Search
Close this search box.

The Office Aesop; Manusia Menatap, Merasakan, Memaknai, Menyikapi Seni

Berangkat dari renungan seniman Auditama Nugraha atas dunia ketergesaan, menghadirkan susunan objek hewani hingga bendawi sebagai personifikasi pekerja korporat dan humor satir yang getir.

Pada waktu-waktu tertentu, manusia-manusia di kota ini bergerak lebih cepat dari deru napas mereka sendiri. Mereka berlarian di atas lintasan waktu yang serba-gegas, menelan puluhan pemberitahuan gawai, surel, dan derau digital yang setiap jam menubruk indra tanpa ampun. Perhatian mereka terurai menjadi kepingan-kepingan tajam yang tak pernah sempat diendapkan—atau jika pun mengendap, kemudian mengkristal secara prematur dalam bentuk kelelahan yang kronis. Di kolam-kolam ini, nilai seorang bernyawa diukur dari seberapa giat ia membakar dirinya sendiri: produktif, produktif, produktif. Beristirahat telah lama dikutuk sebagai sifat malas.

Daging, Kabut, dan Kertas

Suatu masa yang telah lampau, orang-orang percaya bahwa manusia adalah puncak dari segala ciptaan—makhluk anggun yang jauh lebih berharga ketimbang sepasang sepatu mahal atau kain sutra terhalus. Mosok? Bukankah manusia itu juga makhluk yang paling ganjil; menobatkan diri sebagai tuan atas realitas, tetapi ketakutan setengah mati setiap kali diajak menatap ke dalam cermin jiwanya sendiri?

Padahal, jika kulit dan daging dibedah hingga ke akar materialnya, tubuh yang bernyawa ini tak ada bedanya dengan benda-benda atau alam di sekelilingnya. Kita dibentuk oleh tanah, air, karbon, dan mineral yang persis sama dengan yang membentuk meja kerja formika yang dingin, papan ketik berlapis plastik, kursi beroda yang berderit, kertas-kertas laporan yang menumpuk, hingga rumput ilalang dan air sungai yang tercemar di luar jendela.

Sekarang, manusia tak lagi membutuhkan algojo yang berdiri membawa cambuk. Algojo dan pesakitan kini bersemayam di dalam satu tubuh yang sama. Manusia mencambuk dirinya sendiri secara sukarela, merayakan kehancuran organ fisiknya sebagai lambang pengabdian, hingga akhirnya tumbang dalam ceruk-ceruk. Mereka mengutuk kelelahan itu, tetapi sekaligus meyakini dengan kepasrahan yang tragis bahwa memang tak pernah ada jalan keluar di luar dinding-dinding penjara yang mereka bangun sendiri.

Pameran The Office Aesop—sebagai bagian dari agenda kuratorial Hybridium di Hybridium Art Gallery and Cafe—membawa ketegangan eksistensial ini. Melalui pameran, Auditama Nugraha bersama kurator Clarissa Tifanny mempersembahkan serangkaian karya yang mengisahkan kehidupan perkantoran melalui sudut pandang lain-lain yang sengaja diselubungkan. Clarissa tidak datang di akhir untuk menuliskan ulasan; sejak awal ia mendampingi Auditama membidani lahirnya gagasan visual, mendiskusikan anatomi karakter, hingga ikut menyelami dirinya sebagai “Ibu Kura-kura”. Mengambil inspirasi dari bentuk fabel klasik Aesop, pameran ini tidak menempatkan manusia sebagai subjek visual utama. Jajaran perpaduan hewan-hewan, alam dan benda-benda nonmanusia yang memersonifikasikan berbagai tipe dan nasib pekerja di dalam ekosistem korporat dipadupadankan dengan segala hal yang muncul dari imajinasi atau berdasarkan dunia aslinya. Sebagaimana fabel Aesop menggunakan tubuh hewan untuk membongkar moralitas manusia, pameran ini memanfaatkan bentang materialitas kantor untuk mempertanyakan kembali keberadaan kita: apakah kita yang mengendalikan sistem dan benda-benda ini, atau kita justru telah terperangkap dan didikte oleh tatanan yang kita ciptakan sendiri?

