendadak yang mengarah pada kampanye genosida yang menggila di Gaza hanya bisa dipahami jika diuraikan dalam keseluruhan alur sejarah perjuangan atas Palestina yang baru saja tiba pada sebuah tikungan tajam. Artinya, krisis ini hanya dapat dipahami jika diletakkan dalam kebuntuan mendasar (foundational impasse) proyek Zionis. Ia mengalami kebuntuan karena dibatasi oleh dorongan penaklukannya yang tersumbat. Ketika dihadapkan pada serangkaian episode penolakan (arc of refusal)5 yang tangguh, proyek ini mendapati dirinya mandek secara temporal, tidak mampu bertransisi melampaui momen mendasarnya (foundational moment), tidak mampu menetapkan dan menyelesaikan perampasan dalam rezim properti dan hukum yang stabil, dan tidak mampu bergerak melewati masa lalu. Tatanan politik yang tidak mampu menutup momen-momen penaklukan mendasar mereka (foundational conquest) dan menitipkan kekerasan penaklukan itu ke alam bawah sadar politik, adalah tatanan yang rentan. Mereka adalah tatanan yang tidak ajek.

Segenap tujuan Zionisme, alasan keberadaannya, senantiasa adalah pendirian sebuah negara Yahudi ras murni atau mayoritas di Palestina. Namun, hari ini Zionisme mendapati dirinya memerintah dan berkuasa atas lebih dari tujuh juta penduduk asli Palestina—lebih dari separuh populasi yang dikuasainya. Dan Zionisme tidak berniat atau mampu menyerap mereka sebagai anggota badan politik nasionalnya. Ini adalah kontradiksi yang tidak dapat direduksi. Dari sudut pandang negara rasial, ini adalah bencana imunologis; bukan saja berarti negara harus tetap didefinisikan secara formal atau legal dalam istilah-istilah rasial (dan tidak akan pernah bisa bertransisi ke perangkat-perangkat kesetaraan formal demokrasi liberal), namun juga membuatnya terus menerus melakukan kekerasan penaklukan. Dalam pengertian kesejarahan jangka panjang—dan justru pengertian dan cakrawala temporal inilah yang kini memaksakan dirinya sendiri—Zionisme hanya punya dua pilihan di hadapannya: kesetaraan (dan dengan demikian mengingkari diri sendiri) atau genosida. Bahwa Zionisme jelas-jelas memilih genosida, menegaskan betapa pemusnahan bangsa Palestina adalah hasrat utama Zionisme, objek utama yang menggerakkannya.

Dari sudut pandang proyek pemukiman penjajahan yang mandek, genosida bukanlah hal yang irasional atau sekedar balas dendam. Bagi Zionisme, genosida adalah sebuah koreksi untuk kembali ke jalan yang terblokir. Ia diteriakkan dan dirasa sangat penting karena mungkin bisa menjadi jalan keluar dari kebuntuan untuk melampaui tantangan. Sesungguhnya, genosida tidak pernah jauh dari permukaan   tatanan penjajahan. Meskipun ia hanyalah satu di antara banyak alat penghapusan dan penyangkalan masyarakat penduduk asli (di samping: pemindahan, asimilasi, kewarganegaraan penduduk asli), secara kesejarahan, genosida muncul ke permukaan ketika perbatasan masih terbuka dan diperebutkan. Di Palestina, genosida—yang bahkan dalam batas-batas sempit konvensi PBB dipahami bukan sebagai pembunuhan massal manusia secara perseorangan (kasus yang lebih jarang terjadi), tetapi sebagai penghancuran yang disengaja terhadap kapasitas suatu masyarakat untuk mengada—selalu menjadi prasyarat kemungkinan bagi Zionisme politik. Sebuah prasyarat yang diperlukan agar Zionisme politik menjadi mungkin terjadi. Nakba dalam banyak hal merupakan kasus genosida yang jelas, meskipun ia hampir tidak dapat disebut demikian.6 Namun, kembalinya genosida sebagai peristiwa, yang bergerak dari logika laten ke logika aktual, adalah dampak dari besarnya tantangan yang ditimbulkan perang pembebasan Palestina terbarukan bagi proyek pemukim yang sudah mandek.

