Awan menggantung dengan raut muka mendung pada sore menjelang malam itu, Jumat, 17 November 2023. Deretan kendaraan merayap dengan kecepatan stabil saat saya melajukan motor menuju pasar seni Art Jakarta 2023. Bersyukur jalanan tak terlalu macet. Sebentar lagi rintik hujan akan turun, dan saya harus cepat-cepat menuju Hall B3 dan C3 JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. Udara dingin menusuk, tapi pikiran saya terlempar pada perhelatan Art Jakarta tahun lalu, di mana saya mengalami sensasi “muntah-muntah seni”, saking banyaknya karya seni yang saya tonton dan saksikan. Saya datang tanpa preferensi yang jelas, dan tenggelam dalam kebingungan menjadi keniscayaan.
Kala itu saya serasa mengalami interpretation fatigue, selama 29 tahun saya hidup, belum pernah saya menyaksikan parade makna dan simbol dari bermacam-macam seniman dan galeri sedemikian banyaknya. Jumlah karya seni yang ditampilkan tak bisa saya hitung dari lafal satu hingga ribuan. Seharian pun tak sanggup mencerap satu per satu, sedang kenikmatan karya seni dapat saya peroleh melalui interpretasi dan refleksi yang tak sebentar. Banyak aliran, banyak bentuk, banyak ideologi, semua tumplek tanpa tema dan tanpa catatan kuratorial khusus. Saya terlambat sadar, bahwa Art Jakart bukanlah pameran, tetapi pasar.
Kesadaran saya kini kembali. Setelah setengah jam, pukul 17.35 WIB, saya tiba. Kain panjang berwarna kuning lemon bertulis “Jakarta 17 – 19 NOV 2023 JIEXPO KEMAYORAN” ditata dan dililit sedemikian rupa agar terlihat artistik. Saya melihat ada seorang perempuan berdiri di depannya, melenggokkan badan dan menjadikannya sebagai spot berfoto. Tak dipungkiri, selain sebagai tempat paling lengkap untuk selfie dengan berbagai karya seni; Art Jakarta menjadi salah satu pasar seni paling penting dan prestisius di Indonesia, bahkan pintunya hanya terbuka selama tiga hari dalam setahun.

Memasuki pintu masuk, karya dari Gatot Pujiarto berjudul “Ratu Mbako” langsung mencuri perhatian saya. Lukisan berukuran 200 x 150 cm dengan cat acrylic itu mengangkat sebuah profesi yang tak lazim, perempuan yang mencari nafkah melalui perdagangan tembakau. Penempatannya seperti bukan tanpa alasan. Sontak mengingatkan saya pada serial Netflix yang tengah naik daun, “Gadis Kretek” yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Pemeran Jeng Yah tersebut namanya sekaligus tercatat sebagai Chair, Board of Friends Art Jakarta 2023, ditambah pula suaminya, Maulana Indraguna Sutowo yang menjabat sebagai CEO MRA Group. MRA Media sendiri membawahi majalah internasional seperti Harper’s Bazaar, CASA, dan Cosmopolitan. MRA Group sekaligus menjadi founder dari pagelaran Art Jakarta pertama kali tahun 2009, sejak namanya masih Bazaar Art Jakarta (BAJ).

Belajar dari Art Jakarta 2022 yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC), saya pun membuat strategi agar bisa melakukan observasi pada seluruh karya dan galeri yang menjadi peserta Art Jakarta 2023 yang kini di Jakarta International Expo Kemayoran atau JIEXPO. Hari pertama pasar seni ini, saya menyapu sekilas semua karya seni rupa unggulan dan karya-karya yang dipajang di booth A1 hingga A26. Hari kedua, saya mengamati karya-karya dari booth B1 hingga D15. Hari ketiga, saya mengamati karya-karya dari booth E1 hingga S38. Waktu pengamatan saya lakukan kira-kira dari pukul 17.30 hingga 21.00 WIB saat pameran tutup.
Sejenak menghela nafas dan benak saya pun terbetot membuat tulisan ini. Tenang, mustahil semua karya saya singung, sebab menonton semua booth saja sudah menguras energi tersendiri, apalagi kalau harus membeli. Namun mereka yang membeli, apakah juga sama perasaanya dengan saya? Apakah butuh waktu lama menonton? Kalau memang tidak seperti saya dan tidak butuh lama menonton, untuk keputusan membeli. Lantas karakter macam apa yang mereka punya? Ikuti telusur saya di tengah salah satu wajah paling komersil sekaligus riil dari nasib seni(man) di Indonesia.
Line Up Karya
Dari data yang saya dapatkan di hari pertama pameran, sebanyak 28 galeri luar negeri dan 40 galeri dari Indonesia membawa karya-karya yang mayoritas baru dan sebagian karya lama atau old master dari para seniman terbaik milik galeri tersebut. Galeri internasional yang datang berasal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, Taiwan, China, Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Australia. Berbagai mitra besar juga didatangkan, tiga mitra besar itu yakni: Julius Baer (wealth management service), UOB Indonesia (institusi perbankan), dan Bibit (platform investasi digital yang menyajikan “Glass House” Syagini Ratna Wulan yang pernah tampil di Venice Biennale 2019).
Membaca pers rilis Art Jakarta tahun ini, Fair Director Tom Tandio menyampaikan, pemilihan venue besar di Jiexpo memungkinkan keterlibatan kolaborasi yang lebih besar lagi. Salah satu mitra yang menjadi andalan yaitu Julius Baer yang menampilkan Julius Baer Next Generation Art Prize in Asia 2023, yang ditempatkan di spot khusus, Julius Baer VIP Lounge. Sebagai institusi wealth management di Swiss, Julius Baer Art Collection telah dibentuk sejak 1981 dan telah memiliki koleksi lebih dari 5.000 karya dengan medium yang berbeda-beda. Indonesia Market Head and Group Head Private Banking Southeast Asia, Vi Sun Yang mengatakan jika seni rupa dapat menjadi wahana yang bisa menjaring dan mendekatkan lembaga mereka dengan “nasabah” dan “masyarakat”. Atau dalam artian lain seni rupa sebagai upaya penetrasi atau perluasan pasar.
Saya kemudian menuju blok besar yang terletak di tengah blok, UOB Art Space. Hal menarik yang menjadi perhatian saya adalah ruang khusus yang dipersembahkan untuk anak-anak. Sekilas melihat ruang tersebut, saya langsung teringat dengan keponakan saya yang berusia lima tahun. Ibunya yang juga adik saya kerap mengunggah kegiatan anaknya bermain dan menggambar di dalam kelas. Adanya ruang ini seperti menambah nilai lebih, karena mengajak peran dari anak-anak untuk memunculkan sisi kreatif mereka di dalam kanvas. Sekaligus memaparkan ekosistem seni pada usia dini. Kelebihan lain, UOB juga memamerkan karya Farhan Siki berjudul “Plant a Tree, Plant a Life” yang memenangi UOB Indonesia Painting of the Year 2022 itu.

