oleh Jean-Luc Godard1
diterjemahkan oleh Nayamullah (Grace Samboh), 3 Desember 20242

Kami pikir akan lebih adil, secara politik, untuk datang ke Palestina daripada pergi ke Mozambik, Kolombia, atau Benggala. Timur Tengah telah dijajah langsung oleh imperialisme Prancis dan Inggris (Perjanjian Sykes-Picot). Sebagai aktivis Prancis, kami rasa Palestina lebih tepat karena situasinya yang kompleks dan unik. Ada begitu banyak pertentangan; keadaannya tidak sesederhana di Asia Tenggara, paling tidak secara teori.
Bagi kami, sebagai aktivis film, tugas kami masih berada pada ranah teoretis. Memikirkan ulang segalanya untuk sebuah revolusi… Kita masih berada di tahap itu. Kita masih tertinggal puluhan tahun dari peluru pertama Al Assifa.3
Mao Tse-tung mengatakan bahwa seorang kawan yang baik akan pergi ke tempat yang paling sulit, ke tempat yang lebih banyak pertentangannya. Propaganda untuk perjuangan Palestina, ya. Dengan gambar dan suara. Film dan televisi. Propaganda berarti meletakkan masalah di atas karpet. Film itu ibarat karpet terbang yang dapat membawa pesan ke mana saja. Bukan, ini bukan sihir; ini adalah kerja politik. Kita harus mempelajari, menyelidiki, merekam hasil pembelajaran ini, dan kemudian menyajikannya (melalui montase) kepada para pejuang lainnya. Tunjukkan perjuangan para fedayeen kepada saudara-saudara Arab mereka yang diperbudak oleh para bos di pabrik-pabrik Prancis. Memperlihatkan para perempuan milisi Fath kepada saudara-saudara kulit hitam mereka yang diburu FBI (Federal Bureau of Investigation/Biro Investigasi Federal Amerika Serikat). Membuat film dengan kesadaran politik. Menyuntingnya dengan politis. Menyebarkannya secara politis. Kerja ini panjang dan sulit. Ini berarti menghadapi dan menyelesaikan masalah konkret setiap hari. Kita perlu mencari seorang fedai, seorang pemimpin, atau seorang milisi, dan bekerja sama untuk membuat gambar dan suara yang mencerminkan perjuangan mereka. Katakan padanya, “Saya akan merekam gambar saat Anda menembakkan peluru pertama Al Assifa.” Kita perlu mengetahui gambar mana yang harus diletakkan sebelum, dan mana yang sesudahnya, sehingga semuanya masuk akal. Sebuah makna politis dan revolusioner, yaitu makna yang mendukung revolusi Palestina, yang menyokong revolusi dunia. Semua ini panjang dan sulit. Kita harus tahu apa itu sinema…, dan Fath, dan informasi dalam Fath, dan persitegangannya dengan lembaga-lembaga lain. Fath, misalnya, melawan imperialisme Amerika. Tapi imperialisme Amerika juga berarti New York Times dan CBS. Kami berjuang melawan CBS. Ada banyak jurnalis yang dengan tulus percaya bahwa mereka berada di sisi kiri namun tidak berjuang melawan CBS dan New York Times. Mereka pikir mereka membantu Fath dengan menerbitkan artikel di media borjuis. Tetapi mereka tidak berjuang. Fath-lah yang berjuang dan bekerja. Para pejuang Fath-lah yang mati. Kita harus melihat itu. Dalam sastra dan seni, berjuanglah dalam dua garis pertahanan. Garis politik dan garis artistik, itulah panggung saat ini, dan kita perlu belajar untuk menyelesaikan pertentangan antara dua garis ini. Dalam surat kabar harian yang diterbitkan oleh Fath, masih terlalu banyak foto para pemimpin dan tidak cukup banyak foto para pejuang. Kita perlu melihat di mana letak persitegangan ini dan bagaimana mengatasinya. Ini bukan masalah artistik tata letak. Ini adalah masalah politik dalam bidang ideologi (pers). Kita patut belajar bagaimana caranya melawan musuh dengan gagasan, bukan hanya dengan senjata. Senjata harus tunduk kepada arahan partai, bukan sebaliknya.4 Dan kompleksitas perjuangan Palestina terkait dengan sulitnya membangun partai di sini (seperti di Prancis). Ketulenan Fath, bahkan sebelum perebutan Terusan Suez, adalah penolakan mereka untuk menyebut dirinya Partai atau Front. Ini adalah untuk mengatakan kepada seorang Muslim, “Tidak perlu meninggalkan kepercayaan Anda! Tinggalkanlah lembaganya dan bergabunglah dengan barisan kami!” Fath tidak perlu menjadi Marxis dalam kata-kata, karena revolusioner adalah praktik sehari-hari Fath. Mereka paham bagaimana gagasan berubah seiring berjalannya waktu. Bahwa semakin lama pawai menuju Tel Aviv, semakin banyak gagasan yang akan berubah, sehingga memungkinkan untuk akhirnya menghancurkan negara Israel.
