Search
Close this search box.

Nelayan Perempuan Pungkasan, Prahara Jamban, dan Tenggelamnya Harapan

Screening, presentasi, dan pertunjukan menyoroti kehidupan pesisir utara Jakarta yang tergusur oleh pembangunan. Siapa saja yang terdampak? Bagaimana mereka bertahan?

Malam itu area Taman Ismail Marzuki (TIM) basah karena guyuran hujan yang awet sejak siang. Namun, di salah satu ruangannya, di Gedung Teater Wahyu Sihombing, terasa hangat. Banyak manusia yang datang ke sana untuk menyaksikan screening, presentasi, pertunjukan, hingga lelang karya dengan tema besar, A Fundraising for Sinking Promises.

Pada malam Minggu, 16 Mei 2026, selepas Magrib, penonton berjubel. Di antara mereka ada yang registrasi, sebagian menunggu pintu pertunjukan dibuka, banyak juga yang ngobrol-ngobrol. Mereka yang melakukan registrasi disuguhi jajanan pasar, nasi tumpeng yang bisa dimakan bersama, hingga satu suvenir yang tidak biasa: gayung mandi.

Salah seorang peserta mendapat suvenir gayung saat melakukan registrasi acara “A Fundraising for Sinking Promises” yang diselenggarakan pada Minggu, 16 Mei 2026, di Taman Ismail Marzuki. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Simbolisasi apakah ini? Apa maknanya? Begitu pertanyaan di kepala saya, dan baru bisa saya jawab usai pertunjukan.

Cerita Mak Item di Kampung Dadap

Namanya Mak Item. Dia merupakan nelayan perempuan di Kampung Dadap. Kampung korban keganasan pembangunan proyek elitis bernama kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) di pesisir utara Jakarta. Usianya sudah tua, fisiknya pun sudah melemah. Dia banyak memakan garam kehidupan, termasuk berkali-kali pindah rumah karena kena gusur untuk pembangunan infrastruktur yang hanya menguntungkan mereka yang punya uang dan modal.

Kisah hidup Mak Item diangkat menjadi film dengan judul “Wong Balik Pungkasane (Nelayan Perempuan Terakhir)”, karya sutradara Irwan Ahmett (Iwang).

Film “Wong Balik Pungkasane” karya sutradara Irwan Ahmett. Judulnya secara literal berarti nelayan terakhir, berkisah tentang kehidupan Mak Item. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Jika dulu Mak Item bisa melaut dengan tenang dan secukupnya, masih ada pohon-pohon trembesi besar yang menjadi sandaran teduhnya ketika melaut, kini kondisinya berbeda. Dibangunnya tanggul, beton, dan pulau jadi-jadian di tempat tinggalnya sekarang meluluhlantakkannya. Infrastruktur itu membuat ikan-ikan tak betah di ekosistemnya sekarang. Mak Item dan nelayan lainnya harus berlayar dengan jarak yang jauh untuk mengisi jaring dan mendapatkan tangkapan. Tentu, biayanya lebih mahal dan modalnya lebih besar, yang tidak semua nelayan mampu mengakomodasinya. Belum lagi, limbah-limbah yang dihasilkan industri, buangan rumah tangga, dan gaya hidup elit warga PIK membuat perairan itu jadi hitam. Siklus cuaca yang tidak stabil pun semakin melengkapi tragedi bagaimana nelayan di kawasan pesisir dibunuh penghidupannya berkali-kali.

Di rumahnya, Mak Item bergulat dengan lantai yang penuh genangan air hitam, jentik-jentik nyamuk, sampah perabotan yang sudah tak tentu bentuknya, bangkai-bangkai binatang, bau menyengat sisik kerang hijau, dan limbah. Jika dulu rumah Mak Item merupakan rumah yang paling tinggi, kini rumahnya kebanjiran. Tinggi tanah di rumahnya menyusut tak hanya oleh alam, tapi juga oleh manusia-manusia serakah yang membangun pulau ilusi di sekitarnya.

