Ketika menyaksikan seremoni pembukaan pameran karya-karya pelukis Zaini, Menyibak Kabut, di lorong antara Galeri Cipta I dan II, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, saya teringat obituarium yang ditulis Goenawan Mohamad dan disiarkan pada Catatan Pinggir Majalah Tempo, 1 Oktober 1977. “Zaini meninggal. Negeri ini tak akan berkabung untuk seorang pelukis yang mati,” kata Goenawan membuka obituarium tersebut.
Pembukaan pameran Zaini yang diselenggarakan Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta pada Sabtu, 20 Juni 2026, jauh dari kata meriah–jauh dari hiruk-pikuk peristiwa seni rupa di Yogyakarta pada waktu yang sama. Tidak terlalu ramai. Sederhana saja. Sedikit pengantar dari perwakilan Dewan Kesenian Jakarta dan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, beberapa patah kata dari Ibrahim Soetomo selaku kurator, dan dibuka oleh Maya Sujatmiko sebagai Ketua Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia. Dan di antara pengunjung hadir keluarga Zaini.
Saya membayangkan suasana seperti ini mungkin gambaran seorang Zaini ketika aktif di lapangan kesenian. Ia tidak termasyhur bagi khalayak ramai, kata Goenawan. Ia tak dimuat dalam lembaran gosip atau dibisik-bisikkan berkenaan dengan perangainya yang luar biasa, atau percintaannya dengan seorang wanita, atau pendapatnya yang mengagetkan tentang seni, seks, atau politik. Sebab-sebab ini, mungkin, membuat Goenawan mengatakan “negeri ini” atau mungkin orang-orangnya tak akan berkabung untuk Zaini–setengah abad kemudian kita tahu dari Bambang Budjono bahwa Goenawan dalam karya lukisnya ikut terpengaruh garis-garis Zaini.
Di kalangan koleganya, Zaini memang dikenal sebagai sosok optimis dan gigih memperjuangkan kehidupan di lapangan kesenian serta kebudayaan pada umumnya. Dengan kesenian, ia ingin setiap manusia menemukan kebahagiaan spiritual yang lebih tinggi dan melalui medium seni lukis ia meletakkan pengabdiannya. Zaini, menurut Ajip Rosidi (Kompas, 29 September 1977), merupakan sosok istimewa. Tidak hanya terkait dengan karya lukisnya, melainkan juga dengan bagaimana ia mengorganisasi sesuatu, terutama pameran-pameran seni rupa. Sifatnya terbuka, suka humor, dan ia dapat mendekati dan diterima oleh semua kalangan pelukis Indonesia, baik tua maupun muda.
Sejak ia masuk menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1970), bahkan sejak Taman lembaga itu mulai berdiri (1968), Zaini dikenal sebagai orang di belakang layar pameran-pameran seni rupa yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki. “…yang nonstop dari minggu ke minggu. Setiap bulan ada dua pameran yang disponsori Dewan Kesenian Jakarta. Dan semua itu adalah hasil pekerjaannya,” kata Ajip.
Dari beberapa tulisan Zaini di beberapa terbitan—kita juga tahu—ia bersikukuh mengatakan bahwa negara ini (termasuk Jakarta sebagai kota metropolitan) sudah seharusnya memiliki sebuah “Museum Seni Rupa Nasional”. Museum, dalam rangka mengumpulkan karya-karya seni rupa terbaik, sebagai kekayaan nasional Indonesia. Museum dianggap sebagai tempat pengenalan segi-segi kehidupan yang diungkapkan oleh para seniman dalam rangka memperdalam rasa keindahan atau artistik, dan memperkaya kerohanian masyarakat.

Zaini dan Jakarta
Zaini meninggal tahun 1977, jauh sebelum saya lahir. Namun, lukisan dan catatan tentang dirinya kerap saya lihat dan baca melalui arsip. Kadang, pertemuan dengan lukisan Zaini tidak terduga, semisal ketika saya sedang mengerjakan sesuatu di rumah seorang seniman dan lukisan Zaini kedapatan tersuruk di antara koleksi lukisan lain. Di lain waktu, saya berserobok kulit atau ilustrasi buku yang digambar Zaini. Mungkin karena jarak begitu jauh dengan sosok dan karyanya, kisah-kisah dalam catatan orang-orang mengenai pelukis kelahiran Kuraitaji itu begitu bermakna bagi saya.