Persis perasaan akan momen ini lah, jalan buntu/frustrasi dan jalan keluar/kebebasan bagi rezim penjajahan, yang menjelaskan banyak hal seperti merebaknya hasutan genosida yang dilakukan secara terbuka di kalangan masyarakat dan negara Israel. Yang saya maksud di sini adalah kehendak umum untuk mewacanakannya dalam seruan yang dikoarkan hampir setiap hari, untuk meratakan, memusnahkan, dan menghabisi mereka; atau dalam bahasa yang lebih langsung, menunjukkan kegelisahan imunologis tatanan rasial yang terancam: menghapus (l’mchok) atau memurnikan/menyucihamakan (l’tahir); atau, mungkin yang lebih gamblang lagi, dalam bahasa yang mengodekan hasutan dalam seruan-seruan untuk menuntaskan penaklukan mendasar: “Nakba 2.0”. ‘peluncuran Nakbah Gaza’, ‘perang kemerdekaan kedua’. Perasaan ganda atas jalan buntu dan jalan keluar ini juga hadir dalam pelampiasan-pelampiasan emosi yang secara rutin ditampilkan di media sosial Israel, dalam gambar-gambar kematian dan kehancuran di Gaza: kegembiraan, ejekan, kebencian, kekejaman, kebutuhan untuk mempermalukan; sulit untuk menjelaskan dengan cara lain fenomena membludaknya jumlah gambar-gambar dan video  yang beredar, yang menampilkan para prajurit sedang menjarah rumah-rumah, membuang-buang makanan, bermain-main dengan mainan anak-anak yang mati atau mengungsi, atau berpose dengan pakaian dalam wanita yang mati atau mengungsi. Runtuhnya tembok penghalang bagi sikap represif dan hambatan berbicara secara umum ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan sikap permisif baru terhadap hasrat yang ditabukan; hal ini juga merupakan dampak dari rasa frustasi yang mendalam atas tersumbatnya dorongan libido Zionisme karena diawasi oleh orang-orang yang mereka “tahu” lebih inferior dalam segala hal, dan entah bagaimana tetap belum bisa dikalahkan dengan telak. Namun setidaknya, Zionisme dapat menghina dan menghukum mereka saat ini. Rasa frustrasi itu ditandai dengan maraknya jawaban tangkas di mana-mana yang mengatakan bahwa ini bukanlah sebuah genosida karena, ‘jika mau, Israel dapat menghapus Gaza dari muka bumi’. Sebuah jawaban yang, tentu saja, hanya menunjukkan betapa para pendukung Israel menginginkannya, namun mereka tidak mampu mewujudkannya (untuk saat ini).

Perpaduan antara rasa frustasi dan kebebasan ini juga satu-satunya cara untuk memahami sifat kekerasan total, yang memusnahkan dan menggila di Gaza. Kekerasan yang sering disebut tidak pandang bulu sebenarnya ditargetkan, disengaja, dan ditujukan tidak hanya pada kehancuran yang meluas, tetapi juga pada dasar kehidupan kolektif yang layak huni. Kekerasan ini mencakup pengepungan total, rekayasa aktif kondisi kelaparan dan wabah penyakit, serta eksekusi massal.7 Bagaimana lagi orang dapat memahami aksi pemusnahan sebagian besar permukiman di Gaza dan penghancuran seluruh komplek perumahan oleh korps angkatan darat setelah pertempuran? Atau ratusan bom seberat seribu kilo, sejumlah alutsista terbesar di dunia yang dapat membunuh atau menghancurkan apa pun dalam jarak ratusan meter, yang dijatuhkan tidak hanya di lingkungan padat penduduk, tetapi juga di lingkungan yang ditetapkan sebagai ‘zona aman’? Atau penghancuran sistematis seluruh infrastruktur kesehatan publik di Gaza, di mana hampir setiap rumah sakit dikepung, diserbu atau dibom berkali-kali, dan dua rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, termasuk Shifa, secara efektif diubah menjadi kamp-kamp kematian?8 Atau lebih dari 80 serangan pada distribusi bantuan?9 Atau penghancuran total universitas-universitas, kotapraja, perpustakaan, dan arsip-arsip? Atau penargetan sistematis kelas-kelas profesional Gaza, para dokter, praktisi medis, jurnalis, akademisi, penyair, dan penulis? Kota Gaza, kota pesisir terakhir yang tersisa di Palestina dan pusat infrastruktur pendukung kehidupan di Jalur Gaza, telah hancur lebur. Upaya aktif untuk membuat kota ini tidak layak huni dan kehendak untuk menjadikannya puing reruntuhan ini, tidak dapat dijelaskan hanya sebagai ‘nafsu darah’ sesaat atau pembalasan dendam. Hal ini harus dipahami, secara kesejarahan dan emosional, sebagai pelepasan energi pemusnahan yang telah lama terpendam. Dan pada saat kerentanan proyek ini mencapai titik tertinggi, mereka merasa bebas memburu objek yang mengancam hasratnya.