Di samping karya yang disukai oleh anak-anak kecil itu, ada 25 karya lain koleksi UOB Painting of The Year dari seniman pemenang di Asia Tenggara di area seluas 148,5 meter. Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah karya Duong Ngoc Tuan. Saya merenung, saya suka karya seni tertentu bukan karena orang lain bilang itu bagus, atau karena pelukisnya yang kabotan nama, tapi karena karya itu bagi saya akrab, dekat, dan menggambarkan bagian-bagian hidup saya yang terpendam. Seperti lukisan Duong Ngoc Tuan ini, seperti menggali ingatan lama di sebuah tempat yang saya lupakan, tapi kesannya masih hidup.

Dari booth UOB, saya pindah ke booth milik Vice Versa yang letaknya sangat strategis berada di kawasan stage utama untuk melakukan diskusi. Saya memperhatikan deretan foto Vice Verca yang memajang karya-karya dari fotografer Indra Leonardi. Dia terinspirasi dari relasi persahabatan dan relasi kreatif sang seniman. Potret itu diambilnya selama bertahun-tahun.
Berjalan menyamping, saya disambut oleh mbak-mbak glowing berpakaian rapi bak pramugari di booth milik Treasury. Karya instalasi Eldwin Pradipta berjudul “This Artwork in the Room with Us Right Now?” langsung memanjakan mata saya dengan warna-warnanya yang meminta untuk diinterpretasi. Salah satu Mbak di sana menunjukkan saya papan besar yang menjelaskan sejarah Treasury sebagai institusi perdagangan emas fisik, kongsi emas dan finansial. “Ini bisa dipencet Kak, nanti akan keluar animasinya,” kata Mbak yang menemani saya. Saya pencet dan memang benar. Saya lumayan takjub. Ketika saya hendak pergi, Mbak-mbak itu pun memberi saya sampel parfum cabang produk Treasury yang sangat wangi.
Tak jauh dari Treasury, hadir pemenang lomba SUPERMUSIC-SUPERSTAR yang memamerkan instalasi yang membahas proses kreatif seniman berjudul “Reconstruction The Deconstruction”. Saya sebenarnya tak pernah meragukan bagaimana perusahaan rokok bisa melahirkan seniman yang bisa membuat karya-karya kreatif yang menarik untuk dikulik. Adapun iForte (perusahaan komunikasi data) menciptakan potensi teknologi lewat NOC/Turne dari Jeffi Manzani. Ketika saya memasuki ruang iForte, pertunjukkan berbasis 2D layar kaca yang berisi gambar gelombang transversal yang berbeda-beda ketika salah satu tombolnya ditekan. Anak-anak yang melihatnya tampak bahagia.