Salah satu catatan tentang kepribadian Zaini yang berkesan pada saya adalah esai Arief Budiman berjudul “Jakarta Kota Kebudayaan” (Kompas, 3 Mei 1968). Arief memulai esai tersebut melalui cerita pertemuannya dengan Zaini, guru melukisnya ketika baru masuk SMP (tahun 1956). Bagi Arief, Zaini adalah bagian dari representasi Jakarta yang pada waktu itu sedang berupaya menjadi kota kebudayaan. Ketika semangat membangun ruang-ruang seni begitu bergelora, semangat untuk menjadikan Jakarta sebagai etalase kebudayaan Indonesia begitu membumbung, ada manusia-manusia sederhana yang membangun ibu kota melalui kerja seni menyeluruh. Zaini adalah salah satu manusia itu.
Sering kali sehabis latihan melukis di Balai Budaya, kata Arief, ia dibonceng pulang oleh Zaini naik sepeda. Kadang-kadang, ketika melewati Lapangan Merdeka sore hari, mereka berhenti untuk menonton pertandingan gratis karena yang sedang bermain adalah klub-klub kelas murahan. “Pelukis besar di samping saya ini cuma bersepeda dan cuma mampu menonton pertandingan bola dari kelas murahan,” tulis Arief. Padahal, lukisan-lukisan Zaini santer dibicarakan dalam artikel-artikel dalam majalah kebudayaan representatif periode itu. Arief membayangkan Picasso yang diserbu wartawan setelah ia ternama, tapi Zaini tidak—jauh dari serbuan wartawan.

“…adakah orang-orang membayangkan bahwa di suatu tempat terpencil seperti ini, di suatu sudut Kota Jakarta pada waktu pagi buta, ada orang-orang yang sedang berdebat tentang Vincent van Gogh, Paul Klee, dan seniman dunia lain. Sementara itu, suara dalang acara wayang golek semalam suntuk berkumandang di sela-sela gubuk bambu yang rapat berdempet-dempetan,” kenang Arief.
Seni lukis bagi Zaini, tulis Ajip Rosidi dalam kata pengantar pameran tunggal Zaini tahun 1976, memang adalah dunianya. Yang penting bagi Zaini adalah melukis, kemudian seni lukis. Yang lain-lain, gampanglah. Sikap ini dipandang membuatnya tetap kreatif selama kurang lebih 30 tahun.
Lukisan-Lukisan yang Berulang
Saya masuk ke ruangan pameran Menyibak Kabut bersama pengunjung lain setelah seremoni pembukaan selesai. Niat saya menengok beberapa lukisan Zaini terkait pengulangan subjek yang dilakukan pelukis periode tersebut, sebagaimana sering dibicarakan orang-orang—periode itu digunakan kata “objek” untuk tangkapan di dalam lukisan. Sebagaimana Zaini juga kerap melukis tentang perahu, udang, danau, kambing, pemandangan, dll. Saya ingin melihat itu. Memang, setiap kali saya menemukan lukisan Zaini, tentang “perahu” misalnya, saya menemukan “perahu” yang berbeda.

Terkait pengulangan subjek, memang kemudian di dalam ruangan pameran Menyibak Kabut saya menemukan “perahu” atau “udang” lain dari yang pernah saya lihat—suatu ketika saya menemukan beberapa lukisan “perahu” dan “udang” berbeda lagi yang disimpan di rumah salah seorang maestro musik di Jakarta. Pelukis Nashar pernah menuliskan soal pengulangan ini dalam “Surat Kedua” di Surat-Surat Malam (Budaya Jaya, Oktober 1976). Melalui surat itu, ia berupaya menjawab sastrawan Gerson Poyk yang mempertanyakan mengapa pelukis bolak-balik melukis perahu-perahu atau gunung-gunung lagi dan kenapa menyempitkan diri dengan objek-objek itu juga.
