Search
Close this search box.

Art Jakarta Garden 2023: Pasar Seni Hijau dan Segar!

Pada mulanya, Art Jakarta memiliki fokus sebagai hajatan art fair atau pasar seni berskala internasional, yang beberapa tahun terakhir (2022 dan 2019) dilangsungkan di dalam gedung Jakarta Convention Center (JCC). Dalam perjalanannya, Art Jakarta menemukan permasalahannya tersendiri ketika dihadapkan situasi pandemi tahun 2020. Art Jakarta Garden adalah terobosan yang menjawab era (normal) baru!

Keberadaan ruang terbuka hijau kian jadi primadona kota. Jakarta yang dipenuhi hutan beton, terang membutuhkan legitimasi ekologis berupa ruang hijau. Sebab dengan begitu, selain berfungsi ekologis, ia akan berguna sebagai ruang public yang bermanfaat secara sosial, budaya, ekonomi hingga arsitektur dan seni. Dalam tujuan terakhir itulah, belum lama ini “Art Jakarta Garden” kembali hadir untuk kali kedua di Hutan Kota by Plataran, persis di bilangan Senayan, Jakarta Selatan.

Inisiatif yang dilakukan Art Jakarta Garden 2023 ini sekaigus menandai berlangsungnya ekosistem seni rupa, tentu dengan melibatkan beragam seniman, galeri, dan kolektor. Art Jakarta Garden kali tahun kedua ini sendiri, masih di tempat dan konsep yang sama, karya hadir di dalam dan luar ruangan, dengan mengundang pengunjung untuk menjelajahi sebaran karya baik trimatra maupun dwimatra.

Menjadi daya tarik tersendiri ketika karya seni diposisikan dalam lingkungan ruang terbuka hijau, sebab tercipta komunikasi publik yang khas. Publik dapat merasakan objek karya patung yang memiliki ragam genre baik yang dekat dengan kecenderungan modern maupun kontemporer, bahkan karya dapat bersentuhan secara langsung oleh publik maupun menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

Pada mulanya, Art Jakarta memiliki fokus sebagai hajatan art fair atau pasar seni berskala internasional, yang beberapa tahun terakhir (2022 dan 2019) dilangsungkan di dalam gedung Jakarta Convention Center (JCC). Dalam perjalanannya, Art Jakarta menemukan permasalahannya tersendiri ketika dihadapkan situasi pandemi tahun 2020.

Direktur Artistik, Enin Supriyanto, menyampaikan bahwa ide Art Jakarta Garden berawal dari kebutuhan menjawab kevakuman akibat pandemi selama 2 tahun (2020-2021). Konsep penyajikan karya seni di taman inilah yang dipilih untuk merespon kondisi dan kebutuhan di era normal baru.

Pengunjung menikmati Art Jakarta Garden 2023. Tampak karya Richard Winkler (kanan). (Foto: Cecilia Elma)

Mengubah Konsep Demi Lampu Hijau

Dalam satu sesi, Enin kemudian menjelaskan: “Konsepnya kita ubah, cara penataannya sengaja mencari tempat outdoor diluar ruangan dan cukup luas. Kita bisa membuat acara, kan orang jadi tidak khawatir harus di dalam ruangan. Dan dari situ jadilah patung dan instalasi bisa ditampilkan. Ketika cari tempat, kemudian ngobrol dengan pihak Plataran, mereka ternyata menyambut idenya, dari situlah terlaksana. Kalau biasanya art fair salah satu fokusnya cuma lukisan, sekarang jadi punya kesempatan untuk menampilkan patung instalasi beneran di luar ruangan. Barulah setelah itu kita hubungi teman-teman galeri, kita punya ide seperti ini kalian berminat tidak ikut? Jawabnya ayo-ayo, oke karna memang sudah 2 tahun tidak ada kegiatan, akhirnya terlaksanalah Art Jakarta Garden pertama, tahun lalu.”

