Manusia adalah makhluk yang senang bercerita, mengungkapkan kisah hidupnya melalui beragam medium sejak zaman prasejarah hingga kini. Jauh sebelum ditemukannya tulisan, manusia sudah menceritakan kisah dirinya melalui gambar di goa-goa. Dinding goa Leang-leang di Maros, Sulawesi Selatan misalnya, menjadi kanvas bagi manusia purba untuk menyampaikan narasi tentang kehidupan mereka, memperlihatkan petualangan, kehidupan sehari-hari, dan keyakinan spiritual mereka. Kemudian setelah ditemukannya tulisan, manusia mulai menceritakan kisah hidupnya melalui berbagai bentuk narasi yang lebih rinci dan kompleks. Seperti buku, surat, dan naskah.
Maka dari itu, seni dan literasi adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari satu sama lain. Perkembangan seni dan literasi berjalan selaras dan beriringan. Seperti halnya para penulis buku yang bekerja sama dengan para seniman untuk kover bukunya, begitu juga sebaliknya seniman yang menggunakan literasi untuk menjelaskan karyanya.
Pada kegiatan Jogja Art + Book Fest terdapat beberapa rangkaian acara yang diadakan dalam festival ini. Di antaranya adalah bazar buku, pameran seni rupa, gelar wicara dengan seniman dan penulis, performance lecture, diskusi buku, dan acara musik bertajuk The Sounds of Poetry. Dengan demikian, festival ini tidak hanya mempromosikan karya-karya seni dan tulisan, tetapi juga mengukuhkan hubungan erat antara seni dan literasi dalam memperkaya budaya dan ekspresi manusia.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Dodo Hartoko ini, menyajikan gambaran bagaimana literasi dan seni dapat membaur secara harmonis. Literasi yang merupakan kecakapan manusia dalam mengolah informasi, berpadukan dengan seni memberikan dimensi emosional dan kreatif. Kegiatan Jogja Art + Book Fest mengukuhkan hubungan erat antara literasi dan seni, di mana keduanya saling berjalan melengkapi satu sama lain. Menciptakan kesinambungan yang harmonis dalam cerita manusia yang beragam dan kompleks.
Literasi + Mooi Indie
“Literasi dan seni di Yogyakarta adalah satu bagian yang tak terpisahkan. Tumbuh bersama saling menghidupi satu sama lain.” Begitulah bunyi teks kuratorial yang dipajang di depan jendela ruang pamer dari acara yang digelar di The Ratan pada 1 s.d 14 Mei 2024 ini.
Mooi Indie adalah suatu aliran seni lukis yang menggambarkan tentang keindahan nusantara di masa penjajahan Hindia-Belanda. Kata mooi sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘cantik’. Karya-karya mooi indie sendiri biasanya menggambarkan pemandangan alam yang indah seperti pegunungan yang menjulang, sawah yang subur, dan sungai yang jernih. Sangat berbeda dengan karya-karya seni yang ditampilkan di pameran ini. Keindahan bertemakan mooi indie digambarkan dengan wujud yang lain, di mana pemaknaan keindahan bergeser seiring perkembangan zaman.
Saya berkunjung pada hari pertama pembukaan kegiatan Jogja Art Book Fest. Setelah pembukaan dan peresmian acara, para pengunjung mendapat kesempatan untuk berbincang santai dengan para seniman di ruang pamer.

Begitu memasuki ruang pamer, saya langsung disambut dengan karya Eko Nugroho berjudul “We Still Party”. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah tekstur yang terdapat dalam lukisannya. Berbeda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan cat pada kanvas, Eko Nugroho melukis menggunakan benang yang disulam pada media kanvas, atau istilah lainnya adalah embroidery painting.
Berbeda dengan pemaknaan mooi indie yang menggambarkan pemandangan indah nan menenangkan, lukisan ini justru memberikan kesan berantakan, rusuh, dan membingungkan. Lukisan ini menggambarkan tokoh-tokoh surealis, badan yang menggunakan jas hitam, namun dengan kepala yang diganti menjadi bentuk-bentuk abstrak dan kepala yang digambarkan tanpa badan yang menggunakan balaclava bermotif meriah dengan aksesoris seperti sayap dan mahkota api. Di belakang tokoh-tokoh ini sebuah lanskap suasana yang keos dan ricuh: ledakan gunung berapi dan pembakaran hutan. Seperti istilah “everything, everywhere, all at once”, membuat para pengunjung kebingungan tentang titik fokus dalam lukisan ini. Sehingga kebanyakan pengunjung yang datang hanya berfokus pada teknik “embroidery painting” dan bukan pada makna di balik karya itu sendiri.
Perbincangan antara Eko Nugroho dan para pengunjung berfokus pada teknik embroidery yang digunakan. Ia menceritakan bahwa karya ini digarap oleh artisan yang dulunya adalah tukang bordir manual, lalu bangkrut karena maraknya bordir komputer, dan berubah profesi menjadi artisan karya lukisnya. Ia menjelaskan bahwa karya ini selesai dalam kurun waktu empat bulan, hanya dikerjakan hanya oleh satu orang. Selain itu, Eko juga mengungkapkan bahwa karya-karyanya yang lain dikerjakan oleh satu keluarga yang menurunkan keterampilan bordir manual. Eko menyoroti keunikan bordir manual yang mampu menampilkan lukisannya dengan warna-warna yang beragam dan motif-motif yang tidak dapat dikerjakan oleh mesin. Seperti pola cipratan-cipratan cat dan gradasi yang terdapat pada langit merah pada latar belakang gunung berapi.

