“Ketika saya berkeliling Surabaya, saya langsung jatuh cinta. Ya, karena Surabaya sebenarnya kota yang sangat maju. Namun, itu hanya di sektor perdagangan; keseniannya masih kurang. Jadi saya berpikir, saya harus menciptakan sesuatu di sini. Karena seni adalah fondasi dari kebudayaan.”— Amang Rahman Jubair (1967),
Simpang Medan Seni yang Sunyi di Kota yang Riuh
Matahari, aspal panas, klakson, gerak cepat, gedung tinggi, kepadatan urban, seperti itulah selintas gambaran ketika mendengar kata Surabaya. Nyaris tak pernah terbayangkan bagaimana pergeliatan seni rupa kontemporer di kota dengan ritme serba cepat ini. Surabaya secara menahun kerap ditempatkan pada bayang-bayang Yogyakarta, Bandung dan Jakarta dalam konstelasi seni rupa kontemporer, meski terdapat institusi seni akademik, ruang bergerak kesenian di ibu kota Jawa Timur ini bisa dibilang cukup minim. Belum banyak berubah sejak Amang Rahman mengutarakan itu hampir 60 tahun yang lalu sebelum ia mendirikan Akademi Seni Rupa Sirabaya (AKSERA).

Ketimpangan posisi Surabaya, atau lebih tepatnya posisi Jawa Timur, dalam peta seni rupa kontemporer nasional sebenarnya bukanlah perkara kemarin sore. Stagnasi ini berakar pada absennya infrastruktur wacana yang sehat di Jawa Timur. Secara kapital, Surabaya adalah lumbung bagi para kolektor, dan secara talenta, daerah ini tidak pernah kekurangan perupa berbakat. Kota ini toh memiliki segelintir kurator independen yang gigih dan media seni rupa lokal yang sesekali mencoba menyuarakan agenda kesenian. Namun, tak dapat mengelak bahwa pergerakan seninya tetap terasa berjalan dalam ritme yang lambat. Barangkali jawabannya terletak pada minimnya agenda kesenian dan lingkup pergaulan seni yang hanya berputar pada lingkaran yang itu-itu saja, meski faktor terbesarnya adalah minimnya ruang komunal yang aktif. Tanpa adanya ruang tengah yang bertugas menguji, mengkritik, dan membenturkan gagasan, ekosistem seni rupa di sini menjadi loyo. Secara garis besar, tepatnya di Jawa Timur, karya-karya yang lahir sering kali berhenti pada kematangan teknis di atas kanvas, namun gagap dan kedodoran ketika harus mengartikulasikan konsep atau berhadapan dengan perkembangan teori seni rupa mutakhir.
Kondisi ini diperparah oleh kultur komunal para perupanya yang cenderung mengidap kutukan “solo karier”. Berbeda dengan Yogyakarta, Jakarta, Bali, atau Bandung—iklim sanggar, kolektif, dan tongkrongan seni bawah tanahnya terbiasa melakukan kritik komparatif secara brutal antarsesama seniman—perupa di Jawa Timur acap kali bergerak dalam ruang-ruang personal yang terisolasi atau terjebak dalam hierarki senioritas. Akibatnya, roda wacana tidak berputar. Tidak ada perdebatan kerupaan yang menantang di kedai-kedai kopi; yang ada hanyalah kenyamanan berkarya dalam pakem masing-masing tanpa tahu sejauh mana medan seni rupa di luar sana telah berlari. Peta kesenian yang sunyi dan minim gesekan inilah yang melatari mengapa suara seni dari Jawa Timur kerap kali terdengar sayup-sayup saja di panggung nasional, kalah gaung oleh determinasi kultural kota-kota tetangga yang ekosistemnya jauh lebih organik.
Orasis sebagai Oasis Seni Surabaya?
Dengan tenggelamnya bara persaingan tersebutlah diperlukan sebuah pantikan untuk menyalakan api. Orasis Art Space mencoba mengambil peran tersebut dengan membuka gelanggang baru melalui sayembara Surabaya Art Prize (SAP) 2026—padahal, mereka baru saja mentas dari Finna Art Award. Dengan sokongan pelat merah melalui skema Dana Indonesiana, Orasis tidak main-main dalam menyusun legitimasi institusionalnya. Mereka kembali menggandeng Asmudjo J. Irianto (Kurator dan akademisi senior) sebagai juri, didampingi oleh Deby Prima Dewi (Direktur pelaksana Orasis Art Space), bahkan mengundang juri dari kancah internasional, Jongsuwat Angsuvarsiri (Pendiri SAC Gallery Bangkok). Hadiah yang disayembarakan begitu menggiurkan: tiga puluh juta untuk masing-masing tiga pemenang, dengan residensi di SAC Gallery Bangkok untuk pemenang utama.