GARIS POLITIK DAN GARIS ARTISTIK
Kami datang untuk memahami ini—belajar, menarik pelajaran, dan, jika memungkinkan, merekam hasilnya agar dapat disebarluaskan baik di sini maupun di belahan dunia lainnya. Hampir setahun yang lalu, dua orang dari kami datang untuk menginvestigasi Front Demokratik. Kemudian seorang lagi pergi ke Fath. Kami membaca naskah-naskah dan program-programnya. Sebagai Maois Prancis, kami memutuskan untuk membuat film dengan Fath yang berjudul Hingga kejayaan tiba (Jusqu’à la victoire). Kami membiarkan orang-orang Palestina sendiri yang mengucapkan kata “revolusi” dalam film tersebut. Namun judul sebenarnya dari film ini adalah Metode pemikiran dan kerja gerakan pembebasan Palestina (Méthodes de pensée et de travail du mouvement de libération Palestinien). Dengan kawan-kawan Front Demokratik, kami membicarakan hal-hal yang sama seperti pada para militan di Paris. Tidak ada yang kami pelajari. Tidak kami, tidak juga mereka. Dengan Fath, itu berbeda. Sangatlah sulit untuk bicara dengan seorang pemimpin tentang citra yang perlu dibangun dari revolusi Palestina, dan suara yang perlu menyertai citra tersebut (atau bertentangan dengan citra tersebut). Tetapi justru kesulitan ini adalah hal yang baik. Hal ini menimbulkan ketegangan yang nyata antara teori dan praktik: antara garis politik dan garis artistik. Kami tiba di Amman dan ditanyai, “Apa yang ingin Anda lihat?” Kami jawab, “Semuanya! Kami melihat Ashbals, pelatihan milisi, pangkalan-pangkalan di Selatan, pangkalan-pangkalan di Utara dan Pusat. Kami ingin melihat sekolah para syuhada. Kami melihat sekolah manajemen dan klinik-klinik.” Kemudian, kami dikejar, “Apa yang ingin Anda rekam sekarang? Kami jawab, “Kami tidak tahu!” “Apa maksudmu, ‘kami tidak tahu’? Tidak tahu?” “Tidak, kami ingin bicara dengan Anda, belajar dari Anda. Anda tak punya banyak amunisi untuk Kalashnikov dan RBG. Sementara kami tak punya banyak gambar dan suara. Kaum imperialis (Hollywood) telah merusak atau menghancurkannya. Jadi, kami tak boleh menyia-nyiakannya. Mereka adalah amunisi ideologis. Kita mesti belajar bagaimana menggunakannya dengan tepat untuk membunuh gagasan-gagasan musuh. Itulah mengapa kami perlu bicara dengan Anda.” “Sekarang, dengan siapa kalian ingin berbicara?” Kami jawab: “Abû Hassan5!” “Kami belum kenal siapa dia, tetapi kami pernah membaca sebuah artikel tentangnya di edisi pertama Fedayin.6 Ia berbicara kepada kami. Secara politis. Sebagai contoh, dia berkata: “Tentara Rakyat bukan tentang penggunaan radar yang canggih. Melainkan 10.000 anak dengan teropong dan walkie-talkie. Inilah gambar yang revolusioner itu. Kita bisa langsung melihat bahwa tentara Mesir bukanlah tentara rakyat. Alih-alih 10.000 anak, ada 10.000 instruktur Soviet.”
