Datang-pergi dan hilang-kembali adalah keniscayaan dalam kekancan. Maka, kirim kabar menjadi kata kerja yang mesti dirawat sebagaimana garis dan warna digoreskan di atas kanvas. Atmosfer seperti itulah diembuskan komunitas Teras Gambar dan Sket Ndek Kene dalam pameran sketsa bertajuk “Kirim Kabar” pada 11 – 15 Februari 2023 di Dewan Kesenian Malang.
Teras adalah ruang interaksi terbuka. Ia menghubungkan ruang dalam dan ruang luar. Dari teras, kita bisa berbincang dengan yang di dalam sekaligus menyapa yang di luar. Semua boleh mengucap salam jumpa. Itulah mengapa, komunitas Teras Gambar kerap menggunakan teras sebagai ruang berkarya. Anak SD, mahasiswa, hingga bapak rumah tangga boleh berkarya bersama. Menyimpul tali kekancan, mengeratkan tali perkawanan.

Ndek Kene (Di Sini) adalah kata keterangan tempat yang sempit tapi tak berbatas. Sempit karena mengacu pada ruang yang dekat, bukan yang jauh (ndek kana, di sana). Tak berbatas karena bisa di mana saja. Setiap tempat layak disebut ndek kene asal kita hadir di dalamnya. Semua bisa menjadi ruang berkarya sekaligus lokus kekancan.
Komunitas Teras Gambar dan Sket Ndek Kene menghidupi ruh kekancan dengan cara berbeda. Teras Gambar menerjemahkan kekancan dalam rupa saling menerima. Mereka membentuk lingkaran tak putus. Dalam proses berkarya, setiap orang menggeser karyanya tiga langkah ke kanan. Karya yang belum selesai itu akan dilanjutkan kawannya. Dalam proses itu, setiap orang sejatinya bukan sekadar menerima karya, tapi juga gagasan. Tentu sulit, tapi menjadi mudah ketika semua bernapas dengan udara saling menerima.
Komunitas Sket Ndek Kene lain lagi. Mereka acap bertukar peran. Hari ini mereka menggambar sket. Besok mereka menjadi model bagi sket kawannya. Pertukaran subyek dan obyek ini menjadi media saling meleburkan diri dalam proses berkarya bersama. Ruang utamanya di Semeru Art Gallery. Namun, komunitas Sket Ndek Kene juga sering menggambar sket di ruang publik. Mulai dari pasar, stasiun, hingga konser musik dan tempat ibadah. Begitulah mereka meluaskan ruang berkarya sekaligus melebarkan jendela kekancan.
Sebagian sketsa komunitas Teras Gambar dan Sket Ndek Kene tersebut dipamerkan di Dewan Kesenian Malang pada 11 – 15 Februari 2023 lalu. Karya dengan teknik scribble, kolase, dan arsiran memenuhi Gedung sayap kiri. Sehimpun gambar scribble menampakkan perubahan tebal goresan yang tiba-tiba. Ada gagasan yang melompat-lompat.
Di sisi belakang, terpampang beberapa karya arsiran dengan tema dua gunung. Saya langsung tergelitik. Gambar dua gunung dengan seruas jalan diapit persawahan kerap digunakan untuk membuka seminar motivasi. Gambar itu pun ditertawakan sebagai simbol matinya kreativitas lantaran nyaris semua anak sekolah menghasilkan gambar serupa.
Tema dua gunung ini sengaja diangkat sebagai upaya menggali imajinasi kolektif tentang masa kecil. Bukan untuk menegaskan matinya kreativitas, melainkan untuk menemukan kembali cara baik berteman. Bagaimanapun, masa kecil sarat pesan kekancan. Spirit kekancan itu bisa kita amati dari ikatan antar obyeknya.

