Bentuk-bentuk rekaan imitasi alam membawa aura magnetis, membuat semua orang menoleh dan sejenak tertegun saat memasuki ruang pameran, dengan jumlah 11 karya seni. Beragam karya seni spektakuler, capaian artistik yang unik, dan bentuk nan mempesona menaruh nilai karismatik yang langsung mencuri perhatian publik.
Itulah pengalaman artistik yang didapat ketika mengunjungi pameran tunggal Wisnu Ajitama berjudul “Semekar Bunga di Jalan” di Manara Bistro, yang berlangsung pada 18 Juni–18 Agustus 2026.
“Judul Semekar Bunga di Jalan ini sangat tepat untuk mengejawantahkan metafora bunga yang bertebaran di lingkungan tempat tinggal saya,” begitu pernyataan Wisnu Ajitama. Tentu, judul yang lahir atas kesepakatan dari seniman dan kurator.

Nama Wisnu Ajitama bukan sosok asing di medan seni rupa Indonesia. Berbagai pameran di dalam negeri maupun di luar negeri telah ia lalui, bahkan tercatat 6 pameran tunggal sudah diselenggarakan, dan puncaknya pada tahun 2024 ia mendapat penghargaan dari J+ Connected Art Platform, Swiss.
Bentuk karya seni yang Wisnu ciptakan selalu menghadirkan daya gugah kepada penikmatnya. Kegemarannya dalam mengembara di alam liar, di antaranya hutan, gunung dan gua, menjadi pemantik artistik dalam menghadirkan bentuk yang eksotik. Bentuk karya seni yang Wisnu hadirkan merupakan hasil olahan kepekaannya dalam menghadirkan relasi manusia dengan alam pada posisi merespons keragaman yang ada di alam sekitar.
Menganyam Laksana Bahasa Lampau: Dari Kriya Tradisional hingga ke Arena Epistemologi
Dalam menciptakan sebagian besar karya seninya, Wisnu selalu menggunakan teknik ‘menganyam’. Teknik yang sama digunakan dalam proses pembuatan ketupat. Perjalanan Wisnu dengan teknik tersebut sudah dimulai sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Teknik ini dinilai Wisnu sebagai bentuk teknologi tradisional yang mengawali proses kreatifnya. Dalam perspektifnya, aktivitas ‘menganyam’ merupakan bentuk dari diplomasi merajut perbedaan pemikiran dan latar budaya ke dalam satu keselarasan sosial, politik, dan kultural.
Wisnu tidak hanya bercerita dan membawa teknik menganyam sebagai teknik yang dipelajari sedari kecil, tetapi juga teknik ini hadir sebagai teknik dominan yang digunakan dalam penciptaan karya di pamerannya ini. Ia turut membawa filosofi ‘menganyam’ sebagai epistemological approach, bukan sekadar craft technique.
Hal yang perlu digarisbawahi dalam pameran tunggal Wisnu kali ini adalah upaya merespons pelbagai persoalan dan peristiwa yang terjadi dalam dinamika psikososial masyarakat. Pameran ini menghadirkan refleksi yang sudah mengendap selama lebih dari satu dasawarsa dalam mengarungi eksistensi kreatif dan peran sosialnya sebagai seorang seniman. Prosesnya tidak singkat. Sudah barang tentu menghabiskan banyak waktu dalam mengolah ide, berdiskusi dengan kurator dan mewujudkannya menjadi beragam karya yang ditampilkan pada pameran kali ini. “Lebih dari setahun,” begitu ungkapnya.

Dalam prosesnya, sewajarnya seniman melakukan riset yang mendalam mengenai isu sosial, budaya, hingga ke titik eksperimen medium. Sesudah itu, proses selanjutnya yaitu menghubungkan ide yang sudah diolah dengan wacana seni kontemporer, agar karya seni yang diciptakan dan pameran yang diselenggarakan memiliki muatan relevansi di medan seni rupa.
Keseriusan Wisnu dalam menggarap pameran ini dapat terlihat dari karya-karya yang dipamerkan. Kegembiraannya dalam berkarya tak menihilkan profesionalitasnya dengan melibatkan jalur yang sistematis, selektif dan kompetitif pada ranah kurasi. Oleh sebab itu, di sini karya seni tidak hanya dipandang sebagai ciptaan yang lahir dari ekspresi pribadi senimannya saja, melainkan karya seni mampu berada pada posisi ekosistem seni rupa yang layak dipertimbangkan keberadaannya. Pameran Wisnu Ajitama membuktikan posisi tersebut melalui rangkaian karya yang saling berkomunikasi dalam dialog visual yang koheren.
