Search
Close this search box.

Semerah Mata, Semarah Cinta: Kala Rubanah di Tengah “Kejatuhan dan Hati”

Galibnya, orang beranggapan S. Rukiah mengalami trauma berat atas tragedi yang terjadi di tahun 1965. Tidak hanya hidupnya dan keluarganya, karya-karyanya pun bahkan mengalami pelarangan edar. Namun, dengan mengunjungi Rubanah di kala pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” ini, seketika kita disuapi pencerahan terkait jalan panjang nan berliku yang ia tempuh sebelum dicap sebagai tahanan politik. Terlepas dari cap eksil yang disematkan padanya, S. Rukiah tak pelak merupakan salah satu berlian sastra Indonesia. Meski terkubur lumpur, kita akan selalu menemukan pantulan dan pancaran kilaunya.

Nama Siti Rukiah mungkin kurang begitu populer di kalangan penikmat buku dan sastra modern Indonesia. Namun kita tahu, sejarah panjang nan berliku Indonesia mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah persoalan generation wipe out yang bahkan terjadi berulang kali hingga berimbas pada berbagai lapisan dan aspek kehidupan. Termasuk sastra.

Jika demikian, mungkinkah “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” merupakan upaya untuk mengembalikan hal-hal yang hilang tanpa kita sadari?

Sebagai rangkaian program yang diselenggarakan oleh RUBANAH Underground Hub dan Jurnal Karbon, “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” menghidupkan kembali S. Rukiah dalam pertemuannya dengan tiga seniman dan dua kolektif seni lintas disiplin. Menyajikan hasil pembacaan mereka terhadap novel Kedjatuhan dan Hati yang dimuat pertama kali di Pudjangga Baru pada tahun 1950, pameran ini menubuhkan interpretasi mereka ke dalam berbagai media seni rupa.

Kutipan surat S. Rukiah kepada H.B Jassin, dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. Foto: Dok. Penulis.

Diselenggarakan di RUBANAH Underground Hub, Wisma Geha-Basement, yang terletak di tengah-tengah Jakarta, pameran ini menyuguhkan karya-karya seniman Azisa Noor, Emmalou Hale, dan Eyi Lesar, serta komunitas Gurat Sahabat dan rurukids. Melalui indra-indra mereka, S. Rukiah menemukan kembali tempatnya di salah satu lokasi terpadat Indonesia, di bawah tanah.

Bisa dibilang, kunjungan ke pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” tidak hanya membuat kita mengapresiasi S. Rukiah sebagai bagian dari warisan sastra Indonesia. Namun lebih jauh, mengulik beragam upaya untuk terus-menerus mengingat dan memperluas wacananya. Di muka bangunan pameran, pengunjung tidak hanya menikmati lingkup keteduhan yang ditawarkan di tengah hiruk pikuk Jakarta, tetapi juga memberikan kesempatan untuk bernapas lebih dalam sebelum menekuri lorong perjalanan S. Rukiah.

Dalam panel lini masa perjalanan hidup S. Rukiah, dipaparkan hasil riset tim peneliti terhadap sosok dan kiprah S. Rukiah. Penelitian melalui pencarian arsip dan wawancara ini berhasil menampilkan sosok S. Rukiah dan apa-apa yang ia lalui dalam hidup secara ringkas; compact. Hal ini dirasa paling sesuai untuk mengiringi ruangan pameran sebab jika ada yang tidak kita ketahui tentang S. Rukiah, itu adalah segala hal tentang dirinya.

Panel lini masa ‘Jejak Merah S. Rukiah’ dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. Foto: Dok. Penulis.

Panel berjudul “Jejak Merah S. Rukiah” ini disusun secara kronologis, mengantarkan pengunjung menyaksikan dan mengikuti kisah S. Rukiah, terutama karier kepenulisannya. Yang menarik tentu adalah kemelut seputar 30 September 1965 yang juga menjeratnya, berikut fakta bahwa tanpa tragedi tersebut, nama S. Rukiah mungkin akan muncul sebagai salah satu sastrawan besar Indonesia.

