Ketika kita memandang langit pada malam hari, apa yang sebenarnya kita lihat? Mungkin, gugusan bintang yang cahayanya berkerlap-kerlip di kejauhan, membentuk semacam kilau atmosfer; efek distorsi yang disebabkan ketidakaturan lapisan udara. Dan apakah bulan itu selalu tampak sama setiap kali kita memandangnya? Bulan itu terkadang tak terlihat sama sekali sebab cahaya matahari tak mengenainya, terkadang nampak setengah; sabit, hingga paripurna. Pada fase ketidaknampakan bulan itu, dikenal sebagai bulan baru. Ketiadaan justru menjadi awal dari keadaan. Dan bintang yang berada pada galaksi kita, yang dapat dilihat menggunakan mata telanjang itu, membawa cahayanya dari beratus tahun yang lalu; seolah kita dapat melihat ‘masa silam’.
Ada keparadoksan, imajinasi, dan abstraksi yang terkalkulasi kuat dalam langit malam itu. Seperti yang saya rasakan ketika melihat karya-karya Hyangro Yoon dalam pameran tunggalnya Drive to the Moon and Galaxy di Gajah Gallery Yogyakarta yang berlangsung sejak 25 Agustus hingga 15 September 2023, pameran ini didukung oleh Fund for Korean Art Abroad (FKAA) sebagai hubungan kolaborasi kreatif Korea Selatan dan Indonesia, bersamaan dengan hari jadi Yogya Art Lab yang kesepuluh tahun. Beruntung, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Hyangro Yoon yang diperantarai oleh Liza Markus, seniman dan manajer dari Gajah Gallery.

Pameran ini memiliki tiga seri: Screenshot, Tagging, dan Drive to the Moon and Galaxy yang menunjukan konsistensi dan eksplorasi Hyangro Yoon dalam berkarya. Membaca dua seri awal pameran ini, kita seolah didekatkan pada term media sosial, yang mungkin terlintas dalam pikiran adalah gagasan dan bentuk karya yang mengambil tangkapan layar juga penandaan akun pada platform media sosial seperti Instagram, Twitter, dan lain-lain. Lalu berlanjut pada seri ketiga Drive to the Moon and Galaxy, yang dipilih menjadi judul pameran tunggal Hyangro Yoon. Sejenak, ketika kita membacanya, barangkali kita berpikir akan merasakan pengalaman futuristik dalam karya Hyangro yang menawarkan kemegahan angkasa raya dengan teknologi-teknologi canggih dalam imajinasi fiksi-ilmiah.
Namun, pameran tunggal Hyangro Yoon yang pertama kali digelar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia ini, sebenarnya menawarkan hal lain. Hyangro melukiskan ketiga seri itu dalam bentuk abstrak dengan menggunakan medium kanvas, permadani, hingga rekaman web video. Ia tidak mengambil sumber penciptaannya pada media sosial, apalagi hal-hal futuristik tentang angkasa raya. Hyangro menciptakan lukisan-lukisan itu dengan mengolah visual digital dalam budaya populer, seperti manga, anime, dan sinema yang tersebar melalui media cetak dan internet pada era 90an hingga 2000an.
Maka, cara kerja artistik Hyangro Yoon, bagi saya, serupa cara kerja ingatan. Ia mengolah objek-objek visual digital dari budaya populer tersebut dengan menempel, memecah, memburamkan, memperbesar, menghapus, menyunting hingga menghubungkan dari satu referensi ke referensi lain. Sehingga tak ada linearitas, yang terjadi adalah abstraksi hasil olahan distorsi visual digital tersebut, memberikan bentuk dan pemaknaan lain dari sumber gambarnya.

Teknologi Abstraksi
Semisal dalam seri Screenshot, Hyangro Yoon ‘menangkap layar’ objek visual digital dari budaya populer, lalu mendekonstruksinya sedemikian rupa, sehingga menyisakan keabstrakan yang kompleks; penuh dengan perhitungan. Tak ada yang mengira bahwa ide material abstraksinya tersebut berasal dari manga dan anime.
Begitu pula dalam seri Tagging yang hadir dalam pameran ini berupa versi mini dari karyanya yang lebih gigantik. Namun, kehadiran seri ini dalam kanvas yang lebih kecil, seturut menciptakan distorsi medium. Sehingga mendapatkan pemaknaan yang lebih intim dan intens. Tak ada yang menyangka juga bahwa titik-titik itu, yang seolah tampak seperti teknik melepas semprotan cat secara asal, ternyata bersumber dari tanda tangan dan teks tertulis seseorang sebagai ‘penanda’ atas sesuatu.

