Seperti puisinya, gambar-gambar Goenawan Mohamad tampil tuntas tanpa membuat pembaca merasa selesai. Pemadatan warna hitam disertai garis yang tidak ragu-ragu, membuat saya seperti sedang berhadapan dengan arca batu sengaja tak dirampungkan. Kasar, keras kepala, sekaligus indah dalam keangkerannya.
Pameran tunggal Goenawan Mohamad-atau masyhur disingkat GM-dalam “Kitab Hewan” menyuguhkan 35 karya grafis intaglio dan litografi hasil residensi selama 10 bulan di studio Devfto Printmaking Institute. Pameran tersebut digelar di ruang pamer Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan, 16 Februari-16 Maret.
Lewat solo presentasinya, penyair yang sudah cukup sering berpameran itu seolah sedang melebarkan bahasa puisi ke dalam nalar penglihatan. Kali ini hewan-hewan menjadi pokok pembahasan dalam karya visualnya, simbol yang sudah sangat tua; binatang dan manusia–hasrat, kecerdasan, dan timbangan akal budi. Pameran yang dikuratori oleh Srie Malela Mahargasari ini mengatakan, bahwa spontanitas dan dorongan bermainlah yang menghidupkan karya-karya drawing GM.
“Dalam berkarya, saya tidak digerakkan oleh ide. Saya menggambar itu tidak bertujuan. Ide barangkali bisa saja ada, tapi hanya di awal, selebihnya kebebasan tangan atas dorongan dari dalam yang menggerakkan,’’ ujar penyair yang juga menulis masalah visual, “Pigura Tanpa Penjara: Esai-esai Seni Rupa” tersebut.
Tak ayal, sekalipun telah banyak menelurkan karya rupa, apa yang dikatakan GM sangat mengidentifikasi dirinya sebagai penyair. Karena demikianlah cara puisi bekerja; ia menangkap kilatan burung, auman macan, dan terbunuhnya seekor anjing dengan perenungan pedang samurai. Ide selekas-lekasnya ditebas ketika masih mengambang, karena sifat puisi yang lentur dalam bentuk dan makna.
Bila dibandingkan prosa fiksi yang lebih mengutamakan pikiran, bersifat konstruktif dan analitis; puisi lebih mengutamakan hal-hal yang intuitif, imajinatif, dan sintetis. Sajak adalah deklarasi bahasa yang mengedepankan fungsi emotif.

Hal serupa juga bakal kita dapati pada drawing ‘Parikesit’ berusia 82 tahun itu. Guratannya sekilas tampak cepat dan begitu saja, namun di sela-sela rusuh dan carut-marutnya mengendap sosok puluhan tahun yang telah termenung di ujung bahasa.
Simak karya etsa berjudul “Kuda”, goresan tak terkendali melatari distorsi bentuk binatang priyayi itu. Ada kecepatan di sana, ada ketegasan, kekuatan, dan aswa yang entah kenapa tampak diam dan tua. GM dengan metodenya berhasil mengedepankan intensitas perasaan dan kegigihan perenungan diwakili kemungkinan garis dan komponen penyusunnya.