Kejutannya, malam itu Mak Item turut hadir di TIM. Berkerudung, sosoknya sederhana dan ada kesan menjalani hidup sewajarnya saja. Jika melihat wajahnya, saya teringat air muka perempuan-perempuan desa di desa saya di Jawa Tengah, yang secara tidak langsung memancarkan aura hidup, “sak madyo nglampahi“. Sebutan bagi mereka yang selalu bekerja keras dan berusaha, tapi tetap tahu batas-batas kebutuhan, sehingga tidak serakah dan mensyukuri hasil yang didapatkan.

Tentu ini sangat berbeda dengan lawan Mak Item, para bos infrastruktur yang “sak polah-polahé nggragas“. Mereka yang rakus, serakah, dengan gaya hidup berlebihan, tanpa memedulikan pihak-pihak yang mereka rugikan. Tanpa peduli mata pencarian kaum marjinal yang mereka singkirkan.

Seni Pengabaian Infrastruktur

Elisa menyampaikan materi “Seni Pengabaian Infrastruktur”. Infrastruktur muncul menjadi penghisap yang menghancurkan tabungan, mimpi, dan masa depan penduduk Dadap yang katanya dilindungi. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Dengan mengenakan gaun putih cantik, pegiat urban Elisa Sutanudjaja memaparkan materinya berjudul “Seni Pengabaian Infrastruktur”. Sedikit curhat tentang prosesnya, awalnya Elisa sempat bingung dengan materi apa yang ingin dia sampaikan saat Iwang menggandengnya untuk acara ini. “Sebenarnya Mas Iwang berharap saya bisa stand up sedikit, katanya kalau Elisa yang ngomong rada-rada lucu, ya walaupun ironis,” begitu kata Elisa menirukan Iwang. Elisa pun mengerjakan langkah-langkah sebagaimana peneliti bekerja: mencari inspirasi yang dekat dengan minatnya, mengurasi jurnal dari Google Scholar, membaca dengan tekun, membuat tulisan, hingga, singkat cerita, mempresentasikan temuannya malam itu.

Elisa membuka paparannya dengan kejadian dan foto-foto penggusuran yang terjadi di berbagai permukiman di pesisir Jakarta Utara: infrastruktur di kawasan pesisir ini menjadi korban pembangunan yang tidak berpihak pada kaum lemah.

Dirinya juga menelusuri secara etimologis kata “infrastruktur” yang beroperasi. Dia mengutip tulisan yang terbit di Journal of Professional Issues in Engineering dengan judul “Infrastructure: Etymology and Import”. Artikel yang ditulis oleh H. William Batt tahun 1984 ini singkatnya mengatakan, alih-alih teknis, asal muasal kata infrastruktur sudah politis sejak awal. Infrastruktur berasal dari bahasa Latin: “infra” (di bawah) dan “structura” (bangunan atau susunan), atau yang bawah dan yang menopang. Awalnya digunakan untuk menggambarkan fondasi rel kereta api, sebelum akhirnya berkembang menjadi kerangka publik, ekonomi, dan sosial.

Ia menyebut bahwa kata infrastruktur dapat ditelusuri penggunaannya saat mobilisasi perang NATO tahun 1950-an. Diambil dari studi militer pasca-Perang Dunia II tentang bagaimana memindahkan tentara, amunisi, dan logistik secara cepat dan lintas teritori. Mengutip salah seorang jenderal dari Prancis yang menggunakan kata infrastruktur, infrastruktur dianggap materialisasi pertama dari kekerasan negara di atas tanah yang dikuasai, bahkan sebelum bangunan itu didirikan.