Masa inisiatif/Zaman al–Mubadara
Namun, akan menjadi sebuah kesalahan jika membaca krisis ini hanya dari sudut pandang tatanan pemukim yang merasa terkepung dan mengindra jalan keluar. Pembacaan yang lebih mendalam harus mengakui bahwa pada tingkat tertentu pengepungan ini—baik benteng maupun garis pertahanan lawan—adalah nyata dan bukan sekadar isapan jempol narsistik masyarakat pemukim dalam ketakutan akan cedera dan pembalikan posisi. Artinya, bukan hanya karena Israel, seperti halnya tatanan penjajahan mana pun, dihantui oleh prospek pembalikan kuasanya, tetapi juga karena selama dua dekade terakhir, pembalikan ini telah menjadi semakin mungkin terjadi, sangat mungkin bahkan. Rezim Zionis telah mengelola bermacam pertentangan selama dua dekade terakhir (sejak runtuhnya fasad ‘proses perdamaian’ yang bergerak maju) dengan mengulur-ulur waktu, melalui manajemen konflik yang mematikan dalam temporalitas yang ditangguhkan dan berlarut-larut: pengepungan, kontra-pemberontakan yang permanen, penangkapan dan penahanan massal, memperdalam jurang apartheid dan segregasi, pengamanan ekonomi dan pemangkasan bantuan kemanusiaan, serta penggunaan bentuk-bentuk otoritas asli Palestina berdasarkan model Bantustan. Di Gaza, hal ini disertai dengan aksi pengeboman dan pembantaian rutin yang terang-terangan dinyatakan sebagai ‘memotong rumput’ oleh negara, yang mengindikasikan bukan hanya adanya kebusukan indah pinggiran kota Amerika di jantung citra diri Israel, atau mengecilkan hidup orang-orang Palestina dengan menganggapnya sebagai alam liar yang membisu, namun juga mengindikasikan watak kekerasan yang benar-benar dangkal dan berulang para dalangnya—memotong rumput adalah sesuatu yang Anda lakukan secara rutin dan nyaris tanpa pikir panjang. 

Namun, masalahnya dengan mengulur waktu adalah bentuk-bentuk perlawanan itu tidak akan berhenti. Mereka terus tumbuh dan berkembang dalam hal kedalaman, penetrasi, dan kecanggihan setiap tahunnya. Dua dekade terakhir ini telah menunjukkan pertumbuhan gerakan pembebasan Palestina yang paling menonjol sejak berakhirnya Revolusi Palestina dalam pengepungan Beirut pada 1982, serta penangkapan partai-partai politik utama di Beirut yang secara efektif menjadi fasilitator pendudukan Israel di Tepi Barat satu dekade kemudian. Hal ini jelas jika kita mempertimbangkan bentuk-bentuk perlawanan secara menyeluruh dan global: aktivisme sipil, kampanye boikot dan pelepasan wilayah, bentuk-bentuk aksi langsung yang berkelanjutan, pertumbuhan gerakan solidaritas Palestina dan hubungan yang lebih dalam dengan partai-partai kiri, serikat pekerja dan gerakan untuk pembebasan kulit hitam dan penduduk asli di seluruh dunia, serta perjuangan bersenjata di Palestina dan kawasan sekitarnya.

Perjuangan bersenjata beserta akarnya dalam bentuk-bentuk kehidupan yang tangguh inilah yang masih belum terbaca atau tidak dapat didekati oleh banyak pengamat hari ini. Dan, tetap saja tidak ada peluang untuk memahami situasi ini tanpa membacanya dalam alur sejarah perang pembebasan bangsa terbarukan yang mulai menimbulkan tantangan besar bagi logika kekuasaan penjajah di Palestina. Sebuah alur yang dimulai dengan pembebasan Lebanon Selatan pada 2000—suatu peristiwa bersejarah yang bermakna sangat penting sebab inilah satu-satunya tanah yang dibebaskan dari pendudukan Israel tanpa adanya pengakuan yang lebih luas terhadap negara Israel—dan termasuk pengerahan tentara Israel dalam Perang Lebanon 2006, serta berkembangnya bobot perlawanan Palestina di Gaza pada perang 2008/9, 2014, dan 2021. Hal ini didukung oleh Great March of Return pada 2018, sebuah gelombang protes rakyat yang menentang pengepungan Gaza namun dibalas dengan kekerasan yang luar biasa mematikan, dan Intifada Persatuan pada 2021 yang menunjukkan, untuk pertama kalinya dalam suatu generasi, mobilisasi simultan di setiap bagian Palestina yang bersejarah. Intifada Persatuan juga adalah isyarat bagi pembaharuan organisasi perlawanan bersenjata di Tepi Barat ke dalam zona-zona pertahanan diri di sekitar kamp-kamp pengungsi utama. Dalam periode ini, para penjajah-pemukim berusaha menghentikan laju waktu, mengawetkannya dalam apa yang digambarkan oleh seorang penasihat politik senior Israel pada 2004 sebagai “larutan formaldehida” yang bertujuan untuk “membekukan proses politik.”10 sementara faksi-faksi perlawanan berusaha untuk membuka waktu dan menggunakannya untuk mengatur ritme dan temponya, dalam apa yang mereka sebut sebagai ‘masa inisiatif’.