Penampakan “Totem #2” karya Darbotz, sajian dari Museum of Toys di Art Jakarta Garden 2023. (Foto: Cecilia Elma)

Salah satu pola yang tampak menonjol adalah sculpture garden, yakni karya outdoor yang dipresentasikan oleh seniman-galeri di ruang hijau. Beberapa karya patung sengaja didukung dengan base dari TACO, yang terbuat dari PVC dan HPL. Terlihat beberapa karya yang tidak asing dikenali, misalnya karya Darbotz oleh Museum of Toys, seniman mural tanah air yang mendunia dengan ciri khas bernuansa monochrome.

Pada karya patungnya berdimensi 100cm x 170cm x 200cm dengan judul “Darbotz Totem #2” ini, tampak kembali simplikasi karakter tubuh manusia. Bagian khas dari karya Darbotz adalah distorsi serta penggunaan karakter yang repetitif, terlebih lagi patung dengan presentasi kinetik, berputar pada satu poros, dan dapat dinikmati dari berbagai sisi.

Selain Darbotz, terlihat karya lain yang menonjol, yakni dari maestro patung Nyoman Nuarta. Karya Nyoman Nurata sengaja kembali dihadirkan oleh Linda Gallery, dengan judul “Maung (King of the Jungle)”. Keberadaan karya di tengah ruang terbuka hijau menjadikannya energi tersendiri, perwujudan naturalistiknya membentuk karakter harimau yang terlihat sedang mengaum, dengan material yang khas ala Nyoman Nuarta, yakni tembaga dan kuningan.

Nama lain yang menjadi amatan penulis adalah karya patung dari Fandi Angga Saputra. Seniman muda lulusan ISI Yogyakarta yang dikenal dengan lukisan surealis ini muncul dengan pewarnaan kontras dan beracam-macam. Menurut keterangan, inspirasi berkarya Fandi bersumber dari kenangan masa kecil. Dalam sesi kali ini, ia mempresentasikan patung “Between Coconut Tree”  50cm x 26cm x 25cm.

Kemudian bagian pameran indoor atau dalam ruangan, tak kurang melibatkan 21 galeri lokal dan satu dari luar negeri, yakni Malaysia. Paritsipan dari galeri-galeri sengaja ditempatkan pada tenda A dan tenda B, dengan masing-masing tenda memiliki sekat sebagai pemisah antar galeri.

Secara umum, ukuran ruang dalam tenda terbilang cukup untuk dapat mengakomodasi presentasi karya seniman. Beberapa nama galeri diantaranya; Tenda A: Rachel Gallery,  Gajah Gallery, CGartspace, CAN’S Gallery, Art Agenda, Semarang Gallery, ArtSerpong Gallery, RUCI Art Space, ArtSociates, Facade Kiniko Art, A+ Works of Art,  Artsphere Gallery, dan Andis Gallery. Tenda B : ISA Art Gallery,  Museum of Toys, STEM Projects, Nadi Gallery, ROH, Gudang Gambar, Bale Project, Linda Gallery, D Gallerie.

Setiap masing-masing galeri mempresentasikan corak gaya seni rupa, dengan nomor perupa yang sesuai branding karakteristik dan selera pemasaran masing-masing galeri. Tentunya dengan booth yang berukuran cukup -kendati ada juga yang lebih luas dengan berbanding lurus dengan biaya sewanya-, mengharuskan galeri untuk cerdas mengolah tata letak dan perhitungan potensi pasarnya. Terlebih jika galeri tersebut memerkan lukisan sekaligus juga patung di dalamnya, tentu pemosisian menentukan daya tarik public, khususnya kolektor.

Di sisi lain, selalu ada strategi khas, yakni galeri yang memberlakukan rolling karya, atau mengganti karya baru ketika satu karya terpajang telah terjual. Ibarat lalu lintas, karya seni yang laku adalah prasyarat lampu hijau untuk bergerak, sementara yang belum laku harus berhenti di lampu merah. Dalam Art Jakarta Garden, karya seni laksana mobil di ruang hijau yang menanti lampu hijau!

