Dalam sebuah pameran, (UN)GARDEN, seorang seniman asal Jakarta, Elma Lucyana, mengangkat bunga sebagai simbol dan medium cara ia menuangkan ide, gagasan, dan kreativitas lewat pemaknaannya tentang kehidupan. Karya-karya Elma yang dipamerkan, dibuat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2023 – 2026), memperlihatkan perjalanan transformasi setiap transisi kehidupan yang pernah dialaminya.
Ia yang berprofesi sebagai Floral Decorator memang memiliki keseharian tak jauh dari bunga-bunga. Ditambah dengan bakatnya melukis sejak kecil, membuatnya sangat peka dalam merasa dan mengamati. Ini bukan hanya pengetahuan tentang anatomi bunga yang ia pelajari, tetapi juga caranya menginterpretasi keunikan bunga bertumbuh, bertahan, dan berubah-ubah dalam setiap fase. Elma membahasakannya lewat karya visual yang ditampilkan. Ia mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan tempat bunga dapat tumbuh, dari tempat yang acak dan sembarang sekali pun.
Mari kita observasi. Bunga selalu punya caranya untuk memunculkan diri. Tidak selalu dari tanah yang gembur dan subur, tetapi bisa dari apa saja; mungkin di tanah gersang yang berdebu, di semak belukar yang penuh rerimbunan, bahkan di antara coran semen beton di pinggir jalan. Dari keadaan dan kondisi yang tak ideal sekali pun, nyatanya bunga yang identik dengan “keindahan dan kesempurnaan” bisa juga tumbuh dari luka dan derita.
Dengan berani, Elma mengeksplorasi lewat berbagai aksi pada kanvasnya: meremas, merobek, hingga membakarnya. Tak berhenti hanya di ujung kecil, bara apinya bahkan disengaja meluas untuk menghanguskan beberapa bagian kanvas yang sudah dilukis. Alhasil, ia mampu menciptakan tekstur yang mencerminkan metafora ritme pertumbuhan seseorang yang berbeda-beda. Layaknya setiap orang yang tumbuh dari pengalaman dan latar belakang masing-masing. Setiap warna yang digoreskan oleh kuas Elma mewakili perasaannya tentang ia melewati fase-fase dalam hidupnya.
“Dengan membangun bentuk-bentuk bunga ini, saya melihatnya sebagai proses self-reconstruction yang menghasilkan versi baru Elma. Karena dengan kelopak yang rusak pun, masih ada keindahan yang tersisa,” begitu ucapnya saat menceritakan proses kreatifnya di lokasi pameran (UN)GARDEN, Neha Hub (23/5).

Ia juga sempat mempertanyakan mengapa mayoritas orang seperti “menuntut” bunga untuk selalu terlihat indah, estetik, mekar, dan harum. Padahal bunga tidak harus selalu mekar, tidak harus selalu menyala, dan tidak harus selalu harum setiap waktu. Keindahan tidak selalu datang dengan cara seperti itu.
Dalam setiap bentuk bunga yang dibuatnya, ada bunga yang tampil dengan warna-warna cerah, ada pula warna sayu, bahkan gelap. Meskipun hampir setiap bunga dari tampak jauh terlihat sempurna, jika dilihat dari dekat, mungkin kita menemukan detail bahwa kelopaknya tergores, terbakar, bahkan dahannya patah. Saya pun kemudian mencoba membahasakan pada tiga sub pembahasan pendek, dalam tiga Elma
(UN)GARDEN: Taman (Elma) Penampung Fase Buruk
Dalam setiap bentuk bunga yang dibuatnya, ada bunga yang tampil dengan warna-warna cerah, ada pula warna sayu, bahkan gelap. Meskipun hampir setiap bunga dari tampak jauh terlihat sempurna, jika dilihat dari dekat, mungkin kita menemukan detail bahwa kelopaknya tergores, terbakar, bahkan dahannya patah.
Itulah alasannya pameran ini Elma beri judul sendiri sebagai (UN)GARDEN. Saya pun kemudian membaca beberapa aspek dari Elma, pertama: (UN)GARDEN sebagai pernyataan atas konservatori: yang tidak hanya atas keindahan, tetapi juga kelayuan dan ketercabikan.
Gie Sanjaya, sebagai kurator yang memfasilitasi pilihan judul Elma, mengungkapkan bahwa judul tersebut sebetulnya bukan taman dalam arti harfiah, melainkan ruang konseptual sebagai metafora bahwa bunga-bunga tumbuh yang melampaui konsep “ideal”. Pameran ini diciptakan untuk mengajak pengunjung memaknai kembali arti keindahan, transformasi, dan cara bertahan menjalani hidup.

