Search
Close this search box.

Ketika Kabul Melazimi Lebah Berkoloni, Melihat Bagaimana Sebuah Bentuk Menjadi

Mengalami perubahan bentuk melalui waktu dan koloni lebah dalam Pameran Tunggal I Ketut Suasana ‘Kabul’ bertajuk “Nectar Waggle” di Komaneka Fine Art Gallery.

Suatu sore yang cerah, selepas melintasi riuhnya jalanan Ubud oleh hiruk-pikuk kendaraan dan lalu-lalang para pelancong, saya membelokkan sepeda motor, mencari tempat parkir di area Komaneka Fine Art Gallery di Jalan Monkey Forest. Begitu mesin motor dimatikan, suasana seketika berbalik tenang dan lengang. Memang, sore itu saya hendak melihat pameran tunggal I Ketut Suasana yang akrab disapa “Kabul”. Judul Nectar Waggle pada unggahan media sosial yang saya lihat malam sebelumnya terlampau sayang untuk dilewatkan. Lebih-lebih tentang lebah, makhluk istimewa yang namanya tercatat dalam kitab suci Al-Qur’an. Apa gerangan yang akan saya saksikan?

Instalasi bola-bola kuning di luar ruang pamer (Foto: Dok. Penulis)

Ketika sepeda motor telah terparkir dan dipastikan tidak menghalangi jalan, perhatian saya tertuju pada kolam di halaman galeri. Di atasnya tergantung bola-bola berwarna kuning terang. Cahaya sore yang masih cerah memantul indah di atas air. Inilah momen yang pas untuk memotret sebelum temaram maghrib pelan-pelan menyelimuti Ubud, saya membatin. Setelah mendekat, saya baru sadar bahwa bola-bola kuning itu adalah instalasi lebah yang dibuat Kabul. Rampung mengambil gambar, saya melangkah melewati pintu galeri. Di ruangan lebar memanjang itu, tak seorang pun tampak mata selain teman seboncengan dan diri saya sendiri. Hanya sayup-sayup suara laki-laki berbahasa Bali yang tampaknya sedang mengobrol melalui telepon di area dalam.

Semakin jauh melewati pintu, lukisan berukuran cukup besar menarik mata saya untuk mendekat, Elu & Lesung tajuknya. Sapaan seorang laki-laki memecah keheningan saat saya masih tertegun di hadapan kanvas berwarna itu. Kami kemudian mengobrol ngalor-ngidul hingga saya tahu bahwa selain sebagai perupa, Kabul juga menari, membuat tapel (topeng barong), mengukir bagian bangunan adat Bali, dan terlibat dalam aktivitas ngayah (adat gotong royong Bali). Hal yang saya temui kemudian dalam lembar kuratorial.

Elu & Lesung karya I Ketut Suasana, 2025 (Foto: Dok. Penulis)

Pada lembaran itu, I Made Dwitanaya menjelaskan tautan erat antara Kabul dan koloni lebah.

“Lebah hidup sebagai individu yang bekerja di dalam struktur komunal, sementara Kabul menjalani dua ruang yang terus berkelindan: ruang penciptaan personal sebagai seniman dan ruang sosial ketika dirinya larut sebagai bagian dari masyarakat adat. Di studio ia memiliki kebebasan untuk membangun bahasa visual, melakukan eksplorasi, dan menyampaikan pandangan personalnya. Dalam kehidupan komunal, ia dapat melepaskan sebagian posisi individual tersebut untuk bekerja bersama, ngayah, dan mengambil bagian dalam keberlangsungan tradisi. Dua keadaan itu tidak perlu ditempatkan sebagai pertentangan. Keduanya berlangsung pada orang yang sama dan saling membawa pengalaman dari satu ruang ke ruang lainnya.”

Pernyataan di atas memberi saya satu jalan untuk memahami Nectar Waggle. Namun, setelah beberapa saat berada di dalam galeri, perhatian saya bergeser ke persoalan tentang apa yang terjadi pada diri saya ketika berhadapan dengan karya-karya tersebut. Bukan hanya apa yang saya lihat, tetapi juga bagaimana karya itu membuat saya melihat.