Setelahnya, kata infrastruktur banyak dipakai dalam literatur pembangunan ekonomi negara-negara miskin/berpendapatan rendah. Lalu, istilah ini secara bertahap menjadi kata yang digunakan dalam dunia investasi modal. Modal ini tak hanya fasilitas fisik, tetapi juga modal manusia. Meski sempat meredup penggunaan istilah infrastruktur, tahun 1980an dibangkitkan kembali. Ia menjadi diksi yang laris manis ketika seseorang berbicara tentang berbagai fasilitas publik yang berkaitan dengan sanitasi, perumahan, transportasi, kesehatan, pendidikan, serta berbagai sektor yang memerlukan klaim sah lainnya.

Pengalaman Elisa yang malang melintang dalam kajian perkotaan, di antaranya menjadi direktur di Rujak Center for Urban Studies (RCUS), sekaligus direktur Koperasi Rumah Flat Menteng (koperasi perumahan pertama di kawasan transit-oriented development/TOD Jakarta), membuatnya peka dengan sistem dan struktur, termasuk dengan situasi yang dialami Mak Item. Dulunya, Kampung Dadap dikuasai tuan tanah Tionghoa, lalu datanglah berbagai pihak yang berkepentingan. Reklamasi dibangun diam-diam, jembatan dipancangkan tapi masyarakat tak memakainya, tolnya pun muncul diam-diam, dan tiba-tiba ada di Google Maps.

Dalih pembangunan infrastruktur tersebut adalah untuk mengatasi banjir rob. Seolah melindungi Kampung Dadap dari berbagai sisi, kondisinya melayang dan terendam di sungai. Proyek senyap yang tidak bilang-bilang pada warga ini membuat mobilisasi kapital yang memperparah kondisi Dadap. Membawa keuntungan bagi developer/spekulan tanah, tapi membawa kebuntungan bagi warga. Infrastruktur muncul menjadi penghisap yang menghancurkan tabungan, mimpi, dan masa depan penduduk Dadap yang katanya dilindungi.

“Infrastruktur juga itu adalah karya seni, tapi dia adalah seni yang mengabaikan,” tegas Elisa.

Lima Abad Buang Hajat

Andesh menyampaikan kritik terhadap lima abad Jakarta. Ia mengajak penonton bukan melihat Jakarta dari fasad rumah, tapi belakang rumah. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Andesh merasa seperti déjà vu. Berdirinya dia di panggung TIM malam itu mengingatkannya dengan serial komedi televisi asal Britania Raya, Mr. Bean. Pria bernama lengkap Andesha Hermintomo dan berprofesi sebagai arsitek itu menggambarkan, sorotan lampu panggung yang mengarah ke dirinya ini jadi adegan ikonik Mr. Bean, dan ia sedikit bernostalgia dengan kelucuan komedi fisik Rowan Atkinson tersebut.

Namun, bukan untuk stand-up comedy sebagaimana guyonan Elisa di sesi sebelumnya;  di belakang Andesh, layar bertuliskan “5 Abad Buang Hajat” akan menjadi inti pembicaraannya. Materi yang cukup berat hubungannya dengan isu sosial, lingkungan, dan teori-teori dalam dunia arsitektur, tapi Andesh berhasil memasaknya jadi “sajian makan malam” yang mudah dipahami penonton.

Judul yang dirancang Andesh merupakan satir untuk Jakarta yang hendak memasuki usia 500 tahun (5 abad) pada tanggal 22 Juni 2027 nanti. Ya, tinggal menunggu setahun lagi, bahkan pihak Pemprov sudah membuat alat penghitung mundurnya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Entah untuk apa? Melihatnya saja, seperti jadi pecut tidak kasat mata yang membuat seseorang seolah-olah ada urgensi untuk cepat-cepat bergerak dan bertindak.