Namun demikian, bahkan di antara kita yang berdedikasi pada pembebasan semua orang di Palestina yang bersejarah, masih saja ada ketidakmampuan dan ketidak-siapan untuk membaca alur sejarah dan mengenali kesejarahannya. Ketidakmampuan ini berakar dari, di satu sisi, kesalah-pahaman atau kecenderungan melupakan makna perang pembebasan bangsa antipenjajahan, karena kita sering diberitahu, dengan cara-cara yang menginternalisasi mitologi supremasi militer Israel, bahwa perjuangan bersenjata di sini sia-sia, kontraproduktif, atau paling banter bersifat simbolis. Dan, di sisi lain, ketidakmampuan ini juga berakar dari tangkapan tata bahasa kita atas gagasan kehormatan dan pengakuan dalam politik liberal, yang pada dasarnya tidak mampu memproses kekerasan politik antipenjajahan dalam hal apa pun selain kerangka moral yang datar, yang selalu mengistimewakan kekuasaan negara serta mereproduksi kategori-kategori legal sejarah penjajahan.11 Di sini, perjuangan bersenjata dibaca hanya pada titik pelanggaran batas moral. Lalu, kita berakhir dengan semacam pengingkaran moral performatif yang menggolongkan seluruh perjuangan antipenjajahan ke dalam patologi sadisme dan balas dendam (hanya selangkah lagi menuju bahasa ‘kebiadaban’ dan ‘barbarisme’). Ketidakmampuan ini menghantui sebagian besar kaum Kiri global yang nampaknya tidak mampu bersikap adil pada sejarah revolusioner mereka sendiri saat ini. 

Keduanya adalah kesalahan yang serius. Kekuatan perang pembebasan bangsa antipenjajahan tidak berada dalam konfrontasi akhir yang menentukan. Jarang sekali ada pertempuran terakhir atau penyerbuan istana. Perang ini adalah tentang perombakan kaidah modalitas kekuasaan penjajahan; temporalitasnya berjangka panjang dan bukan sekadar persoalan matematika material. Ia selalu tentang membuka kemungkinan politik melalui penjungkirbalikan relasi-relasi kekuasaan—dengan demikian, ia adalah logika perang yang secara fundamental berbeda dengan perang penjajahan yang bersifat genosida.12 Namun untuk memahami pertaruhannya, di sini kita perlu mengerti kekhususan kekuasaan penjajahan. Logika pengorganisasian yang paling utama dalam tatanan penjajahan adalah pemisahan. Pemisahan ini tidak hanya bersifat fisik atau keruangan. Pemisahan ini bersifat ontologis dan psiko-afektif. Ini adalah pemisahan antara subjek dan objek, antara tubuh yang hidup dengan ‘tubuh benda-benda’ atau lingkungan di sekitarnya.13 Penjajahan, dengan demikian, mengambil keintiman yang terjalin, ketergantungan pada tubuh penduduk asli, tenaga kerja, tanah, energi, serta kehadiran, dan mengubahnya menjadi keterpisahan serta penolakan terhadap perasaan bersama atau segala bentuk kebersamaan.

Praktik dominasi penjajahan pada gilirannya didasarkan pada logika tanpa timbal balik. Ini adalah kemampuan untuk terus menerus melakukan kekerasan penetratif kepada masyarakat penduduk asli tanpa menyentuh inti kehidupan penjajah itu sendiri, tanpa ada balasan yang sepadan. Hakikatnya bukan hanya karena kekerasan itu kasar dan sewenang-wenang, tetapi juga karena kekerasan itu tak tersentuh. Beginilah cara logika tanpa timbal balik yang digunakan para penjajah merendahkan kemanusiaan, karena ia menolak segala bentuk perasaan bersama di titik keintiman, tepat di mana ia mengganggu integritas tubuh di titik terdalam. Pada hakikatnya, dalam istilah taktil dimana kekuasaan penjajahan memahami dan memaksakan dirinya, ini adalah kemampuan untuk menyentuh dan tidak tersentuh sebagai timbal-baliknya. Di Aljazair, logika ini dengan tepat menghubungkan rezim penyiksaan sistematis dengan desakan untuk membuka cadar perempuan Aljazair; dari posisi penjajah yang menolak sentuhan apa pun sebagai balasannya, keduanya dipahami sebagai bagian dari praktik kontra-pemberontakan dan praktik pemberadaban yang berusaha menyentuh kedalaman batiniah intim penduduk asli—fisik, psikis, rumah tangga, kekeluargaan.

Dalam tatanan pemukim, ketidaktersentuhan ini harus meluas ke tubuh sosial secara menyeluruh. Tubuh pemukim dan politik tubuh pemukim dibentuk bersama-sama di dalam kekerasan dari proses imunisasi terhadap sentuhan ini. Dan apa yang dapat kita pikirkan sebagai kontrak sosial pemukim dibangun dengan tepat di atas ketidakterhubungan ini: batin kehidupan pemukim tetap tak tersentuh, bahkan ketika perbatasan penjajah yang elastis adalah ruang kekerasan dan kehancuran total. Gaza sebagai kamp konsentrasi pengungsi yang dirampas haknya dan dapat dibunuh sesuka hati adalah kondisi yang tak terlihat dan tak terungkapkan dari Tel Aviv—sebagai kota global yang santai dengan arsitektur Bauhaus dan kehidupan malamnya. Namun, struktur tersebut hanya berfungsi jika rezim kekerasan tidak perlu dipertanyakan lagi dan tanpa syarat. 