S. Rukiah yang dalam perang surat terbukanya dengan redaksi surat kabar Indonesia Raja, Pedoman, dan Sumber ini disebut dengan “Nyonya Panglima Gerombolan Bambu Runcing” pasca-ditangkapnya Sidik Kertapati, suaminya yang merupakan salah satu pejuang kemerdekaan yang juga vokal menyuarakan hak-hak kaum tani, ini bertindak sebagai anggota pengurus Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bidang Sastra (Lestra) serta dikenal merumuskan gerakan “turun ke bawah” atau yang lebih populer dengan “turba” yang kemudian menjadi pedoman filosofis dalam proses kreatif para seniman dan terutama penulis Lekra.

Di balik cap eksil yang dilekatkan padanya, S. Rukiah merupakan penulis yang produktif; tulisannya menghiasi berbagai majalah dan media massa. Kumpulan cerpen dan puisi pertamanya yang berjudul Tandus terbit pada tahun 1952 dan memenangkan Hadiah Seni Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Ia juga rutin menulis buku cerita anak.

Sudut baca karya-karya S. Rukiah. Foto: Dok. Penulis.

Buku-buku tersebut telah diarsipkan oleh Pemerintah Indonesia, sehingga replika yang disediakan di Sudut Baca sangat membantu pengunjung untuk melihat sejauh mana S. Rukiah memberikan kontribusi melalui peran-perannya di masyarakat. Diletakkan di rak ujung ruang pameran, karya-karya S. Rukiah ini seolah menjadi pengingat, sejauh mana masa berkembang hingga kita bisa menikmatinya dengan bebas di masa sekarang.

Tulisannya jernih dan cergas, tepat menjadi corong corak sastra anak yang padat, didaktis, dan imajinatif. Hal ini sebagian besar terjawab melalui kisah hidup S. Rukiah. Sebab selain penulis, ia juga aktif menjadi relawan, guru, dan duduk di kursi redaksional. Kelindannya dengan G30S mungkin terendus sejak keikuksertaannya menggawangi Pudjangga Baru dan Bintang Timur, bahkan lebih jauh dalam kontribusinya di masa Kemerdekaan bersama Palang Merah Indonesia.

Penggambaran meletusnya G30S memiliki titik ledak tersendiri dengan tercantumnya beberapa kopi arsip-arsip nasional. Salah satunya Instruksi Menteri P.D. dan K. yang berisi daftar buku berikut pengarang-pengarang Lekra yang “dibekukan”.

Gambaran cerita anak dalam buku S. Rukiah. (Foto: Dok. Penulis)

Keikutsertaan S. Rukiah di Lekra inilah yang menyebabkan karya-karyanya diberangus; namanya tidak hanya surut tetapi dikubur hidup-hidup, menyisakan Kejatuhan dan Hati sebagai satu-satunya novelnya yang kemudian diterbitkan kembali pada tahun 2007 oleh Ultimus, Bandung.

Selain tersebar di segala penjuru ruang pameran, sebuah section di pameran secara khusus menampilkan “Pulang Pergi” karya Azisa Noor. Sebagai interpretasinya atas pembacaan terhadap Kejatuhan dan Hati, komik-komik ini disusun mengisi peta sesuai latar terjadinya cerita.

Instruksi Menteri P.D. dan K. yang berisikan daftar pengarang dan karya yang dibekukan oleh pemerintah. (Foto: Dok. Penulis)

Dibuat dalam format isi black and white, komik-komik tersebut memberikan sentuhan yang tepat; tidak berlebihan, dan ramah terhadap berbagai penggambaran serta dialog internal yang terdapat dalam buku. Membuatnya lebih edible dan terkesan kini, meski dibuat puluhan tahun yang lalu.