Kucing dan Gagang Telepon Merah

Bagaimana cara kita mengeja benda-benda bisu yang mengurung kita?

Too Big of A Task (2026) Lukisan karya Auditama Nugraha. (Foto: Dok. Hybridium Art Gallery and Cafe)

Di sebuah ruang berdinding dingin, tergantung sebuah lukisan gagang telepon. Manusia-manusia bersepakat menyebut lukisan itu berwarna merah. Kesepakatan itu lahir hanya karena di balik retina mata kebanyakan manusia terdapat tiga sel kerucut biologis (cones) yang meramu spektrum cahaya menjadi warna yang seragam.

Namun, bayangkan jika seekor kucing secara tak sengaja melintas masuk ke ruang berdinding dingin tersebut. Bagi kucing itu—yang matanya hanya dibekali dua sel kerucut—gagang telepon yang diagungkan manusia sebagai “merah” itu hadir dalam wujud yang sama sekali lain: sebuah bayangan kuning keabu-abuan atau biru redup yang dingin. Objeknya tunggal, tetapi dunia visual yang diindrai berbeda sama sekali. Bahkan, jika di antara kerumunan manusia dalam ruang berdinding dingin itu sendiri, ada manusia-manusia langka yang lahir dengan empat sel kerucut. Bagi mata mereka, merah yang diagungkan tadi pecah menjadi ratusan gradasi warna yang begitu rumit, begitu pekat, hingga hampir tak sanggup ditampung oleh bahasa.

Realitas ternyata tidak pernah berdiri sebagai kebenaran mutlak. Melihat (secara harfiah) sesungguhnya adalah sebuah taruhan etis: munculnya objektifikasi, munculnya prasangka, seterusnya dan seterusnya. Untuk benar-benar menyikapi keberadaan benda-benda di sekitar kita, manusia mungkin harusnya melampaui kebiasaan pandang yang dangkal melalui enam tingkatan kesadaran:

  1. Melihat: sekadar sapuan mata yang pasif dan sekilas di tengah kelebatan informasi.
  2. Memandang: ketika niat mulai ditancapkan, menciptakan jarak antara yang mengamati dan yang diamati.
  3. Memperhatikan: tindakan menahan diri untuk tidak terburu-buru menghakimi, membiarkan retakan halus dan tekstur pigmen bicara dengan bahasanya sendiri.
  4. Merasakan: ketika tangkapan visual menjalar menjadi sensasi somatis—rasa sesak di dada atau dingin yang menusuk tulang.
  5. Memaknai: momen ketika pikiran penonton menenun kepingan sensasi menjadi pemahaman yang personal.
  6. Menyikapi: langkah akhir tempat kerendahan hati tumbuh: pengakuan bahwa apa yang kita tangkap hanyalah satu irisan kecil dari spektrum dunia yang teramat luas.

 

Fabel Ruang Berdinding Dingin

Di dalam sebuah ruang berdinding dingin karena letaknya yang jauh di atas sana. Diselimuti bau pigmen dan kertas, sayup-sayup terdengar bebunyian dentingan cangkir dan sendok, obrolan-obrolan, suara mesin pencetak, tersaji fabel modern yang ditorehkan lewat kuas cat air. Di sana, cerita dimiliki oleh deretan antropomorfik yang terperangkap dalam segala hal yang muncul dari imajinasi atau berdasarkan dunia aslinya.