PELURU DI DEKAT TELINGA
Abû Hassan juga berkata, “Peluru pertama Al Assifa harus ditembakkan dekat telinga para petani agar mereka mendengar gemuruh pembebasan tanah mereka. Ini adalah suara revolusioner.” Percakapan ini memungkinkan bangunan hubungan politis antara gambar dan suara, alih-alih hanya membuat gambar yang dianggap ‘nyata’ tetapi tidak berarti apa-apa, yang tidak mengatakan apa-apa karena tidak ada yang bisa dikatakan, tidak ada yang bisa dikatakan yang belum kita ketahui. Dan apa gunanya mengatakan apa yang sudah kita ketahui? Dalam hal apapun, revolusi bukanlah sebuah pencarian kebaruan, bukan juga pencarian ada apa di belakang yang lama. Revolusi butuh waktu. Itu panjang dan sulit. Namun, tidak ada alasan mengapa sebuah film tentang revolusi Palestina perlu bebas dari kesulitan yang sama seperti revolusi itu sendiri. Mengapa film ini mesti tayang di televisi Amerika? Apakah Fath punya kendali atas sirkuit televisi Amerika? Tidak. Mereka bahkan tidak punya kendali atas bioskop-bioskop di Amman. Fath memang berkuasa di Amman. Tapi setiap malam, di bioskop-bioskop, kebusukan imperialis melenakan massa. Untungnya, berkat krisis Juni, Komando Bersatu sekarang dapat membuka mata mereka lagi. Pada suatu pagi, dengan menerbitkan surat kabar, masalah informasi revolusioner adalah masalah penting. Kami berkata, “Bagi kami di Perancis saat ini, bioskop [adalah] tugas sekunder revolusi. Namun, kami menjadikan tugas sekunder ini sebagai kegiatan utama.” Jadi, penting untuk melihat tegangan antara tugas sekunder ini dengan yang utama [dalam] revolusi yaitu perjuangan bersenjata melawan Israel. Lihat juga kontradiksi-kontradiksi lain antara sinema dan tugas-tugas sekunder revolusi Palestina. Lihat juga bahwa pada saat tertentu, di tempat tertentu, yang sekunder menjadi yang utama. Inilah yang kami sebut sebagai fakta politik dalam membuat film politik. Bukan hanya wawancara dengan Habash atau Arafat atau Hawatmeh.7 Bukan hanya gambar-gambar spektakuler “anak singa” yang berlari menembus kobaran api, tetapi juga laporan-laporan gambar, laporan-laporan suara, serta laporan-laporan gambar dan suara yang akan mengindikasikan hubungan, dalam revolusi Palestina, antara perjuangan bersenjata dan kerja-kerja politik, gambar, dan suara yang akan menunjukkan hubungan, dalam revolusi Palestina, antara perjuangan bersenjata dan kerja politik.
Setiap gambar dan setiap suara, setiap kombinasi gambar dan suara adalah momen-momen dalam relasi kuasa. Tugas kita adalah mengarahkan kekuatan-kekuatan ini untuk melawan musuh bersama kita: imperialisme—yaitu, Wall Street, Pentagon, IBM, United Artists (Hiburan dari Trans-America Corporation), dan seterusnya. Sebagai contoh, kami percaya bahwa Fath, selama krisis Juni8, mengalami kekalahan di bidang informasi. Siapa yang dibicarakan oleh Times, Il Messaggero, Le Monde, dan Le Figaro sehubungan dengan negara-negara kapitalis Eropa? Bagaimana dengan tanggapan massa terhadap provokasi-provokasi mematikan dari reaksi Yordania? Tidak ada. Bagaimana dengan peran politis serta militer Fath sebagai tanggapan? Tidak ada juga. Semua surat kabar ini, serta stasiun televisi dan radio Eropa Barat, mengolok-olok George Habash serta merugikan Yasser Arafat. Adalah tugas kita sebagai aktivis informasi revolusioner untuk menganalisis mengapa dan untuk apa operasi-operasi semacam itu dilakukan. Bagi imperialisme, tujuannya bukan hanya mencoba memecah persatuan gerakan perlawanan Palestina, tetapi juga harus mendistorsi makna perjuangan pembebasannya di mata massa Inggris, Italia, Prancis, dll. Dan, dengan