Melangkahkan kaki ke dalam OHD Museum di Magelang yang sedang menggelar pameran bertajuk “Lanskap Gus Mus” pada 12 Maret hingga 12 Juni mendatang, saya banyak disambut oleh kaligrafi bertuliskan Asma Agung dan wirid-wirid yang dilukis dengan indahnya oleh Gus Mus.
Dari banyaknya kaligrafi itu, kita bisa menangkap lukisan indah Surah Al-Fatihah (2000, 79 x 97 sentimeter, digital print di atas kanvas) yang diberi judul “perisai” oleh Gus Mus. Juga salawat, doa-doa, dan Asma-asma Allah. Seakan wirid-wirid tersebut tak cukup hanya dengan dirapal, tapi juga masih perlu diimplementasikan dengan media lain.
Wirid sendiri berasal dari kata bahasa Arab warada, yang berarti mendatangi. Melihat pameran ini saya seperti sedang melihat ikhtiar Gus Mus untuk mendatangiNya, dengan sarana apa saja. Wirid-wirid yang beliau lukiskan misalnya, tidak terbatas hanya dengan satu material, teknik atau gaya. Beliau menuaikan karya-karyanya dengan akrilik, cat minyak, nikotin, kopi, tinta, kertas, kanvas, dan lainnya. Seakan untuk mengagungkan namaNya tak cukup hanya dengan satu medium saja.

Begitu juga sosok Gus Mus itu sendiri. Pada pengantar milik Suwarno Wisetrotomo, sang kurator Lanskap Gus Mus. Beliau mengatakan bahwa Gus Mus adalah sosok yang merdeka. Tak hanya dikenal sebagai seorang ulama dan guru bangsa, beliau tak pernah membatasi atau mengkotakkan dirinya terhadap status tertentu. Beliau juga adalah seorang sastrawan, budayawan, juga seniman. Dan semua itu saya yakin tak pernah terlepas dari apa yang menjadi tujuan Gus Mus, yaitu usaha untuk mendatangiNya, dengan cara apa saja.
Pameran yang digelar di OHD Museum ini tak hanya menampilkan karya Gus Mus semata, di antara 128 lukisan yang ditampilkan 2 di antaranya adalah karya cucu, 1 karya santri, 2 karya kolaborasi antara Gus Mus dan cucu, juga 1 karya kolaborasi Gus Mus dengan cucu dan keponakan.
Tak hanya lukisan Gus Mus, lukisan milik Maqbul Khoir juga sempat menyita perhatian saya. Lukisan milik santri Gus Mus ini berjudul “Suasana Aula Putih Kala Petang”. Entah apakah aula yang dimaksud adalah aula pesantren, namun yang dapat saya tangkap dari potret dalam lukisan tersebut adalah gambaran orang-orang yang sedang melangsungkan shalat berjamaah. Momen dalam lukisan tersebut terasa sangat hangat dan merindukan.
Aih, bukankah momen-momen seperti di aula putih adalah hal yang seharusnya paling ditakuti dari kematian? Kerinduan akan kesempatan menyembahNya bersama dengan orang-orang terkasih?

Mendatangi Keindahan Tanpa Peliyanan
“Emak, lihat!” tutur bocah 3 tahun kala melihat lukisan Gus Mus berjudul “Allah Maha Indah”. Keponakan saya terhenti kala melihat lukisan kaligrafi cat akrilik di atas kanvas 80 x 60 sentimeter yang bertuliskan Innallaha jamilun, yuhibbul jamal. Allah Maha Indah, menyukai keindahan. Sang Estetika yang Maha Estetik!
Betapa sebenarnya saya akrab sekali dengan hadits itu. Hadits yang kerap kali dipakai pada lomba-lomba kaligrafi kategori kontemporer antar pesantren yang sering saya saksikan. Namun, melihat lukisan Gus Mus, saya mendapat kesempatan mengenali hadits itu untuk yang kedua kalinya. Dari Gus Mus, saya bisa merasakan bahwa mungkin itu kenapa Gus Mus identik dengan keindahan. Baik dari kesukaannya terhadap seni, perangainya, hingga tutur katanya. Mungkin karena hadits itu tak sekadar beliau goreskan pada kanvasnya, namun juga dipatri dalam kalbunya.
Tak jauh dari lukisan itu, terdapat karya Gus Mus yang fenomenal. Karya itu berjudul “Berdzikir Bersama Inul”. Pada lukisan itu tampak beberapa sosok beratribut keagamaan (termasuk Gus Mus) yang duduk melingkar menyaksikan Inul berlenggang di tengah-tengah. Tentu karya itu banyak menuai kecaman pada masanya. Di satu sisi, banyak juga yang mengatakan bahwa karya tersebut merupakan simbol kritik pada pemuka agama yang sudah jauh dari kedalaman beragama.
Namun, lagipula, bagian mana yang tidak mungkin dari “Berdzikir Bersama Inul”? Apakah Inul dianggap tidak mungkin berzikir? Apakah kalau melihat Inul, kita jadi lupa kepadaNya sehingga banyak dari kita yang tidak bisa mengasosiasikan Inul dengan kegiatan berzikir?
Sejatinya, kemurkaan-kemurkaan itu justru menunjukkan pantulan diri sendiri ketika memaknai karya seni atau apapun yang ada di sekitar kita. Jika diri kita dipenuhi kebaikan, maka yang akan terlihat hanyalah hal-hal baik pula. Begitupun sebaliknya.
Seakan karya-karya Gus Mus tidak berhenti pada kaligrafi, tetapi ia juga kerap berupaya mengeksplorasi segala kemungkinan menziarahi keindahanNya. Gus Mus berupaya menawarkan ungkapan artistik yang menolak eksklusi terhadap segala makhluk. Tampaknya bagi Gus Mus, menghayati makna keindahanNya, adalah dengan adil dan menolak segala peliyanan atau pengasingan terhadap sesama. Sebab kita selalu akan sampai pada lanskap hakikat, bahwa segalanya berasal, bekerja dan bertujuan pada kuasa estetikaNya.