Lukisan karya Auditama Nugraha di pameran tunggal “The Office Aesop” di Hybridium Art Gallery and Cafe 13 Juni – 12 Juli 2026 (Foto: Dok. Galeri Hybridium)

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan oleh tubuh seekor kambing atau kuda. Narasi antropomorfis dalam pameran ini sesungguhnya adalah sebuah pengakuan yang mencemaskan: metafora atas ketidakmampuan bahasa manusia modern—yang telah dimiskinkan, misalnya, oleh jargon korporat, istilah teknis, dan formalitas steril—untuk mengeja rasa sakit dan kelelahan fisiknya sendiri. Manusia harus memaksakan istilah-istilah manusiawi yang banal seperti KPI, tagihan, aset, dan prosedur pada nonmanusia, untuk apa? Absurd. Ketika manusia mencoba meminjam hewan-hewan, alam, juga benda-benda nonmanusia untuk melarikan diri dari keterasingan dirinya, malahan semakin menunjukkan bahwa manusia tak akan pernah sanggup keluar dari penjara konstruksi bahasanya sendiri.

Lukisan karya Auditama Nugraha di pameran tunggal “The Office Aesop” di Hybridium Art Gallery and Cafe 13 Juni – 12 Juli 2026 (Foto: Dok. Galeri Hybridium)

Karakter-karakter ini lahir dari perenungan Pak Beruang (Auditama Nugraha) yang bersisian dengan Ibu Kura-kura (Clarissa Tifanny). Hewan-hewan, alam dan benda-benda non-manusia yang mereka padu-padankan dari imajinasi dan realitas di tingkat paling dasar dari perumpamaan yang absurd ini: kita dihadapkan pada Si Kambing Jantan (A Tool). Ia berdiri rapi, tetapi bagian dadanya dilukiskan transparan—menyingkap bahwa di dalam rongga dadanya tak ada lagi jantung yang berdetak, hanya susunan tulang rusuk yang keropos dan berongga. Ia disanjung oleh para petinggi sebagai “aset berharga”, sebuah frasa manusiawi yang menyamarkan kenyataan bahwa ia tak lebih dari perkakas mekanis. Otonomi jiwanya telah diperas habis; begitu dayanya usai, ia hanyalah bangkai alat yang siap dilempar ke tempat pembuangan.

Dari tubuh yang dikuras habis itu, mesin kantor menuntut gerak tanpa henti. Di sanalah, Si Kuda Pekerja (even if all of me wanted to stop) melompat dan memukulkan kakinya di atas tuts papan ketik raksasa. Keringat dan darahnya mengalir ke atas tombol-tombol plastik, tetapi tak satu pun kalimat atau dokumen yang dihasilkan mencantumkan namanya. Dalam keterasingan kerja yang tragis, hasil karyanya justru menjelma menjadi sosok asing yang berdiri membelakanginya, balik memerintah dan menindasnya. Semakin cepat ia mengetik, semakin ia kehilangan dirinya sendiri.

Seluruh keringat dan tulang keropos di bawah sana kemudian menopang puncak hierarki yang miring. Di atasnya, duduk jemawa Tuan Babi (Tower of the Glutton) di atas menara yang disusun dari tumpukan berkas dan piagam penghargaan emas. Ia merasa menjadi penguasa tunggal atas ekosistem tersebut. Namun, menara itu miring dan rapuh. Kekuasaannya adalah ilusi yang sepenuhnya bergantung pada tulang-tulang keropos para pekerja di bawahnya; satu guncangan kecil pada fondasi berkas itu cukup untuk melemparkannya ke dasar jurang.

Namun, untuk menjaga tatanan yang rapuh ini tetap berdiri, dibutuhkan tangan penindas. Si Ayam Jantan HRD (Dont Blame the Others) berteriak murka, membacakan aturan dan melontarkan teguran kepada para pegawai. Jika diamati lebih dekat, tampak seutas tali tambang tebal melilit pinggangnya, ditarik keras dari kegelapan oleh beban cicilan rumah dan tagihan yang tak pernah usai. Lapisan di mana kegalakan dan kedisiplinan kakunya ternyata bukan hanya bentuk ketegasan, melainkan luapan rasa frustrasi atas ketidakbebasannya sendiri; ia menindas yang lebih lemah hanya demi mengobati rasa kerdil di dalam dadanya.