Warna merah mengental di sisi kanan ruang pameran. Penyangga ruangan yang dililiti kain merah melampirkan buah-buah pikiran dari tulisan S. Rukiah dalam berbagai spektrum. Kutipan “Bisakah manusia melepaskan dirinya dari ikatan kasih sayang?” membelit paling mencolok, tampak mengganjal sebab membuat kita turut berpikir, sejauh mana pergulatan motif-motif kehidupan bisa direduksi menjadi keinginan untuk bertahan dan mempertahankan cinta yang kita miliki. Sesuai warnanya, karya Emmalou Hale yang berkolaborasi dengan Ibu-ibu SMTama ini berjudul “Ikatan Merah”.

Seorang anak perempuan tampak mengamati karya ‘Pulang Pergi’ yang dibuat oleh Azisa Noor dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. (Foto: Dok. Penulis)

Seolah turut mengajak kita mengurai benang kusut, di balik tirai kelambu tipis, diputar rekaman performans Eyi Lesar, “Dance with Susi”. Penampilan Eyi Lesar ini dilangsungkan pada 14 dan 15 Oktober, serta 5 November 2023. Melalui media sosial rubanahundergroundhub, Eyi Lesar mengatakan bahwa dirinya dipengaruhi berbagai persoalan sosial masyarakat Indonesia, terutama isu minoritas dan penghakiman.

Dalam “Dance with Susi”, Eyi Lesar bermain dengan medium oobleck, benda yang padat tetapi fluid; tidak sepenuhnya cair. Performans ini tidak hanya menampilkan kegigihan dan keteguhan Susi di tengah badai kehidupan, tetapi lebih jauh menunjukkan sisa-sisa warna yang melekat pada dirinya meski pada akhirnya, ia tetap menjadi pribadi yang kuat.

‘Ikatan Merah’ karya Emmalou Hale dengan Ibu-ibu SMTama dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. (Foto: Dok. Penulis)

Dalam balutan noda tersebut, Susi juga tidak sepenuhnya mengabaikan nilai-nilai yang ia junjung sebelumnya; tak peduli seberapa kuat ia mencoba untuk melepaskannya.

Melemaskan mata menembus selarik bayang-bayang yang menggantung, disuguhkan karya Gurat Sahabat. Melayang beberapa centi dari lantai, “Memoir of Susi-Rukiah” tidak hanya memberikan interpretasi beberapa adegan dari Kejatuhan dan Hati, tetapi juga bertindak menjadi penyeimbang terhadap dominasi warna merah yang menjelujur di sekitarnya. Hal ini memberikan kedalaman nuansa pada gambar-gambar yang disajikan, sesuai dengan perjalanan hidup S. Rukiah (dan Susi); yang murni dalam kubangan kusut masai sosio-politik Indonesia.

‘Dance with Susi’ karya Eyi Lesar dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. (Foto: Dok. Penulis)

Sebaliknya, adegan demi adegan yang menggantung dari langit-langit membayangi pengunjung dengan kisah Susi beserta ibu dan anak-anak perempuannya. Romansa dan cinta memang menjadi aspek yang dominan dalam Kejatuhan dan Hati, tetapi—seperti yang dikatakan Eka Kurniawan dalam pengantarnya—S. Rukiah tidak pernah luput melesapkan pengamatan tentang hati dan prasangka manusia, berikut masalah-masalah sosial.

Warna merah, misalnya. Tak sulit bagi kita mengasosiasikannya dengan “darah” dan “revolusi”, terutama saat membaca kisah hidup S. Rukiah. Kejatuhan dan Hati mengisahkan perjalanan Susi berikut pergolakan hidupnya yang berusaha lepas dari jerat emosi saat menghadapi ibunya menemukan muara saat bertemu dengan Lukman, seorang pemuda komunis.

‘Memoir of Susi-Rukiah’ karya Gurat Sahabat dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. Foto: Dok. Penulis.

Cinta yang jatuh pada Lukman itu membuat Susi tidak hanya terbelenggu kelemahan, tetapi juga kelembutan. Merah yang tidak hanya penuh gelora, gelar-menggelegar; tetapi juga menyimpan kasih yang sulit untuk dilunturkan. Terkadang, justru cinta yang mampu membawa seseorang pada perjuangan yang paling hakiki guna mempertahankan hal-hal yang ia cintai ataupun mengelak sejauh mungkin dari rasa kehilangan yang tidak tertangguhkan.