Pada awalnya, cukup mudah mengenali apa yang sedang saya lihat. Bentuk-bentuk yang menyerupai lebah segera muncul sebagai kesan pertama. Akan tetapi, kesan itu segera berubah ketika saya berdiri di depan karya lebih lama. Semakin dekat saya berdiri, bentuk yang semula saya kenali sebagai lebah justru kehilangan batasnya. Ia pecah menjadi garis, tumpukan warna, kepadatan, dan tekstur. Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar lebah yang digambarkan oleh Kabul, melainkan bagaimana sesuatu yang tampak sebagai bentuk lebah pada jarak tertentu ikut berubah ketika cara melihatnya berubah. Dengan demikian, pengalaman melihat Nectar Waggle membuat saya bergerak lebih jauh daripada pengenalan objek.

Melihat dari Jauh, Melihat dari Dekat

Menurut Dwitanaya, kanvas berwarna dengan kumpulan garis yang tak terhitung banyaknya membuat bentuk individual lebah tidak selalu mudah dibedakan. Yang terlihat dari jarak tertentu adalah gugusan, kepadatan, atau keseluruhan komposisi. Misalnya, dalam Populasi Lebah (2026), Dwitanaya melanjutkan, garis-garis yang menyerupai tubuh lebah bertemu dengan bidang-bidang warna dan membentuk sebuah komposisi yang luas. Dari jarak tertentu, bentuk individual perlahan melebur ke dalam keseluruhan. Di sisi lain, pengalaman saya melihat berubah ketika saya mendekat. Garis yang sebelumnya hanya tampak sebagai bagian tubuh lebah mulai memperlihatkan dirinya. Bentuk yang semula mudah dikenali sebagai lebah perlahan-lahan pecah menjadi unsur-unsur penyusunnya. Saya harus bergerak maju-mundur untuk mendapatkan dua pengalaman yang berbeda dari karya yang sama. Memang sebagaimana dikatakan Timothy Ingold (2007), persepsi berkaitan erat dengan gerakan tubuh:

“Proceeding on our way things fall into and out of sight, as new vistas open up and others are closed off. […] Thus, the knowledge we have of our surroundings is forged in the very course of our moving along them.”  

Saya baru menyadari bahwa jarak ternyata tidak sekadar menentukan seberapa besar atau kecil sebuah bentuk terlihat. Jarak mengubah apa yang saya alami dari karya yang sama. Dari jauh, saya menangkap keseluruhan; dari dekat, perhatian saya tertarik pada bagian-bagian yang sebelumnya nyaris tidak terlihat. Karena itu, saya tidak sedang melihat dua karya yang berbeda. Saya hanya mengubah posisi tubuh, tetapi perubahan kecil itu menghasilkan pengalaman melihat yang berbeda. Di titik ini saya mulai membedakan antara mengenali dan memperhatikan (lihat, Ingold, 2023). Saya dapat mengenali “itu gambar lebah” hanya dalam hitungan detik. Tetapi memperhatikan menuntut saya untuk bertahan lebih lama di hadapan sesuatu yang sebenarnya sudah saya kenali.

Introspeksi Diri (kiri) dan Populasi Lebah (kanan) karya I Ketut Suasana, 2026 (Foto: Dok. Penulis)

Ketika pengenalan bertahan lebih lama, perhatian mulai bekerja pada hal-hal lain, arah garis, pertemuan antargaris, perubahan kepadatan, dan pergeseran bentuk ketika mata berpindah dari satu bagian ke bagian lain. Dengan kata lain, saya tidak lagi sekadar melihat apa yang ada di hadapan saya, tetapi mulai melihat bagaimana sesuatu yang saya lihat itu terbentuk sebagai sesuatu yang tampak. Pada akhirnya, gerak maju-mundur bukan hanya gerak tubuh antara mendekat dan menjauh, tetapi beranjak menjadi perubahan dalam tempo perhatian.

Waktu yang Merembes ke Dalam Karya

Dari pengalaman melihat tersebut, perhatian saya kemudian terseret pada pertanyaan tentang bagaimana lukisan-lukisan itu dibuat. Saya beruntung mendapatkan petunjuk dari Dwitanaya yang menandaskan bahwa garis-garis Kabul dibangun melalui repetisi dan ketekunan: menggoreskan kuas, menunggu cat mengering, kemudian menggoreskan garis berikutnya hingga ribuan garis membentuk kepadatan. Dengan demikian, permukaan lukisan yang tampak utuh sebenarnya terbentuk melalui rangkaian tindakan yang berlangsung secara bertahap, berulang, dan memakan waktu.