Nashar dalam suratnya menegaskan bahwa jika ada pelukis yang mengulang-ulang melukis objek yang sama, ada kemungkinan dia melihat hakikat hidup di sana dan menggali terus. “Menurut pikiranku, letak persoalannya bukan pada pengulangan objek, tetapi pada pertanyaan: adakah penggaliannya?” tulis Nashar.
Dalam catatan tentang Zaini (Horison, Maret 1983), Nashar kemudian mengutip kembali kalimat dalam Surat-Surat Malam tentang pengulangan objek dan menurutnya Zaini adalah salah satu pelukis yang dimaksud. Nashar pun mengutip jawaban yang pernah dikatakan Zaini soal laku pengulangan tersebut, bahwa semakin sering objek tertentu dilukis, kita makin mesra dengan objek itu. “Dalam kata mesra di sini tersirat sesuatu yang mendalam,” tulis Nashar. Mungkin juga “mesra” ini dimaksudkan untuk “memberi tempat munculnya ucapan hati” sebagaimana dimaksud Zaini dalam sebuah catatan hariannya.
Soal pengulangan “perahu”, Koran Yudha Minggu (14 November 1976) pernah memberikan ulasan mengapa karya Zaini begitu banyak mengetengahkan subjek itu. Menurut ulasan tersebut, hal ini tidak lepas dari tempat kelahirannya di daerah Pariaman yang terletak di pesisir Sumatera Barat. Kesan ini kemudian terhubung dan jadi makin mendalam ketika pelukis Sriyani Hudyonoto memperkenalkan pada Zaini suasana Muara Baru yang terletak di pantai utara Jakarta. Muara Baru menjadi penting karena memang banyak pelukis menghabiskan waktunya di tempat itu untuk berkarya.
Menurut Sriyani, dalam buku Zaini Hasil Karya dan Pengabdiannya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981), lokasi itu bersuasana damai dan masyarakat dapat menerima kehadiran pelukis. Laut terbentang dipagari pulau-pulau; perahu nelayan berlayar dengan lincahnya meniti buih dan ada yang bersandar atau terhempas di pantai. Suasana itulah yang direkam oleh Zaini dalam sketsa atau langsung dikerjakan dengan cat minyak, sehingga lahirlah lukisan perahu dalam berbagai corak dan ragam.
“Sambil melukis, seperti pelukis lainnya, Zaini memperkenalkan karya lukisnya ini pada masyarakat setempat. Meskipun dengan berbagai ekspresi tidak beranjak ke abstrak, masyarakat tempat ini (Bugis) dapat menikmati karya lukis Zaini. Dengan penjelasan seperlunya di sana-sini, masyarakat menjadi tertarik dan memiliki tontonan gratis. Kemudian, berbaurlah para pelukis dan masyarakat di tempat ini yang membuat para pelukis betah untuk berkarya,” kata Sriyani.

“Permukaan air dan kaki langit yang terdapat pada lukisan perahu menjadi abstraksi dalam arti yang sesungguhnya. Imajinasinya mendahului gerak tangannya memainkan kuas, air dan langit berjalin, garis horison yang terhapus dan serentak melihat gerak batin yang berpadu dengan bentuk keseluruhan tak dapat ditembus oleh penglihatan mata yang objektif,” tulis Sam menggambarkan bagaimana Zaini menghadirkan perahu dan objek lain di sekitarnya.
Danau, San Fransisco dan Santa Fe
Selain niat menengok lukisan-lukisan yang sudah saya sebut sebelumnya, ada kesan mendalam ketika saya mulai masuk ke Galeri Cipta I. Perhatian saya dihadang sebuah panel yang tergantung lukisan “Danau” (Cat minyak di atas kanvas, 120 x 90 cm, 1975). Agaknya, lukisan ini pernah saya lihat sebelumnya di pameran berbeda—atau mungkin ketika melihat proses preservasi lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta.