Di tahun-tahun kritis 1950–1965 dan sesudahnya, warna merah seakan menjadi hantu, momok yang mendebarkan bagi siapa saja yang memandangnya. Ada konsensus beku yang membuat siapa saja lantas bungkam, menolak diafiliasikan dengan merah berikut turunannya.

Petikan dalam karya S. Rukiah ‘Kedjatuhan dan Hati’. Foto: Dok. Penulis.

Cukup surreal (sekaligus menyenangkan) rasanya, saat segala fakta pahit tersebut tidak membuat pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” lantas turut menjadi gemuruh suram di tengah ibu kota. Sebaliknya, sudut kanan ruang pameran disulap rurukids, naungan kolektif seni ruangrupa yang mempertemukan seniman dan profesional dengan anak-anak.

Melalui WACIKA (Wayang Cilik Jenaka), rurukids menyajikan lokakarya “Petualangan Si Apin” pada 21 Oktober 2023. Sebagai salah satu cerita anak karya S. Rukiah, “Petualangan Si Apin” mengisahkan seorang anak yatim yang penuh kasih, rajin, dan ringan tangan dalam membantu ibunya. Apin kemudian menjalani petualangan yang menambah ilmu dan wawasan. Menubuh ke dalam pameran, hasil lokakarya berupa wayang kardus tokoh-tokoh “Petualangan Si Apin” menghiasi di Sudut Baca ruang pameran.

Lokakarya Wayang Cilik Jenaka oleh rurukids yang merespons cerita anak “Petualangan Si Apin” karya S. Rukiah dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. Foto: Dok. Penulis.

Sesi interaktif ini setidaknya cukup untuk menarik minat anak-anak mengunjungi ruang-ruang pameran, sekaligus mengoyak hantu-hantu masa lalu yang cukup lama membayangi kita untuk menghindar darinya. Upaya para seniman dalam pameran ini bisa dibilang merupakan cara-cara kita untuk mengakrabinya. Berikut mengembalikannya. Usai dipenjara, S. Rukiah yang pernah menjadi anggota Lekra kemudian tidak lagi menulis. Dibebaskan pada tahun 1969, ia kembali ke Purwakarta dan diperingatkan untuk berhenti menulis. Sejak itu, Rukiah menghabiskan waktu dengan menjahit, berjualan kue, dan bekerja sebagai asisten bidan di rumah bersalin milik kakaknya.

Galibnya, orang beranggapan S. Rukiah mengalami trauma berat atas tragedi yang terjadi di tahun 1965. Tidak hanya hidupnya dan keluarganya, karya-karyanya pun bahkan mengalami pelarangan edar. Namun, dengan mengunjungi Rubanah di kala pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” ini, seketika kita disuapi pencerahan terkait jalan panjang nan berliku yang ia tempuh sebelum dicap sebagai tahanan politik. Terlepas dari cap eksil yang disematkan padanya, S. Rukiah tak pelak merupakan salah satu berlian sastra Indonesia. Meski terkubur lumpur, kita akan selalu menemukan pantulan dan pancaran kilaunya.

Hasil lokakarya merespons cerita anak S. Rukiah ‘Petualangan Si Apin’ yang berupa wayang kardus. Foto. Dok: Penulis.

Sekian banyak instalasi seni yang terpajang meyakinkan pengunjung bahwa S. Rukiah tetap hidup, ada dan bernapas di antara kita, tidak hanya melalui ide-idenya yang tak lekang oleh waktu, tetapi juga dari bagaimana pembaca meresapi dan meresepsinya dalam berbagai karya baru. Karya-karya tersebut, seperti yang termaktub dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”, tidak hanya kembali menyuarakan S. Rukiah berikut suara-suara yang terbungkam oleh zaman, tetapi lebih lanjut mengabadikannya melalui suara-suara yang baru (Sayangnya, per 21 Oktober 2023, instalasi audio berisi korespondensi S. Rukiah dengan H.B. Jassin serta dengan Annabel Teh Gallop dan John McGlynn tidak memperdengarkan respons apa pun).