demikian, memberikan pukulan lebih lanjut pada elemen-elemen revolusioner dari massa ini. Padahal, bagi mereka, revolusi Palestina, seperti halnya revolusi Vietnam, adalah sebuah fermentasi yang berharga. Bahkan sampai hari ini, naskah-naskah penting seperti Dialog Abu Iyad9 dengan Fath belum diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Ini adalah persoalan yang serius. Ini mungkin merupakan kekalahan-kekalahan kecil yang masih perlu kejujuran revolusioner untuk menganalisisnya sebagai kekalahan: perjuangan, kegagalan, perjuangan baru, kegagalan baru, perjuangan baru hingga kemenangan, seperti itulah logika rakyat, kata kawan-kawan Cina. Ini juga merupakan logika rakyat Palestina dalam gerakan pembebasan nasional mereka di bawah kepemimpinan Fath. Inilah yang kami coba tunjukkan dalam film kami, dalam film Anda. Di mana film ini akan ditayangkan? Itu akan tergantung pada kondisi perjuangan saat ini. Film ini bisa ditayangkan di sebuah jalan, di sebuah desa, di selatan Lebanon. Selembar kain direntangkan di antara dua jendela dan film itu ditayangkan. Di depan para mahasiswa Berkeley. Di antara para pekerja yang mogok di Cordoba atau Lyon. Di sebuah sekolah Amilcar Cabral.10 Dengan kata lain, secara umum, film ini akan tayang di depan elemen-elemen massa yang sudah maju. Mengapa demikian? Karena mereka adalah kekuatan dalam perjuangan.
HUBUNGAN ANTARA GAMBAR
[Gambar-gambar ini] harus dapat digunakan, dalam jangka pendek atau jangka panjang, oleh bermacam elemen lain dari kekuatan-kekuatan ini dalam perjuangan-perjuangan mereka. Artinya, gambar-gambar ini akan menjadi alat yang berguna saat perjuangan mereka membutuhkannya. Mari kita ambil contoh: Kami menunjukkan gambar seorang fedai yang sedang menyeberangi sungai; kemudian gambar seorang Perempuan milisi Fath yang sedang mengajari para pengungsi di sebuah kamp untuk membaca; kemudian gambar seekor “anak singa” yang sedang berlatih. Apa yang dimaksud dengan ketiga gambar ini? Mereka adalah satu kesatuan. Tak satupun dari mereka yang memiliki nilai tersendiri. Mungkin nilai sentimental, emosional, atau nilai fotografis. Tetapi tidak memiliki nilai politik. Agar bernilai politis, setiap gambar harus saling terhubung dalam jaringan makna dengan dua gambar lainnya. Maka, urutan penampilan ketiga gambar ini jadi penting. Mereka adalah bagian dari keseluruhan politik dan urutan yang mereka tampilkan mewakili garis politik. Kami berada di garis Fath. Jadi kami menyusun ketiga gambar ini dalam
| urutan sebagai berikut: | Ini berarti: |
| 1) Fedai yang sedang beroperasi; | 1) Perjuangan bersenjata; |
| 2) Perempuan Milisi sedang bekerja di sekolah; | 2) Kerja politik; |
| 3) Pelatihan anak-anak. | 3) Perang rakyat yang berkepanjangan |
Pada akhirnya, gambar ketiga adalah hasil dari dua gambar lainnya. Ini adalah: Perjuangan bersenjata + kerja politik = perang rakyat yang berkepanjangan melawan Israel. Ini juga merupakan: laki-laki (yang memulai perjuangan) + perempuan (yang mengubah dirinya, yang melakukan revolusi) yang melahirkan anak yang akan membebaskan Palestina = generasi kemenangan. Tidaklah cukup hanya dengan menunjukkan “anak singa” atau “bunga” dan berkata, “Inilah generasi kemenangan!” Kita perlu menunjukkan apa alasannya dan bagaimana caranya. [Jelas] seorang anak Israel tidak dapat ditampilkan dengan cara yang sama. Gambar-gambar yang menghasilkan citra seorang anak Zionis11 tidak sama dengan citra seorang anak Palestina. Sesungguhnya, kita tidak perlu membicarakan gambar; yang perlu kita bicarakan adalah hubungan antar gambar.
