Search
Close this search box.

Dunia Tempelan Angki Purbandono dan Fotografi yang Agak Laen

Saya datang saat Angki hendak pulang. Dalam "Happy Birthday, Holy Day yang berlangsung sampai holy month Ramadan ini, saban Senin, Rabu, dan Sabtu sejak 24 Februari hingga 24 Maret 2024, ia akan hadir di galeri Kohesi Initiatives untuk menampilkan suatu montage performance bertajuk Happy Birthday Holy Day. Adegan tempel-menempel stiker tadi adalah bagian dari montage performance itu. Kebetulan, hari itu adalah hari terakhir Angki ber-performance. Tapi, di ruang yang sama juga terpajang karya-karya fotografis Angki, yang masih bisa anda tengok sampai 7 April 2024. Anda tentunya bisa ngabuburit secara artistik di sana. Simak ulasan pameran ciamik ini kuy!

Sekilas, lelaki bertopi motif bunga-bunga itu tampak seperti Snoop Dogg. Ia berkulit sawo matang, rambut panjangnya dikepang dua, kumis dan janggut yang sudah agak ubanan berpadu dengan kacamata kotak menghiasi wajah ovalnya yang bersahaja. Wajahnya itulah yang persisnya mengingatkan saya pada sang rapper Amerika. Auranya pun demikian. Gerak-gerik tubuhnya kalem dan santuy, meski tak ada lintingan apa pun di tangannya.

Di hadapan sebuah papan besar, lelaki beraura Snoop Dogg itu berdiri mematung. Telunjuk dan jempol kanannya menjepit sebuah stiker. Ia tampak khusyuk, menatap papan di hadapannya lekat-lekat. Papan itu sendiri sudah berlumuran stiker warna-warni. 

Salah satu sisi tampakan karya Angki Purbandono bertajuk dalam pameran tunggalnya: “Happy Birthday, Holy Day” (24 Februari – 7 April 2024) di Kohesi Initiative, Tirtodipuran Link Building B, Jl. Tirtodipuran No. 26, Yogyakarta. (Foto: Dok. Penulis)

Setelah sekian menit menatap, ia menunjuk satu bagian di papan. “Di situ,” ujarnya kepada dua orang lain yang menemaninya. Satu orang mengambil stiker di tangannya, menyemprot stiker itu dengan air, lalu satu orang lagi mengambil dan menempel stiker itu persis di bagian yang telah ditunjuk.

Selagi dua orang tadi merekatkan stiker menggunakan rakel, lelaki bertopi bunga-bunga itu menghampiri saya—yang sedari awal memperhatikannya diam-diam. Saya menjulurkan tangan dan menyebut nama, ia membalasnya, “Aku Angki.”

Tentu saja saya mengenalnya, meski belum lama. Persisnya, saya mulai mengikuti kiprahnya sejak ARTJOG 2022. Kalau anda waktu itu ke ARTJOG dan sempat menikmati karya interaktif bertajuk Catatan Pinggir Jurang yang penuh kasur dan bantal kapuk, nah, Angki inilah man behind the pillow. Ia menggarap karya itu bersama Alex Abbad.

Angki Purbandono, yang juga akrab disapa Angki Pu, bukanlah nama kemarin sore di skena fotografi dan seni rupa Indonesia. Menurut catatan di situsweb Indonesian Visual Art Archive (IVAA), “Karya Angki pertama kali mengikuti pameran bersama di tahun 1997, dalam ‘Festival Kesenian Yogyakarta IX’ di Benteng Vredeburg, Yogyakarta.” Di tahun itu, kencing saya bahkan masih belum lurus.

Masih menurut catatan IVAA, pameran tunggal Angki paling awal adalah KOLASMANIAC di Centre Culturel Francais, Yogyakarta, 1999—saya baru masuk TK saat itu. Angki jugalah salah satu pendiri Ruang MES 56, sebuah kolektif fotografi dan seni kontemporer lejen di Jogja. Selebihnya bisa anda telusuri sendiri di situsweb IVAA.

“Kamu memang ingin datang ke sini?” tanya Angki seusai kami berkenalan.