Sebelum jauh, saya perlu membedakan antara mengetahui bahwa sebuah karya dibuat melalui proses yang panjang dan mengalami karya sedemikian rupa sehingga proses tersebut menjadi relevan dalam melihat. Petunjuk dari lembar kuratorial tak lantas membuat saya mengalami waktu pengerjaan lukisan. Pengalaman tersebut baru muncul ketika saya berhadapan dengan permukaan karya dan menyadari bahwa bentuk yang tampak utuh dari kejauhan ternyata tersusun dari tindakan-tindakan kecil yang dapat dilihat ketika saya mendekat.

Dalam konteks ini, garis Kabul bukan sekadar batas yang memisahkan satu bentuk dari bentuk lain. Tetapi merupakan jejak gerak tangan, tekanan, arah, ritme, ketekunan, dan keputusan yang berlangsung secara berulang. Ketika ribuan garis berkumpul, proses tersebut tetap hadir sebagai tekstur, kepadatan, ritme, dan atmosfer visual. Tentu saja, permukaan kanvas tidak memperlihatkan proses secara langsung, tetapi memberikan bekas-bekas yang memungkinkan proses tersebut ditelusuri.

Karena itu, saya tidak ingin mengatakan bahwa waktu yang dihabiskan Kabul benar-benar “tersimpan” di dalam karya. Waktu pengerjaan tidak berpindah dari seniman kepada penonton. Saya hanya menemui jejak proses tersebut: pengulangan garis, kepadatan permukaan, ritme, dan susunan bentuk yang menunjukkan bahwa semua itu pernah melalui serangkaian tindakan. Cara karya dibangun membuat waktu pengerjaan menjadi relevan bagi waktu melihat.

Dari Tangan yang Melambat ke Mata yang Melambat

Sebagai penonton, saya kemudian menyadari bahwa karya itu menuntut sesuatu yang sejalan dengan proses pembuatannya, yakni kesediaan untuk melambat. Kabul bekerja melalui pengulangan, tentu, saya tidak mengulangi tindakan itu secara fisik, tetapi saya menghadapinya dengan cara melihat yang juga membutuhkan waktu.

Dari sini saya melihat hubungan yang menarik antara tangan Kabul dan mata penonton. Jika Kabul membangun bentuk melalui akumulasi, penonton justru membongkar kembali bentuk tersebut melalui perhatian. Kabul bergerak dari garis menuju kepadatan dan bentuk, saya bergerak dari bentuk pulang menuju garis, tekstur, dan goresan.

Momen ini memunculkan dua durasi yang berbeda. Durasi ketika karya dibuat dan durasi ketika karya dilihat. Saya yang tidak mengalami waktu yang telah digunakan Kabul. Namun, cara karya itu dibangun membuat saya perlu memberikan waktu saya sendiri untuk melihat hingga memperhatikan kemudian. Oleh karena itu, pertanyaan saya perlahan bergeser. Bukan lagi semata-mata berapa lama karya ini dibuat, melainkan berapa lama saya bersedia tinggal untuk melihat bagaimana karya ini menjadi seperti yang tampak sekarang.

Melambat di Tengah Dunia yang Cepat

Pengalaman tersebut juga membuat saya berpikir tentang kebiasaan melihat di luar galeri. Terutama lewat gawai, banyak gambar hadir yang menuntut agar segera dikenali. Dalam hitungan detik, kita melihat, mengenali, lalu berpindah ke gambar berikutnya. Sehingga kecepatan menjadi bagian dari cara gambar dicerap. Tampaknya algoritma media sosial telah menjadi dukun paling sakti dalam memengaruhi kebiasaan melihat yang ‘menjadi’ semakin cepat.

Dalam situasi semacam itu, Nectar Waggle menghadirkan pengalaman yang agak berbeda. Karakter visualnya membuat karya tidak cukup hanya dikenali melalui penglihatan. Ada sesuatu yang baru tampak ketika penonton bersedia tinggal lebih lama dan memperhatikan.