Di era masyarakat modern, kita tak bisa menampik pandangan sosial yang bertumpu pada “artificial” atau permukaan saja. Seolah dalam menjalani kehidupan, seseorang dituntut untuk selalu bahagia dan terlihat sempurna. Individu pun jadi mengabaikan emosi dan perasaan-perasaan lainnya yang sebetulnya exist dalam jiwa dan kesehariannya. Manusia yang memiliki kompleksitas jiwa tentunya juga wajar jika hatinya mengalami kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan kelemahan.
Jika dikembalikan pada pandangan terhadap bunga, selama ini kebanyakan dari kita menilai bunga identik dengan indah, cerah, mekar, dan segar. Tetapi bagaimana dengan bunga yang sedang layu, sedang gugur, bunga yang kelopaknya tidak terlihat utuh karena sebagian dimakan hama? Seseorang pun jarang yang memperhatikannya, bahkan sungkan menyebutnya sebagai “bunga” lagi. Seolah definisi “hidup” dibatasi hanya pada level keindahan dan kecantikan saja. Padahal, vulnerable juga merupakan kondisi yang sama indahnya jika dilihat dari perspektif yang lebih tinggi.
Annica: tidak ada yang selamanya, “impermanence,” “transience,” or “inconstancy.
Begitu filosofi Buddha mengatakan bahwa dalam kehidupan memang tidak ada kekal. Kita tidak mungkin bisa mengkristalkan perasaan bahagia selamanya. Begitu pula dengan perasaan sedih, kecewa, marah, murka, dan lainnya. Tak akan bisa kita menahan perasaan tersebut hinggap selamanya. Fase kehidupan selalu datang silih berganti. Emosi dan perasaan terkadang naik dan turun. Begitulah naturalnya alam semesta bekerja. Seperti halnya bunga, sebagai bukti objek makhluk hidup yang memperlihatkan dinamisnya kehidupan.
Sebagai spesies utuh, bunga mirip dengan manusia yang tumbuh dan berproses melalui suatu siklus lengkap. Pun, hewan atau binatang lain, misalnya ulat yang menjadi kepompong dan kemudian kupu-kupu, bunga juga melewati berbagai fase: dari kuncup, mekar, dan akhirnya layu. Maka, tak semestinya seseorang hanya menilai kecantikan dan kebahagiaan hanya valid ketika berada di puncak saja. Meskipun sedang “layu”, kita bisa tumbuh melalui luka dan pengalaman, dan sering kali itu yang mendewasakan kita. Momen hidup yang indah tidak selalu ada dalam keadaan ideal, karena peristiwa kehidupan bukan hanya tentang kesempurnaan satu momen saja.
Ada momen yang cukup menggugah pengamatan saya ketika melihat beberapa karya di ruang pamer. Saya sempat terpaku pada bunga yang ada di balik sangkar, di balik jeruji besi, yang berhasil menumbuhkan pertanyaan, “What was the moment that Elma experienced in the past?” Karya-karyanya tak hanya tampak lembut, anggun, dan halus. Melainkan juga tajam, penuh goresan, dan tegas.
Elma (Dilarang) Mencintai Bunga-Bunga?

Ketika mendapati kabar di sosmed tentang diskusi artist talk Elma Lucyana dengan tajuk “(Dilarang) Mencintai Bunga-Bunga”, itulah sebenarnya fase pertama saya mengunjungi pameran (UN)GARDEN, yang sekaligus menjadi hari penutupan. Suatu keajaiban tersendiri, di hari pertama kali saya datang, adalah sekaligus hari terakhir pameran Elma.