Di lain galeri, saya mendengar bahasa Jerman disuarakan, ternyata tak hanya pertukaran harga, tapi juga pertukaran bahasa. Lalu secara cepat, saya menyapu karya-karya line up lainnya. Ada TACO (brand dalam bidang interior) yang berkolaborasi bersama Park Jihyun menghadirkan Special Edition of Thomson Series, Thomson 6.1944 S 106.8229 E, yang memberi narasi terkait barang-barang habis pakai yang dikombinasikan dengan produk-produk TACO. Dilanjutkan Blue Label dengan karya “IN/TOUNGE/IBLE” oleh Rebellionik. Juga ada MINI yang berkolaborasi bersama Syaiful Garibaldi, mereka memamerkan “The Mini Musa”, mobil seni yang mengangkat harmoni alam, mimikri, kamuflase, serta menggunakan jaggut musa (Tillandsia usneoides). Berikutnya, AJX menghadirkan “ASEAN-Korea Partnership Project for Innovative Culture (PIC)”, mereka memamerkan karya-karya dari seniman ASEAN-Korea, kolaborasi dengan seniman-seniman Indonesia seperti Indra Leonardi. Hari pertama saya pun usai, tidak dengan penasaran saya.
Medan Magnet Cuan Seni Rupa
Rintik hujan cukup lebat sore itu saya terabas ketika datang di hari kedua Art Jakarta 2023, jadwal yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Saya datang dengan pikiran yang lebih baru dibandingkan hari pertama. Meja pembelian karcis menyambut saya di depan pintu masuk, para panitianya yang memakai dress code warna hitam menyapa dan memandu pengunjung. Tiket masuk tahun ini sebesar Rp150.000, sama seperti tahun lalu. Namun ketika membandingkan data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang sebesar 2,56% (y-o-y), harga tiket itu tidaklah terhitung murah. Tentunya, hanya orang-orang niat dan bukan dari kelas menengah ke bawahlah yang rela dan berkepentingan membeli tiket itu.
Ketika saya masuk, dugaan saya benar, rata-rata tak ada yang terlihat kismin. Mereka berpakaian rapi, elegan, wangi, dan beberapa gaya busananya terlihat nyeleneh sesuai kelasnya, norak bukan, tapi terlihat luwes dan pantas. Pameran ini terang dipenuhi orang-orang berwajah ‘glowing’ yang seakan memancarkan masa depan cerah. Saya langsung teringat sekilas dengan wejangan Mbah Pierre Bourdieu, bahwa setiap kelas punya ekspresi seninya sendiri-sendiri, kelas atas cenderung menyukai seni-seni yang tidak bisa dirasionalisasi oleh logika jelata. Sedangkan golongan kelas bawah, mereka cenderung tak memikirkan seni, kalaupun ada, ekspresinya lebih bersifat fungsional.
Ketika di hari pertama menghabiskan perjalanan di Blok A, saya melanjutkan berjalan di Blok B. Saya juga menyadari ternyata beberapa galeri di Blok A telah mengganti beberapa koleksi karya yang dipajangnya. “Kemarin lukisan ini nggak ada deh, kok sekarang ada,” bunyi otak saya di area yang memiliki luas sekitar 10.000 persegi itu.
Hukum kapitalisme di mana-mana masih sama, “karya mana yang lebih menguntungkan?” Lalu terjadi eliminasi karya-karya yang dianggap tidak menguntungkan. Terutama terjadi pada para seniman yang belum mapan, mereka tentu kesulitan menyesuaikan produksinya dengan permintaan pasar. Sebagian tertatih-tatih menyesuaikan diri, bukan menciptakan karya yang dia sukai, tapi apa yang penonton dan galeri sukai.
Tak hanya jumlah karya seni, jumlah pengunjungnya pun selalu ramai meski dengan tiket yang tak bisa dikatakan murah. Pada tahun 2019, ada 1.300 karya seni rupa yang ditampilkan dengan jumlah pengunjung 39.066 orang. Kemudian Art Jakarta Virtual 2020-2021, selama empat bulan ada 38 galeri yang tampil dengan 1.600 karya seni dan jumlah pengunjung 68.158 orang. Lalu pada tahun 2022, Art Jakarta dikunjungi oleh lebih dari 32.000 orang dengan pameran dari 1.600 karya lebih dari 500 seniman di 10 negara di Asia. Bahkan menurut catatan pula, pada pagelaran Art Jakarta 2017, pagelaran ini mampu menarik pengunjung hingga 47.000 orang dengan jumlah karya seni yang terjual sebanyak 80%!
Sementara kini Art Jakarta 2023, jumlah pengunjung yang hadir sebanyak 35.578 orang. Katakanlah jika sebanyak 578 adalah tamu undangan yang tak perlu membayar, dan 35.000 orang lainnya masyarakat umum, yang ketika jumlah ini dikali Rp150.000 bisa keluar angka Rp5,25 miliar! Tentu ini hanya permisalan saja.
Sebelumnya, penyelenggara juga menggelar Art Jakarta Gardens, juga memamerkan berbagai karya seni Non Fungible Token (NFT) yang menghadirkan pengunjung 10.885 orang. Tentu ini jumlah yang fantastis dan super-kapitalis untuk ajang pameran pasar seni. Dengan aliran ekonomi yang begitu besar, tak mengherankan jika ratusan seniman ‘termehek-mehek’ ingin mengikuti Art Jakarta demi (berharap) naik gengsi dan tambah sirkel elite kolektor, dan utamanya karyanya laku. Bahkan rela kalau karya harus ‘dilempit-lempit’ sedemikian rupa, lalu dieliminasi untuk dijual.

