Search
Close this search box.

Rah/Rudira Tidak Butuh Kata-Kata

Di ruang gelap itu, saya menyadari: seniman adalah mereka yang halus budinya, halus pula tuangannya. Mereka menjembatani dunia tak-tampak, menampakkannya kepada kita. Orang bilang yang tak-tampak itu dedemit, segala yang bukan-manusia. Namun, di Rah/Rudira, di black box EDSU, saya sadar—yang tak-tampak bukan ada di luar jangkauan, justru ia bersemayam di dalam. Di dalam tubuh.Menjangkau kedalaman, menemukan yang lemah lembut, menjumpai betapa manusia mampu berbuat kekerasan—di situ kita butuh melambat. Butuh diam sejenak. Sebab tidak semua dari kita punya sejarah kerja keras yang panjang untuk menembus kedalaman—singkatnya, tidak semua dari kita adalah seniman.

Setiap kali mendengar seniman menjelaskan karyanya, lalu melempar bola liar tafsir kepada khalayak dengan berkata, “Terserah mau diartikan apa,” saya lantas kehilangan minat menyimaknya. Betapa tidak? Saya—dan mungkin kita semua—sudah lelah dengan orang gedhe yang bicara seenaknya, lalu berkilah, “Biar rakyat yang menilai.”

Teks pameran Rah/Rudira di galeri EDSU House memiliki kecenderungan malas menjelaskan. Tetapi kemalasan ini tidak selalu negatif, malas menjelaskan secara berlebihan bisa jadi hal baik, seperti menolak godaan untuk membingkai pameran dengan narasi yang menggurui.

Namun, pertanyaannya: Bisakah Rah/Rudira dinikmati tanpa kata-kata? Tanpa teks yang dalam spektrumnya membawa pengetahuan? Pengetahuan tekstual yang selalu dianggap sebagai satu-satunya lidah untuk mencecap estetika seni rupa.

Pertanyaan itu baru muncul ketika saya menyelonong masuk ke kubus putih galeri.

Seperti kebanyakan pengunjung awam, saya mencari teks. Mencari lidah pengecap estetika. Mencari kompas penunjuk jalan. Mencari sesuatu—yang nantinya saya ketahui tidak disarankan oleh kurator pameran, Christine—dalam teks yang terpampang di galeri: Penjelasan.

Pengunjung tengah menikmati pameran Rah/Rudira. (Foto: Dok. EDSU House)

Mencari Kata-Kata

Nyaris untuk pertama kalinya, saya masuk galeri pameran seni rupa tanpa membaca apa pun terlebih dahulu. Bukan karena alasan ideologis, hanya soal teknis. Dari sekilas amatan, teks memang tampak dikesampingkan secara fisik di pameran ini.

Teks pernyataan galeri, kalau bisa disebut demikian, terletak di sebelah barat pintu masuk. Saya mengabaikannya. Selain posisinya yang kurang nyaman—di depan undakan tangga—penerangannya pun minim, entah disengaja atau tidak.

Saya tidak sendirian. Beberapa pengunjung juga masuk begitu saja tanpa berhenti di hadapan teks, dan tidak apa-apa, tidak masalah.

Tetapi justru itu yang membuat saya bertanya, apa sebenarnya fungsi teks dalam pameran?

Apakah sekadar pemancing atensi? Pengantar menuju sesuatu yang lebih besar? Atau hanya janji manis bahwa pengalaman akan lebih dalam jika kita menjajal lebih lama, lebih jauh?

Seperti halnya sinopsis film yang memancing atensi dan memberi janji, teks dinding pameran bisa berperan serupa: memberikan konteks, menetapkan suasana, atau justru membentuk makna tertentu sejak awal.

Apakah teks dinding sering berfungsi sebagai sinopsis? Atau malah sebagai arahan yang mengarahkan pengunjung pada satu pemahaman tertentu? Entahlah. Saya baru memikirkannya setelah keluar dari ruang pamer, ketika ketakutan akan gagal menulis ulasan memenuhi kepala. Saat memasuki galeri, saya mencari penjelasan. Teks yang bisa dikunyah, karena teks di depan tampak hanya sekadarnya.

Aha! Setelah celingak-celinguk di ruang kubus putih—lebih menyerupai balok, sebenarnya—teks yang saya cari ada di belakang, tepat di kiri saya. Saya berbalik dan mendapati dua paragraf teks dinding setelah sekilas memindai, saya kenali sebagai teks profil seniman: “Ayurika dari Grobogan dan Henryette Louise lahir 1981…”

Sebelum rampung membacanya, saya sadar, saat itu, saya sedang mengganggu pemandangan. Tepat di seberang kiri saya, bangku panjang terbentang untuk mereka yang ingin duduk dan memandangi karya lamat-lamat. Karya itu ada di belakang saya, dan saya—bocah bertopi Snoopy dengan kumis liar macam lele sungai—jadi penghalangnya.

