Search
Close this search box.

Semua Aku Dira(s/y)akan di “Genealogi” NuArtPark

Ulasan Pameran Seni Rupa “Genealogi” Galeri Teras Nuart Sculpture Park

KENAPA TULISAN INI DITULIS OLEH SEORANG LAKI-LAKI? Laki-laki yang menulis ini mencoba memahami bagaimana seorang perempuan Norah Vincent, yang merupakan jurnalis dan seorang feminis, penasaran bagaimana menjadi laki-laki karena dikiranya menyenangkan, memiliki lebih banyak privilese. Melakukan eksperimen sosial; menyamar menjadi laki-laki selama 24 bulan, tetapi hanya berhasil menjalaninya selama 16 bulan.

Men are suffering; they have different problems than women have, but they don’t have it better. They need our sympathy, they need our love, and they need each other more than anything else. They need to be together. – Norah Vincent

Tulisan ini pertama kali ditonton dan dibaca oleh dua perempuan terdekat penulis.

WE NEED TO BE TOGETHER!!!

Jiwa apakah yang begitu hampa dan buta, sehingga tidak dapat mengenali fakta bahwa kaki lebih mulia daripada sepatu, dan kulit lebih indah daripada pakaian yang dikenakannya? – Michelangelo

Manusia, setidaknya karena kaitannya dengan memiliki kaki dan bersepatu, berkulit dan mengenakan pakaian—memang di zaman-zaman sekarang ini hewan-hewan juga sangat bisa memiliki kaki dan bersepatu, memiliki kulit dan dikenakan pakaian, namun aksi mengenakan dan dikenakan itu yang membedakan—maka tersebutlah manusia yang memiliki jiwa, beserta kaki-kakinya, beserta kulit-kulitnya, beserta jiwa-jiwanya, meskipun hampa dan juga buta, tetap masih jauh lebih “indah”, yang dapat diartikan sebagai berlapis-lapis, banyak sekali tafsirannya tetapi teratur. Merujuk pada The Birth of Tragedy, Nietzsche menyatakan bahwa yang indah adalah gabungan antara chaos yang berlapis-lapis dan keteraturan, jika dibandingkan dengan sepatu dan pakaian.

Gie Sanjaya selaku kurator pameran seni rupa dengan judul Genealogi yang diselenggarakan di Galeri Teras NuArt Sculpture Park, yang dibuka pada 10 April 2025 dan berlangsung hingga 10 Mei 2026, mengatakan bahwa pameran ini merupakan pembacaan praktik artistik perempuan Indonesia sebagai bidang yang dibentuk oleh berbagai lintasan pengalaman yang tidak linier dan menjadi cara untuk memahami sejarah bukan sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sebagai bidang yang terus-menerus dikonfigurasi ulang melalui praktik-praktik yang berlangsung di masa kini. Ketidaklinieran, berlapis-lapis dan sesuatu yang tidak tetap inilah yang ingin dituju.

Perubahan dari partikel, atom, molekul, dan materi (sepengetahuan manusia) menjadi materi (sepengetahuan manusia) memang selalu ada dan membersamainya pula, juga sel-sel, atom-atom yang menyusun manusia bersiklus-siklus. Namun, manusia adalah makhluk-makhluk yang berbeda; kita tidak semudah itu tergerak oleh yang kita cerap, yang terpampang (informasi dan data), kecuali yang sensasional. Padahal sebanyak itu, berlapis-lapis, berubah-ubah hingga mati rasa pada cerapan dan yang terpampang. Di sisi lain, alam dan realitas, natur selalu lengkap, seaslinya.

A Change of Scenery karya Dewi Fortuna (Foto: Dok. Dengarupa )
Folding into Repeat karya Dewi Fortuna. (Foto: Dok. Dengarupa)

Tujuh belas tambah satu perempuan—yang berasal dari kata dasar “empu” dalam bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta yang berarti tuan, mulia, ahli, atau mampu. Kata ini mendapat imbuhan per-an (per-empu-an), yang secara etimologis menggambarkan sosok yang dihormati, disokong, atau memiliki keahlian/kedaulatan— mencerap, mengomposisi, menghadirkan, memampang kumpulan sensasi (karya seni dan karya tulis) yang saling berbagi, yang telah dan akan terus-menerus ikut serta dalam memproduksi dunia. Cuilan emas-emasan, sosok-sosok, plastik-plastik, lekuk-lekuk, bumi totol-totol, tetumbuhan, jagung, centaur, garis-garis, teks, blok warna, dan lainnya.

Pameran Genealogi 10 April 2026 – 10 Mei 2026 (Foto: Dok. Dengarupa)

Bagi kami yang datang ke resepsi pembukaan atau peresmian pameran Genealogi dan mengalami secara langsung resepsi tersebut sejak awal, mewawancarai beberapa pemangku kepentingan pameran ini, di antaranya Bapak Nyoman Nuarta selaku pemilik keseluruhan kawasan Nuart Sculpture Park, Gie Sanjaya sebagai kurator pameran, Fahmy Al-Ghiffari Siregar selaku kurator Nuart Sculpture Park, dan beberapa seniman lainnya. Hasil wawancara menunjukkan bahwa, sejalan dengan diselenggarakannya pameran ini, mula-mula pameran ini adalah “sebuah perayaan Hari Kartini.”