Berpindah ke sebelah kiri ruangan, terdapat lukisan cat air dari Eunike Nugroho. Berbeda dengan lukisan sebelumnya yang terkesan ricuh dan membingungkan. Karya Eunike Nugroho memberikan kesan rapi, indah, dan menyenangkan. Tumbuhan-tumbuhan yang dilukis dengan warna-warna lembut dan alami membuat lukisannya berbentuk seperti foto ketimbang lukisan.
Karya-karya Eunike Nugroho yang dipamerkan bertema tumbuhan-tumbuhan asli Indonesia. Dari perbincangan antara Eunike dan para pengunjung, Eunike menjelaskan bahwa aliran seni yang ditekuninya adalah aliran seni botani. Dalam seni botani, tumbuhan digambarkan secara akurat dan mendetail seperti tumbuhan aslinya. Ilustrasi yang digambarkan dalam seni botani bertujuan untuk kebutuhan pengetahuan, berpatokan pada akurasi informasi yang disampaikan. Eunike juga mengutarakan keresahannya atas kurangnya minat orang Indonesia tentang ragam flora Indonesia. Seperti seringnya terjadi kekeliruan antara bunga bangkai dan bunga raflesia. Pada karyanya terdapat bagian-bagian bunga seperti putik dan benang sari yang digambarkan secara mendetail, dari berbagai sisi, samping, atas, dan bawah. Judul dari karya-karya pamerannya merupakan istilah simbolis yang menggambarkan tanaman-tanaman tersebut, disertai dengan keterangan nama latin dari bunga-bunga tersebut, seperti Gracefull Allure (Amorphopallus pendulus), The TITAN (Amorphopallus titanium), dan Green Coin (Hoya katsbergii).

Bergeser sedikit, saya disambut dengan karya Theresia Agustina yang berjudul “Alam, Memori, dan Doa”. Karya ini terdiri dari 5 panel menggunakan teknik drypoint yang dicetak di atas kertas pisang. Semua karya-karya ini disertai dengan puisi berisikan doa dan harapan di bagian bawahnya. Dari percakapan, Theresia bercerita bahwa karya-karya ini diambil dari kenangan masa kecilnya. Misalnya, panel pertama menampilkan pemandangan indah yang ia nikmati setiap pagi di lereng gunung Weliran sebelum berangkat sekolah. Lalu panel ketiga yang menggambarkan peristiwa kebakaran hutan di dekat rumahnya,
Satu hari, dua hari, tiga hari terlewati.
Menunggu sang Bapak pulang tanpa luka bakar.
Bagaimana sosok sang bapak pergi ke dalam hutan dan Theresia hanya bisa menunggu di rumah dan berharap sang bapak pulang dengan selamat. Kemudian panel keempat menggambarkan para penambang sulfur yang ia saksikan pulang dengan sandal ban dan gigi yang rusak akibat bahan kimia beracun. Sementara pada panel terakhir, Theresia merekam kenangan tentang penangkaran rusa di halaman rumahnya yang kini sudah terganti dengan bangunan-bagunan beton. Pada panel kedua terdapat tulisan “Mamak, muliate godang”, yaitu sebuah ungkapan dari bahasa Batak yang artinya “Ibu, terima kasih banyak”, sebagai penghormatan dan simbol rasa syukurnya pada mendiang ibunya. Semua karya Theresia terkesan personal dan menyayat hati, membuat para pengunjung seolah dapat mengerti perasaan kerinduannya pada kenangan-kenangan masa lalunya.
Seperti bunga edelweiss kenangan ini terbangun, abadi.