“Ini malah sudah yang kedua kali, Mas.” Ia tampak kaget mendengarnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya datang ke sana saat Angki hendak pulang. Saban Senin, Rabu, dan Sabtu sejak 24 Februari hingga 24 Maret 2024, ia hadir di galeri Kohesi Initiatives untuk menampilkan suatu montage performance bertajuk Happy Birthday Holy Day. Adegan tempel-menempel stiker tadi adalah bagian dari montage performance itu. Kebetulan, hari itu adalah hari terakhir Angki ber-performance. Tapi, di ruang yang sama juga terpajang karya-karya fotografis Angki, yang masih bisa anda tengok sampai 7 April 2024. Anda bisa ngabuburit secara artistik di sana.

Tampakan karya Angki Purbandono. (Foto: Dok. Penulis)

Melihat Scanography, Fotografi yang Lain

Begitu masuk galeri, kita akan disambut lembar-lembar vinil sebesar spanduk. Lembaran itu menggantung ke langit-langit. Pada lembaran vinil itulah Angki mencetak karya-karya scanography-nya dalam bentuk stiker. Stiker di lembaran vinil itu akan dipilih lalu ditempel ulang, secara artistik dan performatif tentu saja, ke empat panel yang digabung jadi satu berdimensi total 244 x 488 cm.

Di sekitar lembar-lembar vinil tadi terpajang empat karya montase. Karya-karya itu sudah jadi sejak awal, masing-masing berjudul: The Ghost Park, The Spiders, Fragile, dan Miyabi. Semuanya berdimensi sama, 120 x 120 cm. Pun bertitimangsa sama, 2024.

Seluruh stiker di keempat karya itu, termasuk yang masih tertempel di lembaran vinil, berasal dari karya-karya scanography Angki sejak 2005. Ia mencipta karya baru dari karya lama. “Ini memang perayaan atas proses berkaryaku selama ini,” terangnya.

Masuk lebih dalam, kita akan menjumpai ruang yang lebih gelap. Ruang itu berisi lima karya scanography bermedium instalasi lightbox: The Birds Can not Swimming (2017), Simple Mood (2017), Souvenir From Tangkahan (2017), The Monument A (2017), dan Flower Power (2018). Di antara kelima karya itu, nyempil satu buku foto Angki berjudul Beyond Versace (2023)berisi foto pada umumnya, bukan hasil scan.

Di ruang gelap itu, tak ada stiker sama sekali. Di sana, kita justru seolah diajak mundur ke belakang, ke masa sebelum kelahiran stiker-stiker di ruang sebelumnya. Ruang itu adalah semacam arena biografis sekaligus historis bagi Angki. Kalau anda ingin memahami jalan panjang proses pengkaryaan Angki Pu secara visual, perlu kiranya anda berlama-lama di ruang gelap itu, tentu sambil cari-cari info di Google dan Youtube.

Dalam sebuah siniar bersama Puthut EA, Angki menceritakan sejarah perjumpaannya dengan scanography. Metode itu, ternyata, lahir dari sebuah situasi tragik: kamera Angki habis tergadai dan, sialnya, tak sanggup ditebus. Padahal, gairah berfotografi harus jalan terus. Singkat cerita, gairah itu lalu disalurkan lewat mesin scanner, yang dijumpainya juga secara tidak sengaja. Scanning sebagai laku fotografis pun digagas menjadi konsep. Canggih betul. Padahal persoalan awalnya adalah ia tidak mampu nebus kamera. “Ketidakmampuan itu harus tetep dipertunjukkan secara elegan,” kilahnya pada Puthut EA, sebelum terkekeh puas. Sejak 2005 hingga setidaknya hari ini, scanography menjadi jalan ninja Angki Pu dalam berfotografi.

Di bawah kolong langit fotografi, scanography bukanlah daerah artistik baru. Metode ini pertama kali dieksplorasi pada 1968 oleh Sonia Landy Sheridan, seorang seniman dan akademisi School of the Art Institute of Chicago. Sejak setengah abad lalu, metode ini dikembangkan lagi dan lagi ke dalam berbagai teknik oleh banyak seniman. Di Indonesia, saya belum menemukan nama lain yang bertungkus-lumus sedemikian rupa dalam dunia persilatan scanography. Angki Pu adalah the one and only, sejauh ini.