Menaksir Jejak dalam Trubus: Melacak Ritus Teror Keindahan, Kelas, dan Memori Tubuh
Pada awal masuk ke Manara Bistro, kita disuguhi kemegahan sebuah karya berjudul “TRUBUS” yang digantung pada langit-langit. Ia melayang-layang, menjulang ke bawah, berlipat, dan saling tumpang tindih. Komposisi yang dihadirkan oleh karya ini merupakan sebuah implementasi yang divisualisasikan untuk menarasikan sebuah runtutan proses yang pasti dialami oleh semua orang. Sebuah karya yang dinarasikan lahir karena pertumbuhan manusia tidak akan pernah bebas dari keterbatasan dan ketidakhadiran. Justru, keduanya adalah aransemen konstitutif bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari setiap transformasi yang kita alami. Wisnu mencoba menghadirkan sebuah ajakan sekaligus pengalaman dalam karyanya itu.

Dalam karya ini, Wisnu dengan kesungguhan melakukan sesuatu yang selaras dengan filosofi kegiatan menganyamnya. Merajutnya dengan emosi yang dikelola dengan baik, material pilihan, dan konteks historis seorang seniman yang sedikit terabaikan. Hal ini mampu menciptakan keselarasan yang lebih besar, yaitu personal dan kolektif, estetika dan etika.
Tidak hanya berhenti di situ, judul “TRUBUS” yang dipilih oleh Wisnu tercipta karena keinginannya untuk mengabadikan nama seniman Indonesia yang memiliki dua disiplin, sebagai pematung dan pelukis naturalis. Seniman itu cukup dikenal karena memiliki aliran realisme yang sangat kuat dan dahsyat. Namun, ia tak memiliki kesempatan untuk menamatkan pendidikan sekolah dasar, lantaran kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani di desa tak memiliki cukup biaya untuk mendukung pendidikan seniman tersebut. Seniman tersebut bernama Trubus Soedarsono.
Sehubungan dengan itu, Wisnu tidak membiarkan pemikirannya hanya ditransfer dalam bentuk visual, melainkan mampu menghadirkan sisi emosionalnya ke ranah nilai materi yang kreatif, sehingga dapat hadir bersama dengan legitimasinya. Beberapa langkah selanjutnya, terdapat sebuah karya berjudul “REKAH” dengan dimensi monumental. Kehadirannya menyambut pengunjung pameran sekaligus dapat memukau karena riset teknis penciptaannya dan konsep yang tertanam di dalamnya.
Dalam susunan komposisinya, triplek-triplek sebagai medium utama disusun membentuk persegi panjang yang membentang dengan format horizontal. Tata letak berikut mampu bekerja secara strategis untuk memperkuat pesan karyanya yang menggiring pandangan untuk bergerak menjelajah dan membaca lapisan-lapisan informasi visual yang disajikan.
Dengan dominasi warna cokelat, abu-abu dan putih, seolah-olah karya ini mencoba membangun sedimentasi dalam perjalanan waktu. Melalui karya ini, Wisnu mencoba memvisualisasikan proses transformasi tanah serta pertumbuhan kehidupan manusia sebagai proses alamiah yang dinamis dan berlangsung dalam ritmenya sendiri.
Tak hanya berhenti di situ saja, Wisnu dengan keahliannya dalam merespons ruang terbuka mampu menghadirkan sentuhan ciamik di tengah taman Manara Bistro. Karya berjudul “Double Cubical” menghadirkan dua kubus yang dirancang dari kayu ulin, saling bertumpuk secara vertikal, dengan sebuah objek representasi dari bunga yang tumbuh di sela-selanya. Melalui komposisi material dan ruang yang dibentuk, karya ini mencoba mengeksplorasi daya hidup untuk selalu bertahan dalam keterbatasan dan tekanan yang ada. Ringkasnya, karya ini mencoba menemukan celah dalam penindakan struktural dan mengubah tekanan menjadi sebuah counter-hegemonic untuk bertahan dengan cara yang berbahagia.
Sang seniman tidak hanya menghadirkan karya ini sebagai objek estetis semata, tetapi juga mampu menggiring pada ranah kesatuan organik yang dihubungkan dengan area sekitar karya ini yang ditampilkan. Sudah sangat tepat pemasangan karya ini berada di titik yang spesifik. Secara tidak langsung, publik diajak melihat celah yang sempit, tempat bunga ciptaannya itu seakan-akan eksis untuk “tumbuh”.