Suasana publik pengunjung di antara booth galeri dan sajian karya. (Foto: Cecilia Elma)

Namanya Pasar, Segalanya Musti Segar!

Harus dipahami, dominasi karya dalam Art Jakarta Garden adalah karya dengan tahun pembuatan baru alias segar, dengan sebagian besar bernafas kontemporer. Pada booth ROH misalnya, memiliki sisi display karya yang menarik dengan terlihat dinamis mengisi ruang pada booth, memamerkan karya lukisan hingga new media art.

Salah satunya karya yang menarik penulis adalah dari Bagus Pandega, yang dikenal menciptakan patung dalam bentuk instalasi kinetik. Karya kinetiknya kali ini mengeksplorasi akar bunga anggrek yang terhubung dan hidup di dalam susunannya. Karya yang ditempatkan di bagian tengah booth ini menjadi perhatian khusus para pengunjung.

Pada sisi yang lain, terdapat booth “Art Agenda” yang memiliki fokus menampilkan karya modern, salah satunya adalah dari Salim (1908 – 2008). Seorang pelukis senior yang lahir di Medan, tetapi 60 tahun usianya dihabiskan berkarya di Eropa. Tabitha, bagian dari Art Agenda menjelaskan bahwa, alasan menampilkan karya Salim adalah memperkenalkan praktik kesenian yang lebih beragam. Pada umumnya orang Indonesia mengenal karya modern negaranya seperti Affandi, Basoeki Abdullah, dan S. Sudjojono.

Padahal ada sosok Salim yang telah beberapa kali mengadakan pameran tunggal internasional di Paris, Jepang, dan Amsterdam. Salah satu kolektor Salim yang terkemuka adalah Ibu Toeti Heraty, seorang intelektual dan sastrawan Indonesia. Salim sendiri memiliki perkembangan gaya pada karyanya, kendati yang dikenal melekat pada karyanya adalah corak kubisme. Dalam ruang Art Agenda inilah, karya terpilih Salim dari tahun 1960-an sampai 2000-an sengaja dipamerkan.

Art Jakarta Garden juga memiliki presentasi special pada area outdoor, melalui kerja sama yang dilakukan dengan beberapa perusahaan. Salah satunya adalah seniman FX Harsono yang berkolaborasi dengan Bibit.id, dengan karya yang ditempatkan di ruang khusus berjudul: “The Light of Journey”. Kemudian yang menarik perhatian penulis adalah dari Digital Nativ, yang menampilkan karya Aquifer, dengan dukungan iForte. Karya yang disebut-sebut memadukan seni dan teknologi ini menghadirkan isu ‘air tanah’ Jakarta yang problematis.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Repubik Indonesia, Sandiaga Uno sengaja hadir di tengah-tengah keramaian Art Jakarta Garden. Sandiaga Uno mengemukakan bahwa: “Kegiatan  Art Jakarta Garden ini mestinya akan meningkatkan sumbangan bagi eknomi kreatif. Saya mendengar ada tambahan para kolektor baru dan juga seniman-seniman baru, hal ini akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif antara 5 sampai 7 persen, sesuai data tahunan kami di Kemenparekraf. Jadi misalnya ini akan terus direalisasikan, tentu akan sangat positif untuk perkembangan industri seni.”

Selain pameran, Art Jakarta Garden menampilkan beragam aktivasi performans dan eksperimen bunyi, seperti sesi bertajuk“Intraplay #1: Garden of Self” yang diisi oleh Dimas E. Prasinggih, Ishvara Devati, Kurt Peterson, Aldo Ahmad, Jason Noghani, Monica Hapsari, Logic Lost, dan Orcy World (Gilang Anom M.M.). Tidak ketinggalan beberapa workshop atau lokakarya dari Kandurastudio, pertunjukan musik Sofar Sounds Jakarta, dengan penampilan musisi-musisi muda yaitu AneeSa, DUARA, Meda Kawu, Mariani Oelong, Yuyun Arfah, dan Sri Panggung. Namanya pasar, demi menarik konsumen, segalanya harus lengkap dan segar. (*)