Pada dasarnya, scanography adalah fotografi dalam bentuk lain, sebuah fotografi yang lain. Dalam metode ini, proses fotografis terjadi di atas sebuah bidang datar, setelah objek-objek yang kita pilih tergeletak pasrah di sana. Proses ini tentu berbeda dari laku fotografi arus utama yang bergerak menjangkau ruang dan waktu, yang menjemput bahkan memburu peristiwa. Mesin scanner tidak ditenteng ke sana kemari untuk menghasilkan foto; kitalah yang menghadirkan peristiwa ke atas layar pemindainya.

Salah sesi dalam Montage Performance dari Angki Purbandono, sebuah metode artistik untuk merayakan perjumpaan dengan publik. (Foto: Dok. Penulis)

Peristiwa dalam scanography adalah peristiwa representatif. Jika kita bicara soal kerja kamera, ia digunakan merekam peristiwa saat itu juga, langsung dan nyaris tanpa jeda. Sementara itu, dalam scanography, kita memilih objek-objek untuk mewakili peristiwa yang telah dialami. Peristiwanya terjadi duluan, perekamannya muncul belakangan. Ada jeda antara peristiwa, pemilihan objek, dan pemindaian. Dalam jeda itu, si fotografer bisa mengendapkan berbagai permenungan. Dengan kata lain, scanography sebenarnya merekam ide tentang peristiwa. Ide itu bisa berupa refleksi, konsepsi, persepsi, dan -si -si yang lain.

Objek-objek dalam scanography bisa dipindai sebagaimana adanya, bisa juga dipermak dan ditata sedemikian rupa. Angki melakukan keduanya. Ia memindai berbagai kelopak bunga. Fotonya lalu dicetak dan dipajang jadi satu sebagai sebuah karya, Flower Power. Dalam karya Shut Up (2009), Angki memindai mainan kambing yang mulutnya ‘dibungkam’ jepit jemuran. Karya itu dicetak jadi stiker dan ditempel ke panel besar bersama stiker-stiker karya lainnya. Anda yang mengamati belantika musik indie tanah air mungkin pernah melihat karya Angki yang satu itu. Persisnya, karya itu jadi kover album kedua Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap.

Objek juga tak mesti punya konteks yang ajek dalam scanography. Ketika objek dipindai, ia tak sedang berada dalam situasi tertentu. Itu membuat objek bisa hadir semata sebagai objek, sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai bagian dari konteks tertentu. Konsekuensinya, objek yang terpindai bisa saja mewakili banyak hal, bahkan hal apa pun, termasuk hal-hal yang tak terpikirkan oleh si fotografernya sendiri.

Ketika menatap Flower Power, misalnya, saya melihat foto bunga-bunga itu, ya, sebagai bunga-bunga. Saya memperhatikan detail di setiap kelopak, mengamati tekstur, bentuk, dan warnanya. Di luar bunga-bunga itu, gelap. Tak ada konteks apa pun yang bisa saya jangkau secara visual, apalagi soal power. Perasaan asing muncul tiba-tiba, karena sadar bahwa sebagian besar bunga-bunga itu tak saya kenal. Saya lebih kenal berbagai jenis ponsel, jenis motor, dan benda-benda industrial lainnya. Modernisasi, urbanisasi, dan tentu saja kapitalisme adalah semacam power yang ‘mencerabut’ kehidupan saya dari alam bebas. Tapi, ini adalah pembacaan yang dibuat-buat, sebuah cocoklogi. Saya jadi punya pembacaan itu semata karena mencari-cari hubungan bunga dan kata power yang tertera di judul, bukan karena menemukan relasi kontekstual antara keduanya di dalam karya. Jika karya itu dijuduli Flower Rangers, misalnya, barangkali saya akan punya pikiran lain yang lebih jauh lagi. 

Begitu saya tanya Angki, ia bercerita tentang betapa powerfull-nya bunga. Bunga menghubungkan manusia dengan sesamanya, juga terlibat dalam hajat hidup umat manusia mulai dari kelahiran hingga kematian. “Aku bisa pulang ketemu ibuku nggak bawa apa-apa, cuma bawa bunga,” tutur Angki. Menurutnya, “Hidup yang powerfull adalah hidup yang berbunga-bunga.”