Kesan saya jadi mendalam karena baru saja membaca ulang (lebih dekat) catatan kebudayaan Mochtar Lubis tentang Zaini yang terkait dengan lukisan tentang Danau Toba. Lukisan “Danau” di panel depan itu menghadang saya dengan pertanyaan: mungkinkah lukisan ini salah satu yang dimaksud Mochtar?
Mochtar mengatakan bahwa setiap kali memandang cat air Zaini tentang pemandangan danau Toba, ia teringat Zaini yang mudah tersenyum dan tertawa–meskipun ia mengatakan kumis Zaini terlihat seperti kumis gerilyawan Meksiko melawan tentara Maximilian dan jika memakai topi sombrero maka ia akan mirip wajah orang Meksiko dalam lukisan Diego Rivera. Perasaan halus Zaini, kata Mochtar, juga tergambar melalui lukisan danau tersebut.
“…sapuan kuas meletakkan warna biru di permukaan danau, coretan garis-garis hitam jadi bukit-bukit terjal, dan berhasillah ia menciptakan alam Danau Toba yang penuh misteri dan ketenangan (jika danau sedang tidak dilanda badai),” tulis Mochtar. Kesan ketika melihat lukisan dan membaca catatan tentang lukisan itu memang amat bermakna bagi saya.
Pemosisian lukisan “Danau” di panel depan ini agaknya adalah upaya untuk mendekatkan pengunjung dengan fenomena kabut yang dimaksud oleh pameran ini—istilah yang diambil dari catatan Bambang Budjono. Namun, melalui pemosisian lukisan tersebut, kabut sebagai istilah pengganti untuk wibawa atau pengaruh itu tidak hendak berupaya menyergap atau memperebutkan lagi tatapan pengunjung. Kabut tersebut, yang sengaja disodorkan oleh pameran ini melalui lukisan “Danau”, adalah upaya untuk membuka suasana agar kita dapat menoleh ke kabut-kabut yang menguar dari kanvas-kanvas lukisan Zaini berikutnya.
Tidak seluruh kabut itu akan tampak dalam pameran ini. Dan memang, Bambang Budjono menyebut fenomena itu hanya untuk menggambarkan suasana yang mengudara di ruang dalam sejumlah kanvas Zaini tahun 1975-1976. Sedangkan dalam pameran Menyibak Kabut dihadirkan ragam lukisan cat minyak, cat air, pastel, tinta, hingga monotipe dalam rentang 1948–1977.

“Hal ini mungkin terjadi karena kegelisahannya; ia ingin mencari yang baru. Akibat dari kegelisahan itu, ia merasa dirinya masih mempunyai api, baik api melukis maupun api untuk mencari yang baru. Barulah kemudian pada akhir tahun tujuh lima atau awal tahun tujuh enam ia menemukan jalan yang dicarinya,” tulis Bambang Budjono (Tempo, 14 Oktober 1978).
Zaini memang mengalami beberapa perubahan pada dorongan daya cipta. Pada tahun-tahun permulaan, corak realistis lebih kentara dalam lukisannya. Misalnya, ia melukiskan alam sebagaimana dilihatnya. Sekitar tahun 1945, ia mencoba mencari nilai estetikanya, keseimbangan ekspresi yang timbul secara spontan. Objeknya tidak hanya manusia, tetapi juga laut, perahu, burung dan kadang-kadang hanya botol.
Dalam catatan Mingguan Waspada (16 Oktober 1977) tentang komentar-komentar terhadap lukisan Zaini terungkap bahwa perhatian Zaini pada manusia tampak pada masa revolusi. Pada masa itu, semua yang mengesankan di hatinya dituangkan ke dalam bentuk sketsa. Ia tidak bosan terus melukis lewat garis-garis sketsanya. Ia tidak bosan terus melukis lewat garis-garis yang samar dengan komposisi warna yang membaur seperti suasana kabut. Kilasan perubahan lukisan Zaini ini setidaknya tampak dalam pameran Menyibak Kabut—dan kita tahu 50-an karya yang dipamerkan sudah pasti tidak akan dapat mewakili ribuan karya yang pernah dibuatnya.