Selain tiket, pemasukan Art Jakarta lainnya adalah lapak para peserta pameran, dimana menurut kabar yang saya dengar, untuk ukuran lapak-lapak kecil dalam tajuk Scene, tepatnya di Blok S, yang bahkan yang lebih kecil dari ukuran kos saya -dari keterangan kolega yang saya dengar-, dihargai setiap harinya antara Rp10-20 juta, ada juga orang yang menyebut per meter Rp 6 juta. Sementara, lapak yang berukuran besar, menurut salah seorang panjaga booth yang tidak ingin disebut namanya, bisa mencapai angka antara Rp100-300 juta. Namun memperhatikan lay out dan denah galeri dari buku panduan pameran yang saya pegang, tentu kita bisa menganalisis galeri-galeri mana yang membayar dengan harga tinggi. Estimasi pundi-pundi rupiahnya mudah kita kalikan.
Aliran ekonomi kapital lainnya juga menguntungkan bagi lapak food court, penjualan merchandise seperti buku, hingga para narasumber yang diundang dalam AJ Talk. Tentu pengaruh kapital yang besar ini bukan hanya penting bagi pasar seni di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asia Tenggara dan Asia. Tak heran, pihak Kemenparekraf menyebut pagelaran ini sebagai ekonomi kreatif yang memberi devisa pada negara. Sementara Kemendikbud yang diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid mengungkapkan, “pekan seni ini akan menjadi jembatan bagi dialog budaya yang lebih inklusif dan inovatif, memperkaya warisan budaya kita sambil memperkuat ekosistem seni rupa di Indonesia.”
Ketika Art Jakarta berdiri pertama kali pada tahun 2009 dengan nama Bazaar Art Jakarta (BAJ), yang dibentuk dari gagasan MRA Media; salah satu fokus awalnya yaitu menjadi arena bagi pekan seni rupa yang berfokus pada lingkup Asia Tenggara. Nama BAJ masih dipakai hingga rentang waktu 2009-2016, hingga pada tahun 2017 berganti nama menjadi Art Jakarta. Dan hingga saat ini, Art Jakarta telah membuka kesempatan, perubahan, serta adaptasi menjadi lebih meluas hingga Swiss dan Rusia. Sejak awal, Art Jakarta memang dianggap sebagai hajatan seni internasional yang ada di Indonesia. Pandemi Covid-19 yang terjadi pun tak menyurutkan para pentolannya untuk terus berkegiatan, terbukti, tahun 2020-2021, Art Jakarta Virtual dilaksanakan secara virtual.
Sebagai wadah seniman untuk mengekspresikan diri, puluhan galeri nasional dan internasional dihadirkan. Semua ekosistem seni berkumpul, dari para seniman selaku aktor, juga kolektor, kurator, investor, edukator, dan apresiator. Art Jakarta pun memiliki misi-misinya sebagai arena edukasi, pengembangan komunitas seni, dan platform bagi seniman muda yang potensial. Semua karya yang ditampilkan dinikmati oleh orang-orang dari banyak latar belakang dan karakteristik. Umumnya bagi kolektor di kelas sosial tinggi, karya seni dijadikan sebagai barang investasi sebagaimana perhiasan, emas, atau mobil mewah. Fakta tersebut bukan rahasia karena seiring berjalannya waktu, karya seni mempunyai nilai ekonomi yang potensi menanjak.
Efek lain, Art Jakarta tak hanya soal nilai ekonomi, karya seni juga mengandung sisi pendidikan yang mengasah kreativitas. Semisal berkaca pada narasi seniman Bandung Syagini Ratna Wulan yang ada di instalasi Bibit “Stop. Breath. & Reflect“, pengunjung diberikan berbagai quotes motivasi terkait hidup. Melalui karya tersebut, Bibit hendak memberikan edukasi keuangan atau literasi finansial lewat instalasi. Bibit mengajak pengunjung untuk memikirkan ulang tujuan keuangan yang mereka kehendaki, harapannya pengunjung bisa membuat keputusan yang tepat terkait tujuan tersebut.
…dan Parasitismenya
Semua berubah ketika saya mengalihkan fokus saya ke medan yang lain, yakni dari medan magnet seni rupa menjadi medan magnet art dealer (pedagang seni). Deretan karya-karya kolaborasi seniman dengan berbagai “perusahaan besar” tersebut menunjukkan bagaimana kapitalisme bekerja di lingkup dunia seni. Tak hanya dalam praktik kerja sama, kuasa modal juga ditunjukkan dari luasan blok galeri, strategi pemasangan karya, hingga penyediaan booth makanan. Kita bisa menghitung berapa keuntungan yang diperoleh dari perhelatan ini.
Art Jakarta bisa jadi merupakan suatu taman bermain bagi golongan orang berduit, tempat bagi galeri mempromosikan komersialisasi budaya, dan lokus eksperimen jual-beli produk budaya. Namun melihat sejarahnya, usaha di masa lalu untuk melarang komersialisasi dalam suatu pameran seni yang ditemukan hanya kegagalan belaka, termasuk yang terjadi pada event-event lain seperti biennale di berbagai negara.
Di sisi lain, Art Jakarta menjadi juga berperan dalam hal mempercepat penjualan beserta menaikkan harga, meningkatkan pamor seniman, juga menjadi sarana bagi seniman mendapatkan dealer dalam levelnya yang tinggi di hierarki pasar seni yang tak pernah tidur.

Hal itu dijelaskan dengan apik oleh St. Sunardi terkait bagaimana pertukaran nilai dalam pasar seni terjadi. Dia mengatakan, nilai karya seni ditentukan oleh nilai ekonomi politik tanda, yang terdiri dari nilai tukar ekonomis, nilai tukar tanda, dan nilai tukar simbolik.
Selain itu, pasar seni paling ditentukan oleh art dealer dan para kolektor, mereka bak Tuhan baru yang bisa membuat seniman hidup atau mati di pasar seni. Seniman (dan kritikus seni) dialieniasi karena tak bisa mempertahankan kekuasaan mereka di pasar. Kritikus hanya dianggap sebagai filsuf yang tak ada pengaruhnya apa-apa, bahkan dengan lugas Romo Nardi menulis, “tidak ada gunanya”.
Fungsi utama kolektor adalah koleksi, bukan dekorasi. Seniman bahkan tidak mengetahui bagaimana bisa karyanya bisa laku dengan nilai yang tinggi atau dinilai tinggi. Saya mengamati apa yang diteorikan Romo Nardi di lapangan. Saat bertandang ke blok A9 milik LSD Osaka / Tokyo / Kobe, dua orang berwajah oriental dengan obrolan berbahasa Jepang langsung menusuk telinga. Saya pun memperhatikan koleksi yang dipajang di galeri tersebut. Semisal, karya dari Kaoru Shibuta berjudul “Goldberg Variations” dengan harga 40 juta, judul lainnya pada seniman yang sama “Jazz Piano” dengan harga 65 juta.