Karya Angki Purbandono yang berjudul “Flower Power” dalam pameran tunggalnya “Happy Birthday, Holy Day”. (Foto: Dok. Penulis)

Andai sore itu Angki ada bukber atau ngurusin hal lain dan tidak datang ke Kohesi, saya tentu tidak akan tau gagasan Angki tentang bunga-bunga yang powerfull itu. Saya juga tidak akan tau betapa personalnya power yang Angki maksud dengan bunga-bunga itu.

Namun, meski berjarak demikian jauh, pikiran saya dan gagasan Angki tadi bisa sama sahnya. Bunga-bunga Angki tak punya konteks yang tegas, yang menghadirkan batas-batas pemaknaan. Kita bisa menatap objek yang sama, tapi melihat peristiwanya secara berbeda. Scanography, setidaknya dalam praktik Angki, memungkinkan itu terjadi.

Dengan demikian, kita bisa punya berbagai kemungkinan untuk melihat dunia, juga hidup ini. Apa yang tampak biasa dan sepele di mata kita bisa punya muatan makna tak terbatas. Bagi scanography, apa yang fotografis tak terbatas pada kategori atau kriteria estetis tertentu. Jangan-jangan, yang fotografis di sana justru adalah laku estetisnya: scanography merangsang percakapan lintas batas dan lintas konteks tentang sebuah karya foto. Jika fotografi arus utama berkutat pada estetika produk, scanography berkisar di sekitar produksi pengetahuan. Kalau kata pepatah kontemporer: scanography emang agak laen nih, Bos!    

Karena yang layak dipindai bisa apa saja (selama ukurannya memungkinkan), scanography tak menawarkan sesuatu semata untuk dinikmati secara visual, ia justru menawarkan sesuatu untuk dipikirkan ulang secara konseptual. Scanography mengajak mata kita melihat dunia dengan cara memindai ide-ide yang termuat di dalamnya.

Tampaknya, scanography tidak hanya menawarkan cara melihat dunia-yang-ada. Ia juga sekaligus memungkinkan kita membayangkan dunia-yang-lain sekaligus agak laen. Sang fotografer bisa meminjam objek-objek dari dunia realitas, lalu memindainya dalam sebuah komposisi untuk menghadirkan suatu dunia imajiner. Lantas, dunia semacam apa yang Angki Pu bayangkan?

Masih dalam sesi Montage Performance yang dilakukan oleh Angki Purbandono. (Foto: Dok. Penulis)

Montage Performance Membentuk Dunia Tempelan

Dalam Happy Birthday Holy Day, Angki menampilkan karya dan proses. Empat panel besar yang digabung jadi satu tadi adalah karya mutakhir, proses penciptaannya berlangsung melalui montage performance. Ketika saya hadir sore itu, Angki merampungkan prosesnya. Di hadapan beberapa pemirsa, ia memilih stiker daun (tampak seperti daun singkong, atau daun lain yang menyerupainya) sebagai objek terakhir yang akan ia tempel ke panel.

“Kita harus berdampingan dengan tumbuhan,” ujar Angki sambil menunjukkan stiker daun itu pada permisa. “Ini puisi bahasa visual saya, puisi hidup saya.” Awalnya saya kira ia memang beraura Snoop Dogg parah. Belakangan, saya baru tau bahwa Angki menamai kedua anaknya Daun dan Tanami. Stiker daun itu punya konteks sedemikian intim buat Angki.

Kenapa penciptaan karya di panel itu mesti ditampilkan secara performatif? Sebenarnya, Happy Birthday Holy Day sudah berlangsung sejak September tahun lalu, saat Angki berulang tahun ke-52. Ini memang perayaan artistiknya Angki Pu. Oktober tahun lalu, di Kohesi, Angki menggelar lokakarya bersama anak-anak Sekolah Tumbuh. Dalam lokakarya itu, anak-anak menempel stiker karya-karya scanography Angki ke celengan, sebagai laku performatif untuk berbagi cerita dan cita-cita.

