Search
Close this search box.

Ketika Rumput Liar Merambah: Mengapa ada Penokohan dalam Karya Galih Reza Suseno?

Mengulik pameran tunggal kelima Galih Reza Suseno di Next Museum, Korea Selatan, yang mengingatkan bahwa alam adalah benda hidup melalui penokohan fiksinya.

“When Wild Grasses Take Over” (Ketika Rumput Liar Merambah) adalah pameran tunggal kelima Galih Reza Suseno yang berlangsung sepanjang bulan Agustus 2026 di Next Museum, Korea Selatan. Sore hari 24 September 2026, hampir satu bulan sejak pamerannya usai, saya mengunjungi studio Galih Reza Suseno di Yogyakarta untuk wawancara singkat. Teks ini membahas pameran Suseno, refleksinya atas proses kekaryaan, serta pengalamannya di Negeri Ginseng.

Galih Reza Suseno di depan galeri Next Museum, Korea Selatan. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

Galih Reza Suseno adalah seniman lukis yang berbasis di Yogyakarta. Ia dikenal melalui eksplorasi tekstur menggunakan modelling paste (bahan medium seni berbahan dasar akrilik yang bertekstur kental, berfungsi untuk menciptakan efek tiga dimensi, volume, serta tekstur timbul pada lukisan), dengan pengembangan teknik stippling dan pointilis, yakni penggunaan susunan titik-titik berulang untuk membentuk objek. Ia menggunakan warna-warna cerah untuk menghasilkan lanskap fantasi. Karyanya konsisten membawa tema seputar spiritualitas, kemanusiaan, dan relasi dengan alam.

Suseno memperkenalkan Locious pada karyanya sejak tahun 2023; entitas yang mewakili roh penjaga alam. Karakter-karakter ini lahir dari kepercayaan Suseno akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Setiap karakter melambangkan unsur alam dengan warna dan bentuknya masing-masing. Ranu (Air) berwarna biru dengan tiga tonjolan di kepalanya; Riku (Bumi) berwarna kuning dengan tanduk cokelat; Shoku (Api) berwarna merah dengan lambaian api; dan Shu (Udara) berwarna ungu berbentuk seperti awan. Karakter-karakter ini kemudian selalu hadir dalam karya-karyanya, baik dalam lukisan maupun patung.

Locious dalam lembar informasi yang dapat diambil pengunjung pada pameran When the Wild Grasses Take Over. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

Locious adalah perjalanan yang masih berlanjut. Semua berawal dari ingatan masa kecil Suseno yang tumbuh besar di kaki Merapi, tepatnya di Boyolali, Jawa Tengah. Dekat dan dikelilingi hutan, area yang belum diintervensi manusia, membuatnya merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Dengan wajah alam yang kini tidak lagi sama, Suseno mempertanyakan apa yang dimaksud dengan hidup bersama alam. Ia tergelitik dan risih atas pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai tolok ukur utama dan alam sebagai alat pemenuhan kebutuhan saja.

Suasana galeri Next Museum pada pameran tunggal Galih Reza Suseno “When The Wild Grasses Take Over” 2026. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

Pada pameran “When The Wild Grasses Take Over”, Suseno kembali hadir dengan tekstur dan warna-warna cerah. Karakter Locious, yang pertama kali diperkenalkan pada pameran tunggal ketiganya: “Locious: The Universe of Now” (Singapura, 2023), kini hadir sebagai penghuni sebuah dunia imajinatif yang utuh bernama Ether.  Pameran ini menghadirkan 12 karya lukis Suseno dalam suatu mitologi baru di mana alam bernapas dalam suatu kesatuan ontologis dengan seluruh makhluk hidup. Alam diposisikan sebagai subjek yang setara dengan penduduknya, bukan hanya sebagai sumber daya.

“Ketika melihat manusia semakin seperti itu (antroposentris), dan itu semakin diagungkan oleh sistem kapitalisme. Seolah-olah ‘Ayo, kamu harus menguasai alam, kamu harus menundukkan alam untuk kepentinganmu.’ Aku menjukstaposisikan itu dari alam yang sebagai alat, alam yang mati, menjadi alam yang hidup. Bagaimana kalau air itu memiliki tubuh? Bagaimana kalau udara itu memiliki bentuk? Bagaimana kalau tanah itu sebenarnya bisa kita ajak berinteraksi? Jadi, aku menciptakan fiksi atau mitos tentang Locius itu untuk menyadarkan kembali manusia bahwa alam itu bukan sesuatu yang mati. Mereka hidup.”