Menyusuri galeri lain yang lebih transparan memberikan label harga, saya tiba di booth A25 milik Neo Gallery. Galeri ini memamerkan berbagai karya-karya klasik milik seniman-seniman klasik pula. Semisal karya Sunaryo berjudul “Persiapan Menari” (2016) yang dibanderol harga 785 juta. Berikutnya ada karya dari Lee Man Fong berjudul “Peace Doves” dengan label harga 900 juta. Lalu, price tag tertinggi yang saya lihat di galeri itu ada karya milik Affandi berjudul “Kelapa Gading” dengan harga 1,2 miliar.
Pikiran saya melayang kembali. Sebab Coldplay beberapa waktu yang lalu tengah konser di Indonesia dan membuat pantun dengan isi pinjam seratus, kini saya jadi kepengen bilang ke sang vokalis Chris Martin, “Pinjam 1.2 m buat beli karya Affandi!” Haha, tulis saya di stories Instagram sambil melengkapinya dengan emoticon tertawa. Tentu uang segitu remeh saja bagi seorang Chris Martin.

Saya beralih pada galeri yang kembali menampung karya-karya dari para seniman yang keberatan nama dari deretan bakat-bakat luar biasa. Harga-harga serupa saya kira juga berlaku bagi galeri-galeri yang memajang karya para maestro. Misal di blok C9 milik Art:1 yang mengkoleksi karya Sudjojono, Ahmad Sadali, Han Snel, dan Antonio Blanco.

Atau yang berupa instalasi, saya terpikat dengan kemegahan patung-patung dengan judul besar Ren Zhe di blok D11 milik Linda Gallery. Saya pindah di Landa Gallery dengan berbagai instalasi patung Ren Zhe, saya memperhatikan sebuah patung dinasti han. Satu patung instalasi ini saja semisal, saya bayangkan bisa membiayai mimpi saya untuk studi magister setahun di Inggris, di kampus level B, ditambah dengan living cost-nya!

Yang lebih pop art lagi, di hari ketiga saya berkunjung di blok E1 milik Museum of Toys Jakarta. Instalasi monyet raksasa berwajah gemas langsung menyergap saya. Banyak sekali anak-anak yang tertarik dengan instalasi itu saya perhatikan. Setelah melihat karya itu dari dekat, instalasi berjudul “JP Money Bear Edition 1” dari King Saladeen itu dibanderol dengan harga 280 juta. Harga dengan rentang tak jauh berbeda juga dibanderol dalam karya berjudul “Once Upon a Time” karya Arkiv Vilmansa dengan nilai 310 juta rupiah.

Lalu pada momen yang lain, karena mungkin lucu-lucunya seorang anak berbicara pada ayahnya, “Ayah-ayah lukisan ini yah…” Di sisi lain, tepatnya di Blok E10 milik Vinyl on Vinyl, saya melihat dua orang anak bermata sipit, berkulit putih, masing-masing menggotong dua kanvas lukisan yang tertutup. Ayah dan Ibu dua anak itu saling berdiskusi dengan obrolan yang saya kira-kira sedang menimbangkan karya-karya lain di galeri itu, yang sebaiknya mereka beli. Entah untuk anaknya yang lain di rumah, atau untuk pajangan estetik di ruang tamu.