Laku performatif itu sebenarnya juga perwujudan dari kerja fotografi yang lain. Kerja-kerja fotografis tidak hanya mencangkup perekaman dan produksi foto semata, melainkan juga bercakap-cakap dan bertukar-tangkap melalui foto. Happy Birthday Holy Day sebagai montage performance adalah ikhtiar Angki Pu untuk berdialog secara fotografis dengan ruang, momentum, suasana, benda-benda, orang lain, bahkan mungkin dengan isi kepalanya sendiri.

“Montage Perfomance”, tampak Angki Purbandono berbicara dengan salah satu penonton. (Foto: Dok. Penulis)

Tapi, kenapa pula karya-karya lama Angki beralih wahana ke bentuk stiker vinil? “Ide stiker dan montage performance muncul sebagai respons terhadap perayaan,” ujar Bob Edrian, kurator yang menemani proses Angki selama Happy Birthday Holy Day, yang kebetulan juga hadir sore itu.

Menurut Bob, sebagaimana yang ia tulis dalam teks kuratorial, “Stiker dibuat dalam kesadaran untuk berpindah dan menetap, dibawa untuk kemudian direkatkan pada objek atau tempat tertentu berdasarkan kesukaan dan kebebasan.” Itulah yang membuat Angki tertarik mencoba stiker sebagai medium cetak karyanya. Jika scanography adalah jalan hidup, Angki Pu mau merayakan jalan hidup itu dengan suka cita dan penuh kebebasan.

Perayaan suka cita dan kebebasan itu lalu melahirkan montase, sebuah dunia tempelan. Inilah dunia yang melampaui realitas, dunia yang menerobos batas. Pada masa Perang Dunia II, Aleksandr Zhitomirsky sang propagandis Uni Soviet menggunakan fotomontase untuk ‘membombardir’ mental tentara Nazi Jerman. Saat itu, Zhitomirsky juga menggunakan fotomontase untuk membayangkan Eropa yang makmur tanpa perang.

Yang lebih mutakhir adalah Uğur Gallenkuş, seniman visual asal Turki. Fotomontase Uğur menampilkan kontras distopia dan utopia dari dua belahan dunia berbeda. Uğur bisa menempel separuh foto bocah berlumur darah di kamp pengungsian Gaza dengan foto bocah tersenyum manis di pusat kota Brisbane. Kontras itu menunjukkan betapa tipisnya batas antara derita dan sukacita, karena yang satu bisa jadi sebab bagi yang lain.

Namun, agaknya, dunia tempelan Angki adalah semacam dunia nirbatas. Zhitomirsky dan Uğur menunjukkan batas-batas yang hendak mereka terobos, mereka menyajikan kontras: perang-damai, miskin-makmur, realita-harapan. Sementara itu, dunia tempelan Angki Pu nyaris tak jelas batasnya, setidaknya bagi saya.

Ibarat lukisan, montase Angki berisi berbagai warna yang melebur secara gradual. Semua yang berbeda, bahkan kontra, seolah hadir duduk dalam satu meja. Ini bisa terjadi, barangkali, karena modus penempelannya yang berbasis pada perayaan. Dan, barangkali, Angki mau merayakan semua yang ada untuk menyambut segala yang-mungkin-ada, yang-masih-nanti. Jika sekat-sekat dihilangkan dan semuanya kita nikmati hari ini, hari esok macam apa yang mungkin terjadi? Ah, kita lihat saja nanti. Begitulah setidaknya dunia tempelan Angki Pu di mata saya.

Tampak stiker karya-karya scanography dari Angki Purbandono sejak 2005. (Foto: Dok. Penulis)

Dalam Fragile, Angki tampak melebur konflik dan cinta. Mainan tembak-tembakan yang saling beradu dipadu dengan taburan kelopak mawar. Mainan tembak-tembakan menggambarkan kemesraan masa kanak, tapi sekaligus merepresentasikan konflik orang dewasa. Ini saja sebenarnya cukup membagongkan.