Berdiri megah di kawasan elit Surabaya Barat, Orasis Art Space memiliki sistem reservasi sendiri. Kunjungan mereka dibagi menjadi tiga sesi per hari. Pengunjung wajib mendaftarkan diri secara daring dan menebus tiket seharga Rp 88.000. Angka yang lumayan untuk sebuah pameran seni di Surabaya. Tak mengherankan jika harga berada di angka tersebut. Selain mungkin ada kaitannya dengan feng shui, bangunan Orasis memang bersinggungan langsung dengan lapangan golf. Hamparan rumput hijau sebagai latar belakang galeri berpadu apik dengan arsitektur raw concrete yang super instagrammable, menjadikannya sudut yang syahdu buat sekadar berswafoto ria. Tiket tersebut sudah sepaket dengan welcome drink serta panduan tour oleh gallery sitter, jadi tidak rugi-rugi amat karena kita juga dapat mengetahui makna di balik setiap karya seni melalui penjelasan gallery sitter. Bahkan mereka juga menyediakan layanan panduan berbahasa isyarat, sebuah komitmen inklusivitas yang jelas patut diacungi jempol.
Masuk ke dalam ruang pamer, kita disuguhi oleh presentasi dari tiga puluh seniman terpilih. Empat belas di antaranya berstatus finalis dan tiga keluar sebagai pemenang utama. Barangkali pemikiran kita sama ketika melihat daftar seniman. Pameran ini begitu bertabur bintang. Kita dengan mudah menemui nama-nama familiar yang biasanya wira di pamflet pameran bergengsi atau galeri. Lebih menariknya lagi, meski menyandang nama “Surabaya Art Prize”, dua dari tiga pemenang utamanya justru merupakan perupa yang berbasis di Yogyakarta. Kenyataan ini seolah menjadi tamparan yang menegaskan kembali ketimpangan ekosistem yang telah dibahas di awal tulisan.

Lantas, bagaimana sebenarnya kriteria dan prosedur penilaian dalam ajang tersebut? Pertanyaan ini mendadak mengapung di kepala dan menjadi sebuah teka-teki–Sesuatu yang biasa di acara seperti ini. Apakah penentuan pemenang di atas lantai epoksi Orasis ini murni didasarkan pada kebaruan gagasan dan kecanggihan eksekusi material? Ataukah ada variabel-variabel lain yang bergerak di bawah tanah—sesuatu yang barangkali bersifat politis, kedekatan relasi dalam sirkuit seni rupa yang mentereng, atau sekadar kalkulasi pasar demi mengamankan selera institusional tertentu? Tanpa adanya transparansi parameter juri yang dibuka gamblang ke publik, kecurigaan-kecurigaan miring itu tentu sah-sah saja berkecamuk, dan memang begitulah sewajarnya, namanya toh juga sebuah sayembara.
Eksplorasi Artistik dan Dialektika Perupa Lintas Daerah
Mari kita kesampingkan dulu dugaan-dugaan politis tersebut dan lihat langsung apa yang disajikan di ruang pamer. Sebutlah Vicky Saputra, Ridho Scoot, dan Zeta Ranniry, ketiga seniman yang barangkali namanya tak begitu asing di pamflet-pamflet pameran. Tentu, ketiga seniman ini mempunyai pertimbangan bahwa mereka bisa meraih titel pemenang pada sayembara ini.
Vicky Saputra, sebagai pemenang utama dengan hadiah residensi di SAC Bangkok, jujur saja ia begitu unggul dengan teknik sunstroke-nya, sebuah metode yang memungkinkan perupa “melukai” kanvas menggunakan fokus sinar matahari. Eksperimen yang mengingatkan kita pada permainan masa kecil ini berhasil diolah secara artistik menjadi bahasa visual yang puitis namun secara bersamaan juga destruktif. Barangkali karya yang dipamerkan kali ini bukanlah karya terbaik milik Vicky jika dibandingkan dengan pameran tunggalnya, namun sebagai seseorang yang baru pertama kali mengetahui proyek sunstroke ini, penonton akan takjub dengan eksplorasi teknik dan betapa indahnya eksperimen yang ia hasilkan dengan bermodal cahaya terik matahari. Jujur saja, saya juga sedikit melongo ketika melihat langsung “luka” pada kanvas yang dipamerkan, sebuah teknik yang unik nan menarik.