Kemudian saya merenungi ulang hukum pasar, pasti di waktu pembukaan, para art dealer sudah mengincar beberapa karya-karya spesifik yang dipajang di Art Jakarta. Jika di Venice Biennale ada kredo dari para art dealer, “Lihat di Venice, beli di Basel.” Maka di sini, “Lihat di Art bla-bla-bla, beli di Art Jakarta.” Tak heran saya mendengar kabar dari kolega, bahwa di Booth Art Agenda S.E.A x Art1, seorang kolektor yang tak masygul menjinjing koper uangnya, sengaja membeli salah satu karya Sudjojono dengan harga Rp 2,8 miliar dan karya Affandi berjudul “Boat at the Kusamba Beach” (1960) seharga Rp 1,8 miliar. Sayangnya saya belum berhasil mengkonfirmasi ulang, sebab toh kabar sukses penjualan karya fantastis, terkadang sayup-sayup bak pamali, namun terus hidup dalam tradisi tutur dan mimpi seniman. Saya pun, mungkin seperti anda, masih tetap mengernyitkan dahi, harga ini sebenarnya dengan parameter apa?
Harga dari Seni(man)
Pada hari ketiga, pertanyaan terkait bagaimana seni rupa dihargai mendorong saya menanyakan pertanyaan ini pada pelaku seninya secara langsung. Dari omongan-omongan informal saya bersama salah satu seniman Cecil Mariani yang karyanya ikut dipajang di Art Jakarta. Menurutnya, pasar bebas industri galeri merupakan kontes kecantikan untuk kolektor. Di mana pelakunya adalah seniman, galerist, collectors; kadang juga hanya galerist dan collectors. Permainan ini sangat banyak, “It is about hunger and hunger games. Istilah ‘hunger’ cukup pas, baik hunger fisik, hunger aktualisasi, dan hunger in terms of greed,” ungkap Cecil.
Dia bercerita pula, di Art Jakarta ini karena banyak ‘dagangan seni rupa’ yang laku, kemudian banyak karya-karya dirotasi dan diganti. Dari keterangannya, pembelinya kebanyakan berasal dari kolektor, galeris, peer-groupnya pula adalah orang-orang yang ada di dunia ini. “Mereka memang punya akses ke orang-orang yang bisa membeli karya,” ungkapnya.
Dari pengamatannya tentang supply-demand, menurutnya hal itu tidak dibatasi, tergantung pada galeri dan kondisi pasar yang berubah-ubah. Pola yang dia baca, ketika seniman sudah memiliki nama, maka harga bisa dimainkan. Namun ketika berhadapan dengan karya-karya baru masuk itu berbeda. “Toxic, misal mereka (galeri) bilang, karya grafis itu orang Indonesia gak terlalu ini, gak terlalu appreciate, jadi gak bisa marketing-nya begitu,” ujar Cecil setengah curhat.
Dirinya mengaku di penjualan karyanya sendiri, dia complain, kenapa harganya sangat berbeda dengan yang lain, “Gue gak tahu ada guntingan apa, tapi kok harganya jauh banget. Harga produk itu juga. Tadi pertanyaanmu bahkan ditanyakan oleh pelaku-pelaku juga. Itu itungannya bagaimana sih?” tanya Cecil.
Dia lalu melanjutkan, “Biasanya sih kayak itu ya, kayak daya beli, kalau aku ngebacanya sepintas itu, jadi galeri bilang, kalau misalnya harganya di bawah harga pasar 50 juta, itu cepet, kenceng. Terus harga di bawah 10 juta itu lebih kenceng lagi. Sekarang kan banyak kolektor-kolektor muda ya, milenial, misalnya dia pengusaha atau punya warisan, mereka investasinya kan ke banyak hal, termasuk barang seni. Jadi itu kayak hobi-hobi sampingan, terus kalau harganya 5 jutaan, mereka gak mikir belinya.”
Saya bertanya lagi, soal pemilihan karya, apakah karya yang dibeli merupakan preferensi pribadi atau karena pasar? Cecil belum bisa menjawab, namun yang dia perhatikan, saat ini banyak para kolektor yang membeli karya seni rupa yang bercorak kartun. Mengobrol dengan berbagai teman juga yang terjual banyak kartun. “Aku gak paham sebetulnya, kalau aku punya duit banyak, aku gak mikir beli kartun itu. Mungkin generasi-generasi sekarang beda,” analisisnya.

Misal ketika saya mengutarakan salah satu lukisan Affandi yang seharga 1,2 miliar. Cecil bercerita lukisan itu mahal karena bernilai historis. “Senimannya sudah gak ada, otomatis gak bisa produksi baru kan. Jadi kalau yang senimannya sudah meninggal, dan dia masuk sejarah seni rupa modern, pasti tinggi harganya.”
Pertanyaan terkait harga juga saya tanyakan saat acara diskusi AJ Talk pada hari terakhir pagelaran Art Jakarta, tepatnya dalam diskusi bertema “Manajemen Seni” dengan pembicara: Megan Arlin, Eldwin Pradipta, Rony “Onik” Rahardian, dan dipandu oleh Teddy Suteja.
Megan Arlin menjelaskan, galeri memiliki tanggung jawab untuk menjustifikasi harga dari karya dari seniman. Untuk harga semisal $10.000, karena karya senimannya telah dikoleksi oleh beberapa museum, di kantor perusahaan besar lain seperti Facebook juga ada, itu akan menambah nilai pula. Hal itu juga yang menjadi caranya untuk menjustify publik harganya seperti itu. Arlin melanjutkan, tugasnya sebagai pengelola galeri adalah bagaimana membuat suatu seni menarik. Galeri bekerja dengan seniman bagaimana bekerja setelah ini. Bagaimana buat lebih baik dan lebih besar.
“Tugas galeri gak cuman jual karya seniman ya, tapi membangun karya seniman,” kata Arlin. Sementara seniman Onik menjawab, dalam menentukan harga dia memiliki indikatornya tersendiri. Ketika melakukan satu project tertentu, dia akan melakukan measurement, misalnya waktunya sedikit, bahannya sedikit, dan orangnya sedikit, risikonya rendah, lalu akan ada harga. Key Performance Indicator (KPI) ini yang menjadi patokannya dalam memberikan harga ke brand, commission, kolektor yang memesan. Mereka akan bertanya, kenapa harganya segini. Dia jelaskan, project sebelumnya kenapa segini, ini akan jadi patokan project setelahnya.
“Apa yang kita lakukan harus terukur. Misalkan nih, kali ini saya bikin karya seberapa besar, saya sudah tahu nih, seberapa besar ini akan memakan waktu berapa lama? Kompleksitasnya seberapa kompleks? Butuh berapa orang? Butuh berapa biaya? Risikonya seberapa besar? Satu project akan saya measurement menjadi KPI, parameter yang akan menjadi pacuan berikutnya,” jelasnya.
Onik menambahkan alasan mengapa dia harus bertahan pada strategi yang dia susun, bagaimana ke depannya jika sudah tak tersisa lagi project? Bagaimana mengatur strategi agar dirinya bisa survive dengan apa yang dirinya punya dengan cara meneguhkan brand produk karyanya. Ketika harus berkarya lagi, jika karya mandiri akan kehilangan nafas, kemudian dia berpikir mengapa tidak membuat pameran yang sekalian besar, lalu ini menjadi stirring thunder yang mempunyai spektrum besar. “Strategi menjadi penting ketika kita ingin sustainble ke depannya.”