Kehidupan kita penuh perayaan atas konflik, sekaligus bergelimang narasi konflik sebagai wujud perayaan. Hiburan berbasis wacana soal perang dan kekerasan memenuhi sekujur tubuh budaya pop kita. Apakah konflik adalah semacam bentuk kemesraan yang lain? Mungkinkah demikian? Ini seperti pertanyaan soal cinta: mungkinkah ia hadir dalam luka? Bagi bunga mawar, dualitas simultan semacam itu mungkin-mungkin saja. Batas benci dan cinta kita sedemikian rapuh.

Di The Ghost Park, Angki malah merayakan peleburan kematian dan kehidupan sekaligus. Di sana ada mi instan, mainan tengkorak yang tampak tersenyum, Spiderman, dan bunga-bunga yang saya tidak tau namanya. Nuansanya gelap, tapi sekaligus ceria; seram, tapi juga berbunga-bunga.

Di siniar yang tadi saya ceritakan, Angki juga bicara soal mi instan sebagai bagian dari hidup dan mati. Di satu sisi, mi instan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, di sisi lain ia kerap dijadikan ancaman bagi kesehatan.

Barangkali, bayang-bayang kematian sudah jadi semacam kerangka bagi kehidupan kita. Atau, dengan kata lain, kematian adalah hantu bagi kehidupan. Angki membuatkan taman bagi peristiwa semacam itu, taman dengan bunga-bunga yang mekar dan hidup!

Di panel besar, ada lebih banyak lagi hal yang melebur: hal-hal artifisial dan yang riil, yang dewasa dan yang kanak-kanak, yang kini dan yang lampau, yang besar dan yang kecil, yang rural dan yang urban, keceriaan dan kesedihan, objek industrial dan anasir alamiah. Semuanya berasal dari dunia yang sudah Angki lalui dari hari ke hari.

Dan, barangkali, di panel itu Angki memang tak membayangkan dunia lain yang jauh. Dunia tempelannya seperti tidak punya harapan yang muluk-muluk. Tapi, tampaknya pula, justru itulah napas terpenting bagi perayaan yang ia usung. Ia tak terlalu memusingkan yang jauh di sana, ia ingin menikmati segala yang hadir di sini.

“The Ghost Park”, karya dari Angki Purbandono. (Foto: Dok. Penulis)

Sebagai sebuah praktik peleburan, montage performance Angki Pu di panel itu menunjukkan satu hal penting dari dunia tempelannya: dunia itu dibentuk oleh gerak dan perjumpaan. Montage performance yang Angki tampilkan hanyalah simulasi bagi gerak tubuh kita sehari-hari. Stiker vinil adalah penanda zaman sekaligus wujud kehendak eksistensial kita (entitas sosial mana hari ini yang tidak nyetak stiker?), ia adalah ide-ide atau wacana yang ikut bergerak membentuk dunia tempelan Angki.

Bergerak dari satu lembaran vinil ke lembaran yang lain, Angki memilih stiker mana yang akan ia lekatkan ke dunia tempelannya. Pilihannya bisa punya pertimbangan rasional, pilihan sadar, bisa juga manasuka. Dalam gerak itu, tubuhnya singgah dari satu situasi ke situasi yang lain, pikirannya terus mencari dan menemukan. Setidaknya, Angki membuka diri pada perjumpaan, meskipun bisa jadi yang dijumpainya hanyalah kemungkinan.

Perkara gerak itu memang tampak sepele, sebab terjadi nyaris setiap hari. Begitu kita dilahirkan, kita mengalami gerak terus-menerus; perjumpaan-perjumpaan terjadi tiada henti. Diri kita adalah dunia tempelan yang terus terbentuk oleh gerak perjumpaan; umat manusia bertukar-tempel ‘stiker’ sepanjang usia. Bagi Angki, peristiwa keseharian begini adalah anugerah yang sakral, holy. Karenanya, peristiwa itu perlu disyukuri dan dirayakan, sebagaimana kita mensyukuri dan merayakan hari lahir.

Saya tentu sangat mensyukuri peristiwa perjumpaan kami hari itu. Saya menyalami Angki dan mengucap selamat, lalu pamit undur diri. Hari telah beranjak gelap. Di luar sana, perjumpaan dengan takjil sudah menanti.