ANTEK-ANTEK LEBANON DI HOLLYWOOD
Imperialisme telah mengajarkan kita untuk menganggap citraan sebagai sesuatu yang nyata. Imperialisme telah membuat kita percaya bahwa sebuah citraan adalah kenyataan. Namun akal sehat mengatakan bahwa citraan hanya bisa bersifat imajiner, justru karena ia adalah sebuah gambar. Sebuah pantulan. Seperti bayangan Anda di cermin. Apa yang nyata pertama-tama adalah Anda, dan kemudian hubungan antara Anda dan pantulan ini. Maka, apa yang nyata adalah hubungan yang Anda buat antara pantulan yang berbeda dari diri Anda, atau foto-foto diri Anda yang berbeda. Sebagai contoh, Anda berkata pada diri sendiri, “Saya cantik,” atau, “Saya terlihat lelah.” Ketika Anda mengatakan itu, sesungguhnya apa yang sedang Anda lakukan? Anda membangun hubungan sederhana antara beberapa pantulan. Satu di mana Anda terlihat baik, yang lain di mana Anda terlihat buruk. Anda membandingkan, dengan kata lain, Anda membangun sebuah hubungan, kemudian menyimpulkan, “Saya terlihat lelah.” Membuat film secara politis berarti membangun hubungan semacam ini secara politis, demi memecahkan masalah secara politis. Dengan kata lain, dalam hal kerja dan perjuangan. Dan imperialisme, dengan mencoba membuat kita percaya bahwa gambaran dunia mereka itu nyata (padahal sebenarnya itu khayali), mencoba mencegah kita melakukan apa yang perlu kita lakukan: membangun hubungan (politik) yang nyata di antara gambaran-gambaran tersebut; membangun hubungan (politik) yang nyata di antara gambar latihan Ashbal12 dan gambar fedayeen yang sedang menyeberangi sungai. Satu-satunya kenyataan revolusioner adalah kenyataan (politis) dari hubungan ini. Ia bersifat politis karena ia memunculkan pertanyaan tentang kekuasaan; dan rantai gambar seperti yang baru saja kita gambarkan menyatakan bahwa kekuasaan berada di ujung senjata. Imperialisme ingin kita puas dengan menunjukkan seorang fedai menyeberangi sungai, atau seorang perempuan petani belajar membaca, atau para Ashbal yang sedang berlatih. Imperialisme tidak menentang hal itu. Imperialisme membuat gambar-gambar seperti itu setiap hari (atau para budaknya yang melakukannya). Mereka menyiarkannya setiap hari di BBC, di Life, Il Expresso dan Der Spiegel. Di satu sisi ada UNRWA13 (untuk perut), dan di sisi lain Hollywood dan antek-antek film Lebanon dan Mesir (untuk gagasan dan gambar yang provokatif). Imperialisme telah mengajarkan kita untuk tidak membuat hubungan antara ketiga gambar yang baru saja kita bicarakan, atau melakukannya, dalam keadaan darurat, tetapi dalam urutan tertentu yang tidak mengganggu rencananya.
GAGASAN DAN TEGANGAN
Tugas kita sebagai aktivis informasi anti-imperialis adalah berjuang keras di bidang ini. Membebaskan diri kita dari belenggu citra yang dipaksakan oleh ideologi imperialis melalui semua aparatusnya: Pers, radio, bioskop, rekaman, buku-buku. Ini adalah tugas sekunder yang telah kita jadikan kegiatan utama sambil mencoba menyelesaikan tegangan-tegangan yang ada. Sebagai contoh, dalam perjuangan di garis sekunder ini, kita sering berhadapan dengan kawan-kawan lain. Kawan-kawan ini, di sini di Fath, misalnya, memiliki ide-ide yang maju dan adil di garis depan utama bersenjata, dan sering kali ide-ide yang kurang adil di garis sekunder informasi. Bagi kita semua, ini adalah masalah belajar untuk menyelesaikan pertentangan ini sebagai bagian dari tegangan di dalam rakyat, bukan antara kita dan musuh. Membuat gambar-gambar yang bertentangan berarti membuat kemajuan untuk menyelesaikan tegangan-tegangan ini. Dan, di sini, setelah mengajukan masalah produksi rangkaian tiga gambar ini (menggunakan contoh yang sama), kita sekarang dapat mengajukan masalah penyebaran