Sabtu (23/5), outdoor bagian dalam NEHA HUB sore itu, kursi-kursi dua pembicara dan moderator tersusun membelakangi instalasi bunga karya besar Elma, seolah bunga-bunga di kanvas ikut menjadi pendengar diskusi. Sang seniman, Elma Lucyana, dan kuratornya, Gie Sanjaya, tampak mengapit Adhi Pandoyo yang membantu memoderatori percakapan tentang bagaimana diskusi itu bertajuk meminjam judul cerpen Kuntowijoyo: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

Cerpen Kuntowijoyo sendiri bercerita tentang seorang anak laki-laki yang mencintai bunga, tetapi cintanya ditabrak oleh larangan ayah dan stereotip maskulinitas: laki-laki dianggap tidak pantas terlalu dekat dengan hal-hal yang lembut dan “feminin”. Banyak pembacaan yang melihat cerita ini sebagai kritik terhadap norma gender yang sempit dan moralitas masyarakat yang suka mengatur bagaimana seseorang boleh merasakan sesuatu.
Judul artist talk hari itu mengapropriasi, atau mengambil lalu dimiliki, dengan cara sebagaimana judul utama pameran Elma Lucyana, (Un) Garden. Dengan menambahkan sepasang tanda kurung: (Dilarang) Mencintai Bunga-Bunga. Bagi saya, tanda kurungnya memberi gestur kecil yang menarik. Larangan masih ada, tetapi statusnya digantung. Apakah ini larangan yang harus kita taati, atau justru suara masa lalu yang sedang kita pertanyakan ulang? Dengan mengurungnya, kamu seperti memindahkan “dilarang” dari posisi hukum ke posisi kutipan—sesuatu yang boleh dibahas, dinegosiasikan, bahkan digugat bersama.
Saat sesi tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan dari peserta bergerak di sekitar tema itu:
Mengapa kita cenderung hanya mencintai bunga pada fase terbaiknya? Apakah ada momen ketika kita juga melarang diri sendiri untuk mencintai bagian-bagian hidup yang sedang tidak indah? Bagaimana pengalaman Elma di penjara mengubah cara ia memaknai keindahan, luka, dan pertumbuhan? Percakapan menjadi ruang aman di mana cerita tentang trauma disampaikan melalui bahasa bunga—bahasa yang lembut, tetapi justru karena itu orang mau bertahan mendengar.
Diskusi ini berlangsung seru. Terjawablah bahwa karya-karya tersebut merupakan bagian dari ekspresinya mengingat peristiwa-peristiwa hidup di masa lalu yang tak mudah baginya. Nyatanya, hal itu memang menjadi salah satu interpretasi yang dibenarkannya. Momen depresi dan keadaan tersulit pernah dilaluinya di balik jeruji besi, dan itu sangat tidak mudah baginya.
Namun, Elma dengan segala proses “penyembuhan” yang berhasil dilaluinya, akhirnya berhasil menuangkan emosinya sejujur-jujurnya lewat bunga-bunga indah dan uniknya di (UN)GARDEN ini.
“If I were to tell my life story literally, it might be too heavy. People might feel overwhelmed, afraid, or even turn away. I’ve been through difficult experiences, including being imprisoned twice and moments where I came close to losing my life. These are not easy stories to receive in a direct way. That’s why I chose flowers as my language. Flowers are seen as beautiful and familiar, and through them, I can share something difficult in a way that feels more accessible. It allows people to stay, to listen, and to engage without feeling the need to escape,” terang Elma.
Apa yang diungkapkan Elma sudah begitu jelas. Begitu pun karyanya yang semarak dalam megah bunga dan terang, cemerlang mempesona indahnya. Maupun bunga yang retak, menghitam, layu dan bernuansa kelam.