Hubungan tanpa timbal-balik yang tak kenal syarat ini adalah alasan mengapa tatanan penjajahan memahami setiap aksi perlawanan, baik bersenjata atau tidak, sebagai kekerasan. Karena setiap aksi perlawanan mempertanyakan kesenjangan antara manusia super yang tak tersentuh dengan manusia rendahan yang dapat dibuang (dalam istilah Fanon, saling memanusiakan). Kekerasan penjajahan, pada gilirannya, harus selalu dilakukan secara berlebihan. Semua perdebatan tentang kesepadanan yang diributkan oleh orang-orang yang masih percaya pada hukum internasional telah melenceng dari intinya. Ketika ditantang, kekuasaan penjajahan tidak punya pilihan selain menjadi sangat tidak sepadan. Mereka harus membombardir lingkungan sekitar. Bukan karena alasan militer, tetapi karena tatanan penjajahan harus terus menerus memantapkan kembali hubungan tanpa timbal-balik ini. Inilah sebabnya mengapa negara Israel memahami pemulihan daya gentar sebagai sebuah laku penghancuran. Negara ini mengukur pencapaian politiknya dalam skala reruntuhan. Israel mengekspresikan estetika politiknya dalam penyebaran gambar-gambar kehancuran yang nyaris sublim. ‘Gaza’ sebagai sebuah pelajaran tentang pemusnahan total harus dimediasi dan ditampilkan di setiap layar. Skala dan jangkauan kehancuran harus benar-benar parah, benar-benar total, dan benar-benar tampak, untuk menegaskan kembali fakta tentang tidak tersentuhnya kekuasaan penjajahan di dalam kesadaran mereka yang menjadi objek kekerasannya. Tujuan berbagai aksi pengeboman Israel di Gaza yang dinyatakan untuk ‘memulihkan ketenangan’ adalah sebuah eufemisme untuk hubungan tanpa timbal-balik ini—masa-masa ‘ketenangan’ adalah ketika negara penjajah dapat membunuh, memenjarakan, merampas, dan menggusur sesuka hati tanpa balasan, tanpa hubungan yang sepadan.

Perjuangan Palestina dalam kurun dua puluh tahun terakhir telah menantang logika ini, bahkan menjungkirbalikkannya di beberapa tempat. Apa yang telah dicapai di Gaza saja sudah luar biasa besar. Sebuah masyarakat pengungsi yang terusir dari rumahnya, berkemah, diduduki secara militer selama beberapa dekade dan sepenuhnya terkepung di sebidang kecil tanah pantai yang datar tanpa gunung atau lembah, tanpa hutan atau rimba, dan secara rutin dibombardir dari udara, telah mampu meninju langit dan kedalaman perut bumi sebuah negara garnisun bersenjata nuklir. Dengan cara yang senyata-nyatanya, Gaza telah membalikkan logika pengepungan ini dalam sekejap. Mereka mengambil amunisi yang dijatuhkan ke rumah-rumah mereka dan mengubahnya menjadi kemampuan untuk membuat senjata penduduk asli dan pertahanan diri—ketika beberapa orang mengatakan bahwa dalam perjuangan antipenjajahan “setiap peluru akan dikirim balik”, di Gaza hal ini diartikan secara harfiah. Dengan kata lain, mereka telah melembagakan sebuah basis pengetahuan dan kemampuan pengorganisasian kumulatif penduduk asli. Ketika faksi-faksi perlawanan menembakkan roket-roket yang dibilang ‘primitif’ pada hari-hari awal pengepungan, orang-orang buru-buru mengatakan bahwa aksi itu tidak sepadan dengan intensitas pemboman Israel, bahwa roket-roket tersebut secara efektif hanyalah semacam ‘kembang api’ dan paling baik dipahami sebagai ‘simbolis’. Anggapan ini meleset dari intinya. Rezim penjajahan memahami hal ini dengan lebih jelas: bahkan prospek terkecil dari kemampuan penduduk asli untuk mengembangkan teknologi militer, seberapa pun ‘primitifnya’, adalah ancaman bagi logika tanpa timbal-balik.

Inilah kemampuan yang menentukan kaidah pertempuran hari ini. Dikurung oleh blokade yang hampir total di semua sisi dan tanpa seinci pun kedalaman wilayah atau jalur belakang untuk pasokan, perlawanan Palestina telah mengembangkan kemampuan untuk menghadapi dan memukul mundur pasukan penyerang lapis baja dari salah satu balatentara bersenjata terlengkap dan terkejam di dunia, selama berbulan-bulan peperangan. Sulit untuk menemukan preseden kesejarahan atas apa yang telah berhasil dibendung dan dicapai oleh perlawanan di Gaza sejauh ini. Orang-orang Aljazair memiliki jalur pasokan melalui Tunisia Bourguiba dan Pegunungan Atlas di pedalaman; orang-orang Vietnam memiliki Cina-Maois dan Kamboja serta berhektar-hektar hutan belantara. Orang-orang Palestina di Gaza sama sekali tidak memiliki kedalaman wilayah di garis belakang, namun mereka memiliki ketangguhan dan kecerdikan. Terlepas dari apa yang terjadi, tidak diragukan lagi bahwa pertempuran yang dikobarkan untuk melawan genosida ini pada akhirnya akan diakui secara kesejarahan di atas sana bersama dengan prestasi akbar sejarah antipenjajahan, dengan pertempuran di Dien Bien Phu atau, dalam hal ini, dengan Pertempuran Bint Jbeil pada Perang Lebanon 2006. Bahkan meskipun kita masih belum memiliki bahasa yang tepat untuk membicarakannya.

