Search
Close this search box.

Mengalami Ambang: Relasi Benda dan Arsip Tubuh Sastra Wibawa

Benda ritualistik sebagai pengingat antara yang terlihat dan tak terlihat, mengingatkan bahwa manusia selalu berubah.

“Melukis adalah peristiwa yang memberi nyawa pada tekstur, dan menulis bekerja untuk memberi nyawa pada kata”  – Yacobus Ari Respati

Melangkah dan masuk untuk mengalami karya-karya dari Sastra merupakan pengalaman yang cukup membekas di malam itu. Sejenak kita juga ditemani perbincangan yang hangat antara Sastra dan Ari Respati sebagai kurator dalam pameran tunggalnya yang berjudul …Nothing remained unchanged but the clouds di Nonfrasa Gallery, Minggu, 22 Februari yang lalu.

Ini merupakan pengalaman pertama saya untuk melihat karya-karya Sastra pada fase peralihannya, setelah merasa cukup menyelam pada kedalaman karya di seri sebelumnya—yang berfokus pada warna datar dan sublimasi tekstur geometris. Hal ini menyiratkan sebuah pintu baru untuk diketuk dan dibuka secara bersamaan, sebagai jalan untuk melihat pengalaman Sastra untuk memaknai ruang-ruang di sekitar.

Memungut Arsip Tubuh

Karya-karya yang hadir pada solonya kali ini, menjadi ruang untuk Sastra yang berdarah Bali tulen, untuk memaknai perjalanannya dalam melihat rumah sebagai ruang yang menggenggam memori dan jejak dari sesuatu yang pernah ada. Hal itu lebih intim bisa kita lihat pada persoalan yang lekat dengan kebalian itu sendiri, yaitu perihal ritual dan objek-objek yang menyertainya.

Pemaknaan Sastra tak berhenti pada aktivitas ritualistik semata, melainkan ia menaruh empati lebih pada benda-benda yang berserakan setelah upacara selesai. Di antara serpihan canang yang tertumpuk satu sama lain, mereka menyimpan makna baru sebagai arsip yang menopang segala sesuatu yang telah terjadi padanya. Dedaunan itu, dalam kerapuhannya sebagai material yang bisa kering dan mudah sekali tercacah, ia simpan dan percayai dengan eksistensi yang sama sekali lain dari hanya sekadar materi fisik.

Siluet Canang pada karya Sastra Wibawa. (Foto: Dok. Penulis)

Siluet canang-canang hasil pungutan liar, terpampang jelas dalam jarak yang pas, tetapi menghilang dalam kilauan serbuk mika yang memantul dalam sorot lampu. Seolah karya itu tetap bekerja pada batas ambang antara yang terlihat dan tak terlihat. Namun, kali ini ambang tidak dimaknai lagi sebagai tujuan, melainkan laku tubuh yang harus diterima sebagai bagian dari keseharian yang tak pernah tertulis, namun terlihat begitu nyata dari pelupuk mata kita.

Karya-karya dalam seri ini memperlihatkan sebuah gestur baru dalam perjalanan artistik si seniman, dari yang terlihat sangat rapi, patuh dan teratur—berubah menjadi tumpukan warna cair yang saling melapisi satu sama lain. Pemakaian teknis stensil menjadi wajah utama dalam karya solonya kali ini. Kita bisa memaknainya sebagai upaya Sastra untuk menegaskan jejak dari sisa-sisa sarana upacara yang ia pungut di rumahnya di Bali hingga kemudian bermuara dalam studionya di Jogja.

Baginya, canang memperlihatkan hakikat dari kesungguhan eksistensial dirinya. Kesegaran daun yang berangsur-angsur menguning layu kemudian berubah menjadi cokelat kering—menggambarkan proses pada dirinya yang terus berjalan dan melihat perubahan sebagai sesuatu yang tetap dan tak terhindarkan.