Suasana kubus putih EDSU House. (Foto: Dok. EDSU House)

Merusak kenikmatan orang lain bukan jenis kenikmatan yang saya gandrungi, maka saya beranjak. Saya menerawang sekeliling. Putih. Lempang. Lukisan cat minyak berjejer di dinding, sementara di selatan—kanan pintu masuk—terpajang gambar, sketsa, dan sebuah instalasi yang nanti akan saya ceritakan.

Tidak bisa dibilang menikmati, tetapi saya merasakan momen sendiri di ruang putih besar. Seperti di film fiksi ilmiah. Seperti bangun dari kubur hanya untuk mendapati akhirat adalah laboratorium ilmuwan sinting belaka. Sendiri. Begini ya, jadi minoritas, sepi, pikir saya.

Saya melangkah ke bangku panjang, duduk, menghadap karya yang tadi sempat saya tutupi: lukisan tubuh gigantik, bergelambir dan keriang-keriut, apa adanya, atau justru hiperbolik. Figur perempuan bersila menindih kepala kerbau yang berdarah-darah.

Horor-tubuh khas Ayurika. Karya yang, kata kuratornya dalam buklet pameran—saya baca sepulang dari EDSU—jadi signature sang seniman sejak pertama kali mereka berjumpa di sebuah pameran kelompok para perupa muda.

Karya Sura Dira Jayaningrat Lebur Dining Pangastuti oleh Ayurika dalam pameran Rah/Rudira di EDSU House. (Foto: Dok. EDSU House)

Saya memandang lamat-lamat, mencoba meniru pengunjung di kanan-kiri saya. Untuk lukisan yang mencekam dan terpasang di dinding putih bersih, saya merasa ia nanggung. Tidak dibikin raksasa sekalian. Kurang gahar.

Sebentar kemudian, saya sadar—cukup dengan ukuran 2 x 3 meter, lukisan yang belakangan saya ketahui berjudul Sura Dira Jayaningrat Lebur Dining Pangastuti sudah mampu menyihir.

Komposisi blok warna hitam-merah-krem kulit membikin saya ragu untuk maju. Ada ketakutan yang menahan, tetapi toh akhirnya saya beringsut. Di situ, saya menyaksikan garis-garis yang ditarik tanpa takut, cipratan rupa darah yang tampak acak tapi sesungguhnya ditata oleh insting yang tepat.

Teks lantai yang memiuh dan bertebaran. (Foto: Dok. EDSU House)

Saya berbalik badan, kembali ke bangku panjang, dan menyawang ke arah sebaliknya. Barulah saya sadar—ada teks. Bukan teks dinding, tetapi teks lantai. Tulisan dwibahasa berisi kalimat yang merangkum sebagai “selamat menikmati” dan definisi-definisi Rah/Rudira itu sendiri. Rah itu roh, yang halus; dan Rudira itu darah beserta segala yang tampak mengisi tubuh. Selain posisinya yang nyentrik, tata letaknya juga eksperimental.

Di baris-baris terakhir, tiap hurufnya meluruh. Buyar. Hmm… Metafora piuhnya makna yang disusun kata-kata, kah? Begitu saya sempat terpikir. Namun, saya segera singkirkan.

Yang terpenting justru kalimat “Tidak ada yang memaksamu untuk mengerti.”

Itu dia.

Penyingkiran teks, yang sejak awal saya endus kecenderungannya, ternyata memang nawaitu. Teks, yang dalam pameran seni rupa sering berperan macam tukang cukur yang memaksa leher pelanggannya meneleng kiri-kanan semau mereka, benar-benar disingkirkan sejak dalam kerangka kuratorial pameran Rah/Rudira.

Pameran ini bukan corong, tetapi ruang bagi pengunjungnya untuk mengenali sensasi yang sangat, sangat personal. Sehingga siapapun bisa merasakan apapun.

Itu niatnya.

Apakah niat itu berhasil? Niat yang—belakangan saya baca dalam buklet—berusaha menyajikan tubuh bukan sebagai barang pameran, tetapi sebagai wadak berisi daya, cerita, luka. Berhasilkah?

Instalasi Solitary Cell (Gypsum Polymer and Iron) karya Henryette Louise berupa gypsum gandulan yang ditancapkan pada sederet kail seperti di pasar daging. (Foto: Dok. EDSU House)

Merasakan Tubuh Tanpa Kata-Kata

Saya, dengan segala hormat, berusaha tidak peduli dahulu pada definisi Rah/Rudira di teks lantai. Bukankah itu yang diinginkan kurator? Bukankah mengabulkan keinginan orang bukanlah kelakuan yang buruk-buruk amat?

Maka, saya melangkah. Dan, seperti yang tersurat di teks lantai, “tubuhmu akan tahu di mana harus berhenti,” tubuh saya memang berhenti. Lama sekali. Di ruang yang bukan kubus putih, saya terpasung di ruang kotak hitam (black box) EDSU House.

Kita mesti melewati lorong, menjumpai cermin macam di Istana Boneka Dufan, lalu belok kiri, masuk ke ruang gelap. Benar-benar gelap. Sampai saya balik lagi bertanya ke pemandu galeri, “Mbak, itu gelap blas, nggak kelihatan apa-apa.”