Perayaan (raya ; besar/agung/utama) sering kali disertai dengan berkumpul, bersosial, ritual, atau berbagai unsur lain yang membangun suasana kegembiraan dan kebersamaan. Kegembiraan ini rasa-rasanya termanifestasikan dalam ucapan dan gerak. Misalnya, ketika bercengkerama dengan Gie Sanjaya, atau salah satu pengunjung yang ternyata baru disadari merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Kerajaan Thailand yang bertugas dari tahun 2021 hingga 2026, Rachmat Budiman berulang-ulang mengucapkan “yang penting selalu bergembira”. Kartini menjadi salah seorang sosok. Selain itu, ada Trijoto Abdullah, yang Gie sebutkan sebagai rujukan esai kuratorialnya dalam pameran ini, juga menjadi salah seorang sosok. Sosok-sosok lain yang dirayakan ke-sosok-annya, tentu saja, tujuh belas seniman ditambah satu kurator pameran ini.

Pembukaan pameran Genealogi 10 April 2026 – 10 Mei 2026 (Foto: Dok. Dengarupa)

Alfiah Rahdini merayakan masa lalu dan ketidaklinieran sebuah proses sebagai pembentuk masa kini. Alodia Yap pada karyanya dengan judul Waiting Time merayakan tekanan sosial dan ekspektasi sosial pada perempuan dengan meminum matcha. Camelia M. Hasibuan dan Ruth A. Kaligis merayakan suara-suara perempuan yang sering kali tersembunyi dan menyadari bahwa suara tersebut menopang kehidupan dan membangun kesinambungan. Carla Agustian merayakan lekuk-lekuk pengalaman hidup perempuan dan menganggapnya secara sadar sebagai sebuah berkah. Cyca Leonita merayakan warisan peran, harapan, dan tanggung jawab perempuan dan membahasakannya sebagai ketahanan, keberanian, dan keanggunan.

Terima kasih katanya

Semua aku dirayakan

Jangan menangis ku dibuai

Sampai tenang

(Bait pertama lagu “Semua Aku Dirayakan” oleh Nadin Amizah, 2023)

Dewi Fortuna merayakan hubungan perempuan dengan perubahan natur sebagai transisi pengalaman yang membentuk cara kita melihat, mengingat, dan merasakan. Dina Adelya merayakan kekomunalitasan dan kerja kolektif sebagai bentuk pengalaman yang diwariskan. Dyah Retno merayakan genealogi dengan memampang kritiknya terhadap domestifikasi agrikultur mula-mula. Prajna Dewantara dan Ramrama merayakan patahan-patahan dan luka masa lalu perempuan sebagai keindahan dan fondasi awal untuk kedaulatan diri.

Hatiku seberat dunia

Semua bentuknya kau rayakan

Menangis pun kau penuh tenang

Ku dibuai

(Bait kelima “Semua Aku Dirayakan” lagu oleh Nadin Amizah, 2023)

Satya Cipta merayakan perempuan sebagai simbol mula-mulanya kehidupan tidak hanya sebagai tubuh biologis, tetapi juga spiritual. Sindy Ponto merayakan hubungan relasional manusia dengan apa pun, termasuk mesin. Gabriel Eva, Shirleen Wong, Tennessee Caroline, dan Zeta Ranniry merayakan kompleksitas praktik perempuan sebagai sumber keseimbangan.

Demikianlah manusia; merayakan yang untuknya patut dirayakan. Sejatinya, karya-karya seni yang dipampang juga merayakan dirinya sendiri. Jika boleh menyadur Jotaro Leeloo Minai mencerap Percept, Affect, Concept oleh Gilles Deleuze dan Félix Guattari, “Seni tidak lagi dipahami sebagai medium untuk menyampaikan pesan atau emosi personal, tapi sebagai struktur yang menghasilkan pengalaman sensoris yang dapat diakses oleh siapa pun”. Contohnya, ketika kami menonton Para Perasuk, sebuah film bikinan Wregas Bhanuteja yang baru-baru ini diputar di layar lebar. Perasaan tegang, tidak nyaman, tergelitik, menggembirakan, kagum, dan lain-lain saat menonton film ini tidak hanya berasal dari empati terhadap karakter film tersebut saja, tetapi juga dari keseluruhan audiovisual yang dikomposisikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan intensitas (sinestetik) tertentu. Contoh konkret lainnya terlihat pada sebuah lukisan lanskap, lukisan figuratif, dan patung-patung. “Mereka” tidak hanya merupakan representasi atas pemandangan tertentu, sosok tertentu, apa yang dilakukan sosok tersebut, tetapi ia menghadirkan sensasi atas tangkapan cahaya, warna, dan ruang yang tetap hidup bahkan ketika senimannya sudah meninggal.”

Jika seni tidak lagi dipahami sebagai representasi atau ekspresi simbolik saja, maka pertanyaan utama dalam analisis estetika pun sedikit bergeser. Sekarang tidak lagi mempertanyakan, “Apa arti dari karya ini?” Seharusnya, kita merasa didorong untuk bertanya, “Apa yang dilakukan karya ini terhadap saya?” Karena kembali lagi bahwa karya seni seharusnya adalah kumpulan sensasi yang saling berbagi, yang telah dan akan terus-menerus ikut serta dalam memproduksi dunia.

Yang pamungkas, meskipun dirayakan oleh gabungan penyelenggara, pameran ini menampilkan keseluruhan empu yang memiliki kedaulatan. Boleh sekali jika ia dibawa menuju dan memunculkan subteks genealogi perempuan. Tidak hanya genealoginya saja, bagi yang ikut merayakan, dipersilakan merasakan, mencerap, dan menubuhkan apa yang dilakukan subteks tersebut terhadap dirinya.

Walaupun tiada yang bilang badainya kan reda, malah sering kali berhadapan dengan cahaya yang kerap membutakan. Selain itu, tak ada yang berkata bahwa jawaban kan datang, sejatinya jauh dari seram yang selama ini telah kita bayangkan. Ayo semua kita ra(s)(y)akan.