Karya-karya di pameran tunggal Sastra Wibawa berjudul “Nothing remained unchanged but the clouds” di Nonfrasa Gallery (Foto: Dok. Penulis)

Begitulah juga, mengapa judul dalam pameran ini ialah …tiada tak berubah kecuali awan.  Sebuah kalimat yang menggambarkan dengan pasti hakikat seorang manusia yang tak pernah luput dari perubahan. Awan bisa begitu bebas mengubah bentuknya menjadi hal-hal yang tak terduga, tetapi kita “manusia” selalu punya cara untuk menyebutnya sebagai awan, seolah ia tak pernah benar-benar berubah di mata kita.

Awan selalu berubah rupa, tetapi sifatnya sebagai sesuatu yang tak berubah, tidak pernah sekalipun berubah. Itu menyiratkan ironi eksistensial yang dimiliki sebagian besar dari kita hari ini—yang mencoba melihat sesuatu dengan perlahan di saat semua bergerak begitu singkat. Perasaan itu tidak pernah sampai pada sesuatu yang utuh, namun tetap pada kondisi yang terus menjadi.

Materialitas dan Jarak

Kepiawaian Sastra dalam mengolah berbagai material artistik seolah begitu diuji pada karya-karya ini. Ia mengutarakan fakta yang sebenarnya sangat rapuh untuk diucapkan, yaitu bahwa ada 70% ruang untuk karya ini bisa gagal sepenuhnya. Terlebih lagi, karena dalam proses karya barunya ia cenderung akan membiarkan warna yang berbelok ke sana ke mari, menyembulkan berbagai sensasi tak terduga dari lapisan-lapisan warna yang melapisi siluet canangnya.

Bila mana tak disadari, ketidaksengajaan tersebut akan begitu mudah untuk jatuh ke dalam kebebasan tanpa arah, sering kali membuat karya malah kehilangan maknanya sendiri—bergerak menjauhi realitas yang sebenarnya ingin Sastra bangun dalam lukisannya. Ruang ini dimaknai sebagai proses memahami keinginan manusia yang sering kali berjalan terbalik dengan kondisi nyata kehidupan, berjalan di antaranya, dan mengambang.

Kilauan serbuk mika yang melapisi bagian luar karya Sastra (Foto: Dok. Penulis)

Persoalan jarak merupakan gestur yang khas dalam melihat dan merasakan karya-karya Sastra pada fasenya kali ini. Dalam kondisi yang berbeda, karya ini bisa memunculkan gambar dan sensasi yang bermacam-macam pula. Ketika ia dipandang jauh pada jarak tertentu, ada semacam siluet terang yang terus mengulang-ulang dalam karyanya. Namun, ketika melangkah untuk menciumi karya, ada sensasi sublim yang aneh, seolah siluet-siluet itu menghilang di antara balutan warna yang berlapis-lapis. Tak ubahnya daun yang ditelan sungai berarus datar.

Penggunaan serbuk mika yang lekat dengan nuansa glossy juga menampilkan kesan 3D (tiga dimensi) dalam karyanya, padahal jelas-jelas itu hanya bidang datar yang dilukiskan seperti umumnya. Riak-riak tekstur cat seakan bergerak dalam bidang yang mestinya kotak, serupa awan yang berubah-ubah jika terkena cahaya lampu. Sungguh puitik.

Lukisan Sastra menyimpan berbagai dimensi afeksi. Ia bisa menjadi dinamis dengan liuk riak warnanya. Namun, dalam kacamata yang lain, lukisannya bisa sangat terlihat rapi dan terukur, seolah sedang diredam perlahan. Seperti berelasi dengan pengalaman lampaunya, ketika masih mencoba-coba dalam mencari titik estetik yang pas.

Lelehan cat yang berlapis-lapis pada karya Sastra (Foto: Dok. Penulis)

Ada satu waktu Sastra pernah dengan sadar memasukkan semua unsur pada bidang yang menjadikan karyanya sangat kompleks dan riuh. Namun, berjalannya waktu justru elemen-elemen tersebut perlahan disisihkan, berganti pada visual yang tak terucap, lirih dan puitik. Kadang kala sebuah puisi yang bagus bukanlah puisi yang bertele-tele dengan rangkaian kata, tetapi ia yang bisa memilih sedikit kata untuk mewakili rasa yang begitu beragam.

