
Berikut cuplikan naskah siaran bulanan Nayamullah Station di Radio Alhara, pada Rabu, 4 Oktober 2023. Pada edisi itu, program bulanan kami mengulik seputar penulisan cerpen Lempengan-lempengan cahaya yang selesai dituliskan Danarto pada Juli 1988. Sekitar tujuh hingga delapan bulan sebelumnya, di belahan bumi Palestina, terjadi aksi boikot dan lempar batu yang dilakukan oleh rakyat Palestina melawan militer Israel. Dari boikot dan aksi lempar batu, perlawanan yang dimulai di kamp pengungsi Jabalya di Gaza ini menyebar hingga Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Intifada Pertama yang memakan banyak korban jiwa.
>>> Jingle – Nayamullah Station, radio tanpa jaringan <<<
PENYIAR
Halo! Salam sejahtera untuk kita semua! Kembali lagi bersama Nayamullah Station, radio tanpa jaringan, bersama saya Togar!
>>> Dering telpon <<<
PENYIAR
Lho! Belum apa-apa sudah ada pendengar yang … Halo! Salam sejahtera! Anda sedang siaran langsung bersama saya Togar di Nayamullah Station, radio tanpa jaringan… Tapi, saya itu baru mulai siaran lho. Apa yang Anda ingin sampaikan?
PENELPON
Halo, Togar! Salam sejahtera! Senang sekali saya datang di waktu yang pas! Saya ingin mengabarkan sebuah keajaiban! Mukjizat! yang ada di ujung mata saya sekarang!
PENYIAR
Tunggu, tunggu. Maaf, dengan siapa saya berbicara? Anda menelpon dari mana ini?
PENELPON
Oh! Maaf! Ini sungguh sayang kalau sampai kelewatan soalnya. Saya sudah kucek-kucek mata saya. Dia masih ada di sana. Saya juga sudah minum segelas air dingin, pakai es batu pulak! Keajaiban itu masih ada di sana. Saya bukan dalam alam mimpi. Oh. Saya Otranad. Kawan-kawanku memanggil saya Nad. Saya menelpon Anda dari tepian Jalur Gaza. Dekat sebuah pemukiman yang konon hampir sama padatnya dengan Hong Kong.
PENYIAR
Pandangan mata apa yang ingin Anda kabarkan, Bung Nad?
PENELPON
Waduh, jangan panggil saya bung. Ah sudah! Ini tidak penting! Jauh di penghujung pandangan saya, terlihat sebatang pohon dengan daun-daunnya yang benderang, sinarnya mampu mengatasi terik matahari. Tadi ada seorang komandan yang bergegas sembari meracau, “Ini tanah macam apa! Makin banyak bentrokan makin banyak mukjizat!” Tinggi di atas pohon itu, di salah satu dahannya yang agak tersembunyi, ada seorang gadis kecil yang tertidur lelap. Gadis cilik ini seperti bersinar! Walau bajunya tampak sederhana dan umum bagi anak seumurannya, ia bersinar!
PENELPON
Pakaiannya itulah yang bercahaya-cahaya, yang ditempeli seluruhnya dengan lempengan-lempengan ayat itu. Ini semua yang membuat pohon itu seolah bermahkota cahaya, mengatasi kecemerlangan sinar matahari. Si komandan seperti mengenal gadis kecil itu. Sebab, ketika ia menyadari keberadaan si gadis cilik yang bersinar itu, ia berseru, “Astaga! Si nona kecil manis lagi!” Dari seruannya, ia terdengar kaget tapi tidak juga.
> Sambungan terputus <
PENYIAR
Halo! Nad! Halo! Waduh… Sepertinya sambungan terputus… Nad! Siapa gadis cilik yang bersinar itu? Lempengan ayat maksud Anda bagaimana?
>>> Bumper: DANARTO WORLD NEWS (versi Indonesia) <<<
PEWARTA
JERUSALEM, Feb 29, 1988*) — Gen. Amram Mitzna, military chief of the occupied West Bank, ordered his senior troop commanders Sunday to watch television news tape showing soldiers brutalizing Palestinian prisoners and then told them he will not let the Israeli army become “a mob force.” At the same time, the army announced that three soldiers will be court-martialed on charges of burying alive four young Arabs earlier this month near the West Bank village of Kfar Salim. The Arabs were later rescued.
The harsh TV tape and the burial incident, along with other news reports of excessive force used by Israeli soldiers, have drawn widespread condemnation from other nations and from dozens of human rights groups and have made many senior military officers extremely sensitive to charges of brutality, Mitzna among them. He forced his field commanders to watch all 40 minutes of the uncut CBS tape, not just the 60 seconds originally shown on U.S. television. What they saw was graphic footage of four Israeli soldiers beating two handcuffed demonstrators with fists, boots, clubs and stones.
Raed Barghouti, 17, and Ahmed Barghouti, 22, were shot to death Saturday night during a clash involving rock-throwing rioters and Israeli settlers at the Arab village of Abud, about 10 miles northwest of Ramallah in the West Bank. The mother of Sgt. Saguy Harpaz, one of the four soldiers arrested for the beating shown on the TV tape, said the incident involving her son is the fault of the army. “I taught my son to go to the army with his head held high, to contribute and to protect, and what has happened here? He has become a beater of children and women.”