Di titik ini, saya merasa ada jembatan halus antara cerpen Kuntowijoyo dan pameran Elma. Jika di cerpen, anak laki-laki dilarang mencintai bunga, di (UN)GARDEN seperti ada larangan lain yang dibongkar: larangan untuk melihat bunga saat buruk, larangan untuk mengakui bahwa kita semua membawa luka. Larangan tidak pernah dihapus begitu saja, tetapi dihadirkan kembali dalam tanda kurung, supaya bisa kita tatap bersama.
Death and Rebirth: (Elma) Berkali-kali Menjadi Diri Baru
“(Dalam (Un) Garden, Elma Lucyana memosisikan ulang pemahaman tentang bunga—dari yang tadinya simbol keindahan ideal, menjadi representasi dari proses yang tidak sempurna. Berangkat dari praktiknya sebagai seniman sekaligus dekorator flora, ia melihat bunga sebagai tubuh yang mengalami transformasi; melewati fase-fase layu, pembusukan, dan ketidakseimbangan. Dalam kondisi-kondisi inilah, bunga menjadi metafora yang jujur bagi kehidupan itu sendiri: rapuh, namun tetap gigih bertahan…” Gie Sanjaya
Gie menulis itu dalam catatan kuratorialnya, seperti tertera dalam e-catalog. Sementara bagi saya, harus diakui bahwa memang tidak ada pertumbuhan yang mudah dan nyaman. Untuk mencapai hidup yang merdeka, bebas dan menjadi diri yang paling autentik, dibutuhkan keberanian untuk menempuh ketidaknyamanan. Sebagaimana berkali-kali Elma Lucyana sendiri menyebut bahwa:
Di Industri dekorasi, semua hal dituntut untuk terlihat cantik—bunga harus mekar sempurna, terbuka lebar, dan memanjakan mata. Tapi sebagai pelukis dan perupa, saya tidak melihat bunga hanya saat masa kejayaannya saja. Saya melihat mereka sebagai satu spesies utuh yang hidup melalui siklus yang lengkap. Sama seperti manusia yang mengalami transformasi—seperti ulat yang menjadi kepompong lalu berubah jadi kupu-kupu—bunga juga bergerak melalui berbagai fase: dari kuncup, mekar, hingga akhirnya layu.
Hal ini memicu sebuah pertanyaan: apakah kita hanya dianggap berharga saat berada di puncak? Bagi saya, justru di momen-momen saat kita “layu”—saat kita bertumbuh melampaui luka dan pengalaman hidup—di situlah kita menjadi lebih matang. Kita membangun spiritualitas yang lebih dalam dan rasa percaya diri yang lebih kuat. Itulah yang saya pahami sebagai keindahan yang ideal. Ini bukan tentang kesempurnaan di satu momen saja, melainkan tentang kemampuan untuk bertumbuh dengan ritme kita sendiri, sambil merangkul dan mengekspresikan keunikan diri kita.” Elma Lucyana

Death and rebirth for leading to a renewal of personality in a deeper alignment with our true, authentic self.
Lewat (UN)GARDEN, tak terhitung berapa kali Elma berani mengalami death and rebirth, menghadapi setiap fase tergelap dalam hidupnya, dan terbuka menerima setiap transformasi keindahan sebagai konsekuensi paling natural sebagaimana kehidupan berjalan dan bekerja.

Annica, tidak ada yang selamanya.
Bagi saya, kalimat terakhir ini bukan hanya penutup, tetapi semacam doa: kalau tidak ada yang selamanya, maka luka pun tidak. Bunga akan tetap layu, tetapi suatu saat tanah tempat ia gugur bisa menjadi tempat tumbuh bagi bunga lain. Dan mungkin, setelah keluar dari (UN)GARDEN dan (Dilarang) Mencintai Bunga-Bunga, kita akan sedikit lebih pelan ketika melihat bunga-bunga di pinggir jalan—juga ketika berhadapan dengan fase-fase hidup kita sendiri yang sedang tidak ingin dilihat. Bunga di segala ruang taman kehidupan, bunga yang menjadi teman di segala kondisi kehidupan. Semoga.