Di bagian depan galeri, terdapat pratinjau pameran dan informasi seniman dalam lembaran kertas yang dapat diambil oleh pengunjung. Praktik yang umum dilakukan oleh galeri-galeri di Korea, selain menyediakan katalog digital. Teks tersebut, secara garis besar, memaparkan bagaimana tidak ada sesuatu yang hadir secara terisolasi. Ia pasti hadir dalam hubungannya dengan sesuatu, seperti bagaimana akar membutuhkan tanah dan sungai membutuhkan hujan. Keselarasan dengan alam ini bukanlah hal yang asing dalam ajaran hidup Jawa. Ketika alam yang menjadi tempatnya tumbuh besar mulai tergerus oleh urbanisasi, Suseno mempertanyakan makna hidup bersama alam. Teks singkat yang membangun suasana dan memberikan kacamata bagi pengunjung.

“The Breath of Things” (2026) Acrylic Modeling Paste on Canvas, 60 × 80 cm. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

Karya yang diposisikan paling depan adalah “The Breath of Things” (terjemahan langsung: Napas Segala Sesuatu), lukisan berukuran 60 x 80 cm dengan dominasi warna merah muda dan oranye. Karakter Shu, ditandai dengan dua mata hitam dan bentuk yang mengembang seperti awan, terlihat di bagian tengah atas. Sulur-sulur berputar berwarna cokelat, oranye, dan hijau muncul di sekitarnya, mengarahkan mata pengunjung untuk menyusuri geraknya seperti napas yang mengalir. Gerak ini adalah cara Suseno membuat alam terasa hidup, sebagai subjek yang bernapas.

Pada sisi kanan kanvas terdapat kotak-kotak seperti piksel, seolah ada bagian yang belum sepenuhnya hadir atau mengalami intervensi. Kehadirannya menghadirkan singgungan antara bentuk yang organik dan yang artifisial, menjadi pengingat bahwa alam dan sistem buatan manusia selalu berbagi ruang, bahkan ketika yang satu berusaha menundukkan yang lain. Di kiri bawah terdapat sosok manusia kecil yang memberikan rasa skala, tanpa wajah seperti figur lainnya pada karya Suseno. Ia bisa menjadi siapa saja, termasuk pengunjung yang berdiri di depan karya ini. Namun, ia selalu dibuat kecil di antara lanskap yang ramai dan harmonis. Posisi yang Suseno tawarkan sepanjang pameran: manusia sebagai salah satu peserta dalam ekosistem yang jauh lebih besar. Karya ini menyambut pengunjung dengan “napas” untuk menikmati karya-karya selanjutnya: sebuah sensasi bahwa alam adalah sesuatu yang hidup.

Program publik berupa wicara seniman dan melukis langsung diadakan pada 1 Agustus 2026 di dalam galeri. Dua kegiatan yang dilakukan untuk mendekatkan karya, seniman, serta apresiator. Menurut pengalaman Suseno, publik tertarik melihat bagaimana prosesnya berkarya. Suseno memasukkan akrilik dan modelling paste ke dalam kantong segitiga yang umumnya digunakan untuk mendekorasi kue, dan menuangkannya pada kanvas. Dengan teknik ini, Suseno menunjukkan cara berkarya yang menuntutnya untuk bergerak perlahan, memberi titik warna satu per satu. Proses yang tidak bisa dipercepat, seperti bagaimana ia merenungi hubungannya dengan alam.

Selain melihat karya, saya rasa penting untuk memahami di mana pameran ini berlangsung. Galeri Next Museum berada di dalam Lotte World Mall, salah satu pusat perbelanjaan dan hiburan terkemuka di Seoul. Kehadiran ruang seni di tengah tempat dagang yang bergantung pada sifat konsumtif menawarkan tempat bagi pengunjung untuk berhenti sejenak dan berinteraksi dengan karya. Kehadiran galeri ini juga dapat dilihat sebagai cara Lotte World untuk membuat pengalaman menikmati karya seni murni lebih mudah diakses, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan galeri sebagai institusi.

The Sky Belongs to Every Bird

“The Sky Belongs to Every Bird” (2026) Acrylic Modeling Paste on Canvas, 100 × 120 cm. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

“The Sky Belongs to Every Bird” (terjemahan langsung: Langit Milik Setiap Burung) merupakan salah satu karya yang dipamerkan Suseno dalam pameran tunggalnya ini. Karya tersebut menampilkan cermin oval keemasan di kiri bawah yang merefleksikan lanskap hijau dengan bukit dan gunung. Figur menggunakan gaun kuning dengan lengan yang terbuka, dengan rusa di sebelahnya. Di sisi kanan, sebuah batu yang gelap, seperti pulau terapung. Di atas batu tersebut, terdapat potongan semangka, bebatuan, berbagai jenis burung yang beterbangan, serta karakter Ranu, Riku, dan Shoku. Sulur-sulur merah seperti urat menjalar ke bawah, menghubungkan pulau itu ke tanah; mungkin akar atau aliran darah yang menyatakan bahwa bahkan yang melayang di langit pun tetap terhubung ke bumi.