Tidak seperti nyanyian merdu mimpi-mimpi gigantik dengan slogan “Jakarta Menuju Kota Global”, Andesh mengajak Jakarta untuk lebih realistis dan menapak bumi. Alih-alih memperbesar api untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis berskala dunia, Andesh justru membaca Jakarta dari POV dan metafora yang tidak disangka-sangka: jamban. Ia mengajak penonton bukan untuk melihat Jakarta dari fasad rumah, tapi dari belakang rumah. Narasinya tidak selamat untuk 500 tahun Jakarta menuju Kota Global, tapi ejekan lima abad Jakarta buang hajat. Sungguh menarik, bukankah berdasarkan pengalaman, untuk melihat kualitas dan kesehatan suatu rumah, lihatlah bagian WC atau jambannya. Persis seperti itu pendekatan yang digunakan Andesh. Sebagai arsitek, dia paham betul.

Andesh membuka presentasi dengan menunjukkan peta Dadap zaman dulu yang dibuat dengan sangat detail, karena ada kepentingan yang besar di sana. Peta kawasan pesisir ini lebih detail dibandingkan dengan peta kawasan lain yang dibuat seadanya, seperti murid yang ingin cepat-cepat mengumpulkan prakarya di hari terakhir. Peta zaman kolonial itu berubah perlahan dengan peta-peta khas Google Earth kawasan Dadap, dan bagaimana kampung itu diisolasi oleh proyek beton PIK. Jika dulu warga masih punya sungai alami, kini sungai itu terkurung beton.

Dijelaskan pula bagaimana kondisi rumah Mak Item yang perlahan-lahan tenggelam. Namun, di sisi ini, secara khusus Andesh menjelaskan tentang kondisi jamban rumah Mak Item. Menurut Andesh, jamban bukan sekadar tempat buang hajat saja, tapi juga simbol privasi dan harga diri pemilik rumah. Ketika jamban bermasalah, privasinya juga bermasalah.

“Punya toilet yang layak sebenarnya itu juga terkait harga diri. Dengan toilet yang layak dan tertutup, harga diri seseorang tetap terlindungi. Kalau pup-nya harus sembunyi-sembunyi, harus dibuang di kantong plastik lalu dibuang ke sungai, kok kayaknya kita malu gitu mengklaim kalau Jakarta udah lima abad, tapi urusan buang hajat masih belum teratasi,” tuturnya.

Andesh kemudian membawa penonton pada kerangka arsitektur pembuatan jamban yang ideal di dalam kondisi yang kebanjiran seperti yang terjadi di rumah Mak Item. Rincian itu mulai dari material yang digunakan, dimensi ukuran, cara kerja materi yang fleksibel dan bisa dibongkar dengan mudah, pembangunan jembatan dari ruang utama, atap jamban, tangki air, septic tank yang bisa mengolah tinja jadi air, hingga Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dibutuhkan untuk membuatnya. Total biaya toilet rumah Mak Item itu sebesar Rp50 juta, dari tahap persiapan, konstruksi, finishing, dll. Targetnya, pada Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2026 nanti, toilet tersebut bisa terbangun.

Berdasarkan latar belakang di atas, itulah alasan dibuatnya pertunjukan dan donasi berjudul A Fundraising for Sinking Promises. Judul ini secara metaforis bermakna penggalangan dana untuk janji-janji yang tenggelam atau upaya menyelamatkan janji-janji yang mulai karam. Judul ini menjadi kritik sosial tentang janji politik atau kemanusiaan/hak-hak dasar yang tidak terpenuhi.

Interfidal: Intrusi

Para aktor Intertidal: Intrusi. Para aktor berbicara dengan bahasa tubuh masing-masing menyuarakan kritik terhadap masalah yang terjadi di Dadap. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Tak lama usai presentasi dari Andesh, panggung blackout. Performance “Intertidal: Intruisi” dimulai. “Intertidal” merupakan pertemuan bulanan yang dibentuk oleh Iwang untuk memposisikan tubuh dalam dunia pesisir secara performatif. Pertemuan ini mengolah sensitivitas tubuh dalam medan pertempuran antara ingatan vs ilusi, kedatangan vs kepergian, atau kolektif vs tercerabut. Sementara itu, “intrusi” diartikan, “merespons relasi tubuh dengan air laut yang telah merembes ke bawah tanah kota Jakarta. Ekspresinya ditunjukkan dengan mendengarkan yang samar: arus, denyut, desis, dan suara-suara yang dibungkam.