Melalui pameran ini kita juga dapat melihat beberapa lukisan yang dihasilkan Zaini dalam lawatannya selama sebulan di Amerika tahun 1970—dalam rangka ulang tahun PBB ke-25 dan ia diundang untuk membuka pameran. Beberapa di antaranya adalah “Santa Fee” (33,5 x 40,5 cm, pastel minyak di atas kertas, tanpa tahun) dan “San Francisco” (33,5 x 40,5 cm, pastel minyak di atas kertas, tanpa tahun). Saya menduga dua lukisan yang kini menjadi koleksi Museum Universitas Pelita Harapan itu dibuat dalam lawatan tersebut.

Menyibak Kabut, Kehendak Maju
Menengok pameran Menyibak Kabut bagi saya juga adalah membaca proses berkesenian Zaini. Di antara ruang pameran, ada orang-orang yang ikut merayakan. Di dalam, terpampang hasil kerja bertungkus-lumus seorang pelukis. Sebuah pameran, kata Zaini, memiliki arti penting dalam perjalanan hidup seorang pelukis; suatu kebahagiaan baginya (Horison, November 1967). Saya kira, arti penting itu ikut terbawa bersama suasana pameran setelah hampir 50 tahun Zaini meninggal, atau untuk peringatan tahun lahirnya ke-100.
Kerja-kerja, pencapaian, dan kiprah pelukis setidaknya telah dihadirkan dan direfleksikan dengan sangat baik melalui pameran ini. Proses pelacakan karya, dengan memamerkan sekitar 50 karya di antara dua ribuan karya dalam rentang lebih dari 30 tahun Zaini berkarya, adalah usaha keras hati dari penyelenggara pameran. Ibrahim Soetomo selaku kurator dan tim yang mendampinginya juga berupaya membentangkan keragaman karya Zaini. Pameran ini sekaligus memberikan bukti bagi kita atas pernyataan Nashar bahwa Zaini adalah pelukis yang ingin menguasai semua alat lukis.
Zaini kagum pada lukisan pastel Soedjojono atau Edgar Degas. Ia mempelajari penggunaan alat lukis pastel agar bisa melebihi seniman yang dikaguminya. Zaini mempelajari alat lukis konte karena kagum pada Käthe Kollwitz. Begitu juga kekagumannya pada seniman modernis Marc Chagall dalam penggunaan cat minyak. Menurut Nashar, pembeda Zaini dengan pelukis lain terkait upayanya untuk menguasai penggunaan alat lukis, bahwa dia tidak meniru begitu saja teknik pelukis yang dikaguminya. Dia ingin lebih dari pelukis yang dikaguminya dalam penggunaan alat tertentu; selebihnya dikembalikan ke dirinya lagi. Bagian ini terefleksikan cukup baik dari ragam lukisan yang diupayakan hadir dalam ruang pameran.
Kesan terakhir saya adalah ingatan pada sambutan Maya Sujatmiko tentang urun daya untuk menghadirkan karya-karya Zaini dalam pameran tersebut. Pameran ini berani untuk mencari kembali semangat yang hilang dalam penyelenggaraan pameran lukisan Dewan Kesenian Jakarta. Pada dekade awal penyelenggaraan pameran oleh lembaga kesenian tersebut, penyelenggara menjalin hubungan baik dengan para kolektor dan kerap mengupayakan keterlibatan kolektor dan lembaga seni lain dalam sebuah pameran—dengan melakukan peminjaman lukisan dan penjaminan atas pinjaman tersebut.
Saya kira semangat tersebut juga terbit ketika Zaini mengambil bagian dalam Dewan Kesenian Jakarta. Bahkan Dewan Kesenian Jakarta beberapa kali menyelenggarakan pameran khusus lukisan para kolektor dengan kesadaran bahwa pengetahuan harus disebarluaskan kepada masyarakat. “Karena dengan itu masyarakat dapat memperkembangkan ragam-ragam, daya artistiknya, mengenal segi-segi hidup yang belum pernah terpikirkan dan dapat pula memperkaya alam perasaannya yang diperlukan oleh seorang anggota masyarakat yang berkehendak maju,” tulis Zaini suatu ketika.[]