oleh June Jordan
diterjemahkan oleh Nayamullah (Julian Abraham “Togar”), 1 November 2024

“Di mana Abu Fadi,” ratapnya.
“Siapa yang akan membawakanku orang yang kucintai?”
—The New York Times, 20 September 1982
Aku tak mau bicara tentang buldoser
dan tanah merah
yang tak sepenuhnya menutupi semua tangan dan kaki
Aku juga tak mau bicara tentang jeritan sepanjang malam
yang terdengar
hingga gardu-gardu di mana para tentara bersantai
Aku juga tak mau bicara tentang seorang perempuan
yang menyodorkan bayinya ke tangan orang tak dikenal
sebelum dia digiring pergi
Aku juga tak mau bicara tentang seorang bapak
yang anak laki-lakinya ditembak di kepala
sedangkan lehernya mereka gorok di hadapan istrinya.
Aku juga tak mau bicara tentang para tentara
yang menyulut api dalam gelap demi mempertontonkan ke orang-orang
punggung-punggung mangsa mereka
yang berjejeran di tembok
Aku juga tak mau bicara tentang tumpukan mayat-mayat
dan bau busuk yang melayang tak terhembus
Aku juga tak mau bicara tentang perawat
yang diperkosa bergantian
sebelum dibunuh di lantai rumah sakit
Aku juga tak mau bicara tentang rentetan peluru-peluru berderak
yang tak kunjung henti menghiraukan lintasan ratapan
Aku juga tak mau bicara tentang pintu-pintu
yang didobrak dan jendela-jendela yang dipecahkan
dan keluarga-keluarga yang diseret keluar
masuk ke alam orang mati
Aku tak mau bicara tentang buldoser dan tanah merah
yang tak sepenuhnya menutupi semua tangan dan kaki
Karena aku tak mau bicara tentang peristiwa
yang tak bisa diungkapkan dengan kata
yang menghantui dari mereka yang tega
“untuk memurnikan” suatu bangsa
mereka yang tega
“memusnahkan” suatu bangsa
mereka yang tega
menggambarkan manusia sebagai “binatang buas berkaki dua”
mereka yang tega
“menyapu bersih”
“mengencangkan jeratan”
“meningkatkan tekanan militer”
“mengepung” jalanan sipil dengan tank
mereka yang tega
menutup universitas
melenyapkan pers
membunuh wakil-wakil terpilih
dari orang-orang yang menolak untuk dimurnikan
Dari merekalah kita harus menebus
racauan awal kita
karena Aku perlu bicara tentang rumah
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
di atas tanah yang tidak ditindas dan dipukuli menjadi
batu kubur
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
di mana kami bercakap-cakap dengan bahasaku
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
di mana anak-anakku bisa tumbuh tanpa ketakutan
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
di mana para lelaki di keluargaku
yang berusia antara enam hingga enam puluh lima
tidak dibariskan menuju liang lahat
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
di mana Aku bisa duduk tanpa kesedihan
tanpa ratapan panjang
untuk orang-orang yang Aku cintai
di mana Aku tidak harus bertanya di mana Abu Fadi
karena aku tahu dia akan ada disini di sampingku
Aku perlu bicara tentang ruang tamu
karena Aku perlu bicara tentang rumah
Aku terlahir sebagai perempuan kulit hitam
dan sekarang
Aku menjadi seorang Palestina
melawan tawaan tanpa belas kasihan dari setan
semakin hari semakin sedikit ruang tamu
dan di mana orang-orang yang Aku cintai?
Sudah saatnya kita bergerak pulang ke rumah.
Catatan:
- Puisi June Jordan Moving towards home (Bergerak menuju rumah) pertama kali diterbitkan, pada 1982, setelah pembantaian para pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Puisi ini juga pernah terbit dalam Living room: New poems (1985, New York: Thunder’s Mouth Press, distribusi oleh Persea Books) dan Directed by desire: The complete poems of June Jordan (2005, Port Townsend: Copper Canyon Press) dan diulas dalam Poetry Magazine (ed. November 2023) sebagai bagian dari senarai karya June Jordan yang bertajuk Our Way Home.
- Belum ada terjemahan resmi dari puisi yang pernah terbit. Namun, Ibtisam Tasnim Zaman pernah menerjemahkan puisi ini ke dalam bahasa Arab dan membacakannya dalam siniar Broken English pada Mei 2022.
- Ada juga buku kumpulan esai politik June Jordan yang bertajuk sama dengan puisi ini, Moving towards home (London Virago, 1989) namun tidak menampilkan puisi itu sendiri.