Saat datang, tak genap didapatinya antrean; dan dia senang, sebab ruang lebih lenggang. Sebelum memesan tiket, dilihatnya bagian depan gedung pameran; dan tampaklah papan yang luas dan besar: tercantum judul pameran dan nama sang seniman. Ditujunya loket; memesan tiket, dan mendengarkan apa-apa yang disampaikan penjaga dengan saksama.
Dia pun berjalan masuk. Di hadapan tangga, dia berhenti; menoleh ke kiri, dan mendapati pendek biografi. Dari sana, diketahuinya, bahwa sang seniman, Albert Yonathan Setyawan, lahir pada 1983 di Bandung; lulus dari ITB, dan bergelar Megister Seni Rupa (Seni Keramik) pada tahun 2012.

Dia pun mendapati, sang seniman, setelah rampung dari ITB, melanjutkan penelitian dan pendidikan seni keramik kontemporer di Kyoto Seika University; dan menerima gelar doktor (S3) pada tahun 2020. Ada banyak pameran dan prestasi didapati matanya ketika membaca biografi itu; dan didapatinya pula, bahwa Albert Yonathan Setyawan -selanjutnya AYS- juga melakukan eksplorasi dengan media lain, seperti gambar, instalasi, dan seni performance tanpa genap meninggalkan kerja dan kesadaran berkeramiknya. Lalu, didapatinya pula, bahwa sang seniman tinggal di Tokyo, Jepang—dan pastilah memberi suatu pengaruh atas etos kesenian dan kesenimanannya.
Dia pun menoleh ke sebelah kanan, dan membaca catatan kuratorial yang dituliskan oleh si seniman sendiri; dan terpukau pada isi teks tersebut. Didapatinya bahwa pameran yang tengah didatangi kini telah dipersiapkan oleh sang seniman selama 15 tahun: selama 2008 sampai 2023. Dia merinding! Sepasang matanya membaca tulisan itu; membaca bahwa sang seniman hendak dan mengupayakan untuk merekam hening, merekam sesuatu yang memiliki soalan tersendiri ketika dihadirkan dan dipresentasikan.
Dari teks itu, didapatinya bahwa semua karya yang dihadirkan dibuat oleh sang seniman sendiri sendiri—dengan satu persatu dan dengan “hanya” sebuah tungku di studio-rumahnya itu! Sejenak, dilihatnya video yang ada di samping teks-dinding; dan terpukau pula. Lalu, seorang penjaga galeri mengarahkannya pada karya pertama dan mula dari serangkaian karya di itu pameran. Karya pertama itu ada di dalam ruangan yang dicat gelap; dan sebuah lampu menyorot karya yang ada di lantai dari sebuah sudut di langit-langit, menyorot keramik yang tertata sedemikian rupa dalam suatu komposisi.

Dari dekat pintu masuk ruang pertama itu, dia mengamati cukup lama. Sepasang matanya mendapati keramik-keramik kecil yang tertata dalam suatu komposisi dan repetisi: serupa dengan punden-berundak, candi, piramida. Cahaya dari lampu sorot mencipta bayang, ilusi rupa juga ruang. Sepasang kakinya bergerak, mengitari ruang: seperti mengelilingi candi atau bertawaf. Dari tiap sisi, didapatinya, karya itu terasa lain dan lain.
Kembali diangkatnya kepala, melihat lampu; dan tersadar, relasi antara ruang, karya keramik, lampu sorot, serta dirinya sendiri berhasil membuat suatu peristiwa artistik yang lain dan lain lagi. Dari sana, didapatinya semacam kisi-kisi untuk berhadapan dengan karya-karya lain nanti. Dia pun keluar ruangan, dan menaiki tangga. Dan saat menaiki tangga, dia bertanya-tanya: Kenapa dimulai dari lantai tiga—lalu dua dan baru satu?
Di tangga terakhir, pintu lantai ketiga menyambut; sebuah karya terbingkai pintu itu. Masuklah dia, dan berbelok ke kanan, lantas berbelok ke kanan lagi, dan masuk ke ruang yang juga dicat gelap. Di sana, didapatinya keramik-keramik kecil serupa lonceng dan stupa candi; dan keramik-keramik itu tersusun dalam suatu pola dan komposisi mandala.