Karya ini dapat menjadi sebuah cermin bagi masyarakat urban yang melintas. Kesibukan yang mendesak, tekanan ekonomi, dan keterbatasan ruang lingkup untuk hidup di kota besar mampu dianalogikan secara puitis melalui visualisasi perjuangan bunga yang tumbuh di antara jepitan dua kubus.
Selanjutnya, karya berjudul “VISPAPUSPA”. Dibuat dari gabungan material kertas Tyvek, rotan, tali kawat baja, cat akrilik, fiberglass, dan lampu. Dua buah patung berukuran masing-masing 80 x 60 x 180 cm. Karya ini menampilkan ratusan kelopak bunga yang berlapis, melilit dan menutup tubuh manusia dari kepala hingga lutut. Seakan menciptakan arena, tempat sebuah keindahan dan sesuatu yang mengurung dapat menjadi satu kesatuan. Kecerdasan Wisnu dengan membiarkan sebagian kecil kaki agar tetap terlihat bahwasanya itu adalah manusia, dan uniknya lagi, kaki itu mengenakan sandal jepit spesifik. Seakan menjelaskan dari kelas mana manusia yang terperangkap itu berasal.

Melalui karya ini, seniman hendak menghadirkan kombinasi antara pengalaman tentang keindahan dan sebuah perasaan ganjil sekaligus dalam memperhatikan serta mengimajinasikan tubuh sebagai entitas yang tidak tetap. Namun, sebagai ruang yang terus dinegosiasikan, perjalanan manusia berlangsung dalam situasi-situasi yang terstruktur oleh kerumitan, berlapis, dan ketidakpastian. “VISPAPUSPA” hadir sekaligus turut menjelma sebagai sebuah bentuk metafora akan manusia yang perlahan-lahan tumbuh, berubah dan menemukan wujud baru yang tepat dengan dirinya.
Batasan yang Meletup: Taktik “Tuwuh” dan Gagasan yang Menolak Tersisihkan
Karya berjudul “DESAK DENYUT” yang diciptakan dari bahan kertas Tyvek, rotan, tali kawat baja dan cat akrilik menjadi ruang manifestasi utama dalam pameran. Muncul dari hasil paradigma yang dicetuskan oleh seniman. Bahwasanya karya seni yang dihasilkan selalu hadir dengan membawa beraneka nasihat, jikalau kehidupan tidak selalu terpaku pada ranah kegagalan atau keberhasilan belaka. Melainkan, terdapat bermacam-macam kemungkinan yang bisa hadir.
Secara visual, karya ini tercipta dari penggabungan beragam kelopak bunga berwarna merah marun yang disusun secara menjulur dan menggantung pada langit-langit bangunan. Komposisinya ditata secara membentang dan menyebar; dalam captionnya pun tertulis “seperti jaringan darah dalam tubuh manusia”. Dengan karya ini, penghadiran gerak dan pola yang berulang dengan beragam susunan lipatan dan lekukan diwujudkan secara tegas melalui eksplorasi dari bentuk kertas Tyvek sendiri. Wisnu membuktikan sebetulnya material bukan hanya sekadar aransemen ide saja, melainkan memiliki kuasa untuk menjadi mitra aktif dalam menghasilkan pola dan ritme visual yang penuh dengan makna.
Keseluruhan unsur yang menjadi visual komposisi bidang, warna dan bentuk sanggup membangun ritus hubungan yang dialektis. Hingga pada akhirnya, muncul sebuah relasi dialektis yang kemudian meluas ketika karya-karya tersebut ditempatkan pada ruang pameran, sehingga mampu menciptakan percakapan baru yang dinamis antara karya dan konteks spasialnya.
Hubungan antara karya dan bangunan (ruang pajang) yang sekaligus menjadi tanda salah satu pencapaian artistik dalam petualangan Wisnu sebagai seniman mampu merespons berbagai sudut dan bentuk ruang. “DESAK DENYUT” menjadi salah satu titik konkret pertautan diri seorang Wisnu dengan ruang-ruang di Manara Bistro.
Kelihaian Wisnu dalam menyajikan karya seni di pameran ini tidak berhenti di situ saja. Seluruh karya yang hadir memiliki keragaman dan karakteristiknya masing-masing; dari yang monumental hingga intim, dari yang geometrik hingga organik. Semua karya diartikulasikan sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan sebuah narasi visual yang sangat kohesif di seluruh ruang pameran.