“Benar, Mas,” katanya, lalu berjalan mendahului saya, masuk tanpa ragu. Sekilas, tangan kirinya menyibak gelap yang… tadaaa. Ternyata ada ruang pamer di situ. Black box. Yang tadi ia singkap ternyata tirai tebal. Di baliknya, karya-karya ngejreng yang belakangan saya ketahui berjudul Sungsang.

Saya terdiam lama di hadapannya. Horor darah, bentuk yang janggal, komposisi kontras antara plasenta realis dan cat minyak segaya dengan lukisan-lukisan Ayurika di ruang sebelumnya. Semua itu seperti setan di film yang tak pernah dijumpai di dunia nyata, tetapi tetap bisa bikin pemirsanya bergidik.

Karya Sungsang oleh Ayurika di Pameran Rah/Rudira. (Foto: Dok. EDSU House)

Baru kali ini saya tahu, plasenta bukan hanya tali pusar—ia sebongkah darah, daging berbentuk otak. Bahwa memang benar dunia demikian luas dan kita baru mengetahuinya barang sesenti, tubuh kita tetap lebih misterius. Seketika, saya meraba dada, pinggul, selangkangan, kepala, lalu bertanya-tanya, Apa lagi yang kausembunyikan?

Ruang itu, Kawan, gelap se-gelap-gelapnya. Pencahayaan hanya menyorot pada karya. Selain Sungsang, ada beberapa karya putih. Kapur? Benar. Gypsum, lebih tepatnya.

“Meminjam Mata Ibu, ini karya Louise, tentang ingatannya, tentang ibunya, tentang saat sanggar digerebek gerombolan…” lalu saya berhenti mendengarkan Christine, sang kurator. Saat itu, saya hanya curi dengar, dan ia berbicara begitu pelan seperti takut merusak hening.

Kotak hitam itu, ah. Sepertinya baru kali ini saya merasakan pengalaman ruang seperti ini. Setelah mblereng di tengah putih, saya tenggelam dalam hitam. Ruang itu benar-benar serasa kita masuk tubuh, berjumpa organ, darah, dan kenangan.

Karya Meminjam Mata Ibu oleh Henryette  Louise di Pameran Rah/Rudira. (Foto: Dok. EDSU House)

Karya gypsum Louise, setelah saya lihat lebih jeli, ternyata adalah drawing yang digurat halus. Samar, terpiuh, di atas gypsum yang—kata Christine (kali ini khusus pada saya)—adalah masa kecil Louise. “Dia besar di sekitar tambang kapur,” katanya. Drawingdrawing itu terpatri pada panel gypsum yang ditumpuk: instalasi putih yang menyala lembut di tengah gelap.

Saya kembali lagi ke Sungsang, berdiri di hadapan kain-kain hitam-jingga-putih-merah. Mengamati betapa kelamnya tangan Ayurika mampu menyerap segala yang mentah dari rah dan rudira, lalu menghempaskannya ke dalam kanvas. Kemudian saya menoleh ke guratan pena Louise—halus, cermat. Ia menangkap rah dan rudira yang tak berwadak, tetapi tetap ada.

Di ruang gelap itu, saya menyadari: seniman adalah mereka yang halus budinya, halus pula tuangannya. Mereka menjembatani dunia tak-tampak, menampakkannya kepada kita. Orang bilang yang tak-tampak itu dedemit, segala yang bukan-manusia. Namun, di Rah/Rudira, di black box EDSU, saya sadar—yang tak-tampak bukan ada di luar jangkauan, justru ia bersemayam di dalam. Di dalam tubuh.

Menjangkau kedalaman, menemukan yang lemah lembut, menjumpai betapa manusia mampu berbuat kekerasan—di situ kita butuh melambat. Butuh diam sejenak. Sebab tidak semua dari kita punya sejarah kerja keras yang panjang untuk menembus kedalaman—singkatnya, tidak semua dari kita adalah seniman. Karya seni membantu kita merasai sensasi yang lahir dari kedalaman tubuh itu.

Detail dari karya Meminjam Mata Ibu oleh Louise di Pameran Rah/Rudira. (Foto: Dok. EDSU House)

Saya melamun—tidak, saya masuk ke kedalaman. Merasakan tubuh saya dikuras tuntas, jadi gerowong macam black box sebelum tirai disingkap penjaga pameran. Saya tidak tahu apa-apa, tetapi saya gemetar di hadapan Sungsang dan gypsum-gypsum Meminjam Mata Ibu.

Gemetar, teringat bahwa ingatan mudah piuh, tubuh hanyalah darah-daging yang mudah koyak. Manusia, sesuatu yang rapuh. Serapuh gypsum Louise pada instalasi gandulan di sederet kail daging pasar, cetak-tubuhnya sendiri saat melukis.

Perasaan rapuh itulah yang terus menghuni kepala saya, menyingkirkan segala niat, pikiran, bahkan ketakutan gagal menulis ulasan.