Tiga hari setelah siaran bulanan kami tsb., Gaza diserang habis-habisan. Sekarang kita mengenangnya sebagai peristiwa 7 Oktober (2023). Sontak kami merasa dirajam oleh kata-kata klise: Sejarah mengulang dirinya sendiri. Tanpa ba bi bu, Radio Alhara segera membatalkan program terjadwal mereka dan menyiarkan apa yang kemudian kita kenal sebagai 24 Hours Palestine, terus-menerus. Dunia berduka, sekaligus marah.
Sejak Mei 2023, Nayamullah Station menyiarkan program bulanannya di Radio Alhara—maklum, Nayamullah ini band tanpa anggota, maka Nayamullah Station juga adalah radio tanpa jaringan. Mulanya, Nayamullah Station menyiarkan olahan arsip kekaryaan Danarto (l. 1940, Sragen; m. 2016, Jakarta) pada Rabu pertama setiap bulannya. Apa yang diolah dari kekaryaan Danarto? Pada program yang diawali dengan cuplikan di atas, misalnya, kami membahas bagaimana cahaya muncul dan berulang dalam kekaryaan Danarto—bukan hanya dalam cerpen dan puisi yang dipentaskan, tapi juga dalam karya rupanya—dan bagaimana kita memaknai, mengenal, …dan bagaimana kita memaknai, mengenal, dan mengikuti kemunculan cahaya tersebut—bukan sebagai simbol yang tetap, melainkan sebagai sesuatu yang bergerak, berpindah, dan kerap muncul di tempat yang tak terduga.
Dalam pembacaan kami, cahaya pada Danarto tidak pernah hadir sebagai penjelasan. Ia tidak menerangi untuk membuat segalanya menjadi jelas. Justru sebaliknya, ia sering kali mengganggu, menyilaukan, atau bahkan membingungkan. Cahaya itu muncul di tengah kekacauan, di antara reruntuhan, atau pada tubuh-tubuh yang rapuh—seorang anak kecil, seorang ibu, atau sosok yang nyaris tak punya daya. Maka membaca Danarto, bagi kami, bukan perkara memahami, melainkan mengikuti. Mengikuti bagaimana sebuah citra berpindah dari satu cerita ke cerita lain, dari teks ke gambar, dari pengalaman ke ingatan. Dan dalam proses mengikuti itu, kami mendapati bahwa membaca tidak pernah benar-benar diam.
Pembacaan itu tidak berhenti di meja atau di halaman. Ia kami bawa ke suara. Melalui Nayamullah Station, naskah-naskah tersebut kami baca ulang, kami suarakan, dan kami biarkan bergaung dalam durasi siaran. Dalam bentuk ini, kata-kata tidak lagi hanya dibaca, tetapi didengar—dengan jeda, dengan napas, dengan kemungkinan salah ucap, atau bahkan salah dengar. Radio menjadi ruang dimana naskah tidak sepenuhnya berada dalam kendali. Ia bisa terputus, terganggu, atau berubah ritmenya. Seperti sambungan telepon dalam cuplikan di awal, suara bisa hilang sebelum selesai. Namun justru dalam keterputusan itulah, sesuatu yang lain muncul: kebutuhan untuk melanjutkan, menebak, atau mengisi celah yang tertinggal.
Dengan demikian, siaran bukan sekadar medium penyampaian, melainkan bagian dari cara kami membaca. Dalam situasi yang terus bergerak sejak 7 Oktober 2023, pembacaan kami pun ikut bergeser. Perlahan kami belajar dari naskah-naskah lain yang datang dari konteks yang berbeda, namun menggaungkan kepedulian yang senada.

Kami pertama kali mendengar naskah-naskah bernada kepedulian yang sama itu dari Radio Alhara. Lalu, mengambil posisi sebagai penerjemah amatir, sebagai kaum yang suka belajar, kami mulai ikut membacanya, menerjemahkannya, dan menyuarakannya. Apa yang hadir dalam SADURAN: Nayamullah Station x learningpalestine.net ini berangkat dari lintasan tersebut. Naskah-naskah ini kami terjemahkan—perlahan, bersama, sebagai penerjemah amatir—sebelum kami bacakan dan siarkan, dan kini kami hadirkan kembali dalam bentuk tulisan.
Bagi kami, kerja penerjemahan jadi ruang untuk membaca bersama, belajar bersama, tinggal dalam ketidaknyamanan bersama, dan bekerja dengan segala keterbatasan yang kami miliki—melakukan apa yang kami bisa, dengan apa yang kami punya. Kami tersandung pada kata, ragu pada pilihan, dan tidak selalu tahu bagaimana membawa sebuah pengalaman ke dalam bahasa lain tanpa mengurangi nilainya.
Namun justru dalam proses itulah, kami memahami menerjemahkan sebagai bentuk latihan bersetiakawanan. Bukan dengan mengatasnamakan atau menggantikan suara, melainkan dengan memberi waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mengikuti naskah secara perlahan. Saduran yang hadir di sini adalah jejak dari kerja tersebut—terjemahan yang tidak selesai dalam satu bentuk, tetapi terus bergerak seiring cara kami membacanya.
Salam,
Nayamullah bersama Danarto dkk.
*) Berita ini dicuplik dari arsip The Los Angeles Times (LA Times), 29 Februari 1988, “Israeli vows army won’t become ‘mob’”