Search
Close this search box.

Manunggaling Objek dan Galih Johar

Galih Johar membawa kita pada perubahan pandangan atas suatu benda. Transformasi (ia istilahkan: Alterasi) benda yang dilakukannya bahkan hampir menghilangkan sifat kebendaan itu secara keseluruhan. Tidak lagi meneror, tidak lagi berfungsi, atau malah menjadi tidak sia-sia, bahkan tidak lagi sakral.

Kepada Adinda.

Dengan semangat dan jiwa yang membara. Saya, Galih Johar, mengundang Anda dan keluarga untuk hadir dalam pembukaan pameran tunggal bertajuk ‘Manunggal’  yang akan dimeriahkan oleh Presiden Tidore dan Trigga Coca pada hari sabtu 21 Januari 2023 pukul 19.00 malam di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Jl. DI Panjaitan No.41, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143.

Terima Kasih.

Begitulah awalnya, hingga kemudian saya hadir di Manunggal pada waktu dan tempat yang ditentukan. Pembukaan pameran yang penuh dengan keriaan. Meski begitu, tidak memerlukan waktu lama untuk bisa bertemu dengan Galih Johar yang memang dengan ramah menyapa satu  per satu pengunjung pamerannya. Merasa kesulitan untuk ngobrol banyak dengannya karena situasi yang tidak memungkinkan, kami pun akhirnya membuat janji temu untuk berdialog tentang Manunggal pada kesempatan berikutnya.

Di dalam ruang pamer, pengunjung akan melihat 22 karya Galih Johar, termasuk 10 karya video dan 8 karya baru—seri Tosan Edgy. Terdiri dari Tosan Edgy, Tosan Edgy 2.0, Tosan Edgy 3.0, Tosan Edgy 4.0, Tosan Edgy 5.0, Tosan Edgy 6.0, Tosan Edgy 7.0, Tosan Edgy 8.0; Tosan Edgy merupakan karya baru yang di-highlight di Manunggal. Terdiri dari delapan karya, Tosan Edgy sendiri sebetulnya adalah turunan dari project Alterasi—pameran tunggal pertama Galih Johar pada 2020.

Tampakan karya Galih Johar yang digelar dalam pameran Manunggal di Cemeti (21/1 – 18/2 2023). (Foto: Cecilia Elma)

Politisasi Objek

“Objek material mengandung rasa atau perasaan. Lalu, terbayang bagiku untuk ‘bagaimana jika aku membuat objek yang sekalian ada rasanya, secara indrawi dan hati’.”

Galih Johar

Sebelumnya saya telah sebelas kali menyebutkan “Tosan Edgy”, lantas “Tosan Edgy” itu sendiri sebetulnya apa? Seniman yang pernah punya keinginan kuliah jurusan Antropologi (tapi nggak jadi) ini menjelaskan, Tosan Edgy sebenarnya merupakan plesetan dari Tosan Aji—senjata bermaterial logam pada era Majapahit. Pada project Alterasi Galih Johar mulai berpikir bahwa objek material bersifat politis. Selain memiliki fungsi, objek material mengandung memori, ingatan, bahkan referensi.

Pemikiran atas hal ini juga tidak tiba-tiba hadir begitu saja, mengingat awal karirnya Galih Johar memang telah menciptakan karya-karya keramik dengan material tanah. Pada proses penciptaan karya inilah Galih Johar menemukan bahwa zat-zat yang ada pada tanah juga terdapat pada tubuh manusia. Bahkan, zat-zat seperti kalsium, kalium, dan verum yang kita tahu merupakan zat yang identik dengan tubuh manusia, rupanya juga terdapat pada kayu, buku, hingga perangkat komputer. Sejurus kemudian, Galih Johar mulai membaca istilah “dari tanah kembali ke tanah” dalam makna harfiah. Galih Johar memaknai manusia adalah medium, maka sebelum menjadi medium, maka Ia akan bermain-main dengan medium.

Dalam proses eksplorasi medium inilah Galih Johar menemukan asosiasi antara medium yang sedang dimainkannya dengan referensi, baik secara personal, maupun secara komunal. Medium atau ojek material akan selalu memiliki rasa atau perasaan. Demikian, Tosan Edgy menjadi karya temuan dengan bentuk senjata yang familiar yang diasosiasikan dengan rasa permen dan menjadi line up di pameran Manunggal.

Pengunjung menikmati karya Galih Johar dengan sebenar-benarnya! (Foto: Dok. Cemeti)

Manunggal: Manis Unggul Galih Johar

Begitulah Galih Johar menjelaskan akronim Manunggal. Berbicara tentang Manunggal, Galih Johar membeberkan pengalamannya dalam tiga pameran tunggal yang diadakan pada setiap awal tahun yang berurutan pula. “Lucu, kan?”, katanya (fyi, bukan ‘tanyanya’). Sebelumnya, pria yang memiliki ketertarikan pada ilmu budaya ini pernah menggelar pameran tunggal “Alterasi: Ruang Rekayasa Galih Johar” pada akhir 2020 hingga awal 2021, yang berlanjut pada pameran bertajuk “Ruang Rekayasa; Alterasi Chapter Sukabumi” pada awal tahun 2022.

Bercerita soal Manunggal, Galih Johar menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil seleksi open call yang dibuka oleh Cemeti Institute pada 2022 lalu, untuk kemudian akan diselenggarakan pameran pada awal tahun dan pertengahan tahun berikutnya. Melihat peluang baik yang dibuka oleh Cemeti Institute, Galih Johar lantas melakukan presentasi atas konsep-konsep dan beberapa karya yang telah dimilikinya.

