Siapakah anak-anak? Kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Sampai semuanya terlambat, sampai anak-anak berhenti jadi anak-anak. Mendewasa, bercinta, bekarya, lalu beristirahat dengan damai. Mereka diletakkan sebagai yang-mistik, tidak terjangkau, tidak terpahami. Memiliki posisi dan jarak yang aneh dengan manusia dewasa. Anak-anak diminta memahami dunia sebagaimana manusia dewasa memandangnya. Ini yang Onar Bermano coba tawarkan, paling tidak bagi saya, perspektif tentang dunia anak, yang seringkali terabaikan dan dianggap sepele, melalui pameran tunggal keduanya.
Kamis itu (16/02) mendung, saat sore-sore, di Selatan Jogja. Persisnya di Indieart House, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Di sinilah berlangsungnya presentasi lukisan dan instalasi Onar Bermano selama 11 hari (16 – 27 Februari 2023). Saya dan cukup banyak pengunjung lain datang di pembukaan eksibisi itu yang bertajuk “ARSLAN”, diambil dari nama anak Onar. Pameran itu dibuka dengan sambutan-sambutan dari I Nyoman Darya (owner Indieart House), lalu berlanjut ke Onar, dan Eri Kuncoro (Co-Founder Botika). Ketika pita dipotong, oleh Onar dan Eri, saat itulah eksibisi resmi dibuka untuk publik.

Kami, para pengunjung, menaiki tangga untuk masuk ruangan pameran, kemudian diminta mengisi semacam buku tanda hadir. Jika sudah mengisi, kami diperbolehkan mengambil katalog eksibisi. Belok kanan, naik tangga lagi sedikit, kami akan benar-benar masuk ke ruangan di mana lukisan dan instalasi berada. Karena ruangannya berbentuk kurang-lebih persegi, ketika masuk kita bisa langsung melihat semua karya yang dipamerkan.
Dinding-dinding bercat putih di ruang eksibisi Indieart House terserang suasana yang timbul dari lukisan dan instalasi Onar: warna-warni yang berani, kelenturan objek-objek geometris, dan keleluasaan pembentukan objeknya seperti keluar-keluar bingkai imajiner dalam lukisannya. Kami atau setidaknya saya sebagai pengunjung, seperti digandeng objek-objek sureal dalam lukisan itu, bersama-sama menggeser realitas. Ruang pameran seketika menjelma kotak bermain, yang di dalamnya kita kembali ke bertahun-tahun lalu, ketika kita masih kanak-kanak.
Dunia Anak
Memasuki ruang pameran, pengunjung dibebaskan berpetualang dari satu lukisan ke lukisan yang lain, atau dari instalasi yang di tengah itu ke lukisan-lukisan kecil di pojok. Tidak ada alur pengunjung eksibisi yang dibekukan. Perhatian saya tertuju pada satu lukisan di dinding sebelah kiri dari tangga masuk ruangan. Lukisan itu bernama “Sore di Teras Rumah” (2023), berukuran 150 × 150 cm. Lukisan itu mengilustrasikan objek yang sederhana, dua orang dewasa di teras rumah, saling bercakap tentang burung yang terbang di sebelah kiri, sambil merokok dan menyantap minuman dalam cangkir. Di sekelilingnya terdapat mainan-mainan anak dan aksen-aksen khusus, seperti simbol-simbol kartu remi. Hampir semua objek itu dihadirkan dalam susunan geometris yang acak dan tumpang-tindih (secara bentuk dan warna). Seperti realitas keseharian sedang diterjemahkan pada dunia lain yang disebut sebagai dunia anak. Saya bertanya kepada diri saya, inikah bagaimana anak-anak melihat dunia bekerja?