Kemudian, Eldwin sebagai pekerja multimedia menjawab, seniman bisa berbicara sangat basic KPI-nya berapa, skalanya sebesar apa, berapa lama project-nya, pekerjanya berapa, hal itu bisa diturunkan sebagai standar akan mengambil margin jumlah margin berapa sebagai professional fee seniman. Namun, dia mengungkapkan, untuk di pasar seni rupa kontemporer hal tersebut menjadi complicated, karena anggapan bahwa seniman membuat suatu karya dan itu selesai, tak seperti itu.
“Seniman bukan jadi nama orang lagi saya pikir, tapi jadi satu brand, jadi satu PT, PT siapa begitu. Satu perusahaan yang terus dibangun branding-nya, terus kemudian siapa sih chord yang memakai produk dan KPI ini, dan itu akhirnya bisa dibandingkan sebagai produk,” jelasnya.
Eldwin membandingkan dua produk berbeda, semisal kenapa Apple dan Xiomy sama-sama HP, kenapa yang satu lebih mahal. Ini menjadi salah satu ukuran, meskipun ada spec-spec bisa dijelaskan. Juga produk pembanding lain seperti tas, LV dan tas lain yang sama-sama tas tapi harganya bisa jauh sekali.
“Itu bisa dimetaforakan dengan lukisan, ini kok jauh banget gitu harganya, mungkin gambarnya sama gitu, tapi kok ini lebih mahal? Tapi ya akhirnya itu siapa, itu kan branding-nya, udah berapa lama bertahan, siapa saja yang pakai,” lanjurnya. Besaran yang diberikan kepada kolektor ada step-step dan aturannya, ada trajectory yang bisa dikalkulasi. “Gak make sense, tapi kira-kira seperti itu,” Eldwin menambahkan.
Terkait supply-demand, Eldwin bercerita, scare city berpengaruh di pasar seni rupa. Ada strategi-strategi untuk membatasi lukisan seniman tertentu hanya diperbolehkan menghasilkan jumlah tertentu dalam satu tahun. “Karena banyak yang nyari, jadi harganya makin tinggi. Belum lagi permasalahan soal revisi, soal seni grafis, seni cetak manual yang bisa dicetak berapa kali pun sebenarnya, tapi itu di-keep isinya hanya ada 10, dan yang benar cetakannya dihancurkan, dan gak keluar lagi cuma 10 itu. Dan itu lucunya diterapkan di media besar video digital, absurdnya dicopy berapa kali pun bisa. Tapi ini cuma ada tiga di dunia, ada sertifikatnya,” terangnya sambil tertawa.
Sebagaimana dikatakan para narasumber, seniman dan karyanya menjadi brand, atau barang dagangan. Di situ saya memperhatikan seniman mengalami alienasi. Alienasi ini seaneh fakta bagaimana bisa lukisan Leonardo da Vinci berjudul “Salvador Mundi” dikoleksi oleh Bader bin Abdullah bin Mohammed untuk dipajang di Museum Louvre di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Negara yang bahkan mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai Yesus Kristus Sang Juru Selamat.
Epilog: Everything for Sale is Contemporary
Setelah tiga hari berturut-turut saya mendatangi dan mengobservasi Art Jakarta 2023, ajang seni rupa ke-13 kalinya itu, ada beberapa refleksi yang saya hendak saya utarakan.
Pertama, “modal seniman” menciptakan harga pasar. Modal di sini bukan hanya modal material, tetapi juga “modal simbolis”. Mbah Pierre Bourdieu telah menjelaskan, modal simbolislah yang menggerakkan dunia seni, bukan modal ekonomi atau finansial. Sebab kepemilikan modal simbolis memiliki kekuasaan untuk “consecration” atau mentahbiskan suatu karya seni tertentu. Ini dikuatkan oleh para penghuni dunia seni lainnya seperti kurator, kritikus, dan broker seni. Di satu sisi golongan ini seolah merendahkan komersialisasi seni rupa, tetapi justru modal simbolis yang telah mereka ciptakan bisa berubah menjadi modal ekonomi.
Selain itu, saya sepakat dengan apa yang ditulis oleh Olav Velthuis dalam The Venice Effect jika di dalam pasar seni kontemporer, nilai ekonomi tidak sebatas bisa berdiri semata-mata hanya dengan mengembalikannya pada nilai artistik. Nilai ekonomi ini juga bergantung pada reputasi seniman, jumlah pertunjukkan, hingga akuisisi karya oleh kolektor/institusi berpengaruh. Semakin kuat suatu karya diperbincangkan (tanpa peduli dengan artistiknya seperti instalasi “Fountain” dari Marcel Duchamp), semakin kuat tarik ulur harga di pasaran dan lelang, maka akan semakin tinggi pula harganya.
Kedua, Art Jakarta bisa menjadi permulaan bagi karier para seniman muda. Peran dari pasar seni dalam menjaring talenta-talenta baru di bidang seni rupa yang belum memiliki nama. Partisipasi para seniman muda di Art Jakarta punya potensi mengundang para kolektor dan kurator memberi perhatian pada karya-karya mereka. Lalu bagi para seniman muda, partisipasi mereka di Art Jakarta bisa dibubuhkan di dalam baris CV mereka. Atau yang tak kalah utama, sebagai arena para seniman bisa setor muka, hingga cari muka ke kolektor.
Pasar seni di kalangan seniman yang belum mapan ini berkelindan dengan para seniman yang menghasilkan produk karya yang relatif ‘sulit dijual’, seperti karya seni instalasi dan video alih-alih lukisan atau produk fotografi yang mudah untuk dipajang dan difleksingkan. Tentu produk para seniman yang belum mapan ini tak bisa ditangkap radarnya oleh pasar yang cenderung tidak sensitif terhadap bakat-bakat baru seperti mereka. Hal ini didukung oleh fetis masyarakat yang memiliki cara pandang sama terhadap pasar, “karya seniman terkenallah yang seharusnya dikoleksi dan diapresiasi.”
Galeri sekaligus juga melakukan quality control terhadap harga agar tidak jatuh ke pasaran. Lebih-lebih, galeri yang orientasi kapitalnya lebih tinggi dibandingkan seniman, lebih selektif terhadap apa yang ditampilkannya. Galeri yang sangat pandai bertutur dengan bahasa-bahasa leksikon seni rupa pun menembakkan rentetan prestasi si seniman seperti halnya peluru di arena perang.