gambar-gambar ini dengan cara yang lebih adil dan lebih politis. Dan karena gambar-gambar (khayali) ini memiliki hubungan nyata (bertentangan) satu sama lain, maka karena hubungan nyata inilah mereka yang menonton dan mendengarkan gambar-gambar ini juga akan memiliki hubungan yang nyata dengan gambar-gambar tersebut. Menonton film ini akan menjadi momen keberadaan mereka yang nyata, kenyataan mereka. Kenyataan politik kali ini. Sebagai seorang petani yang tertindas, seorang pekerja yang mogok, seorang mahasiswa yang memberontak, seorang fedai yang memegang Kalashnikov… Inilah yang kami maksudkan saat kami berkata, “Usai sudah pertunjukannya, hiduplah hubungan politis…”
GIGI DAN BIBIR
Beginilah caranya agar sastra dan seni dapat menjadi, seperti yang diinginkan Lenin, sebuah sekrup kecil yang hidup dalam mekanisme revolusi. Jadi, sebagai kesimpulan, jangan tunjukkan fedai yang terluka; tunjukkan bagaimana luka ini akan membantu petani miskin. Dan ini adalah proses yang panjang dan sulit, karena sejak fotografi ditemukan, imperialisme telah membuat film untuk mencegah orang-orang yang ditindasnya untuk membuat film mereka sendiri. Mereka telah membuat gambar-gambar untuk menyamarkan kenyataan kepada massa yang ditindasnya. Tugas kita adalah menghancurkan gambar-gambar ini dan belajar membuat gambar-gambar lain yang lebih sederhana, untuk melayani rakyat, dan agar rakyat dapat menggunakannya secara bergantian. Mengatakan: “Ini panjang dan sulit” berarti mengatakan bahwa perjuangan (ideologis) ini adalah bagian dari perang berkepanjangan melawan Israel yang dilancarkan oleh rakyat Palestina. Di tempat lain, perjuangan ini terkait dengan semua perang yang dilancarkan oleh rakyat melawan imperialisme dan sekutunya. Bersatu erat seperti gigi dan bibir14, seperti ibu dan anak, seperti tanah Palestina dan para fedayeen.
Catatan kaki:
- Jusqua’à la victoire. Manifesto ini terbit untuk pertama kalinya di El Fatah, edisi Juli 1970, tanpa judul. Naskah ini juga pernah terbit dalam Guy Hennebelle dan Khemaïs Khayati, 1977, La Palestine et le cinéma (Palestina dan sinema). Paris: Éditions du Centenaire, hal. 205-211. Versi bahasa Prancis naskah ini, beserta ilustrasi garapan Godard, terbit dalam Nicole Brenez, David Faroult, Michael Temple, James Williams & Michael Witt (peny.) 2006, Jean-Luc Godard: Documents. Paris: Éditions du Centre Pompidou, hal. 138-143. Versi daring buku ini juga bisa diakses di sini. Salah satu versi terjemahan bahasa Inggrisnya pernah terbit di Free Palestine, edisi Januari 1971. Versi bahasa Inggris yang bisa diakses daring adalah hasil terjemahan Stoffel Debuysere untuk penelitian KASK School of Arts, University College Ghent yang bertajuk Figures of Dissent (Cinema of Politics, Politics of Cinema) [Figur-Figur Pembangkang (Sinema Politik, Politik Sinema)]” 2012-2016. Terakhir diakses melalui situs web pada 19 Des 2024, 21.32 WIB https://www.diagonalthoughts.com/?p=1728
- Catatan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia: Kecenderungan penggunaan titik koma dipertahankan seturut naskah asli, walau dalam beberapa tata kalimat ia bisa saja digantikan dengan koma atau tanda-hubung. Penggunaan «…» dari penulisan bahasa Prancis untuk petikan digantikan dengan “” dalam logika penulisan bahasa Indonesia. “Pembacaan” naskah dalam bahasa Perancis dibantu sejumlah pelantar Kecerdasan Buatan.
- Sayap bersenjata dari El Fatah, sebuah organisasi pembebasan nasional Palestina.
- Ungkapan Mao Tse-tung, “Partai harus memerintahkan senjata,” yang digunakan dalam La Chinoise (1967, dir. Jean-Luc Godard), bermaksud untuk menggarisbawahi gagasannya bahwa ‘militer harus diperintahkan oleh politik, bukan sebaliknya’.