Sebuah karya berjudul “TUWUH” ini memberikan interpretasi tentang kehidupan yang mencoba menemukan jalan untuk tumbuh melalui sela yang pada dasarnya tidak direncanakan. Karya ini berjumlah 3 buah. Dibuat menggunakan medium kertas Tyvek, rotan, tali kawat baja, cat akrilik, fiberglass, dan plywood. Karya ini memiliki ukuran 300 x 70 x 20 cm (3 pcs). 2026.
Kata ‘tuwuh’ sebenarnya berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti tumbuh, hidup atau berkembang. Dalam budaya Jawa, kata ini sering kali digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan harapan akan membawa kesuburan. Selanjutnya, nuwuhaké merupakan kata turunan yang memiliki arti tumbuh atau kehidupan yang mulai bersemi. Mengambil kata tersebut sebagai judul, konsep karya yang ditampilkan menunjukkan sebuah transgression dalam konteks positif. Bentuk yang diwujudkan ini menunjukkan sebuah emergence, yaitu gambaran bahwasanya kehidupan sanggup muncul tidak melulu dari kondisi yang ideal. Melainkan wujud dari negasi atas rentetan logika yang sempurna.
Secercah bentuk organik yang seakan mencoba untuk keluar dari batas permukaan bidang datar, sehingga menciptakan rentetan pengalaman pengembaraan visual yang sama dengan bunga-bunga liar. Visual ini jelas menunjukkan bahwa ritus kehidupan tidak selamanya menunggu dalam ketergantungan pada titik kesempurnaan untuk dapat berkembang. Namun sebaliknya, titik keterbatasan justru merupakan medium tempat kehidupan dapat menemukan ruang kuasa untuk hadir dan tumbuh. Kemunculannya justru kerap kali hadir pada ruang yang disebut marjinal, yaitu ruang yang dianggap sebagai wilayah rapuh, rusak, atau malah terabaikan. Melalui karya ini, seniman seakan-akan menciptakan kehadiran yang ada dalam ambang batas, di tempat-tempat yang sebagian besar orang memilih untuk tidak memberikan perhatian.
Salah satu hal yang sangat memukau adalah cara Wisnu sebagai seniman tidak hanya menanyakan pertanyaan epistemologis, tetapi juga mampu mengoperasikannya melalui logika ‘menganyam’ yang pada dasarnya sudah dia lakukan selama bertahun-tahun. Setiap ide yang menyoal pertumbuhan, transformasi, dan keterbatasan mungkin terasa abstrak dan dapat dialihkan ke dalam medium yang berbeda-beda, sehingga menjadi konkret dan dapat dialami secara visual. Dari rentetan karya yang dipresentasikan oleh Wisnu dalam pameran ini, seolah mencuatkan satu pernyataan yang perlu digarisbawahi dengan tegas, bahwasanya ‘seni tidak akan pernah mati’.
Dalam pameran “Semekar Bunga di Jalan” yang disajikan menyeluruh. Bisa dinyatakan bahwa secara implisit, Wisnu memiliki sebuah pertanyaan cukup fundamental yang menjadi pengarah utama atas investigasi artistiknya, yaitu sejauh mana kesanggupan satu ruang ide atau gagasan itu dapat diuraikan, diungkapkan, dan dieksplorasi melalui beragam cara pendekatan, medium, dan cara mempresentasikannya.
Yang sebetulnya menarik untuk ditinjau lebih jauh adalah cara pengamatan yang merespons ruang dan menyajikan karya-karya pada tempat yang sudah ditentukan, bukan hanya sekadar alasan estetis semata. Namun, sejauh mana puncak dari sebuah ide dapat tetap konsisten tetapi mengalami transformasi yang cukup radikal ketika diterjemahkan ke dalam medium dan ruang yang berbeda-beda?
Pertanyaan ini merupakan sebuah bentuk investigasi epistemologis dari Wisnu tentang bagaimana ide yang sama dapat mengalami transformasi, penjernihan, atau bahkan menghasilkan bermacam makna ketika mampu diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk visual dan spasial.
Pameran ini tidak hanya diposisikan sebagai ruang presentasi karya, tetapi juga dapat diposisikan sebagai laboratorium tempat Wisnu sanggup menguji kemampuan eksplorasi konseptual. Secara lebih lanjut, hal ini dapat memunculkan pertanyaan generatif: apakah ide hanya memiliki kapasitas terbatas yang ditentukan oleh materialitas yang terpaku pada bentuk medium tertentu, atau justru sebuah ide itu dapat melampaui batasan-batasan material dalam menghasilkan bentuk baru yang bersifat unlimited? []