Cahaya lampu turut mencipta suatu dramaturgi di matanya. Dan sebab memiliki pengalaman dari karya sebelumnya, dia pun berjalan melingkar-memutar: memperhatikan dari berbagai sisi dan bagian. Dan saat hendak meninggalkan ruangan, baru disadarinya, apa yang dipandangnya serupa dengan kembang!
Dia ke ruangan yang ada di sisi lainnya; dan di sana, didapatinya ruang yang dicat gelap kembali. Sepasang matanya lekas mendapati lingkaran yang tercipta dari pecahan-pecahan keramik. Dia masuk, melihat video dari si seniman: Memecahkan keramik-keramik yang tertata sedemikian rupa satu per satu!
Lalu, dipandangnya kembali lingkaran yang tercipta dari pecahan keramik-keramik itu: Serangkaian keramik yang dibuat satu per satu, dipecahkan satu persatu, dan ditata kembali menjadi satu karya bundar! Saat memandang dan berputar itu, didapatinya bentuk pecahan keramik itu serupa dengan daun-daun kering; dan bentuknya berbeda-beda, meski dari ujud keramik awal yang sama—

Sebelum menuju ruang besar, dia terhenti di hadapan karya yang ada di antara dua ruang hitam itu. Dari kejauhan, dari suatu jarak tertentu, dia mendapati karya itu serupa bentuk geometri dari bentuk bunga atau hiasan ornamental—yang disusun dari keramik berbentuk daun-daun dari Pohon Kupu-kupu. Dia mendekat dan mendapati daun-daun itu ternyata memang berbentuk serupa serangga; berbentuk serupa kupu-kupu.
Setelah memahami demikian, dia pun maju-mundur: melihat dan mengamati dari jauh dan dekat. Ah! dia pun mendapati semacam kisi-kisi kembali; bukan hanya dari sisi mana sebuah karya bisa dinikmati-diamati, tetapi betapa jarak si pengamat juga memberi kesan tersendiri yang lain lagi dan lagi.
Dia melangkah lagi; dan sampai pada ruang besar, yang tadi terbingkai pintu masuk. Di ruang besar itu, sepasang matanya jelas tercuri pada karya-karya yang ada di sana. Akan tetapi, diputuskannya bergeser lebih dulu: menilik karya-karya yang ada pada bilik-bilik dan ruang-ruang kecil yang juga saling terhubung. Dan sebab belajar dari karya-karya sebelumnya, dia pun melihat karya dari jauh dan dekat; mencoba berbagai jarak untuk memandang-amati.

Dia kembali, menyadari kisi-kisi: Ada gradasi warna dari komposisi karya yang dirangkai, ada bentuk luar dan bentuk dalam, dan betapa bayangan dari karya-karya yang tertempel di dinding itu juga memberi kesan dan impresi tersendiri. Ada banyak ikon-ikon keagamaan, religi, dan spiritual di situ, tapi dirasanya tak ada paksaan penafsiran yang menghinggapi. Baginya, keramik-keramik yang ditata sedemikian rupa itu serupa dengan bercermin; dan dia pun merasa tengah mengaca!
Dia menduga, hal itu sebab tengah berhadapan dengan keramik dan tanah liat, dengan suatu bahan yang mencipta kemanusiaannya. Sambil berjalan, berhenti, dan mengamati, dia pun jadi mengamini: “Saat melihat daun lebih luas, pohon akan tampak; dan saat melihat pohon lebih luas, hutan akan tampak.”
Setelah menghabiskan ruang-bilik yang bersejajar-bersebelahan, dan menyentuh karya yang diizinkan disentuh, dia duduk di sebuah bangku yang tersedia: memandang keramik yang memenuhi dinding lebar dan luas—dari ujung ke ujung. Amat lama dia duduk di sana: terpukau dan tak genap berkata-kata. Saat memperhatikan dengan saksama, ditemuinya citra serafim; dan dia merasa ada di semacam surga atau nirwana. Setelah lama duduk, dia bangkit; dan menghabiskan karya yang terhidang di lantai tiga itu.