Dalam satu kesempatan, di sela pelukan dan ucapan selamat untuk Onar, saya mewawancarainya, tentang gagasan bentuk penciptaannya. Dia bilang, “Ini jiwa kanak-kanakku yang terpenjara, dan belum (sempat) keluar.” Kalau sekarang, istilahnya inner child. Mainan-mainan anak dan pengalaman-pengalaman yang ia lalui bersama Arslan, memicu jiwa kanak-kanaknya mendobrak ke luar. Ia melukis dengan jiwa kanak-kanak yang baru saja terbebaskan itu. Sehingga menghasilkan kesan-kesan personal dan intim dari karya-karya yang dihasilkan.
Arham Rahman, penulis eksibisi ini, juga memikirkan hal yang serupa, bahwa keintiman ini sulit dielak (dan tidak perlu), sebab Onar memang beranjak dari pemaknaan ulang atas apa yang dia lihat pada Arslan: interaksi mereka, aktivitas bermain, dan benda-benda di sekeliling Arslan. “Kebanyakan karya yang dipamerkan di sini adalah pengharapan untuk Arslan,” kata Onar. Memuat pesan-pesan untuk Arslan, dari ayahnya, untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Anak, Sesuatu yang Pelik
Yang personal ini kemudian menjadi yang sosial, ketika kita melihatnya sebagai karya yang membatalkan persepsi-persepsi manusia dewasa yang jamak ditekankan pada anak-anak. Sebagai seseorang yang belum lama jadi manusia dewasa, kurang-lebih saya bisa memahami bagaimana anak-anak dipandang oleh manusia dewasa. Beberapa orang tua (manusia dewasa yang punya dan atau merawat anak-anak) sering merasa anak-anak itu bodoh, belum tahu apa-apa, tidak penting pendapatnya. Pandangan anak-anak seringkali diremehkan dan didisiplinkan dengan pandangan baku milik manusia dewasa. Seolah-olah dunia hanya bergerak dengan satu sistem saja, yaitu sistem manusia dewasa. Anak-anak tidak punya ruang berekspresi yang jelas.

Melalui instalasinya, Onar ingin berkata demikian. Instalasi itu susunan objek-objek tiga dimensi dengan bentuk, warna, dan motif yang berbeda-beda. Semakin atas, semakin kecil. Paling atas, ada payung yang menancap. Ia juga dikelilingi kubus-kubus dengan bentuk, warna, dan motif yang juga berbeda-beda. Instalasi bertajuk Ruang Episode ini, saya pikir, merupakan fragmen-fragmen kenangan dari tahapan kehidupan seorang anak yang Onar coba lindungi. Anak-anak (meminjam istilah Onar) punya episode hidupnya sendiri. Yang bisa ia pilih sendiri, dan orang tua hanya perlu memfasilitasinya. Kekanak-kanakan (dalam arti positif) mesti dijaga, bukan malah dihancur-leburkan dengan rasionalitas banal manusia-manusia dewasa.
Dalam lukisan Onar, kita juga bisa lihat kecenderungan itu terang-terang. Di antara bentuk-bentuk geometris yang acak, warna-warni yang berani, dan kesan-kesan kebebasan dan keleluasaan ruang, kita bisa melacak kehampaan di balik mata-mata yang gelap. Misalnya, dalam Kenangan yang Tak Pernah Padam (2023). Setiap karakter di lukisan itu memiliki mata berwarna hitam pekat. Badannya besar-besar, tubuh warna-warni, tetapi matanya hitam. Seperti membendung kemarahan, kehampaan, dan dendam. Seperti yang Onar jelaskan tadi sebagai jiwa kanak-kanak yang terpenjara sejak lama.
Mata hitam itu membagikan horizon yang lebar tentang kejiwaan anak-anak, bahwa dibalik keceriaan yang disematkan kepadanya, anak-anak juga punya kejiwaan yang sama rumit dan peliknya persis manusia dewasa. Mata-mata hitam di lukisan Onar mungkin kritik, mungkin juga tidak. Namun sulit disangkal, mata itu bisa menyedot kita pada kekelaman masa kanak-kanak yang kita tutup-tutupi dan anggap tidak penting. Memindahkan kita sekejap ke sebuah kotak kecil dalam jiwa kita yang menyimpan arsip-arsip kemarahan dan trauma masa kanak-kanak yang, secara sadar atau tidak, mempengaruhi kita dalam melakoni hidup sebagai manusia dewasa hingga kini.
Setelah mengalami eksibisi Onar, saya malah tambah bertanya-tanya dalam batin. Siapakah anak-anak, sebenarnya? Dan bagaimana mereka memahami sekaligus menjadi bagian dari kenyataan dunia? Pertanyaan ini menjelma gema panjang dalam kepala saya yang menutup hari Kamis yang mendung itu.
Pameran semakin ramai didatangi pengunjung. Saya berdiri di depan pintu ruang pameran, sambil menyantap bolu kukus berwarna pink dan segelas teh manis hangat yang memang disediakan untuk pengunjung pembukaan eksibisi. Senja yang mendung itu akhirnya pecah, hujan jatuh di Bantul. Orang-orang berlarian berteduh ke ruang pameran. Di depan, anak-anak mandi air hujan, ketawa ngakak bersama-sama. (*)