Search
Close this search box.

Ketika Perempuan Perupa Membuka Pandora

Dalam pameran Rumination of The Self, keempat perupa memberikan pernyataan yang juga sama tegasnya, bahwa karya-karya mereka bisa turut serta menjawab permasalahan struktural yang dialami perempuan perupa selama ini.

Karena kemurkaannya kepada umat manusia, yang telah mengetahui rahasia dari api suci Gunung Olimpus, Zeus lantas memerintah salah satu anaknya Hefaistos -dewa pandai besi- untuk menciptakan seorang manusia.

Maka ditempalah manusia perempuan pertama di dunia dengan berkah pengetahuan yang sempurna. Keahlian menjahit dan menenun dari Athena, kecantikan dan hasrat dari Aphrodit berikut mahkota, mutiara dan perhiasan dari dewa-dewa tersohor, tidak luput keahlian seni dan bermain musik dari Apollo, serta kepandaian dan kepiawaian dalam berbicara dari Hermes yang kemudian memberikannya nama: Pandora.

Setelah Pandora dinikahkan, Zeus dan para dewa memberikan hadiah berupa sebuah kotak indah, namun ia diperingatkan untuk tidak pernah membuka kotak tersebut. Sayangnya Pandora kalah oleh rasa penasarannya, ia pun kemudian membuka kotak itu dan seketika ia menyesal.

Dalam kotak indah itulah, tersimpan malapetaka beserta segala keburukan sebagai hukuman untuk umat manusia. Tubuh fana, rasa sakit, wabah, kegilaan, teror, kedengkian, kelaparan, pikiran-pikiran jahat telah terlepas dan menjangkiti manusia. Lewat pandang matanya yang nanar, Pandora melihat isi kotak terakhir yaitu “harapan”, sesuatu yang dapat memenangkan mereka dari penderitaan.

Dari kiri ke kanan: Dayu Sartika, Linkan Pelenewen, Luh ‘De Gita dan Sastia Naresvari.

Sebagai pembuka tulisan, saya tertarik untuk mengutip mitologi Yunani ini untuk merefleksikan karya-karya yang dihadirkan oleh empat perempuan perupa yang tengah berpameran di Titik Dua, Ubud dalam tajuk “Rumination of The Self”. Para perempuan perupa ini adalah Dayu Sartika, Linkan Palenewen, Luh’De Gita dan Sastia Naresvari. Di Bali, kehadiran mereka dalam pameran ini bisa dibilang seperti oase di tengah gurun pasir-menyegarkan ditengah minimnya penerimaan dan apresiasi terhadap estetika visual, gagasan dan ideologi para perempuan perupa dengan realitas sosial yang patriarkis. Para perempuan perupa di Bali tidak hanya terhitung sedikit, seringkali harus berinisiatif untuk mendobrak ruang untuk menyampaikan suara dan gagasannya melalui medium karya seni.

Tidak bisa dimungkiri bahwa dalam konteks apresiasi seni di Indonesia, karya seni masih didominasi oleh pandangan terhadap unsur intrinsik atau estetika formalis sebagai penilaian tunggal, dengan memungkiri kemungkinan-kemungkinan diluar itu. Misalnya, suatu karya juga mengandung pesan dan pernyataan politis dari seniman. Khususnya karya perempuan perupa, hal mana pernah dibahas dalam esai “Nuansa Putri Vs Kuasa Lelaki” yang ditulis oleh Sanento Yuliman.

Dalam esainya, Yuliman tidak hanya menyoal pembagian kerja berdasarkan seks yang menyebabkan tarikan garis demarkasi yang tegas, tetapi juga tentang konstruksi sejarah seni yang maskulin, meminorkan praktik kesenian perempuan dengan pelbagai pertanyaan bias yang ditujukan kepada perempuan perupa. Taruhlah, mengenai standarisasi menjadi seniman atau hanya menempatkan mereka (perempuan perupa) dalam kategori “(berke)seni(an) sebagai hobi”.

Linkan Palenewen sedang berbagi pengalaman pada pengunjung, seputar konsep karyanya.