Ketiga, kapitalisme di dalam seni rupa sengaja memunculkan kebutuhan psikologi artifisial, yang hanya bisa dipenuhi oleh konsumen dengan cara membeli karya. Meski dalam paradoks lainnya, seniman selalu bisa menghasilkan hal yang otentik dan orisinal, atau dahulu bahkan disebut karya yang “auratic”. Namun kini, di masa pasca-auratik, peran dealer dan galeri di sini menjadi otoritatif dalam mempertemukan seniman dan para kolektor. Apalagi, ekspansi nilai adalah kebutuhan utama dari seorang kapitalis, sehingga mereka selalu mempunyai hasrat untuk memperluas pasar sehingga ada di mana-mana dan terhubung dengan orang di mana-mana. Karya “seni gorengan” pun oleh patronage dianggap sebagai cara mereka untuk menggelembungkan harga dari penawaran rendah semisal 5 juta melejit hingga 500 juta. Di level pasar, kapitalislah yang menentukan nasib seniman sebagai pihak pekerja/buruh paling dirugikan.
Keempat, ‘potensi Art Jakarta mengarahkan’ seni rupa dibuat bukan untuk membuat nilai estetika yang tinggi, tetapi untuk kepentingan laba. Tentu seniman dalam mode mencipta, bagi profesional ia tak akan mempersetankan nilai ekonomi jika tak ingin terpuruk diapresiasi dengan harga tertinggi berupa tepuk tangan. Ia sadar akan hakikat karya seni rupa sebagai barang dagangan, sebagaimana barang dagangan profesi-profesi yang lain. Apalagi ‘modal’ mendukung seniman untuk membuat karya-karya bermutu.
Tentu ajang Art Jakarta ini bukan satu-satunya, masih ada berbagai event (pasar) seni rupa lain dari Artjog, Art Bali, Art_Unltd: XYZ Bandung, arena pagelaran ini diadakan untuk mendukung perkembangan dan ekosistem pasar seni. Selain itu meningkatkan apresiasi kolektor untuk berbagai media baru. Peneliti seni Argus F.S. juga menekankan, pameran seni memiliki peran yang penting, khususnya di dalam membantu seniman membangun jaringan dan mendukung karya mereka. Selain itu, pameran seni juga menjadi pintu menuju pasar seni global yang lebih luas. Sebab pameran seni menjadi arena yang mempertemukan pedagang seni, kolektif pemilik galeri, kurator hingga peneliti seni dengan para seniman, melihat karyanya.
Lalu, apa yang tersisa dari Art Jakarta Effect? Sebagaimana Venice Effect, tentu jawabannya Art Jakarta menjadi arena pertunjukan capaian kualitas artistik, penguatan legitimasi seniman, hingga berperan dalam membentuk cita rasa apresiator dan kolektor.
Apalagi Art Jakarta tiap tahun berkecenderungan mengimpor karya pop, dan ukuran pop adalah yang laku di pasaran. Taruhlah sejak pasar seni terbuka pertama yang berhasil mengubah sistem perdagangan seni ada di Antwerp, Belanda pada abad ke-16; komersialiasi ini pula yang melahirkan banyaknya diversifikasi genre seni rupa, dari ibunya fine art. Akhirnya, di hadapan pasar, tidak ada namanya seni rupa modern atau seni rupa kontemporer. Semuanya tinggal mengutamakan karya yang memiliki nilai finansial tinggi, yang nilainya dipengaruhi oleh keinginan kolektor dalam membeli karya.
Dalam batin saya, imaji makian terdengar samar-samar entah datang dari mana, seni bukan lagi pengejawantahan dari akal budi, tapi dari akal ekonomi: Go to hell with your fine art!. Lalu dibalas art dealers: Go to sell with your contemporary art too!)