Para aktor yang terlibat dalam pertunjukan ini yaitu: Adek Ceeguk, Agata Megumi, Azhar Abu Bakar, Chiko Agestoo, Def Pinqi Febriansa, Denali B. Rabbani, Dendi Madiya, Dinar Pandan Sari, Kuswanto, Pangky, Teresia May, Tita Salina, dan Ugi Jahari. Adapun dramaturginya adalah Iwang.

Aktor mandi mandi abu, menjadi simbol bagaimana kaum marjinal di pesisir mengalami duka cita akan tanah yang mereka tempati. (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)
Aktor adegan dilumpuhkan (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Dalam pertunjukan itu, saya melihat para aktor yang muncul satu per satu dan berbicara dengan bahasa tubuh masing-masing. Adegan dimulai dengan kedatangan seorang anak laki-laki usia SD yang bergerak dari tengah panggung dan mendatangi tiga sisi tempat duduk penonton satu per satu. Anak itu memakai kostum celana panjang warna cokelat dan bertelanjang dada. Kemudian, tiga aktor lainnya muncul dengan cara menggeliat, melata, dan bergerak dengan menahan kesakitan yang susah dijelaskan, dan hanya bahasa tubuh sepertinya yang mampu menjelaskan. Kepedihan dan kesedihan ini tentu menjadi manifestasi dari penderitaan masyarakat Kampung Dadap.

Dari yang hanya tiga aktor saja, pelan-pelan, para aktor lainnya menunjukkan atraksi sedih dan tertekan mereka. Di antara adegan itu, ada aktor yang dihujani dan bermandikan abu. Ada pula aktor yang dikurung dalam plastik bening besar yang diisi bukan air, tapi lumpur comberan. Bau menyengat saat prosesi itu tercium hingga bangku-bangku penonton. Di antara perasaan ngeri dan jijik, ada rasa takjub dan kedalaman yang susah dijelaskan.

Aktor mencoba bertahan hidup di tengah tekanan (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

Saya juga mengingat adegan ketika para aktor seolah ingin menghidupkan orang-orang yang mereka cintai, tapi sayangnya mau mati. Aktor-aktor itu memberikan napas buatan. Mereka juga bergerak sebagaimana dokter atau perawat yang memberikan teknik napas buatan dalam kondisi darurat. Mereka mengecek napas hidung, melakukan kompresi dada, tapi sayangnya, yang mereka tolong seperti tak terselamatkan.

Adegan yang paling menyentuh saya secara pribadi adalah di bagian akhir. Saat hampir seluruh aktornya melakukan adegan jatuh bangun tubuh berkali-kali. Seolah adegan ini memberi pesan kepada saya bagaimana kaum marjinal di pesisir juga hidup seperti itu, daya resiliensi mereka sebegitu besarnya. Meskipun sistem mematikan mereka berkali-kali, daya untuk hidup dan bertahan selalu tumbuh.

Poskrip dan Lelang Karya

Malam itu, saya datang dengan kawan saya bernama Maryam. Setelah acara diskusi selesai, kami sempat berdiskusi terkait pertunjukan yang baru kami tonton. Maryam, yang juga kawan saya saat berkuliah di Jogja, ini juga dulunya adalah seorang aktor teater. Dia kagum dan mengapresiasi khususnya pertunjukan “Intertidal: Intrusi” yang sarat dengan simbol dan makna, yang interpretasinya tergantung pada bagasi pengalaman dan pengetahuan penonton masing-masing.