Dia melihat burung-burung yang tertata sedemikian rupa, melingkar dan memusat; membuatnya bertanya-tanya, sebab melihat semacam ruang kosong di tengah komposisi: Apakah itu Sunyata? Dia pun kembali memasuki ruang yang dicat gelap, dan didapatinya kembali mandala! Dan seperti sebelumnya, dia berputar-berkeliling; dan menyaksikan video performance yang ditampilkan: video penciptaan dan penyusunan itu karya.
Sementara di sisi yang berhadapan tepat dengan tivi yang menayangkan video tadi, disadarinya, sebab lenggang, dia bisa berjongkok dan menonton kedua karya visual itu dengan bersamaan. Dia pun berjongkok dan mengamati keduanya—di saat yang sama. Setelah jauh-dekat, luas-sempit, soalan sisi, dan cahaya, kini dipahaminya soalan tinggi-rendah!
Di lantai kedua, dia makin terpukau pada apa yang dipandang matanya dan dirasa tubuhnya. Ada banyak bilik-bilik ruang yang tersedia. Di tiap-tiap ruang-bilik, didapatinya kembali burung-burung dalam serangkaian komposisi; juga didapatinya citra-citra yang serupa malaikat dalam Angelologi. Sepasang matanya juga kembali mendapati bentuk-bentuk daun, yang ternyata juga serangga, dalam komposisi geometri yang simetri dan penuh repetisi. Bentuk geometri, ucap guru SMP-nya, akan membawa kalian pada spiritualitas! Dan kini dia makin percaya!

Dan persis di ruang besar yang panjang, kembali terduduk dia pada bangku yang tersedia: menyaksikan keramik yang tertempel di dinding dan membentuk pola dan citra. Dan sesudahnya, berjalan kembali dia ke ruang yang menyuguhkan video dan karya yang terbaca olehnya sebagai performance—
Di ruang yang dicat gelap lagi itu, dia mendapati video-video tentang keramik. Ada video olahan tanah liat, yang telah berbentuk guci-kendi, yang hancur perlahan sebab terendam air atau tertetesi air secara konstan. Pertanyaan menghinggapi kepalanya: Apakah ini keramik, bukankah keramik adalah tanah liat yang dibakar dan tak hancur sebab air?
Dia tentu tak sedang ingin menjawab; dia lebih ingin mengamati dan mengamati. Meski demikian, di sana, dia tetap betah mengamini: Menilik keramik dan tanah liat dalam karya AYS, adalah suatu ajakan untuk menilik manusia dan kemanusiaanya.

Dia pun keluar ruangan gelap itu, dan mendapati ruang yang juga masih dicat gelap. Di sana, ada dua olahan tanah liat yang dimasukan ke dua akuarium dan diterangi dua lambu; dan terhubung pipa air. Dari olahan tanah liat yang berbentuk guci-kendi itu, ada pohon yang keluar, tumbuh dan terus tumbuh. “Cahaya, air, tanah, tumbuhan…” Di hadapan itu karya, ingin sekali dilupakannya tanya tentang apa itu keramik.
Di lantai satu, penjaga mengarahkannya pada teater kecil lebih dahulu. Di teater kecil itu, kembali terpukau dia pada apa yang didapati mata dan tubuhnya. Ada dinding amat tinggi yang penuh dengan keramik, kombinasi bentuk mentari dan serafim. Duduklah dia di kursi teater, bersila; memandang karya itu begitu lama: serupa pertunjukan! Amat lama dia duduk di sana.
Setelah puas, dia pun bangkit dan bergeser ruang-bilik. Dan di sebuah ruang-bilik, setelah sebuah mandala, didapatinya karya yang tersusun dari orang-orangan yang serupa pin boling; dan ini membuatnya kembali memperoleh kisi-kisi: Perspektif!