Baginya, mengurangi dan menyembunyikan sama pentingnya dengan menampilkan. Seolah karya tersebut sedang menipiskan sesuatu yang paling tipis. Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk karya Sastra sekarang, terlihat tertib, namun di saat yang sama begitu penuh dengan berbagai efek yang menyembul secara bersamaan.

Menulis Untuk Menulis

Pengalaman saya melihat pameran tunggal Sastra tak hanya berhenti pada pemandangan bidang-bidang kanvas, tetapi juga pada tulisan yang terpampang pada secarik kertas yang menuntun kita pada seorang Ari Respati yang begitu piawai memaknai setiap jejak simbol dan mengaitkannya dengan konteks kemanusiaan yang hadir hari ini dan sebelumnya.

Opening speech oleh Sastra Wibawa bersama Ari Respati sebagai Kurator ditemani Krisna Sudharma (Foto: Dok. Penulis)

Saya melihat tulisan dan perbincangan yang dihadirkan oleh Ari tidak sungguh-sungguh mencoba untuk membaca secara gamblang praktik berkarya Sastra, tetapi melampaui itu. Pameran ini, dalam kehadirannya, menampilkan dualitas yang bisa berdiri sendiri, namun saling melengkapi satu sama lain. Ini hanya persoalan bahasa, mereka setara. Karya Sastra bekerja pada afeksi simbolnya, kemudian tulisan Ari bekerja pada jalinan kata yang saling merangkai makna.

Sebagai seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung, Ari memperlihatkan perilaku yang tak biasa dari seseorang yang sering menuliskan sebuah esai kuratorial. Ia menulis untuk menulis, sebuah laku yang akhir-akhir ini sering luput dari kebanyakan penulis yang hanya berhenti pada percakapan soal si senimannya saja. Ari dalam tulisannya mencoba bermain dengan kata dan makna-makna baru dalam menyelami ruang imajiner seorang Sastra, lalu tak lupa membangun, menjalin, lalu mengaitkannya dengan kondisi sosial hari ini, terutama pada kutipannya tentang gejala kemiskinan pengalaman pada manusia modern.

Tulisannya tidak menghakimi, tidak juga begitu mengglorifikasi. Ia berjalan lambat dengan tiap pilihan katanya, mencoba memasuki pembahasan lukisan kita oleh Sanento Yuliman—mengerti Sastra lewat mediumnya—lalu membawa kita pada pertanyaan filosofis tentang bagaimana akhir-akhir ini melimpahnya akses pengetahuan, di sisi yang lain juga menumpulkan sensasi kita untuk bisa mengalami.

Leaflet pameran tunggal Sastra Wibawa yang ditulis oleh Ari Respati (Foto: Dok. Penulis)

Baginya, makna ambang merupakan sebuah kondisi yang menunjukkan bahwa sebuah benda memiliki dua persepsi dalam pemaknaannya. Canang dalam konteks keseharian adalah benda yang sarat akan ritual, namun ketika ia dipungut dan diperlakukan sebagai metode berkarya, ia tak hanya bekerja pada batas realitas, namun juga bekerja pada ruang ide dan imaji yang tak terbatas.

Karya Sastra yang seolah berserakan di lantai, merupakan penggambaran metaforis dari hal yang lekat dengan realitasnya sebagai hal yang nyata. Sebaliknya, lukisan yang berada di dinding seolah berada pada ruang yang mengambang; ketiadaan ground memberikan kebebasan imajinatif, seperti kotak-kotak awan yang terus bergerak. Dualitas ini membawa penikmat untuk juga hadir dalam ruang ambang tersebut, sesuatu yang dibungkus apik oleh Ari Respati dan Sastra dalam mengupayakan nuansa di antara keduanya.

Pada akhirnya, pameran tunggal dari Sastra Wibawa tak hanya menguap dalam perbincangan teknis semata, tetapi juga berbuah pada kehangatan narasi yang dibawa oleh Ari Respati. Sebuah pengingat tentang hakikat kita sebagai manusia yang tak ubahnya awan yang selalu menerima dirinya pada proses menjadi dan tak pernah berhenti.

Panjang Umur Seni Rupa!!!