Namun tidak ada pertempuran terakhir di sini. Tidak ada analogi dengan kejatuhan Saigon atau penyerbuan Santa Clara yang sudah di depan mata. Orang-orang Palestina tidak akan pernah bisa mengerahkan kekuatan yang mendekati besarnya kekerasan yang dilakukan negara penjajahnya. Tetapi mereka bisa menolak tatanan penjajahan yang tanpa timbal-balik itu. Mereka dapat membuka dan memiliki waktu untuk perang pembebasan bangsa yang menghalangi tatanan pemukim bergerak melampaui kebuntuan. Dan, perlu diingat di sini, bahwa dasar dari setiap perang pembebasan bangsa adalah kemampuan rakyat biasa untuk terus-menerus menolak syarat-syarat kekalahan serta bersiteguh mempertahankan hidup dengan segala cara. Keteguhan ini ada dalam diri seorang ibu yang menguburkan anaknya yang meninggal di sebuah kuburan massal dan pada saat bersamaan menyatakan bahwa ia tidak akan beranjak ke mana pun; keteguhan ini juga ada dalam gambar seorang pemuda yang ditarik keluar dari reruntuhan, dengan wajah yang nyaris tak terlihat di balik lapisan debu kelabu, dibawa dengan tandu, yang entah bagaimana menemukan kekuatan untuk duduk dan mengangkat tangannya sebagai tanda kemenangan; ada di dalam diri para dokter yang menolak meninggalkan pasiennya bahkan ketika kematian yang tak terelakkan menghampiri; ada dalam diri seorang pria tua yang kembali mendiami reruntuhan rumahnya di dalam tenda terpal darurat agar ia dapat mencari mayat anak dan cucunya yang terkubur di bawah reruntuhan. Pada musim semi 2024, tentara Israel menyerbu kembali daerah-daerah di bagian utara Gaza, yang diklaim telah dibebaskan, bukan karena faksi-faksi perlawanan masih bertahan, tetapi terutama karena orang-orang bersikukuh untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Keteguhan pada kehidupan yang layak huni dan ritme-ritmenya yang biasa—yaitu, penolakan terhadap tanah tandus yang selalu ingin diciptakan Zionisme di/sebagai Palestina—adalah dasar dari tantangan yang lebih luas bagi rezim pemukim. Tidak ada yang perlu diromantisasi dalam hal ini; intinya bukanlah untuk menggolongkannya ke dalam gambaran kepahlawanan yang penuh pengorbanan. Kita jauh lebih tahu bahwa gambaran pemberontakan bersenjata tanpa pamrih itu tidak mencukupi. Gambaran-gambaran itu pernah mengecewakan kita sebelumnya. Kesedihannya tak terperi, dan tak ada yang dapat mengembalikannya ke tataran simbolis. Namun, menghilangkan kesedihan ini dari temporalitas perang pembebasan berarti menghilangkannya dari makna politik secara keseluruhan, dan menerjemahkannya ke dalam satu-satunya bahasa yang diizinkan liberalisme: sebuah luka pribadi semata. Sebaliknya, komunitas politik Palestina selalu—karena kebutuhan yang mendesak namun memiliki dampak politik —bergantung pada kemampuannya untuk mengubah kesedihan menjadi perlawanan.14

Bentuk-bentuk perjuangan inilah yang sama sekali tidak terbaca oleh sebagian besar kaum Kiri Liberal di Barat. Namun, begitu banyak advokasi kiwari yang tetap berpijak pada gagasan bahwa perjuangan pembebasan Palestina hanya akan berhasil jika kita mengacu pada konvensi pengakuan atau legitimasi yang berlaku di Barat. Kesalahan pembacaan ini seharusnya menjadi korban pertama dari perang genosida ini. Masalahnya bukanlah bagaimana kita membuat atau mengartikulasikan tuntutan kebebasan kita; masalahnya adalah bahwa tuntutan kebebasan Palestina pada dasarnya tidak dapat diterima oleh mereka.15 Tidak ada politik persuasi yang dapat mengubahnya. Bahkan dalam kematian massal kita, kemanusiaan kita disangkal; bahkan sebagai angka-angka tanpa nama, kita menjadi sasaran kecurigaan. Kemanusiaan ini pada prinsipnya adalah eksklusif bagi kita dan selalu demikian. Bukan hanya karena hidup kita dinilai berbeda, tetapi juga karena pada kenyataannya sama sekali tidak sebanding nilainya. Tidak ada pertunjukan kepolosan rasial ataupun paduan suara kecaman yang membeli keanggotaan klub perjuangan pembebasan Palestina. Paling banter, formasi Kiri Liberal di Barat mungkin melihat Palestina sebagai korban yang benar, namun tidak pernah sebagai aktor sejarah yang mampu dan dibenarkan mengobarkan perang pembebasan bangsa. Para sekutu yang kita menangkan, telah kita raih bukan dengan memohon pengakuan, tetapi dengan menolak menyerah dan mati, dengan menempatkan perjuangan kita, dan prinsip-prinsip perjuangan itu, dalam sejarah global dan warisan antipenjajahan revolusioner.