Dan tepat di tengah pusaran tragis ini, duduklah Pak Beruang (The Content Writer). Di siang hari, ia mematuhi perintah-perintah algoritma tanpa bantahan. Di malam hari, di bawah remang lampu meja studio, ia melukis sketsa-sketsa di atas kertas. Namun, melukis di malam hari mungkin tidak pernah benar-benar membebaskannya. Mungkin tindakan itu hanyalah pelumas psikologis agar jiwanya tidak sepenuhnya berkarat—sebuah mekanisme koping agar besok pagi ia bisa kembali menjadi mesin yang efisien di bawah godaan bisikan mati rasa: “Mau bagaimana lagi, mencari makan zaman sekarang sulit…”

Di masa sebelum Pak Beruang duduk, terpampang “Office Specimen Series” yang sepenuhnya mati rasa atau membebaskan diri karena underpaid, overworked, toxic environment, atau lain-lain.

Lukisan karya Auditama Nugraha di pameran tunggal “The Office Aesop” di Hybridium Art Gallery and Cafe 13 Juni – 12 Juli 2026 (Foto: Dok. Galeri Hybridium)

Lalu, di sela-sela observasi, Pak Beruang yang tertimbun sticky notes pekerjaan, Ibu Kura-kura duduk menyimak. Merajut seluruh kesaksian sunyi ini ke dalam katalog pameran, membongkar bahwa dongeng tentang “dunia kerja yang menyenangkan” telah runtuh, lalu mengembalikan pertanyaan eksistensial itu ke pangkuan pemirsa.

Dunia fabel yang dirawat oleh Pak Beruang dan Ibu Kura-kura ini tidak pernah menawarkan mukjizat atau adegan pembebasan yang megah. Tidak ada revolusi tempat para binatang bersatu membakar gedung kantor atau menggantung Tuan Babi di tiang bendera. Cerita ini sengaja membiarkan dinding-dinding itu berdiri tegak, dingin, dan telanjang. Ketidakmampuan para karakter untuk mencapai kebebasan justru menjadi titik paling jujur dari fabel ini. Ia menelanjangi teori-teori besar, seperti moralitas, hukum, dan sejarah yang berkaitan dengan kebebasan maupun semangat penguasaan diri, kerap kali mendadak tumpul dan lumpuh saat dihadapkan dengan rutinitas jam kerja, deretan tagihan, dan kelelahan yang menggerogoti tulang.

Ketika menyusuri lorong pameran dan melangkah keluar menembus pintu kaca gedung berdinding dingin itu, tidak ada kunci jawaban atau wejangan moral. Yang tersisa dan terus membayangi adalah desakanhumor gelap” yang getir—sebuah sensasi tragikomik yang memancar kuat dari karya-karya seperti Routinity Starter hingga merembes ke seluruh ruang pameran. Humor gelap terasa sebagai sebuah mekanisme pertahanan batin tempat rasa geli yang pahit, absurditas, dan frustrasi pekat, bahkan rasa lapar yang memerihkan perut dan meledak secara simultan. Bukan karena kemalangan para karakter satwa, tapi karena sadar kalau ekosistem manusia kerja dan dunianya yang begitu dingin dan raksasa ini menghimpit. Manusia bahkan mencambuk dirinya sendiri secara sukarela. Dari pameran ini, seharusnya selanjutnya jangan hanya sibuk membongkar “apa makna di balik simbol-simbol ini”, melainkan memaksa tubuh kita untuk merasakan langsung sengatan pengalaman estetisnya. Alih-alih terjebak dalam penafsiran-penafsiran saja, kita membutuhkan erotika seni: sebuah keberanian untuk membiarkan tubuh kita disengat oleh rasa tidak nyaman, tawa pahit, dan kejanggalan lainnya.