Secara wujud visual, perupaan karya GM lebih menyerupai bayangan. Tidak konkret menjelaskan bentuk; mengatakan ini adalah burung, tetapi samar-samar menyembunyikan sayap dan paruhnya, seperti dalam karya “Sang Ilmuwan”, “Orang Suci & Burung-burung”, dan sejumlah karya yang saya asumsikan unggas lainnya. Ia membuat format makhluk angkasa tersebut memiuh oleh makna lain, burung menjadi makhluk keramat, berita kematian, atau mitos kuno tentang keagungan.
Bisa dikatakan eksibisi ‘’Kitab Hewan’’ menjadi perayaan pria kelahiran Batang, Jawa Tengah itu atas ketidakterdugaan. Dalam teks kuratorial ia menyatakan: “the beauty is the celebration and the joy of the unexpected.” Medium intaglio sendiri merupakan teknik cetak grafis yang mengandung berbagai kemungkinan tak terduga. Lebih-lebih etsa yang rawan mengalami “kecelakaan artistik”, karena dalam prosesnya melibatkan asam untuk membuat ceruk tinta pada plat yang menentukan gelap terang.
Gerusan asam yang barangkali luput di beberapa titik, menunjukkan tangan-tangan manusia yang bekerja di baliknya. Juga sapuan dan kepekatan tinta yang sedikit berbeda menimbulkan permainan kedalaman yang manusiawi. Cetak grafis memungkinkan seniman untuk yakin sekaligus ragu-ragu di waktu bersamaan. Dalam hal ini, sudah tidak disangsikan lagi Devfto sebagai studio printmaking dapat menghasilkan karya seni cetak berkualitas.
Melihat “A Book of The Beasts”, saya seperti sedang mengamati ensiklopedia tentang hantu-hantu. Makhluk-makhluk imajiner dengan pendekatan mitos dan tafsir yang terus-menerus, membuat saya terhenyak sekaligus mengernyitkan dahi. Image itu hadir selayaknya “jimat printmaking” karena menyimpan sesuatu yang halus dibaliknya, sebuah lapisan yang tidak ada pada pengamatan mata telanjang. Sesuatu yang hanya mungkin ditemukan dengan kejelian mengenali rasa puisi GM yang kasar, mentah, dan keras dalam torehan garisnya. Rasanya mirip seperti sedang mengupas lapisan bawang merah. Seperti sedang membaca salah satu sajaknya yang remang-remang,

“Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: Pergilah sebelum malam tiba
Kudengar musim mendesak ke arah kita
Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba
Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun terbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada
Citra bahasa pada puisi GM tampak buta, artinya tidak langsung menunjuk pada konotasi tertentu. Akan tetapi, kebeningannya sempat melantunkan kesan emosional. Memberikan goresan mendalam pada perasaan kita tentang satu fase kehidupan yang tampak sia-sia, terasing, dan terpenjara. Atau baca juga salah satu sajak dari bunga rampai “Parikesit” di bawah ini:

“Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”
Di kota itu, kata orang, gerimis telah jadi logam.
Di bawah cahaya hari pun bercadar, tapi aku tahu kita akan sampai ke sana.
Dan kita bercinta tanpa batuk yang tersimpan, membiarkan gumpal darah di gelas itu menghijau.
Dan engkau bertanya mengapa udara berserbuk di antara kita?
Lalu, pagi selesai, burung lerai dan sisa bulan tertinggal di luar, di atas cakrawala aspal.
Jika samsu pun berdebu, kekasihku, juga pelupukmu.
Tapi tutupkan matamu, dan bayangkan aku menjemputmu, mautmu.
Agak berbeda dari puisi sebelumnya, dalam sajak ini suasana terkesan lebih terang dan runtut. Namun rasa keterasingan, terpenjara, dan kebimbangan begitu menggigit di sana.
Selain menunjukkan capaian visual terbaru GM dengan medium cetak, pameran tunggalnya kali ini turut menampilkan kumpulan puisi sejak Buku Parikesit, hingga sajak teranyar melalui display “Di Ujung Bahasa: Antologi Puisi 1961-2022”. Dalam usianya sekarang, Goenawan Mohamad yang sudah mapan sebagai sastrawan seolah tidak capai merambah kemungkinan. Tentu pergulatannya sebagai perupa berbeda dengan bagaimana ia berdiri sebagai begawan sastra. Jalannya sudah jauh lebih lapang. Bagi saya, setelah beberapa kali menghadiri pameran penulis “Catatan Pinggir” itu, seni rupa jadi semacam skema lanjutan kepenyairannya setelah kata-kata. Jadilah warna, guratan, dan sapuan kuas menyatakan dirinya sebagai puisi. GM tinggal membubuhkan dirinya pada apa saja. (*)