Sudah barang tentu, pengalaman ini tidak dimaksudkan untuk menasbihkan karya Kabul sebagai kritik langsung terhadap dunia yang serba cepat. Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa kritik itu merupakan maksud utama sang seniman. Namun, sebagai penonton, saya merasa karya tersebut dapat menghasilkan efek semacam itu: mengganggu kebiasaan melihat yang terlalu cepat. Saya perlu melambat, sebab apa yang pada awalnya dapat dikenali dalam beberapa detik ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk diperhatikan sehingga menumbuhkan bentuk yang lain.

Berdiri dan mengamati Abstraksi Alam Lebah #8 karya I Ketut Suasana, 2026 (Foto: Dok. Penulis)

Di sini, “melambat” bukan berarti menganggap tergesa-gesa sebagai iblis dan teragak-agak sebagai malaikat; alih-alih, melambat berarti mengubah hubungan antara perhatian dan objek. Saya tidak lagi menuntut karya untuk segera memberikan makna. Sebaliknya, saya perlu membiarkan makna dan bentuk muncul melalui pengamatan yang bertahap dan tak tergesa-gesa. Melalui ini, Nectar Waggle tidak hanya menghadirkan sesuatu untuk dilihat, tetapi juga mengubah tempo yang dengannya saya melihat, kemudian memperhatikan.

Barangkali pengalaman mengunjungi pameran tersebut menjadi lebih berarti bagi saya. Semula saya datang karena rasa ingin tahu terhadap lebah, tetapi justru berakhir pada pengalaman tentang waktu. Lukisan-lukisan Kabul membuat saya menyadari adanya bentuk-bentuk tertentu yang baru tumbuh ketika perhatian diberi kesempatan untuk tinggal.

Melihat Bagaimana Sesuatu Menjadi

Pada akhirnya, pengalaman saya terhadap Nectar Waggle semakin bergerak menjauh dari pertanyaan awal tentang mengapa Kabul memilih lebah. Lebah tetap penting sebagai bentuk yang berulang dalam karya-karyanya, tetapi semakin lama saya melihat, saya semakin tertarik pada perubahan yang terjadi pada cara saya melihat bentuk tersebut. Dari jauh, saya menangkapnya sebagai bentuk yang utuh. Ketika mendekat, bentuk itu perlahan pecah menjadi garis, tekstur, dan kepadatan, layaknya kata yang kembali menjadi abjad sebagai penyusunnya. Ketika saya mengambil jarak lagi, bagian-bagian itu kembali menjadi bentuk. Saya mendekat, memperhatikan, mundur, lalu melihat kembali. Karya tetap diam di tempatnya, tetapi pengalaman saya terhadapnya terus berubah.

Di situlah saya melihat hubungan antara proses Kabul dan pengalaman penonton. Kabul membangun bentuk melalui pengulangan dan akumulasi, sedangkan penonton membongkar kembali bentuk itu melalui perhatian. Waktu yang digunakan Kabul untuk membuat karya tidak berpindah kepada penonton, tetapi jejak proses tersebut membuat penonton perlu memberikan waktu kepada saya sendiri untuk melihat.

Karena itu, Nectar Waggle bagi saya bukan semata-mata pameran tentang lebah. Namun, juga merupakan pengalaman tentang bagaimana bentuk menjadi tampak melalui waktu. Kabul memperlambat tangan melalui pengulangan, sedangkan karyanya memperlambat mata penonton melalui kepadatan visualnya.

Maka, barangkali yang menarik dari Nectar Waggle selain Kabul melukis lebah adalah bahwa ia membuat penonton, paling tidak dari pengalaman saya, melihat bagaimana sesuatu menjadi bentuk. Ketika keluar dari galeri, saya tidak hanya mengingat bentuk lebah, tetapi juga kesadaran bahwa ada bentuk-bentuk yang tidak dapat benar-benar dilihat sekilas pandang.

Untuk melihat bagaimana sesuatu menjadi bentuk, terkadang saya harus memberikan sesuatu yang sering kali sulit diberikan dalam pengalaman melihat sehari-hari: waktu.


Bacaan

I Made Susanta Dwitanaya. (2026). Katalog Pameran Tunggal Nactar Waggle oleh I Ketut Suasana. Gianyar: Komaneka Fine Art Gallery.

Tim Ingold. (2007). Lines: A Brief History. London and New York: Routledge.

Tim Ingold. (2023). “On not knowing and paying attention: How to walk in a possible world.” Irish Journal of Sociology, 31(1), 20-36.