Begitu pula Ridho Scoot, dengan instalasinya yang tampak begitu kontras dengan karya-karya yang lain, ia menjungkirbalikkan persepsi kita tentang beban dan ketahanan objek melalui balon—meski imitasi, sebuah benda yang secara inheren rapuh dan efemer dililit sedemikian rupa eratnya dengan benang merah pada permukaan beton yang mengabang. Hm-mh, lagi-lagi, meski bukan karya terbaiknya dibanding pameran tunggalnya, karya Ridho begitu mencolok secara media dan display. Sementara itu, seolah kompetisi ini adalah ruang eksplorasi material, Zeta Ranniry yang dikenal dengan lukisan potret dirinya hadir dengan rupa yang lain, sebuah batu mengambang di tengah ruang pamer, dengan layar LED yang menampilkan teks berjalan berisi motivasi-motivasi hidup—yang, jujur, mengingatkan saya pada reels teks renungan di malam hari. Ketika pertama kali melihatnya, mungkin tak akan terpintas bahwa itu adalah karya Zeta.

Kemudian, di mana posisi para perupa asli Jawa Timur dalam pameran ini? Apakah mereka hanya menjadi penggembira di rumah sendiri? Untungnya, ruang pamer di bagian dalam segera menjawab tantangan itu dengan deretan karya lokal yang sama sekali tidak kalah taring. Para perupa Jawa Timur membuktikan bahwa “bahan mentah” yang mereka miliki sebenarnya sangat potensial jika diberi ruang yang setara. Terdapat tiga karya yang cukup menarik perhatian, karya tersebut ialah milik Yawara Oky, Oing Muzakki, dan Alif Edi Darmawan.
Yawara, seniman perempuan asal Tulungagung, hadir dengan pendekatan material yang berbeda melalui media tekstil kontemporer. Menggunakan kain perca batik yang ia kumpulkan dari sisa penjahit di Malang, Pasuruan, dan Tulungagung, Yawara melakukan kerja pengarsipan pelbagai ingatan kolektif. Perca-perca dari bekas seragam sekolah, pakaian kantor, hingga kain pengajian yang nyaris menjadi sampah tersebut disusun ulang menjadi jalinan serat yang menjalar menyerupai akar pepohonan. Dengan demikian, karya Yawara tidak berhenti pada proses upcycling material, tetapi ia juga menjahit kembali relasi manusia dan alam yang sempat terputus menjadi sebuah narasi pemulihan.
Setelah ditarik melihat relasi luar yang carut-marut lewat rajutan Yawara, bergeser sedikit, kita dihadapkan pada sebuah mainan buldoser yang menempel di kanvas, buldoser itu seolah meninggalkan jejak kasar tanah gundul dan bersiap untuk membabat habis sisa-sisa vegetasi yang ada, Oing Muzakki, seorang seniman asal Kota Batu dengan epik menangkap lanskap ironi deforestasi dan keserakahan ekspansi kapital–seperti yang sedang ramai akhir-akhir ini–melalui teknik fotografi, editing, mobil mainan, dan plastik.
Kemudian, apakah kamu percaya bahwa semua hal baik tumbuh dari diri sendiri? Cermin, buku, dan pulpen adalah sarana Alif untuk mengajak audiens melakukan refleksi diri, berpikir akan kebaikan, dan memunculkan keinginan akan hal-hal baik. Seolah memindahkan sebuah kuil di ruang pamer, begitulah Alif Edi Darmawan menyediakan sarana refleksi diri dengan karya kolasenya yang disulap seperti kabinet, menjadi salah satu karya yang interaktif dan menarik di ruang pamer.
Kompetisi, Dana Publik, dan Masa Depan Ekosistem Kita
Demikian kehadiran tiga puluh karya yang disajikan membuktikan bahwa energi eksperimentasi para peserta sebenarnya sangat meluap dan tidak tunggal. Ada yang bergerak ke arah kritik sosiopolitis, ekologis, hingga kegagapan pascadigital. Begitu pula ketiga seniman pilihan mempunyai eksplorasi material masing-masing, yang barangkali lebih cocok dengan selera institusional. Sekelebat pertanyaan muncul, apakah Surabaya Art Prize sedang membuka kemungkinan artistik yang luas, atau justru sedang membangun selera institusional tertentu tentang seperti apa seni kontemporer yang layak diapresiasi?