Sebagaimana dalam hierarki sosial, ketika masyarakat kerap menempatkan peran perempuan hanya terbatas pada keterampilan tangan, seperti merajut, menenun, menjahit, melukis bunga dan pemandangan alam. Parahnya, dengan mengesampingkan atau menutup mata dari kenyataan/kebenaran sejarah akan kemampuan mereka yang aktif memproduksi gagasan baru, termasuk mempertahankan dan mewariskan pengetahuan lama yang mereka dapatkan generasi sebelumnya.

Dalam kanon sejarah seni rupa di Indonesia, catatan mengenai perupa perempuan selalu dipinggirkan dan tidak ditulis dengan seksama. Sehingga generasi perempuan perupa muda saat ini cenderung berjarak dan sulit mempelajari kiprah dan proses berkarya serta bagaimana situasi dan spirit zaman para pendahulunya.

Dalam pameran Rumination of The Self, keempat perupa memberikan pernyataan yang juga sama tegasnya, bahwa karya-karya mereka bisa turut serta menjawab permasalahan struktural yang dialami perempuan perupa selama ini.

Salah satu pengunjung sedang memperhatikan salah satu karya Dayu Sartika, dalam tajuk: Dessert for My Self and Mind Dish series.

Meski tidak menghadirkan isu-isu besar dan heroik sebagaimana selama ini disematkan kepada perempuan perupa yang memilih ideologi feminisme dalam karya-karya mereka; toh keempat perupa dalam pameran ini justru berangkat dari hal yang begitu sederhana dan kontekstual dengan perjalanan aktualisasi diri mereka. Diantaranya dengan menyajikan hasil eksperimentasi dengan simbol, medium, merespon ruang dengan karya instalasi dan performance arts, yang juga sebagai ajakan dialog yang ditawarkan kepada publik penikmat seni.

Mereka sama-sama menghadirkan karya yang berangkat dari akumulasi pengalaman personal sebagai perempuan ditengah tantangan akan pencarian jati diri, situasi dan realitas yang mereka hadapi sebagai individu. Isu yang tidak menarik banyak minat dan dibicarakan dengan serius oleh para pemerhati seni, mengingat kecendrungan permasalahan identitas dan personalitas perempuan masih dianggap tidak mampu merefleksikan diskursus seni secara global.

Akan tetapi, saya begitu terinspirasi untuk menulis mengenai karya keempat perempuan perupa dalam pameran Rumination of The Self  dalam perspektif yang berbeda dengan penulis atau pengamat seni kebanyakan dengan tradisi studi komparasi ketika membicarakan mengenai perempuan perupa. Misalnya, saya tidak tertarik untuk melakukan komparasi kekaryaan perempuan perupa Bali yang juga bekerja dengan isu personal dengan kesuksesan perempuan perupa (alm) IGAK Murniasih yang mengangkat tragedi dan kepahitan pengalaman hidupnya sebagai perempuan Bali. Sebab, cara atau metode paling adil adalah dengan berupaya mendekati perempuan perupa secara objektif berdasarkan potensi otonomi teks dan konteksnya masing-masing.

Karya Dayu Sartika, Dessert For My Self #2 V -Variable Dimention, Paper Clay, Animation, 2023-. (Foto: Penulis)

Dimulai dengan Dayu Sartika yang merepresentasikan Dessert for Myself dan Mind Dish beberapa seri lukisan dan sebuah karya instalasi, animasi dari lukisan potret dirinya dalam TV tabung 14 inch dan objek-objek makanan manis yang direka ulang dengan paper clay. Lukisan yang Dayu pamerkan juga tidak jauh berbeda dengan karya instalasinya, ia melukiskan self potraitnya dalam ekspresi feminin, kadang juga dengan gesture penuh hasrat terhadap makanan manis dengan warna pastel yang ceria.

“Aku buat segala nafsuku diatas bidang gambar. Aku tidak memakan mereka lagi untuk menang, aku akan terus menggambar mereka untuk menang” pernyataan Dayu ini mengingatkan saya terhadap Ratu Prancis Marie Antoinette dengan anekdotnya Qu’ils mangent de la brioche (biarkan mereka makan kue brioche) setelah mendengar wabah kelaparan yang diderita oleh para petani. Kue brioche merupakan kue mewah yang sering dinikmati kelas atas, dibuat dengan mentega dan telur. Kutipan ini menunjukkan bahwa sang ratu sama sekali tidak mengetahui kondisi petani yang begitu miskin.