Sulit bagi kita dan generasi di masa mendatang untuk membayangkan penyegelan berikut pemboikotan yang diberlakukan pada media massa ataupun karya sastra, lebih-lebih pada tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili semangat serta arah zamannya. Agaknya, hal ini yang diupayakan para seniman dan kolektif pameran, berikut kurator dan penyelenggara untuk kembali dinyalakan dalam momentum yang relatif dekat dengan peringatan G30S.

Di masa kini, pameran pembacaan terhadap Kejatuhan dan Hati karya S. Rukiah tidak hanya menempati ruang tersendiri dalam ruang seni, tetapi bahkan diwadahi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia melalui Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), Juli hingga Oktober 2023.

Sebagai lumbung yang menyatukan kerja antarpelaku budaya, “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi” merupakan salah satu dari rangkaian PKN yang tersebar di puluhan ruang-ruang seni budaya, komunitas, hingga ruang publik dan instansi pemerintah. Meski tak dinyatakan eksplisit, bisa kita katakan bahwa misi sosial dari acara ini juga membawa upaya-upaya rekonsiliasi; mengingat beberapa dasawarsa lalu, takkan terbayang menampilkan S. Rukiah sebagai penulis, terutama membawakan pembacaan dan interpretasi atas karyanya.

Daftar karya dan pengarang yang dibekukan oleh pemerintah. Foto: Dok. Penulis.

Mungkin terlalu larut untuk membawa semangat para seniman dan kolektif dalam “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi” dalam mengulik opresi sistemik yang mendaras dalam prasangka, stigma, bahkan dogma. Kita dibesarkan dengan nilai-nilai kebenaran yang diwariskan secara turun-temurun; tak urung membawa, mempertahankan, sekaligus melawan sesuatu. Dan meski terbelenggu dalam keterbatasan zaman, hal yang sama tetap kita temui dalam diri Susi.

Dalam kesempatan ini, Susi menjadi titik temu; pengantar sekaligus penyelaras—tidak hanya dalam memosisikan diri dalam percabangan cinta dan sosial politik, tetapi lebih lanjut membawakan arena yang tidak pernah mati dalam diri manusia. Dalam pengantar oleh kurator pameran, Bagus Purwoadi dan Dhianita Kusuma Pertiwi, secara eksplisit disebutkan bahwa pendalaman terhadap tokoh Susi menjadi fokus pada para seniman yang berpartisipasi. Mereka disatukan oleh kegamangan, pertanyaan, dan pendapat Susi tentang keluarga, cinta, dan ide-ide mengenai kebebasan di awal masa kemerdekaan.

‘Pulang Pergi’ karya Azisa Noor dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi”. Foto: Dok. Penulis.

Barangkali itu sebabnya, mustahil bagi kita melepaskan S. Rukiah dari Susi. Seperti halnya irasional memisahkan merah dari “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”.

Kedua-duanya sudah menjadi darah, daging, dan tulang-tulang dalam diriku. Tak bisa salah satu kulepaskan. Hari ini aku menganut paham komunisme; besok aku menganut paham komunisme, dan jika aku mati, tulang-tulangku juga tetap menganut paham komunisme. Sudah kukatakan, bahwa paham itu adalah satu ajaran, satu keyakinan, satu kepercayaan bagi si penganut. Sama halnya dengan cinta. Manusia tak bisa melepaskan cinta. Karena cintanya itu, maka ia bergerak berusaha menyatukan dirinya dengan manusia dan kemanusiaan yang dikejarnya.

— Kejatuhan dan Hati (Rukiah, 2007: 62)

Sebab dalam lamunan karya, kita selalu membayangkan Siti Rukiah, di mana pun ia berada; tetap menulis dan mengembara, melarung dunia yang hanya mengenal merah untuk cinta.(*)