Pada kesempatan ini Galih Johar juga bercerita tentang pengalaman dan kesannya selama proses persiapan penyelenggaraan pameran. “Aku banyak belajar. Aku belajar beradaptasi dan berkompromi.  Kemudian, untuk bisa menyesuaikan dengan banyak hal maka aku juga berunding dengan banyak hal, termasuk dengan diriku sendiri. Keren, ya?”, tukasnya. Baik.

Setelah mengingat-ingat kembali, hampir setiap kali melihat karya Galih Johar, saya sering kali tertawa. Tertawa jengkel. Saya yakin para pengunjung pameran yang lain pun memiliki reaksi yang kurang lebih sama. Karyanya kerap membuyarkan ingatan atau memori saya pada suatu benda,. Ini jelas. Beberapa diantaranya tampak seperti menyampaikan sisi sarkastik dan beberapa yang lain terasa sedang mengejek secara terang-terangan.

Membahas perihal Tosan Aji, kita tentu dapat langsung menilainya sebagai nilai luhur. Bukan hanya sebagai senjata tradisional, namun juga benda bernilai filosofis dengan spektrum makna, baik secara kosmologis, hingga ontologis. Tosan Aji menempatkan posisinya sebagai senjata terbaik yang pernah ditempa dan digenggam oleh nama-nama yang tertulis dalam sejarah. Demikian pada akhirnya Tosan Aji hadir sebagai benda bernilai historis sekaligus sebagai pembentukan simbolis atas kultur budaya masyarakat Jawa.

Dari tangan seorang Galih Johar, terciptalah Tosan Edgy. Tosan Edgy hadir tidak semata-mata menjadi karya yang terasosiasi dengan ingatan atas pengetahuan, namun juga dengan rasa. “Rasa” dalam pemaknaan secara emosional, maupun dengan rasa yang dikecap oleh indera manusia. Untuk mewujudkannya, Galih Johar mengubah material senjata tajam ini dengan permen, hingga terciptalah pemandangan unik dalam pembukaan pameran Manunggal, dimana masyarakat yang hadir di sana tampak sangat menikmati Tosan Edgy, baik dengan melihat, maupun dengan menjilat. Hm.

Seniman dan Kurator, Akiq AW sedang mencecap karya Galih Johar. (Foto: Dok. Cemeti)

Galih Johar membawa kita pada pengalaman yang berbeda dalam setiap presentasi dan karya yang disajikan. Ia melakukan triggered pada ingatan dan perasaan pengunjung dengan memainkan value pada setiap karyanya. Karya-karya bisa jadi membawa kita pada perubahan pandangan atas suatu benda. Transformasi benda yang dilakukannya bahkan hampir menghilangkan sifat kebendaan itu hampir secara keseluruhan. Tidak lagi meneror, tidak lagi berfungsi, atau malah menjadi tidak sia-sia, bahkan tidak lagi sakral (in a good way, ya).

Perbincangan kami sampai pada pertanyaan: kok, bisa? Ini antara saya penasaran dan jengkel. Referensi dan preferensi macam apa yang membuat Galih Johar kepikiran, sampai Ia dapat menciptakan karya—yang dipastikan memancing reaksi (dan kekesalan) secara instan bagi siapa saja yang melihatnya. Dia tersenyum dan menjawab:

Aku melakukan banyak hal yang biasa dilakukan orang-orang lain. Bersih-bersih, ngobrol-ngobrol, baca-baca, dengerin lagu, nonton film. Disitu aku sambil berpikir, atau kepikiran sesuatu, kemudian aku catat. Aku juga ngga memberi batasan untuk enjoy sama hal-hal yang aku suka aja. Misal  aku dengerin lagu, nih, di Spotify. Aku search satu lagu, dengerin. Habis lagu itu selesai, ada lagu lain yang di-suggest sama Spotify. Aku lanjut dengerin. Entah yang aku ngerasa musiknya itu bagus, sampai yang aku ngerasa musiknya itu aneh. Disitulah kadang aku mulai ngulik ‘sesuatu’ yang baru yang barusan banget, nih, aku nggak tau sama sekali kalau ‘sesuatu’ itu ada. Aku pengen tau sesuatu secara detail, untuk hal apapun itu. Kadang ngulik sesuatu, terus tiba-tiba dapat ide bikin sesuatu. Kadang juga nggak, ngulik, ya, ngulik aja. Gitu.

Jawaban yang mengesankan. Oke, akhirnya di penghujung obrolan kami, saya bertanya, apakah ini semua sudah sesuai dengan target pencapaian yang diharapkan seorang Galih Johar? Belum. Seenggaknya hingga saat ini aku senang, tapi aku belum puas. Aku memang sengaja menempatkan diriku dalam posisi dimana aku tidak mudah puas pada apa hal yang aku ‘kerjakan’. Aku ngga mau ketika aku puas dan ngerasa ada pada titik pencapaian, aku malah kemudian stuck. Selesai.

Tentu ini dapat dipahami. Tidak cepat merasa puas akan membuat seseorang akan terus berupaya, terus mencari, dan terus belajar. Ketidakpuasan akan membawa kita pada perjalanan, pemikiran dan pengalaman yang selalu baru. Lagipula, apa satu-satunya yang bisa dilakukan untuk seseorang yang telah merasa puas karena merasa sudah berada di puncak? Turun! (*)