Selain tentang pertunjukan para aktor, dia mempertanyakan hal yang diam-diam saya tanyakan juga. Maryam bertanya: Masalah sanitasi di Dadap bukan hanya terjadi pada Mak Item, tapi kenapa donasi pembuatan jambannya tidak ditujukan untuk umum, tapi personal?

Saya kemudian menanyakan ini kepada Iwang via direct message Instagram. Dia menjelaskan, “Di sana tidak ada toilet umum, tapi ada toilet-toilet yang disewakan untuk kebutuhan mandi, BAB, dan sebagainya. Toilet sewaan ini milik satu tokoh masyarakat Dadap. Kalau kami buat toilet umum, akan mematikan usahanya dia dan menciptakan dinamika berbeda di warga. Untuk itu, saat ini kita fokus ke toilet lansia saja dulu, minim drama warga dan juga pembiayaan lebih memungkinkan.”

Saya merasa narasi Iwang ini penting untuk disampaikan karena konflik dan dilema yang terjadi di lapangan tidak sepenuhnya bisa dipahami penonton. Penonton bisa menganggap kondisi warga di Kampung Dadap kurang lebih sama dengan Mak Item. “Iya, kami kelewat untuk menyampaikan padahal waktu persiapan kami lumayan bingung untuk mengatasi lokal politiknya,” tambah Iwang.

Lelang karya (Foto: Dok. Rangga Aditiawan)

“Secara pribadi, saya kagum dengan Iwang dan kawan-kawan yang terlibat dalam pertunjukan dan donasi untuk Mak Item ini. Untuk mencari pendanaan, mereka tidak tergantung pada sponsor yang terbukti abai terhadap alam atau merangkak-rangkak pada perusahaan dan bos yang punya modal. Saya memandang, kegiatan ini menjadi salah satu alternatif elegan dan berkelanjutan untuk berdaya secara ekonomi; serta menjadi bukti bagaimana dunia seni bisa memberikan dampak nyata. Tidak besar dan tidak muluk-muluk, tapi konkrit. Sebab, mereka menghadirkan “nilai” yang menurut saya lebih mahal kualitasnya daripada sekadar materi. Uang 50 juta rupiah bagi spekulan modal PIK barangkali satu gebresan hidung saja saat mereka flu dibandingkan dengan nilai miliaran yang mereka putar dan kelola. Namun, itu besar maknanya bagi pribadi Mak Item, yang entah dia harus reinkarnasi berapa kali lagi untuk mendapatkan uang sejumlah itu.”

Dalam pertunjukkan itu, Irwan Ahmett dan Tita Salina berkolaborasi dengan seniman lain, Ella Wijt, juga menggelar lelang karya untuk mewujudkan pembangunan toilet bagi Mak Item. Ada setidaknya tiga karya yang dilelang: “Reruntuhan Tembok Laut Muara Baru”, “Layar Sri Rumput”, dan “Bilah Kayu Sri Rumput”. Ketiga karya ini terinspirasi dari kehidupan pesisir Teluk Jakarta dengan berbagai retak kehidupannya.

Setelah pulang, akhirnya saya bisa mengira-ngira sendiri, makna apa yang ingin disampaikan dari suvenir gayung mandi yang terbuat dari plastik tersebut. Barangkali, gayung mengajarkan manusia akan alat sederhana yang bisa memenuhi kebutuhan dasar di jamban. Dia tidak mewah, tapi punya fungsi penting untuk membersihkan berbagai kotoran di tubuh terutama, dengan suara byar-byur yang khas. Berbanding terbalik dengan penggunaan shower di zaman modern, mandi menggunakan gayung dianggap lebih bersih. Pesan ini berkorelasi dengan warga di Dadap yang mungkin dianggap tradisional, seperti gayung, tidak modern seperti warga PIK, tapi gayung membawa ceritanya sendiri yang tentu banyak relevansinya dengan kelas sosial masyarakat di Indonesia. []