Sama halnya yang diungkapkan Dayu, kue-kue manis dengan krim dan mentega dalam lukisannya hanya merupakan hasrat dan keinginannya yang utopis. Sebab kue-kue tersebut adalah kotak Pandora dalam kehidupan Dayu saat ini.

Karya Luh’De Sanggita, Prozac Girl -Performance Art-. (Foto: Penulis)

Kemudian Luh’De Gita yang selain memamerkan beberapa karya lukisan juga membuka pameran ini dengan performance art berjudul Prozac Girl. Ia sengaja merespon beberapa objek diatas meja, setumpuk obat anti depresan, palu dan dua buku saku dengan sampul ilustrasi pasien kejiwaan yang di-treatment dengan menggunakan metode medis kuno. Dalam performance tersebut, Luh’De dan pasangannya membacakan kredo sebagai perempuan seniman berikut permasalahan psikologisnya, sembari memecahkan gelas kaca dengan menggunakan palu.

Tampak sebuah dramaturgi untuk bersikap baik-baik saja di tengah kehidupan masyarakat yang menuntut stabilitas, namun berbanding terbalik dengan suasana (state) alam pikiran sang perupa yang berusaha melawan rasa sakit. Saya pun bertanya-tanya mengapa perempuan seniman harus melalui fase seperti ini ketika sedang mengembangkan karirnya?

Berbeda dengan kecenderungan kedua seniman kelahiran Bali, yang tumbuh dan menginternalisasi problematika kultural di tempat kelahiran mereka melalui medium seni. Linkan Palenewen menyatakan keberpihakannya terhadap perempuan yang direpresi oleh budaya patriarki. Misalnya dalam karya My Sheet of Freedom yang menggambarkan dirinya setengah telanjang, bayangan-bayangan maskulin nampak berusaha menguasai dan merebut tubuhnya yang otonom. Namun dia ditopang sosok figur perempuan, barangkali merupakan alter egonya untuk mengupayakan perlawanan.

Karya Linkan Palenewen, My Sheet of Freedom, 1150 x 200 cm -acrylics & oil on canvas-. (Foto: Penulis)

Karya Linkan menjadi antitesis bagaimana tubuh perempuan selama ini diobjektifikasi dalam male-gaze yang hanya menyorot pada erotika dan kemolekannya semata. Tubuh dalam lukisan Linkan jelas merupakan bahasa yang menunjukkan resistensi terhadap stigma-stigma yang melekat pada tubuh perempuan selama ini.

Meski menjadi anomali dengan ketiga perempuan perupa yang menggunakan tubuh sebagai bahasa representatif, Sastia Naresvari yang berlatar belakang ilmu psikologi menghadirkan beberapa lukisan abstrak dengan nuansa warna biru. Dalam proses pengerjaannya, Sastia bermeditasi terlebih dahulu sebelum akhirnya memberikan refleksi dan pengalaman gesturalnya kedalam medium kanvas baik berupa sapuan kuas, tekstur, garis tegas dan ciptratan cat. Masing-masing karya abstraknya meski didominasi oleh suasana biru, namun mempunyai pengalaman gestural yang beragam dan tidak teratur.

Salah satu karyanya yang berjudul Eternal Now, tampak cukup berbeda dan tidak banyak kontrol dalam sapuan kuasnya dan membiarkan sifat air bekerja untuk memberikan keajaiban dalam pencampuran warnanya. Dalam karya inilah, saya menemukan titik spiritualitas sebagaimana metode ritual sebelum berkarya yang diterapkan oleh sang perupa.

Karya Sastia Naresvari, Eternal Now, 100 x 100 cm, -mix media on canvas-. (Foto: Penulis)

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin menarik sebuah kesimpulan bahwa pada hakekatnya Pandora, perempuan pertama di dunia yang diciptakan dengan sempurna dan bertugas untuk menghukum umat manusia atas perbuatan bakhil mereka. Dia tidak mengemban kutukan karena telah membuka kotak terlarang.

Demikianlah dalam konteks pameran ini, putri-putri Pandora dengan sadar membuka dan menyuarakan realitas hidup dan tekanan budaya patriarkis, yang terbukti membatasi kebebasan berpikir dan karir mereka sebagai seniman. (*)