Abstraksi yang muncul dari reduplikasi tekstual tersebut menjadi tawaran lain dalam penciptaan seni lukis abstrak di Indonesia. Hyangro Yoon seolah mengajak kita berdialog: sejauh mana kemungkinan-kemungkinan lukisan abstrak dapat diolah menggunakan teknologi? Dan apakah kita masih dapat mengenali gambar-gambar digital yang populer, bahkan tanda tangan yang sangat identik dengan diri seseorang ketika dimaknai ulang kembali, dilihat dengan cara yang lain?
Saya membayangkan bagaimana Hyangro mewujudkan ‘cara kerja ingatan’ itu dalam teknik penciptaannya. Barangkali akan seperti ini, Hyangro mula-mula memilih visual digital yang akan diolahnya secara mendetail dengan penuh pertimbangan dan perhitungan. Kalkukasinya bisa saja berdasarkan kenangannya akan manga dan anime, atau bisa juga berdasarkan pemilihan warna, bentuk garis hingga ekspresi tokoh. Dari perhitungan ini, Hyangro mengolahnya menggunakan program komputer, proses ulang-alik imajinasi dan kalkulasi begitu intens di sini, sampai ia mendapatkan bentuk abstrak yang diinginkan. Lantas memancarkan hasil abstraksi digital itu menggunakan teknologi Inkjet ke dalam kanvasnya—dengan sensibilitas mata dan kelihaian tangan seorang pelukis—ia menggambar lukisan abstrak. Dapat kita bayangkan pula, bagaimana tangan dan matanya menyimpan ‘memori’ sebagai seniman digital, lantas beralih penuh menjadi pelukis.

Hyangro Yoon seolah mempertanyakan ulang kembali gambar-gambar digital tersebut dengan cara meluruhkan batas ruang, antara yang berada dalam layar perangkat dan kanvas. Lebih lanjut, dengan penggunaan teknologi, Hyangro membuktikan bahwa pendekatan artistik dalam lukisan abstrak tak melulu berdasarkan luapan perasaan dari si seniman, suatu cara yang dalam konteks sejarah seni rupa di Indonesia, seringkali bertumpuan selalu pada perasaan; memperlihatkan ‘jiwa’ dari si seniman. Sehingga, muncul anggapan bahwa seni lukis abstrak di Indonesia bersifat non-representasional, suatu cara si seniman mengolah ekspresi dan impresi dengan mendistorsi kenyataan yang dialaminya; suatu cara yang seringkali dianggap seolah tak terhubung dengan ‘alam’, dan seolah tanpa konsepsi.
Namun, pertumbuhan lukisan abstrak di Indonesia kini seturut mengalami kedinamisan, beberapa seniman mencoba merasakan ‘keterhubungan’ kembali dengan alam, dan merumuskan konsep lukisan abstrak berdasarkan keterhubungannya dengan kenyataan itu. Melihat hal ini, maka tawaran artistik dan pengalaman visual yang dihadirkan Hyangro Yoon menjadi kesegaran tersendiri bagi seni lukis abstrak di Indonesia. Oleh karena itu, ketika ia mengimajinasikan Drive to the Moon and Galaxy, sesungguhnya ia sedang menggabungkan dua konsep dalam seri Screenshot dan Tagging. Melalui seri ini pula, ia mengolah tiga manga-anime yang populer pada era 90an.

Kata ‘Drive’ bersumber dari Initial D, manga dan anime karangan Shuichi Shigeno yang bercerita tentang tokoh protagonis Takumi Fujiwara, anak seorang pedagang tahu yang mengendarai mobil Toyota Sprinter Trueno GT-APEX (AE86). Sebagai seorang kurir tahu, mau tidak mau ia telah mengakrabi medan gunung Akina, jalur lintasnya mengantar tahu ke para pelanggan. Hingga pada suatu malam, Tak (sapaan akrab Takumi) terlibat dalam balap liar dadakan melintasi jalanan gunung Akina dengan Keisuke Takahashi dari Akagi RedSuns. Keisuke dibuat terkejut sebab Tak menyalipnya dengan kencang dan melakukan teknik intertia drift—suatu teknik yang sulit dan berisiko—dengan memanfaatkan momentum sudut mobil untuk meluncur di tikungan jalanan gunung.
Sejak kemenangannya itu, Tak dijuluki sebagai White Ghost of Akina, dan mulai melakukan balap liarnya sendiri, hingga ia diundang untuk bergabung dalam “Project D”, sebagai pembalap yang ahli menuruni bukit. Anime ini menawarkan adegan mengemudi yang intens dan menegangkan, drama top girl dengan para antagonis yang berandal, sekaligus memberikan pengetahuan tentang mekanisme mobil, tentu saja dibumbui dengan kisah romansa yang dramatis.
Untuk kata “Moon” sendiri, Hyangro terinspirasi dari manga dan anime Sailor Moon—ciptaan Naoko Takeuchi—yang juga populer di Indonesia. Kisah lima gadis dengan kekuatan supernya yang bersumber dari elemen-elemen alam dan angkasa raya untuk melawan berbagai musuh jahat dari kegelapan. Kita tentu akan mengingat kata-kata Usagi sebelum menghukum para musuhnya: “Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!”.