Melalui gambar balon-balon yang terhimpun pada tali, kita belajar merasakan kuatnya ikatan kekancan. Bisa jadi kawan yang hari ini ada di dekat kita, esok pergi entah ke mana. Namun, kita mesti tetap percaya bahwa terbangnya kawan bukanlah pergi menghilang, melainkan mencari kawan baru. Menambatkan tali kekancan baru.
Sementara dari gambar boneka salju dan ikan lumba-lumba, kita belajar menemukan cara sederhana menciptakan kegembiraan. Orang dewasa boleh memandang kebekuan sebagai penghilang kegembiraan, tapi tidak demikian dengan anak kecil. Mereka justru kekancan dengan kebekuan. Alih-alih mengutuki perubahan, anak kecil lebih mudah menemukan kegembiraan bersama perubahan.
Jendela yang terbuka dan anak-anak bermain engklek menceritakan keterbukaan menerima kepelbagaian. Gabungan obyek yang berbeda, bertolak belakang bahkan irasional adalah gambaran betapa kekancan mesti dibangun dengan kebersediaan menerima yang lain dan yang berbeda.
Di tengah ruang, ada rupa-rupa obyek dari kertas. Sebagian besar berupa pesawat terbang. Ada yang bergantung pada seutas senar transparan. Ada juga yang menghubungkan satu sisi dinding dengan sisi terdekatnya. Garis jejak pesawat itu mengaburkan yang siku-siku menjadi lengkung. Yang kaku menjadi lentur. Semua adalah representasi kekancan yang melenturkan kekakuan. Lentur menerima datang-pergi dan hilang-kembali sebagai keniscayaan dalam kekancan.
Sementara itu, di sayap kanan Gedung Dewan Kesenian Malang, puluhan karya komunitas Sket Ndek Kene memenuhi dinding. Sebagian lagi dikumpulkan di dalam folder bening di meja tengah. Sedikit berbeda dengan karya Teras Gambar yang ramai obyek, karya komunitas Sket Ndek Kene didominasi kertas gambar dengan sedikit obyek.

Orang rebahan. Itulah tangkapan obyek kali pertama ketika saya mengitarkan pandangan mata dari pintu ke sekeliling ruangan. Namun, ketebalan dan lengkungan garis tinta bak tiap obyek menceritakan kisah beragam begitu saya mendekat. Orang rebahan, misalnya. Mereka yang tampak rebahan belum tentu tidur. Bisa jadi, mereka sedang beristirahat. Atau, sedang menyusuri semesta gagasan. Kalaupun tidur, yang tertangkap bukanlah kemalasan, melainkan cara hidup bersahaja. Mereka bahagia meringkuk (Erik Novansyah, model Maruto, 2023) ataupun telentang (Maruto, model Sinatra, 2023) meski hanya di kursi tanpa alas.
Ada juga sosok manusia sedang duduk. Tiga gambar berurutan menampakkan orang duduk sambil merokok (M Junaedi, model Lidia, 2023), membaca (Rizky Agung, model Luluk, 2023), dan bekerja (Boeing, model Faqih, 2023). Spirit kekancan apakah yang hendak dikisahkan sosok-sosok sendirian tersebut? Pada akhirnya, kekancan mesti menyediakan ruang jeda.
Alih-alih menjauh dari kekancan, jeda adalah waktu untuk mengendapkan cerita kekancan. Jika rokok yang terbuat dari bahan berbeda bisa menghasilkan rasa yang sama, maka kekancan mesti mengikat yang beragam tanpa memaksanya menjadi seragam. Jika membaca menawarkan akses pengetahuan, maka kekancan mesti menjadi kesempatan bertukar pengetahuan. Jika bekerja diniatkan sebagai ikhtiar menuang karya, maka tak elok jika kekancan dimanfaatkan untuk mendulang harta.
Bagi komunitas Sket Ndek Kene, setiap tempat adalah ruang berkarya. Setiap lokasi adalah lokus kekancan. Maka, kendati karya-karya yang dipamerkan menyelipkan sketsa ruang publik, kekancan tetap menjadi gagasan utama dalam kerangka ceritanya.
Dalam sketsa stasiun misalnya, tukang becak yang memandang ke stasiun lebih menonjol ketimbang stasiun itu sendiri. Meski tampak belakang, tatapan tukang becak itu adalah tatapan penuh harapan. Pun dengan sketsa Pasar Kembang Splendid yang lebih menceritakan kekancan mas parkir dan pak becak ketimbang kembang yang dijual. Juga sketsa para pemancing (Sudrajat Kurniawan, Art Camp, 2023) yang tak tahu kapan mendapat ikan tapi mereka tetap berdekatan tanpa berebutan. Karena yang tergantung di kail bukan pakan tapi harapan. Begitulah sebaiknya harapan dihadirkan sebagai perawat kekancan.
Fajar Gusmy, salah seorang koordinator pameran, memaparkan bahwa tajuk Kirim Kabar diperkuat dengan tagline From Gratul-gratul to Grateful. Ini bukan permainan bunyi kata semata. Gratul-gratul menggambarkan tahap awal berkarya, tapi titik akhirnya bukan mahir melainkan grateful, bersyukur. Komunitas Teras Gambar dan Sket Ndek Kene mengajak khalayak belajar mensyukuri proses berkarya bersama. Saling memberi dan menerima dalam kekancan lebih mulia ketimbang kemahiran menggoreskan garis dan warna. (*)