Semua ini tidak dimaksudkan untuk menghindari pertanyaan mengenai batas-batas etis kekerasan antipenjajahan. Juga bukan untuk menyiratkan bahwa batas-batas ini tidak pernah dilanggar dalam sejarah gerakan antipenjajahan Palestina, atau bahwa ia sungguh-sungguh tidak dilanggar dalam operasi Banjir al-Aqsa pada 7 Oktober. Pelanggaran-pelanggaran ini masih perlu diperhitungkan dan dikritik. Orang-orang Palestina telah lama memikirkan dan bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini, bukan sebagai upaya publisitas, tetapi sebagai bagian dari dialog politik mereka sendiri. Karena tidak ada satu pun dari kaum terjajah yang berhutang pada para penjajahnya, atau pada para editor jurnal-jurnal Barat, atau pada masyarakat internasional yang menjadi objek sakral. Kaum terjajah berhutang pada diri mereka sendiri, dan hanya pada dirinya sendiri; mereka berhutang pada cakrawala masa depan dan kehidupan bersama ketika kelak perjuangannya berhasil, pada dunia yang akan diwarisi oleh anak-anak mereka. 

Permohonan Fanon di akhir The Wretched of the Earth belum pernah semendesak ini, untuk ‘… tinggalkan Eropa yang tidak pernah berhenti berbicara tentang manusia, namun membantai manusia di setiap sudut jalan, di setiap sudut dunia’16. Israel adalah garda terdepan kawasan dari tatanan imperialisme yang sedang terguncang. Yaman, salah satu negara termiskin di dunia, menggerakkan lautan dan menentang imperium untuk turut serta dalam perjuangan. Afrika Selatan membalikkan hukum internasional, menerobos batas-batas penjajahan yang tak pernah diungkapkan terkait tuduhan genosida.17 Akan tetapi yang lebih penting lagi, jutaan orang di seluruh dunia turut prihatin atas kekerasan genosida di Gaza; jutaan orang terpanggil dan mengenali diri mereka di dalamnya. Mereka melihat Gaza dan menyaksikan bukan hanya seratus tahun penjajahan di Palestina, tetapi juga lima ratus tahun dominasi penjajahan rasial Euro-Amerika. Kampanye di Gaza seperti bentuk ringkas pementasan ulang setiap episode perang penjajahan dalam sejarah, dengan ciri khasnya masing-masing.: pemukulan terhadap orang-orang yang dirampas dan dikepung oleh kekuatan militer yang sangat besar atas nama pembelaan diri dan “peradaban dan nilai-nilai Barat”; demonologi dan bahasa kebiadaban, zoologi dan kebinatangbuasan; devaluasi kehidupan dalam taksonomi rasial yang secara aktif memproduksi keterbuangan (di mana kehidupan manusia dapat dipinggirkan atau dikorbankan) sebagai prasyarat nilai di tempat lain; kekinian dan penolakan terhadap setiap klaim masa lalu yang bersejarah atau ketidakadilan kesejarahan. Semua ini langsung dapat dikenali oleh jutaan orang di dunia, tidak hanya sebagai kegigihan atas nama masa lalu dan sejarah yang sama, tetapi juga sebagai pertanda buruk dari masa depan yang segera datang di planet yang sedang memanas. Dan lagi-lagi kita diberitahu bahwa planet ini juga ‘kelebihan penduduk’.

Dalam hal ini, Palestina adalah arsip hidup masa depan kita. Namun, Palestina juga menjadi nama dari kesadaran planet yang terbarukan. Palestina telah menjadi hal ihwal gerakan mahasiswa global terbesar dalam beberapa generasi, manifestasi internasionalisme Kiri terbesar yang pernah disaksikan dunia Barat dalam beberapa dekade terakhir, dan mungkin mobilisasi aktivisme antizionis Yahudi terbesar yang pernah ada di Amerika [Serikat, pen.]. Capaian-capaian ini tidak dapat diraih tanpa adanya perang pembebasan Palestina; semua ini akan menjadi bahan perdebatan semata jika tidak disertai tantangan terhadap antipenjajahan Palestina, tanpa kemampuan untuk menjungkirbalikkan kaidah logika penjajahan dan menolak seluruh aturan imperialisme. Tak satu pun dari capaian diplomatik, hukum, atau ideologis akan bisa diraih tanpa adanya perjuangan bersenjata yang memastikan bahwa masih ada sesuatu di lapangan yang layak diperjuangkan.