Dari judulnya, kita dapat menerka bahwa Suseno menantang kepemilikan. Bahwa langit bukanlah milik satu spesies, bangsa, atau sistem tertentu. Komposisinya mendukung pernyataan itu dengan menghadirkan beragam makhluk seperti burung, rusa, karakter Locious, dan manusia, yang berbagi ruang tanpa saling meniadakan. Lanskap dalam karya-karya Suseno menampilkan ekosistem yang berkembang, di mana Locious hidup berdampingan dengan manusia. Mereka mengamati hubungan antara umat manusia dan dunia alam dalam kesejajaran visual. Suseno jelas ingin menyampaikan bahwa setiap makhluk hidup memiliki hak untuk hidup damai dan bebas.

Karya ini menuai interaksi yang berkesan bagi Suseno pada momen wicara seniman, momen yang ia bagikan juga di akun Instagram-nya. Salah seorang pengunjung yang penasaran akan kehadiran buah semangka di karya tersebut bertanya, “Apa maksudnya?”

Semangka telah menjadi simbol perlawanan dan solidaritas Palestina sejak tahun 1967 dan mengalami kebangkitan global di media sosial terutama setelah Oktober 2023.  Warna merah, putih, hitam, dan hijau seperti warna bendera Palestina menjadi cara orang mengekspresikan solidaritas sambil menghindari sensor platform terhadap konten pro-Palestina.

Keberadaan semangka, yang ia lukis dengan sadar, menunjukkan keberpihakan Suseno dalam menanggapi ketegangan politik yang melingkupi Palestina. Suseno, beserta Next Museum, menyeimbangkan kepentingan politik masing-masing agar karya tersebut tetap hadir dan percakapan pada wicara seniman tetap tumbuh. Posisi politis Suseno berangkat dari harapan akan dunia yang lebih adil, tanpa perang, penindasan, dan ketakutan. Apa yang semestinya ada akan terus menemukan caranya untuk tetap ada. Kepercayaan inilah yang juga mendasari tema pameran tunggalnya.

“Ketika rumput liar yang sekarang ada di bawah kaki kita, kelak dia akan di atas makam kita. Betapa sebenarnya kita tuh punya kesetaraan sebagai ciptaan. Kita dilahirkan dan nantinya juga akan mati. Kita akan menjadi partikel yang sama. Baik manusia, hewan, tumbuhan, apa pun yang ada di bumi ini, akhirnya kita hanyalah menjadi debu,” sebutnya ketika saya bertanya mengenai judul pameran tunggalnya.

Tajuk “When the Wild Grasses Take Over” sendiri hadir dari pembacaan Next Museum terhadap karya-karya Suseno. Kalimat ini mengacu pada sifat gigih alam yang selalu menemukan jalannya sendiri; seperti daun yang tumbuh melalui celah, menembus beton, dan merebut kembali ruang yang dibangun dan diklaim manusia. Selain menjadi tema karya, prinsip ini ia pegang dalam berkarya.

Strategi Seniman

Suseno memiliki strateginya sendiri untuk mempertahankan visi artistiknya sebagai seniman, memastikan apa yang ditangkap penikmat karya sejalan dengan apa yang ingin disampaikan. Ia seniman yang produktif; Suseno kerap menyiapkan karya yang secara personal bermakna baginya, agar siap ketika kesempatan pameran tunggal datang. Siasat ini juga yang cukup menonjol dalam percakapan kami; bahwa seniman memiliki nilai tawar dan otonomi atas karya dan pesan yang dibawanya. Nilai tawar di sini bukan berarti menutup diri dari kerja sama, melainkan memahami posisi seniman dalam ekosistem yang saling membutuhkan. Suseno tidak memosisikan dirinya sebagai seniman yang ‘dibawa’ oleh galeri atau kurator, melainkan sebagai mitra yang memiliki visi dan batasannya sendiri. Dalam ekosistem seni yang sering kali menempatkan seniman sebagai pihak yang paling rentan terhadap tekanan pasar, sikap ini bukan hal kecil. Keterhubungan antarpihak dalam ekosistem seni rupa semestinya menjadi dasar untuk kita saling menghargai dan menempatkan diri kita setara, karena kita saling membutuhkan untuk tetap ada.