Ungkapan Seni seharusnya Refleksi Manusiawi
Saya yang berkunjung ke OHD museum pada bulan Ramadan merasa sangat beruntung sebab teringat pada sebuah artikel yang mengatakan bahwa Gus Mus pernah memberi saran kepada pejabat untuk pergi ke pameran seni. “Menurut saya dengan melihat lukisan hati orang menjadi lembut, bisa memikirkan yang lebih agung daripada sekadar sesuap nasi dan sebagainya” begitu ucap Gus Mus.
Dari ucapan Gus Mus tersebut, saya pikir yang unik dari kemanusiaan adalah kita justru harus menanggalkan sifat-sifat manusiawi kita. Seperti nafsu, ego, amarah dan sifat-sifat alamiah manusia yang lain. Hal ini justru agar kita dapat saling memanusiakan manusia.
Dalam hal kemanusiaan, saya juga melihat cermin kerendahan hati Gus Mus saat melihat potret berjudul “kehidupan” yang digambarkan Gus Mus dalam lukisannya. Alih-alih memperlihatkan gambaran interaksi sosial yang “hidup”, saya justru melihat gambaran manusia-manusia yang sedang menunduk. Entah kenapa begitu. Mungkinkah itu esensi kehidupan yang sebenarnya? Menundukkan ego dan keakuan yang fana pada diri manusia?
Tak hanya bergelut pada lukisan, Suwarno yang mengatakan bahwa Gus Mus tak terikat pada satu dimensi tertentu ini juga menunjukkan karya-karya Gus Mus dalam bentuk yang lain. Puisi salah satunya. Lanskap Gus Mus seakan ingin menghadirkan gambaran sosok Gus Mus yang walau tidak bisa utuh, namun bisa ditarik garis besarnya. Pada ihwal kemanusiaan, Gus Mus menghadirkan puisi tentang kemiskinan atau Dajjal dalam wujud manusia.
Tampak bagi Gus Mus bahwa persoalan seni adalah bagaimana menjadi manusiawi sejati; dengan keadilan menjadi pangkal, sementara keserakahan menjadi aral. Ada satu puisi yang menarik perhatian. Salah satunya sebagai berikut:
Doa
Kami tak berani menatap langit
Bumi yang terbaring
Terus mengerang
Menghisap airmata kami
(Kami tak menghilangkan, sayang
bahkan menambah dahaga)
K.H. A. Mustofa Bisri

Pada puisi yang menegaskan untuk enggan menatap langit kala berdoa, dan lebih memilih menunduk kepada Bumi tempat menetesnya air mata, sudah pastilah menggambarkan Gus Mus itu sendiri. Saya jadi teringat sebuah cerita yang mengatakan bahwa pintu ruang ibadah Gus Mus lebih pendek dari manusia. Sehingga jika hendak memasuki ruang ibadah di ndalem Gus Mus, orang itu harus menunduk terlebih dahulu. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan ketawadhuan Gus Mus yang patut kita ambil hikmahnya. Khususnya saat hendak menghadap kepadaNya.
Tak hanya lukisan dan puisi-puisi Gus Mus, di lantai dua OHD museum juga ditayangkan rekaman obrolan Gus Mus bersama Suwarno Wisetrotomo. Baru saja saya menapakkan kaki pada lantai tersebut, saya sudah mendengar suara Gus Mus berkata, “Bersaudara sesama Islam saja belum bisa, apalagi bersaudara sesama Indonesia.” Seketika hati saya terpecut.
Hal itu mengingatkan saya kepada persoalan-persoalan menjelang Idul Fitri yang kerap kali memanas di media massa. Di mana perbedaan hasil keputusan hari raya Idul Fitri masihlah mendapati perdebatan yang begitu-begitu saja, dan justru menjadi ajang menjauhkan persaudaraan sesama muslim di Indonesia.
Padahal, saya teringat ketika kondisi darurat Covid-19, persoalan hisab dan rukyat seakan hilang dan Idul Fitri menjadi demikian fokus pada persoalan menjadi fitri di tengah pandemi, tanpa sibuk memedulikan perbedaan demi penghidupan. Namun ketika keadaan seolah tidak lagi darurat, perbedaan dirayakan sebagai keterpisahan, bukan keberagaman menuju fitri. Kita seakan terjebak pada hal-hal permukaan, dan gagal menghayati Idul Fitri sebagai refleksi manusiawi.
Lalu, pada akhirnya, bagaimana upaya kita untuk mendatangi Tuhan seperti Gus Mus dengan wirid-wiridnya, jika berlaku adil kepada sesama makhluk-Nya saja kita belum sanggup? Mampukah kita meniru Gus Mus yang dapat mengolah apa saja yang ada di dunia ini sebagai sarana zikir kepadaNya? Dapatkah kita mendekatkan diri dengan cahaya keindahanNya, agar memantulkan estetikaNya, sehingga di saat yang sama terpantul pula keindahan-keindahan dari apa yang ada pada sekitar kita?
Semoga dengan tarikan-tarikan napas yang masih tersisa, ikhtiar-ikhtiar kita untuk mendatangiNya tidak terbuang sia-sia. Wallahu a’lam bisshawab.