Hujan deras membasahi petang, dan kau memutuskan menunda berangkat ke pembukaan Jogja Ceramic Forum sekaligus pameran Chronotopic Ceramic: Capturing Transient Moments di Achieve Art Space. Sejak siang, sudah kau kerjakan beberapa ujian, agar bisa datang pembukaan tepat waktu dan menikmati serangkaian sajian; tapi ternyata hujan. Laptopmu, yang betah pada pelan, sudah kau matikan; dan sambil menunggu agak reda, kau memutuskan membaca buku Nirwan Dewanto berjudul Satu Setengah Mata-Mata: membaca satu esai sebelum epilog yang berjudul “Kepala”, esai yang menyoal keramik. Hujan sudah agak reda, walau masih menyisa gerimis; dan kau memutuskan berangkat memakai jas hujan di badan. Selama perjalanan, kau mengingat sejenis silam: saat JCF masih Jogja Ceramic Fest dan belum menjadi Jogja Ceramic Forum. Saat itu, kala pembukaan, yang berlangsung malam, kau datang bersama seorang gadis, menyaksi keramik-keramik di MuseumKu Gerabah, Kasongan, dengan tubuh yang masih agak kikuk setelah opname.
Sesampainya di Achive, setelah memarkirkan Astreamu, kau dapati karya Rajiwe menyambut. Ah, karya itu pernah kau lihat-alami di halaman sebuah galeri. Seperti dugamu, karya itu punya kesan dan pemaknaan lain kala diletak di tempat dan durasi yang lain. Dulu di halaman belakang, di antara pohonan; sekarang di halaman depan berbatas parkiran. Setelah melepas mantol, mengeringkan badan, kau masuk. Kau memandang sekeliling; menonton penonton. Lalu, kau naik: menemui kawan-kenalan. Sambil berjalan pelan, sebab sepatu yang agak basah, kau lekas merasa, pameran ini kali, dibanding dengan tahun sebelumnya, terasa lebih liris dan intim. Ah, nanti, selepas bertemu beberapa kawan, pikirmu, akan menyaksi dengan lebih teliti. Di sisi kiri tangga, kau dapati poster-tempelan tentang jenis dan cara pengolahan keramik; dan kau perhatikan dengan saksama, terhenti di tiap anak tangga. Di lantai dua, kau berbincang sejenak: sambil menyaksikan layar tivi yang memutar video pembuat keramik di Kasongan, juga tumpukan arsip di sisi kanan tivi. Esok, batinmu, pada kunjungan selanjutnya, akan kubaca dengan lebih sungguh—

Petang yang Basah, Ruang Tamu pada Semacam Rumah, dan Keramik-Keramik yang Mengandung Kisah
Setelah merasa cukup, kau pun ke bawah; kembali ke lantai satu, melihat dan menonton, juga mengalami keramik-keramik yang dihadirkan. Kau pun menuju ke teks-dinding, menuju teks kuratorial yang ditulis Dyah Retno. Dengan perlahan, kau membacanya. Di muka, kau lekas tertarik pada kuratorial yang manawarkan keramik sebagai suatu yang bisa merekam ataupun menangkap momen, yang notabene lekas dan sekilas. Akan tetapi, bagimu yang menarik adalah kenyataan bahwa keramik sebagai proses bisa dibilang lama dan rawan pada tiap tahapannya. Tentu, kau paham, mesti melihat keseluruhan dulu sebelum memberi tanggapan. Karenanya, kau lekas mengamati; mengamati tiap karya dengan perlahan, dengan tanpa ketergesa-gesaan. Dan betapa, setelah melihat secara keseluruhan, tanggapan awalmu tadi agak bisa dikonfirmasi; setidaknya, meski subjektif, kau menemu serangkaian argumentasi, bila ada yang bertanya atau memintai pendapat.

Selain perkara kuratorial, kau menaruh curiga, kesan liris dan intim yang kau rasa adalah sebab pemilihan ruang pamer, sebab pemilihan ruang presentasi yang menjelma panggung bagi tiap karya. Jika diizinkan untuk banding dengan tahun sebelumnya, kau cukup berani berkata JCF tahun lalu memang terkesan hadir lebih gigantik-dramatik, massal-teaterikal; meski itu kesan, sebab ukuran karya terasa tak jauh berbeda; sedang tahun ini berporsi sebaliknya. Akan tetapi, bagimu, besar-kecil tak melulu pernyataan yang besar bagus dan yang kecil sebaliknya; sebab bagimu, yang lebih penting adalah relasi dan hubungan antarkomponen. Kau tentu saja tak tahu, pemilihan ruang pamer berdasarkan apa; menimbang relasi koratorial, ketersediaan, atau kemungkinan yang lain.
Namun, bagimu, ruang yang tak terlampau besar dengan karya-karya yang demikian telah memberi kesan pameran itu berada di ruang tamu atau ruang keluarga—atau seminimalnya adalah ruang di mana tamu bisa menjadi kawan-saudara dibanding sekadar pengunjung. Sebenarnya, kau ingin berkata, hampir keseluruhan berbobot domestik; tetapi, domestik yang kau maksud bukan hanya perkara rumah, melainkan juga perkara kepulangan. Dan tentu, soalan demikian tak terpancar pada seluruh karya; sebab ada pula yang tebal bobot dramatik-teatrikalnya.
Karya Yusi Yuansa bagimu menawarkan liris yang kau maksud. Karya itu liris; menawarkan keintiman kepadamu—yang sebenarnya memiliki jarak ketubuhan. Secara bentuk, bagimu, pemilihan yang demikian terasa lumrah di jenis ruang yang mengizinkan orang untuk hadir dan memposisi diri sebagai kawan-saudara; meski di deskripsi ditulis perihal studio.. Karya yang berada di sebelahnya pun memberi kesan yang lembut itu; meski kesan lembut dan liris tadi dibawa pada sesuatu yang luas, pada suatu yang adalah laut. Karya Tanah Liat 9 membawamu pada laut, pada sesuatu yang luas; memberi tenang—setelah kerja berat. Setelah ketenggelaman itu, sepasang matamu baru sadar, yang kau lihat adalah cawan dan wadah-wadah kecil dalam komposisi. Perasaan ditenggelamkan karya, atau sejenis dibujuk untuk masuk ke dalam situasi atau narasi, bagimu, ditawarkan karya Sekar Puti; biografi liris, pisau, jamu, dan memasak telah bergerak ke arah dramatik, dan membujukmu masuk setelah keterpukauan pada “kemilau” pada keramik yang dihadirkan.