Warna cerah dan penggambaran karakter yang lucu merupakan pilihan artistik Suseno untuk memastikan pesannya dapat diterima oleh publik dari berbagai usia. Ia menyadari bahwa kesadaran lingkungan tidak hanya penting untuk orang dewasa yang memiliki kuasa untuk mengolah alam, tetapi juga untuk generasi penerus yang akan menerima hasil keputusan hari ini.

Suseno menyadari bahwa publik Korea yang melihat karyanya datang dengan kerangka pengetahuan yang terbatas tentang Indonesia. Ia sempat berbagi cerita tentang seorang pengunjung yang, begitu melihat karyanya, langsung menghubungkannya dengan Bali. Barangkali, lanskap alam negara tropis di berbagai lokasi memang serupa. Namun, ia tidak merasa perlu mengoreksi atau menyederhanakan karyanya. Karyanya tetap berakar pada ekologi Jawa, pada mitologi Locious dengan warna cerah sebagai bahasa visualnya sendiri.

Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan selera pasar global bukan hal asing bagi seniman dari Selatan Global, entah melalui eksotisisasi, penjelasan berlebihan, atau penyeragaman bahasa visual. Suseno memilih untuk membiarkan karyanya tumbuh menurut logikanya sendiri. Ini caranya untuk menegaskan bahwa dialog yang sehat dimulai dari posisi yang setara.

Keselarasan Suseno dalam membawa tema keterhubungan ini ia jaga dalam prosesnya berkarya. Ia menyadari permasalahan penggunaan plastik dalam proses pembuatan karya yang bertema ekologi. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab etis. Jika karyanya berbicara tentang alam yang hidup dan setara, maka proses pembuatannya pun tidak boleh menempatkan alam sebagai objek yang dieksploitasi. Suseno memperhatikan betul limbah yang ia hasilkan; dari ke mana ia menyalurkan air yang ia gunakan dalam mencampur cat hingga ke mana sisa plastik yang ia pakai. Suseno mempertanyakan apakah ada bahan atau material seni yang bukan hasil ekstraksi alam? Tampaknya tidak. Ia menekankan pentingnya kesadaran untuk merawat dan tidak merusak dalam proses berkarya.

“Kita sama-sama mempunyai dosa terhadap alam, ya, tapi jangan nemen (bahasa Jawa–keterlaluan) lah,” ucapnya.

Oleh-Oleh dari Seoul

Foto Seoul Botanic Park. (Foto: Dok. pribadi Galih Reza Suseno)

Berada di ibu kota yang menjadi pusat berbagai industri dengan laju yang cepat, Suseno menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa galeri, museum, dan fasilitas publik  selama di Seoul. Ia terkesan dan benar-benar menikmati bagaimana Korea Selatan mengelola alamnya untuk dinikmati khalayak secara gratis dan nyaman. Sebuah kota yang memberi ruang bagi makhluk yang hidup di dalamnya untuk bernapas. Di Seoul Botanic Park, Suseno melihat bagaimana ruang hijau bisa menjadi bagian dari kehidupan kota sebagai ekosistem yang dirawat dan diakses oleh semua orang. Ia merefleksikan bagaimana sebuah kota bisa tumbuh tanpa sepenuhnya menindas alam; sebuah kemungkinan yang jarang kita temui di negeri kita.

Suseno merasakan bagaimana seni dilihat sebagai nilai dan aset negara. Museum-museum pemerintah tersedia gratis. Tidak hanya seniman muda, pameran-pameran yang ada pun mengapresiasi karya-karya bahkan dari zaman dinasti terdahulu. Rentetan masa kelam dari sejarah negara dipresentasikan menjadi sebuah artefak seni yang indah dipandang dan edukatif. Bagi Suseno, ini adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah bangsa bisa berdamai dengan masa lalunya.

Dengan laju pemerintahan Indonesia yang masih bergantung pada tambang dan deforestasi, Suseno berharap kelak Indonesia mengambil arah yang lebih berkelanjutan. Pulang dari Korea, Suseno membawa oleh-oleh pertanyaan: Seberapa jauh kita bisa maju tanpa kehilangan hubungan dengan kehidupan? Mungkin jawabannya justru ada pada apa yang ia lukis. Pada semangka yang ia taruh di tengah kanvas, pada karakter Locious yang menatap balik ke arah kita, pada rumput liar yang, cepat atau lambat, akan tumbuh di atas makam kita semua. []