Pada akhirnya, kemenangan Vicky, Ridho, dan Zeta tak lain adalah pencapaian yang sepenuhnya valid dan layak diapresiasi. Kesiapan taktis mereka dalam sayembara ini menjadi sebuah konfirmasi bahwa membangun ekosistem lokal tidak bisa instan lewat jalur kompetisi murni.
Adanya sokongan dari pelat merah melalui Dana Indonesiana secara otomatis membuat kompetisi ini murni bukan hajatan swasta. Secara konseptual, Dana Indonesiana dirancang oleh negara sebagai intervensi kultural untuk merawat, mengaktifkan, dan memajukan kebudayaan dari akar rumput. Agak ironis kalau dana publik ini malah berakhir jadi pemanis atau hanya sekadar ‘pengadaan’ belaka. Kemudian, apakah agenda penghargaan ini akan menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan dengan cetak biru (blueprint) penguatan basis lokal yang jelas, atau sekadar proyek stimulus satu kali selesai demi penyerapan anggaran dan branding institusi? Sebab, pengadaan sayembara ialah suatu pemuas dahaga yang diperlukan oleh seniman, namun ia akan bertolak menjadi persoalan apabila hanya berhenti di panggung penghargaan saja, dan tidak ada agenda yang lebih dari sekadar sayembara.

Mengadakan sayembara terbuka di tengah ekosistem seni rupa Jawa Timur yang sedang timpang dan “sakit” sebetulnya merupakan jalan pintas yang malas. Format kompetisi murni mengasumsikan bahwa semua peserta berangkat dari garis start yang sama. Padahal, seperti yang telah dibedah di awal, perupa Jawa Timur selama ini hidup dalam isolasi wacana dan minimnya pendampingan, sementara perupa dari luar Jawa Timur bertanding dengan modal ekosistem yang sudah matang menahun. Melempar mereka langsung ke dalam satu arena tanding tanpa ada persiapan pra-desain sama saja dengan melanggengkan kanibalisme artistik—seniman lokal hanya dijadikan pelengkap kuota pameran demi memenuhi syarat penyerapan anggaran, sementara panggung utama dan investasinya tetap dipanen oleh pemain luar yang jauh lebih siap taktis.
Sebetulnya, yang teramat dibutuhkan oleh para perupa muda di “daerah” (di luar pusat-pusat kesenian) saat ini adalah proses pendampingan (mentoring) dan inkubasi wacana yang intensif—yang sayangnya berada di luar wilayah kerja Orasis sebagai galeri komersial. Kita tentu tidak bisa menuntut sebuah galeri komersial bertindak layaknya institusi pendidikan yang telaten membina seniman dari nol. Tetapi, ketika Orasis memilih bergerak dengan sokongan Dana Indonesiana yang bersumber dari uang publik, batasan fungsi itu mestinya bisa dilewati melalui kolaborasi dengan elemen ekosistem yang lain, sehingga program tidak hanya mandek dalam sayembara semata. Namun, kemauan sebuah galeri komersial atau swasta ini cukup menambal bolongnya pemerintah di sana-sini. Kita tahu kebijakan pemerintahan kita dalam mendukung kesenian selalu berkelindan dengan tradisi klasik: bermain-main anggaran dan pertarungan bancakan para oknum pemerintah maupun instansi/pihak tender pengusul atau pelaksana proyek kesenian. Inilah soal mentalitas yang menjadi aral sejati dari ekosistem seni kita.
Terlepas dari berbagai catatan kritis yang membayanginya, kehadiran Surabaya Art Prize 2026 harus diakui membawa angin segar, kalau bukan satu-satunya, yang teramat penting bagi ekosistem seni Jawa Timur dan tentu saja Indonesia. Ajang ini berhasil memutus dahaga akan ruang apresiasi seni berskala nasional yang selama ini absen di Surabaya. Dampak paling nyata adalah terjadinya perjumpaan wacana secara langsung.

Kehadiran seniman-seniman lintas daerah—termasuk para perupa mapan dari luar Jawa Timur—dalam satu ruang pamer bukan semata-mata sebuah kompetisi mana yang lebih baik, atau mana yang lebih matang, melainkan dapat dipetik menjadi stimulan yang memperlihatkan standar eksekusi material, kematangan konseptual, pun semangat serta daya juang kepada publik dan seniman lokal. Perubahan nama menjadi Surabaya Art Prize 2026 ialah langkah awal konkret untuk memicu kembali atmosfer kompetitif yang sempat sayup, mengguyur kesenian Jawa Timur untuk bangun, melihat kaca perbandingan, dan menyadari bahwa potensi lokal mereka sebenarnya memiliki lawan tanding yang riil.