Di tengah ruangan terdapat karya lukis karya Yunizar. Berbeda dengan lukisan-lukisan sebelumnya, lukisan ini terlihat seperti oret-oretan anak kecil. Karya ini mencolok di tengah ruangan, selain karena warnanya yang hitam-putih, juga karena banyaknya objek yang terlukis di dalamnya. Seperti objek sepeda, kipas angin, ikan, ayam, dan mobil. Saya teringat dengan pepatah yang berbunyi “beberapa manusia dapat mengekspresikan dirinya melalui tulisan, beberapa melalui gambar”. Pepatah ini mencerminkan keberagaman cara manusia dalam menyampaikan ide, perasaan, dan pengalaman mereka. Beberapa individu menemukan kekuatan ekspresi mereka melalui kata-kata, mampu mengurai kompleksitas pikiran dan emosi dengan tulisan.
Di sisi lain, ada juga yang lebih nyaman dan efektif dalam menyampaikan diri mereka melalui gambar, membiarkan kreativitas visual mereka menjadi cerminan dari apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Hal ini tercermin ketika saya melihat karya Yunizar. Ia mengekspresikan dirinya melalui gambaran-gambaran yang hanya dia yang dapat memahami maksudnya secara utuh. Sementara orang lain hanya dapat menerka-nerka pesan dan maksud yang tersirat dalam karya-karyanya.

Sebelah kanan dinding pamer terdapat lukisan karya Erizal AS yang berjudul “Nature of Harau Valley”. Menurut saya, karya inilah yang paling mendekati deskripsi karya mooi indie klasik. Lukisan ini menggambarkan pemandangan Lembah Harau di Sumatera Barat, lahan yang hijau diapit dengan tebing terjal, sementara langit biru cerah menghiasi latar belakangnya. Namun berbeda dengan lukisan mooi indie pada umumnya, lukisan ini menggunakan teknik impasto, menunjukan keindahan alam dan batuannya dengan menggunakan tekstur yang timbul. Meskipun terlihat biasa dalam foto, lukisan ini mengesankan ketika dilihat secara langsung. Permainan tekstur dalam lukisan ini menghadirkan dimensi baru pada pengalaman visual, menghadirkan sensasi nyata dari keberadaan alam yang digambarnya.
Pasca Mooi Indie
Mooi Indie yang dulunya merupakan romantisasi kolonial dalam memandang keindahan alam Indonesia, kini dianggap sudah tidak relevan lagi. Tergantikan dengan konsep mooi yang terdapat pada seni-seni modern. Mooi yang dulunya adalah cara pandang kolonial dalam melihat keindahan Indonesia, kini bergeser menjadi representasi yang lebih inklusif tentang keberagaman budaya-budaya lokal. Keberagaman membentuk dinamika yang menarik, memungkinkan setiap orang untuk menemukan keindahan dalam cara yang unik dan personal.
Perubahan konsep tentang keindahan dalam seni tidak hanya tercermin dalam evolusi lukisan, tetapi juga dalam cara kita mengapresiasi dan memahami karya seni. Seiring dengan perkembangan zaman, konsep tentang keindahan terus mengalami evolusi. Pandangan manusia tentang estetika terus berubah seiring dengan berjalannya waktu. Keindahan tidak lagi terikat pada standar yang kaku, tetapi lebih subjektif dan dinamis, mencerminkan keberagaman pengalaman dan perspektif manusia. Apa yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang indah, mungkin kini dianggap hanya sebagai hal yang biasa. Di sisi lain, genre lukisan yang sebelumnya dianggap kurang menarik justru kini mendapatkan perhatian yang lebih besar.
“Sekali lagi, saya hanya ingin memotret apa yang terjadi hari ini dengan segala persoalannya. Dan itulah Mooi Indie saya”, tutur Eko Nugroho pada banner yang dipajang pada bagian depan ruang pamer. Inilah yang agaknya disebut sebagai melampaui mooi indie, atau pasca mooi indie. Mengapropruasi mooi indie yang lampau, kolonial dan usang, menjadi mooi indie yang bebas makna dan kontekstual.
Perubahan konsep Mooi Indie yang ditampilkan, menjadi bukti evolusi dalam seni yang tercermin dalam Jogja Art + Book Fest 2024. Konsep keindahan yang mengalami pergeseran, mencerminkan keberagaman pengalaman dan perspektif manusia. Dalam konteks ini, lukisan tidak hanya menjadi medium untuk menggambarkan keindahan alam, tetapi juga untuk mengekspresikan keberagaman budaya dan pengalaman manusia secara lebih luas. Perpaduan literasi dan seni di acara ini tergambarkan dengan harmonis, membentuk narasi kompleks yang memperkaya pengalaman para pengunjung.
Dengan demikian, Jogja Art + Book Fest 2024 bukan hanya menjadi ajang pameran seni, tetapi juga menjadi sebuah perayaan atas evolusi konsep keindahan dan kesatuan antara literasi dan seni. (*)