Sedangkan kata “Galaxy” diambil Hyangro dari manga dan anime “Galaxy Express 999”, karya Leiji Matsumoto. Anime ini berlatarkan masa depan kecanggihan teknologi dan penjelajahan antariksa, di mana manusia mempunyai kemampuan untuk mentransfer pikiran dan emosi mereka ke dalam tubuh mekanis untuk mencapai keabadian praktis. Dengan segala hal yang bersifat futuristik itu, barangkali kita akan berpikir bahwa anime ini penuh dengan pertualangan yang menyenangkan. Namun, tidak juga demikian, anime ini bermula dari pertualangan seorang anak miskin bernama Tetsuro Hoshino dan ibunya yang menginginkan tubuh sibenertik untuk memberikannya kehidupan abadi dan kebebasan yang tidak dimiliki manusia tanpa mesin.
Cita-cita indah itu pun seolah tampak kandas di awal, saat Tetsuro kehilangan ibunya dalam perjalanan ke Megalopolis untuk mencari pekerjaan agar dapat membayar tiket masuk 999. Pada saat-saat terakhirnya menyerah dan hampir menemui ajal itu, Tetsuro diselamatkan oleh Maetel, perempuan misterius yang memberikannya akses tak terbatas pada kereta galaksi 999. Sepanjang perjalanan menuju Planet Prometheum, pemberhentian terakhir dari 999, mereka mengalami banyak pertualangan di berbagai planet yang membuat Tetsuro berada dalam kebimbangan: berjuang menggapai tubuh sibernetika yang diinginkannya, atau tetap menjadi manusia.

Maka, ketika melihat seri Drive to the Moon and Galaxy, sesungguhnya para pengunjung tengah melihat ketiga manga dan anime tersebut dalam bentuk abstrak yang tak dapat dikenali kembali. Abstraksi yang justru membuka pemaknaan lain atas gambar-gambar digital, membuka pertanyaan penting untuk kita renungkan: seperti apa masa depan seni lukis dalam era digital kini?
Meski begitu, pertanyaan tersebut bukan bermaksud untuk menciptakan kekhawatiran. Melainkan memantik lahirnya kemungkinan-kemungkinan pendekatan artistik yang baru. Yang dapat mengolaborasikan teknologi, pembacaan atas masa lalu, hingga pemetaan akan masa depan. Karena sesungguhnya, melalui lukisan-lukisan abstrak Hyangro, kita seolah dapat merasakan adrenalin, kemagisan, hingga perasaan ambang dalam antariksa raya. Hyangro seolah mencampur-adukkan perasaan kita saat memandang lukisannya, ada rasa melayang sekaligus melaju cepat, ada sesuatu yang membuat kita terpana—seperti tersihir—lantas berada dalam situasi penjelajahan antardimensi yang menakjubkan.

Karya terbarunya “Flag” (2022) berasal dari rekaman data asli web video Korea Meteorological Administration’s (KMA) API yang mengalkulasikan sirkulasi angin dengan kehadiran manusia dalam bentuk binar-binar abstrak. Skenografi ruang dibangun menggunakan efek suara dan pancaran bintik-bintik cahaya abstrak itu. Ketika memperhatikan lebih jelas lagi, kita tak akan menemukan bintik-bintik cahaya itu melewati pintasan yang sama. Sebab ada efek distorsi dari ketidakaturan udara yang merespons kehadiran manusia. Sehingga ketika masuk ke ruangan itu, kita seolah dapat merasakan abstraksi yang bersifat imersif. Hyangro Yoon berhasil menggabungkan teknologi, alam, dan perasaan manusia menjadi karya yang saling berpaut; menciptakan keterhubungan yang selaras.
Melalui karya-karya abstrak Hyangro Yoon, saya merasakan sesuatu yang bersifat puitis; sangat metaforis. Abstraksi yang dibangun seolah melampaui representatif, seperti memandang bulan dan galaksi dalam lukisan-lukisannya, apakah yang kita pandangi itu adalah langit malam? Atau sesuatu yang tersembunyi di baliknya? Di sisi lain, mata kita pun seolah diajak memandang dunia dari kacamata antariksa, betapa kita dan segala kehidupan yang kita punya di bumi ini, tak lain adalah titik biru pucat—meminjam istilah Carl Sagan—yang abstrak. Dan Hyangro, bagi saya berhasil menunjukan sisi metaforis ini melalui karya-karyanya.

Yogyakarta dalam Pandangan Hyangro Yoon
Selain membahas proses kreatifnya sebagai seniman dan pelukis. Saya juga bertanya mengenai impresi Hyangro akan Yogyakarta, mengingat pertama kalinya ia tiba di sini. Hyangro bercerita, sewaktu ia mengunjungi ArtJog, ia merasa takjub dengan karya dari para seniman yang masih berusia muda. Salah satu karya yang disukainya adalah ketika ia melihat lukisan besar “Chasing My Crown” by Zeta Ranniry Abidin. Selain karena lukisannya yang gigantik, Hyangro juga melihat kesempatan besar yang dapat dimiliki oleh para perupa muda dengan ruang yang diberikan ArtJog.
Lebih lanjut, Hyangro merasa sangat terbantu atas informasi latar belakang pendidikan dari para perupa untuk memahami maksud dari karya mereka. Yang juga paling penting baginya adalah ia menemukan banyak karya-karya seniman berbentuk instalasi, patung, dan karya yang dapat direspons dengan seni pertunjukan (performance art) sesuatu yang menarik perhatian Hyangro Yoon.