In place of a hermeneutics, we need an erotics of art (Susan Sontag, 1964).

Mitos Otonomi dan Tubuh Seni

Di balik keabsurdan fabel antropomorfis itu, ada sebuah paradoks: dunia kerja modern telah menjelma menjadi sebuah tatanan yang otonom. Seperti mesin raksasa yang berjalan secara otomatis di atas rel prosedur, KPI, target bulanan, dan algoritma digital. Tidak peduli siapa yang mengisi kubikelnya—entah itu Budi, Pak Beruang, atau Si Ayam—sistem ini mereproduksi dirinya sendiri dengan hukum yang mandiri. Sebaliknya, makhluk-makhluk hidup di dalamnya—tubuh, waktu, tenaga, hingga hasrat mereka—tak lagi dimiliki oleh diri sendiri, disetir penuh oleh kekuatan dari luar: deretan tagihan, tenggat waktu, dan keharusan menjaga dapur tetap ngebul.

Di tengah kelelahan atas hidup yang serba-serbi, manusia sejarah pernah berpaling pada seni. Sejarah penciptaan mencatat bagaimana manusia-manusia modern dulu mencari dan memunculkan apa yang disebut sebagai otonomi seni. Mengisolasi lukisan di dalam ruang-ruang steril berdinding putih (white cube), mengangkat sebuah karya pada tataran tinggi, seniman dianggap sebagai pencipta tunggal yang berdaulat atas bentuk. Pencarian otonomi seni adalah upaya manusia pekerja yang merindukan satu saja ruang di dunia ini, tempat mereka bisa merasa berdaulat: sebuah suaka yang tak tersentuh oleh kotoran dan paksaan dunia kerja sehari-hari.

Namun, di era kapitalisme hari ini, seni rupa diseret masuk ke dalam pasar komodifikasi. Bertransformasi, ditawar sebagai aset spekulasi, pemanis interior dinding kantor korporasi, atau lambang status, tanpa mendegradasi lapisan pertukangan anonim, sakralitas kosmologi, juga bagaimana diagungkannya dia (gejala estetis itu) pada kelompok tertentu.

Lantas, di manakah posisi manusia-manusia pengadvokasi estetis itu ketika kita semua berdiri di ambang era pascakapitalisme—sebuah era di mana seluruh ceruk hidup, pikiran, hingga waktu luang kita telah sepenuhnya terserap oleh jaringan pasar dan algoritma?

Karya instalasi partisipatoris di pameran “The Office Aesop” di Hybridium Art Gallery and Cafe 13 Juni – 12 Juli 2026 (Foto: Dok. Galeri Hybridium)

Manusia-manusia seperti Pak Beruang dan Ibu Kura-kura adalah pekerja prekariat itu sendiri: tubuh yang ikut bertarung dengan tenggat waktu, tagihan, dan keletihan fisik. Juga adalah kawan persekongkolan—mitra berdialog yang berjalan lambat di tengah histeria percepatan zaman. Hadir sejak hulu penciptaan untuk memperlambat tempo, menahan impuls-impuls yang serba gegas, dan menyediakan ruang yang setidaknya diusahakan untuk aman dalam mengendapkan gagasan. Menjahit kesaksian-kesaksian, tidak lagi menyodorkan utopia atau menjadi pahlawan pembebas yang berada di luar sistem, mungkin pembocor rahasia dari dalam kolam-kolam itu sendiri. Merekam retakan-retakan kecil pada sistem, mengolah kerentanan fisiknya menjadi hal-hal estetis. Atau bahkan malahan terkooptasi dan sekadar menjadi komoditas estetis baru.


Referensi

Daigle, C. (2023). Posthumanist vulnerability: An affirmative ethics. Bloomsbury Academic.
Han, B.-C. (2021). The palliative society: Pain today. Polity Press.
Sontag, S. (2001). Against interpretation and other essays (1. publ). Picador U.S.A.