- Dikenal sebagai “Pangeran Merah”, Ali Hassan Salameh adalah intelijen PLO sejak 1969. Ia bertanggung jawab atas kontak dengan CIA hingga akhirnya ia dicurigai memberikan informasi kepada CIA mengenai kelompok-kelompok minoritas dalam PLO. Ia diyakini sebagai kepala organisasi Black September (September Hitam) yang menyandera atlet Israel pada Olimpiade Munich 1973.
- Fedayin (Fedayin). Sebuah majalah bulanan Prancis yang dekat dengan Fatah, yang mulai terbit pada Januari 1970, Fedayin menerbitkan terjemahan artikel-artikel pilihan dari surat kabar El Fatah.
- Popular Front for the Liberation of Palestine (Front Populer untuk Pembebasan Palestina). Di Yordania, Nayef Hawatmeh bergabung dengan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), sebuah organisasi Marxis-Leninis yang dipimpin oleh Dr Georges Habache. Pada 1969, ia memisahkan diri dan mendirikan Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP), sayap kiri PLO. Sebagai salah satu tokoh utama gerakan Palestina, Hawatmeh mempromosikan dialog dengan kaum kiri Israel pada 1970, melihatnya sebagai ancaman bagi Zionisme dan reaksi Arab, sekaligus menentang anti-Semitisme sejak 1969.
- Pada 6-7 Juni 1970, ketika Dewan Nasional Palestina VII di Kairo hampir selesai, kelompok-kelompok kecil yang menyebut diri mereka “organisasi perlawanan Palestina” melancarkan serangan bersenjata di Amman (Yordania). Mereka menyerang militan dari kelompok utama, menebarkan kebingungan, dan mendorong tentara Yordania untuk menyerang kamp-kamp pengungsi Palestina pada 9 Juni. Respons militer Fatah memaksa Raja Yordania untuk berunding, mengakhiri krisis pada 10 Juni. (Bahasan lebih lanjut terdapat di Fedayin, edisi 6-7, Juni-Juli 1970, hlm. 1-8 dan 22).
- Salah satu pendiri Fatah bersama Yasser Arafat.
- No Pincha (No Pincha). Ahli teori dan pemimpin perang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Tanjung Verde, yang dipimpin oleh PAIGC (Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Tanjung Verde), dibunuh oleh penjajah Portugis pada 20 Januari 1973. Film Tobias Engel, No Pincha (1969), memberikan kesaksian tentang sekolah-sekolah yang dipertahankan gerilyawan Cabral meskipun ada gangguan militer dari tentara Portugis.
- Transisi dari kalimat sebelumnya ke kalimat ini menunjukkan bahwa mustahil mempublikasikan tanpa menanggapi ide keliru bahwa anak Israel bisa “terlahir Zionis.” Zionisme adalah posisi politik, bukan sesuatu yang diwariskan secara genetik. Fatah secara tegas menolak kebingungan antara Yahudi, Israel, dan Zionis, terutama dalam tiga artikel berbahasa Prancis yang terbit pada Maret, April, dan Mei 1970 (artikel Godard terbit Juli). (Artikel-artikel ini diterbitkan ulang dalam Fedayin edisi 5-8, Paris, Éditions de Minuit, 1970).
- ”Lionceaux” (Anak Singa). Istilah untuk pejuang muda dan remaja.
- Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Dibentuk pada 1949 sebagai badan sementara. Ia mulai beroperasi sejak Mei 1950. Sejalan dengan mandat awalnya (membantu para pengungsi Palestina dan bekerja sama dengan otoritas publik setempat; memberikan bantuan langsung; dan melaksanakan pekerjaan yang diperlukan), tugas utamanya adalah pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial. Dengan adanya perang 1967 dan perpindahan penduduk baru, mandatnya diperluas untuk mencakup para pengungsi.
- Formula ini mengutip Louis Althusser, “La philosophie comme arme de la révolution. Résponse à huit questions,” La Pensée, no. 138, April 1968, dicetak ulang dalam Louis Althusser, Positions, Éditions sociales, Paris, 1976, hal. 48, “Lutte des classes et philosophie marxiste-léniniste sont unies comme les dents et les lèvres.”