Dan di lantai ke satu itu, didapatinya pula karya-karya drawing dari sang seniman serta keramik-keramik yang membangun-citrakan bagian-bagian dari rumah. Sepasang matanya melahap begitu banyak; terbawa pada rumah, sejenis kisah-kisah genesis, kegaiban. Akan tetapi, kepalanya tak menuntut penjelasan; dan begitu menikmati apa yang sepasang matanya pandang dan yang dirasai oleh badan.
Seorang penjaga pameran mengingatkannya, masih ada satu karya lagi di pendapa; dan dia pun ke sana. Didapatinya labirin dari susunan keramik-keramik—memenuhi ruangan! Sepasang matanya mendapati cicak yang menempel pada sebuah guci-kendi keramik. Cicak itu berhasil mengingatkannya kembali pada karya-karya sebelumnya. Dan seperti karya-karya sebelumnya, dia berputar-berhenti-mengamati; berdiri-berhenti-berjongkok-berjalan kembali.
Dari satu sisi pandang tampak sebuah jalan; dan pada sisi yang lain tampak samar; dan pada sisi yang lain lagi sama sekali tak tampak jalan. Dan di satu sisi, dia bertanya-tanya sendiri: Apakah bentuk guci-kendi ini sama dengan yang dipecahkan satu per satu di lantai ketiga tadi? Lalu, ada suatu keinginan: mencoba berjalan di labirin itu. Akan tetapi, dari informasi yang didapat dari penjaga, ada jadwal tertentu untuk berjalan di labirin itu.

Setelah puas mengamati, dia keluar; dan pada bangku di halaman, dia duduk memandang langit malam. Sambil memandang langit, dia kembali mengingat, pameran keramik yang baru saja dilaluinya itu telah dipersiapkan sang seniman selama 15 tahun, dibuat satu per satu, ditata-disusun dengan perlahan sebagai meditasi dan olah tubuh.
Pun sebab berkawan dengan orang-orang dari sebuah kolektif keramik, dia jadi memahami, bahwa pecah, retak, dan serangkaian ketidaksesuaian dengan apa yang diharapkan adalah keniscayaan dalam seni keramik; dan AYS membuat pameran “Capturing Silence” yang dibangun dari serangkain keramik dan seri. Dan teringatlah dia bahwa ada silang gagasan Teologis Biblikal dan Zen Budhisme yang pastilah telah membentuk sebuah etos dan kesadaran berkeramik dari sang seniman.
Awan berarak lembut, dan menutup bulan; dan didapatinya semacam pertanyaan: Kenapa Albert Yonathan melakukan pamerannya pada 2023—dan di Yogyakarta? Dia mengingat, pada 2022 dan 2021, di Yogya, tak genap banyak didapatinya pameran keramik: pameran yang seluruhnya keramik.

Akan tetapi, pada 2023, setidaknya didapatinya ada dua buah pameran keramik yang dilakukan sebuah kolektif seni pada Maret dan September, ada dua buah pameran tunggal dari dua seniman yang berbeda di Bentara Budaya pada April dan juga Agustus, serta ada sebuah festival keramik akbar di Kasongan pada bulan Juli. Dia bergidik; menyadari pameran AYS mendapati semacam momentumnya. Dan betapa sepasang telinganya baru menyadari, selama pameran tadi ada suatu gema!
Bulan pun kembali tampak! Dan dia pun baru berpikir: Betapa tanah sering dikaitkan dengan soalan yang bumi dan duniawi; dan betapa menariknya ketika mendapati tanah liat dihadirkan sebagai suatu ikon metaforik dari serangkaian teologi, juga laku meditasi.
Amatlah terkejut dia sebab dapat menarik suatu pernyataan semacam itu! Betapa, baginya, perjalanan pameran tadi benar-benar membuatnya merasa seperti sejenis Adam—tanpa Eva. Dipandangnya bulan; dan dibayangkannya cerita-legenda itu benar atau mendekati kebenaran: Bulan adalah bahtera yang mengantar manusia dari Surga ke Dunia . . .
Yogyakarta, Oktober 2023