Atas tragika wabah, kita semua teragresi trauma. Entah berapa porsinya. Trauma itu, dan muaranya pada segala keputusan, menggeser pola acak keseharian dengan insting purba bernama bertahan hidup. Wabah seperti mengajak kita semua ke dalam medan peperangan. Perang melawan sekompi serdadu bayangan dari negeri tanpa nama. Kita tidak bisa secara jelas mengamati gerak-geriknya. Sejak itu hingga sekarang, kita menghadapi wabah sebagai peperangan dalam banyak judul: pandemi, kehancuran bilateral, hingga perang moral yang super absurd. Masa yang betul-betul berat bagi banyak orang. Beberapa mungkin mual membahasnya. Atau berhenti membaca tulisan ini sejak kalimat pertama.
Namun tiga tahun sejak permulaan kekisruhan mental itu, ada yang mulai membahasnya kembali dan merenunginya melalui bahasa rupa. Mengumpulkan beling-beling ingatan atas kepiluan yang datang serentak dan misterius. Ialah Hanafi. Kita mengenalinya sebagai seniman, terutama pada kelirisan lukisan-lukisannya yang banyak orang sebut abstrak.

Hanafi lahir dan tumbuh di Purworejo. Ia kemudian melanjutkan sekolah di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta. Sedang Jakarta adalah kota rantauan. Di sanalah ia terjebak wabah, dikerumuni kedukaan.
Ia, seperti kebanyakan dari kita, mendekam di rumah. Melindungi diri dari kematian yang menggila di luar. Tetapi di sisi lain, ada yang membunuh diam-diam dari dalam: keterbatasan sosial. Tahun-tahun yang mengerikan. Pameran tunggal pertamanya pascawabah yang berjudul Af+ermasks adalah endapan perenungannya selama tiga tahun kedukaan. Senin (12/03) lalu, ketika sore, saya mengunjungi pembukaan pamerannya di Jogja National Museum (JNM).
Pembukaan Af+ermasks dihadiri dan dibuka dengan ucapan singkat dari Agung Hujatnikajennong (kurator), Heri Pemad (promotor pameran), dan Ugo Untoro. Sementara Hanafi, ia punya cara lain membuka pameran. Tidak dengan suara, tetapi serangkaian aksara. Ia menuliskan tiga kelompok karya dalam pameran ini (Af+ermasks, Developmentalism/Wadas, dan Sarung Basah Ayah) di dinding utara galeri utama. Mulai dari kritikus, seniman, pengelola galeri hingga kolektor juga turut hadir. Setelah resmi dibuka, semua segera memasuki ruang pamer. Selasar JNM yang tadinya ramai, seketika sepi.
Ketika melihat karya-karyanya di lorong-lorong dingin galeri utama JNM, saya seperti mengunyah berlembar-lembar kumpulan sajak. Orang bilang lukisannya abstrak, tetapi bagi saya lain. Saya melihat jelas figur-figur di balik lukisan Hanafi. Figur bertubuh kata (logos), berjiwa ingatan biografis Hanafi. Cermin pecah yang berusaha menampilakan realitas, tetapi selalu gagal, karena memang tidak akan pernah benar-benar persis, imbas keterbatasan-keterbatasan bernama ingatan. Sebuah abstraksi yang senantiasa berkembang.

“W” dan Ingatan yang Selalu Rapuh
Di Purworejo, Hanafi hidup bersama keluarganya. Bapak adalah figur yang bisa dibilang cukup sering dimunculkan dalam pameran ini. Kenangan tentangnya seolah punya tempat khusus dalam laci-laci arsip tubuh-ingatan Hanafi. Tentu saja, karena pameran ini tidak membahas pandemi belaka, melainkan juga tolakan artistik Hanafi dari ingatan-ingatan biografisnya.
Tetapi sungguh sayang, ingatan bukan pengarsip yang baik. Ia tidak pernah punya representasi yang tepat. Kabur dan gelap. Sebab, ia selalu rapuh. Maka ingatan selalu disusun atas dokumen-dokumen arsip yang disusun secara kolase. Pecah-belah. Seringkali tidak utuh. Sebab ia juga berkembang sepanjang perkembangan pengetahuan dan persepsi pemilik ingatan, juga kemampuan mengolah arsip ingatan. Begitulah yang terjadi dalam praktik artistik ingatan biografis Hanafi.
Kita bisa melihat kecenderungan itu dalam karya-karya Hanafi yang merespons peristiwa Wadas. Ketika memproses karya-karyanya, Hanafi tidak punya kesempatan untuk membaca secara dekat kejadian di kampung halamannya itu. Masih ada pembatasan mobilitas. Maka Hanafi membuka dokumen-dokumen ingatan masa kecilnya di Purworejo.