Kondisi ini juga kebuntuan Zionisme. Ketergantungannya yang mutlak pada patronase imperial tidak pernah sejelas ini. Demikian juga fungsinya sebagai pilar moral ideologis dan geopolitik militer dari tatanan kapitalis imperial yang didominasi Amerika Serikat, yang sedang runtuh, serta meluasnya genosida Zionis untuk menjaga fungsi itu agar tetap bekerja. Semua itu menjadi sangat jelas. Maka, pertaruhan dari kondisi ini bersifat global dan tidak bisa lebih besar lagi—Palestina ada di mana-mana karena ia menjadi nama subjek politik emansipasi universal yang radikal.18 Jika Zionisme telah hadir untuk membela ‘hak’ kaum penjajah-pemukim dan etnonasionalisme di mana-mana, yaitu hak untuk menutup segala bentuk perhitungan atas ketidakadilan penjajahan dan kekerasan perampasan yang sedang berlangsung di berbagai penjuru dunia, maka perang pembebasan Palestina hari ini membawa gagasan antipenjajahan secara global. Jika Zionisme telah menjadi salah satu titik temu (yang mengungkap pertalian mendalam antara) liberalisme akhir dan fasisme kekinian, maka, Palestina mengemban tugas untuk memperbarui warisan bersama sejarah revolusioner kaum Kiri, di mana tak seorang pun mampu melakukannya, dan sekaligus juga membawanya ke dalam masa kini yang sedang berlangsung, ke dalam ‘masa inisiatif’. Ini adalah beban yang berat sekaligus indah untuk dipikul.

 


Catatan kaki:

      1. Nasser Abourahme adalah akademisi yang bekerja di ranah geografi perkotaan, teori politik, dan studi pascakolonial. Saat ini, ia sedang menyiapkan manuskrip buku berjudul The Time Beneath the Concrete: Camp, Colony, Palestine. Selain mengajar dan meneliti, ia juga menjabat sebagai Special Features Editor jurnal studi perkotaan CITY dan aktif menulis di berbagai jurnal akademik internasional. Esai ini, “In tune with their time” (“Selaras dengan masanya”), pernah terbit dalam edisi musim panas Radical Philosophy (No. 216, 2024), hal. 13-20.
      2. Frantz Fanon, The Wretched of the Earth (Kemalangan Bumi), trans. Richard Philcox (New York: Grove Press, 2004), hal. 40.
      3. Mahmoud Darwish, Memory for Forgetfulness (Ingatan untuk yang mudah lupa), trans. Ibrahim Muhawi (Berkeley: UC Press, 1995), hal. 11.
      4. Joseph Massad, “Why Israel’s savagery is a sign of its impending defeat” (Mengapa kebiadaban Israel merupakan tanda kekalahan yang akan datang), Middle East Eye, 16 April 2024.
      5. Catatan terjemahan. Arc of Refusal adalah sebuah konsep yang ditawarkan Bonnie Honig dalam bukunya A Feminist Theory of Refusal
      6. Martin Shaw, “Palestine in international historical perspective on genocide (Palestina dalam perspektif kesejarahan genosida internasional)”, Holy Land Studies 9:1 (2010): 1–24.
      7. al–Jazeera, “Civilians sheltering inside a Gaza school killed execution–style (Warga sipil yang berlindung di dalam sebuah sekolah di Gaza dibunuh dengan gaya eksekusi)”, 13 Desember 2023.
      8. Seraj Assi, “Israel’s horrific massacre at Gaza’s largest hospital (Pembantaian mengerikan Israel di rumah sakit terbesar di Gaza)”, Jacobin, 3 April 2024.
      9. Forensic Architecture, “Attacks on aid in Gaza: Preliminary findings (Serangan terhadap bantuan di Gaza: Temuan awal)”, 4 April 2024.
      10. Mouin Rabbani, “Israel mows the lawn (Israel memotong rumput)”, London Review of Books, Vol. 36 No. 15, 31 Juli 2014.
      11. Samera Esmeir, “To say and think a life beyond what settler colonialism has made (Mengatakan dan Memikirkan kehidupan melampaui apa yang telah diciptakan penjajah pemukim)”, Mada Masr, 14 Oktober 2023.
      12. Bikrum Gill, “Two logics of war: Liberation against genocide (Dua logika perang: Pembebasan melawan genosida)”, Ebb Issue 1, Januari 2024.
      13. Achille Mbembe, “The society of enmity (Masyarakat permusuhan)”, Radical Philosophy 200, Nov/Des 2016, 25.
      14. Abdaljawad Omar, “Can the Palestinian mourn? (Dapatkah Orang Palestina Berkabung?)”, Rusted Radishes, 14 Desember 2023.
      15. Steven Salaita, “Down with the Zionist entity; long live the ‘Zionist entity’ (Jatuh bersama entitas Zionis; panjang umur ‘entitas Zionis’)”, 23 Mei 2024.
      16. Frantz Fanon, The Wretched of the Earth (Kemalangan Bumi), trans. Richard Philcox (New York: Grove Press, 2004), 235.
      17. Darryl Li, “The charge of genocide (Tuduhan genosida)”, Dissent, 18 Januari 2024.
      18. Jodi Dean, “Palestine speaks for everyone (Palestina berbicara untuk semua orang)”, Verso Blog, 9 April 2024.