Bersama ibunya ia bertemu dengan orang-orang dari Wadas di pasar. Ada yang belajar mengaji pada bapaknya. Hanafi mengingatnya, bahwa Wadas adalah rumah. Lantas ia merespons dengan ingatan yang dia punya, untuk kemudian ditabrakkan pada imej dan frame pandangnnya kini atas kejadian itu. Ingatan menyatu dan mengembang, dan hasilnya sebuah refleksi baru atas objek atau objek-objek amatan. Wadas.
Melihatnya, saya jadi heran. Kira-kira bagaimana ingatan bekerja? Apa jangan-jangan ingatan selalu runtuh seketika ia disimpan? Sebab barangkali ketika kita menyadari sesuatu, di suatu tempat dalam otak, kita tidak sengaja meruntuhkan suatu bangunan ingatan lalu mulai mengonstruk arsitektur ingatan baru dari reruntuhan tadi? Kalau memang demikian, apa yang dilakukan Hanafi adalah pembongkaran ingatan. Ingatan selalu diruntuhkan, dibangun lagi, diruntuhkan lagi, dan seterusnya. Dari ada, menjadi tiada, kemudian ada lagi, dan tiada lagi. Dan ada lagi.
Seperti yang terjadi, misalnya, dalam “W” Rumahku (2022). Wadas adalah aksara W, rumah Hanafi. Sedang di luar adalah ingatan tentangnya. Kuning dengan aksen-aksen hitam seperti latar awal. Lalu ditimpa oleh putih tulang, ditimpa lagi oleh abu-abu, dan separuh ditimpa lagi oleh abu-abu yang lebih gelap. Lapisan ingatan ini menunjukkan bahwa Wadas, yang Hanafi anggap rumah, memuram. Perubahan di sana adalah hasil timpaan ingatan yang sekaligus juga adalah pemaknaan berulang atas Wadas.

Kebenaran dan Kehampaan
Satu karya yang juga menarik dalam pameran ini adalah Kebenaran (2022) dan Kehampaan (2022). Keduanya berada di kelompok karya yang sama, yaitu Sarung Basah Ayah. Kebenaran berukuran 140 x 160 cm dengan blok hitam nyaris di seluruh permukaan kanvas. Kecuali di sebelah kirinya berupa latar putih dan penggalan mirip frame berwarna coklat; ujung kanan atas berupa segaris warna putih.
Kebenaran menghentikan saya dari penjelajahan karya-karya Hanafi di pameran untuk beberapa saat. Saya seperti tersedot ke sana. Selayaknya saja Kebenaran. Setiap Kebenaran di dunia mengaku-ngaku sebagai yang asli dengan rentetan argumentasi yang rapi. Tetapi pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu mana yang lebih meyakinkan. Semuanya bisa jadi benar, bisa jadi juga salah. Itu yang terjadi saat wabah. Kita ditawarkan banyak macam hal yang seolah-olah ampuh tetapi tidak, seolah-olah benar tetapi ternyata hanya seolah-olah.
Barangkali juga blok hitam menutupi sesuatu. Sesuatu bernama Kebenaran. Tetapi kita tidak akan pernah mendapatkannya, karena sudah tertutupi kegelapan. Hitam. Dan kita hanya bisa meratapi keterbatasan dan mengais-ngais Kebenaran yang tersisa di dunia, di pinggir-pinggir blokade.

Kehampaan mirip-mirip. Ia berukuran 210 x 235 cm dengan blok putih yang menyisakan warna-warna seperti hitam dan kuning di sisi kiri bawah dan kanan atas. Putih itu sepertinya menghalangi suatu bentuk yang bisa kita terawang di belakangnya. Ini timpaan akhir dari timpaan-timpaan lain di belakangnya dan akhirnya mencapai kehampaan. Modus yang serupa dengan Kebenaran. Seperti, bisa dibilang, metode ingatan yang tiban-meniban.
Ketika selesai mengelilingi pameran Af+ermasks ini, saya berjalan ke pintu keluar. Sambil jalan, saya iseng membuka Instagram. Dan dunia ternyata masih dan selalu menakutkan. Merapi tengah erupsi, gempa di mana-mana. Multi-hazard. Wabah dalam arti ancaman kematian belum dan barangkali tidak akan berhenti. Kematian selalu mengintai kita. Artinya, berakhirnya pandemi bukan akhir segalanya, tetapi permulaan atas sesuatu yang baru. Peperangan dengan nama apa lagi akan kita hadapi ke depannya? Pertanyaan ini mungkin memuakkan bagi banyak orang. Beberapa akan berhenti di tengah tulisan untuk menghindari pertanyaan tertebak ini. Tetapi kita hanya bisa menunggu, dan menunggu, dan seterusnya. Langit menggelap di JNM. Dan saya pulang.