Karya yang bagimu memiliki beban liris dan jelas menangkap momen, antara lain adalah karya yang menggarisbawahi keramik adalah sejenis media rekam—atau keramik adalah rekaman itu sendiri. Karya Agung Nugraha dengan citra wajah dan kubus-kubus telah membangun relasi bahwa manusia dibangun dari momen-momen; didefinisikan dari lintasan kejadian. Dan seperti sebelum-sebelumnya, sebab hadir sebagai trimatra, kau mengamati dari berbagai sisi: sehingga kau dapati pengalaman yang berlainan pula. Ada pula karya yang menghadirkan momen atau lintasan memori dengan lebih gamblang, seperti karya Naila Anarza yang menghadirkan teknik cetak di papan terakota, di plat-plat gerabah; dan hal demikian, bagimu, malah menjadikan keramik sebagai media rekam, sebagai foto itu sendiri. Menarik pula karya dari Endang Lestari yang menunjukkan bahwa keramik adalah kenangan memori itu sendiri—dan diwadahi pula di lemari, di boks-boks kayu.
Saat melihat karya Waton Art Studio kepalamu yang mendapati manusia dan ular juga perihal mata, di samping ikon-ikon lain, lekas membawa pada Genesis; meski hal tersebut ada pada ruang referensi dan interpretasi—terlebih saat menimbang narasi di karya. Namun demikian, di hadapan karya tersebut, kau terdiam cukup lama: terbawa pada rangkaian narasi. Karya yang kental akan narasi lintas kultural lainnya, bagimu, adalah karya Chynta Sekar yang mengangkat upacara penyucian dan ruwatan dengan api. Karya itu, di sepasang matamy, menjadi terasa cocok sekali dengan seni keramik ketika menyadai bahwa keramik tersucikan oleh api pula. Karya tersebut bagimu terasa menarik; terlebih saat karya lain menyoal tanah liat dan materi, karya tersebut menggarisbawahi api dan pembakaran. Karya Ananda Putri, dengan bentuk terakota, bagimu, juga memberikan bobot lintas narasi. Di sisi belakang, kau dapati karya Faiq Alfahmi yang tentu berkelindan dengan mitologi Antaboga. Bagimu pribadi, soal menarik dari karya Faiq adalah kenyatan bahwa kau sempat melihatnya dipamerkan di situasi yang lain. Saat itu, kau melihatnya dalam pengertian rambu-rambu yang riil: memiliki tiang dan berdiri di antara pohonan—sedang kini di dalam ruang putih pameran.

Karya-karya keramik yang memiliki lintasan dengan patung bagimu juga menarik; selain hadir sebagai upaya merekam momen atau kejadian, tapi juga mencipta momen itu sendiri. Karya Evy Yonathan, yang menyuguhkan tiga citra manusia duduk melihat seluruh ruang, bagimu, telah mencipta dan menjalin komunikasi dengan penontonnya. Dan soalan demikian, bagimu menjalin sejenis lirisme tersendiri. Karya Dona Arisuta pun hadir seperti dua sosok yang tengah berbincang; dan pemosisian di dekat tangga, bagimu, menjalin narasi tersendiri yang lekas mengisi. Adapun karya Nabila Rahma, yang pernah kau lihat bersanding dengan lukisan-lukisan, kini bersanding dengan keramik; dan citra wajah yang dimunculkan wadah itu seperti mencoba menjalin perbincangan dengan penonton dan karya-karya lain. Pada sepasang matamu, karya Nabila itu seperti melihat karya Evy—setelah melihat karya dari Noor Sudiyati.
Tawaran menarik yang kau dapati dari pameran Chronotopic Ceramic: Capturing Transient Moments adalah isu alam dan keberlangsungan keramik itu sendiri—yang tetap hadir dalam rentang soalan momen, media, dan lintasan kultural. Karya yang disuguhkan Nisa Yamamoto memukau dirimu. Akan tetapi, narasi perihal alam dan sejenisnya itu barulah kau dapati setelah keterpukauanmu pada retak yang ditawarkan. Saat melihat karya itu, kau terusik kembali pada tanyamu yang agak silam: Bagaimana menunjukan A tanpa memberi penjelasan A itu di kolom narasi pengkaryaan? Karya yang menyoal hal yang sama pun disuguhkan Muhammad Fauzi Alfarizi. Hampir sama, keterpukauanmu selain pada bentuk gelas atau guci kecil adalah sisik yang mengitari dan menyatu dengannya; dan barulah terkonfirmasi soal Godzilla pada narasi. Godzilla, pikirmu, bila diperhatikan dengan pelan dan teliti adalah soalan alam, soalan radiasi dan sejensinya. Betapa kau seringkali luput, keramik adalah juga kriya yang dipakai tuk makan dan minum…

Bagimu, karya-karya yang disuguhkan di bagian tengah ruang memiliki kesan tersendiri. Karya Angga Elpatsa membawamu pada sejenis ruang makan atau dapur; dan tentu kau pahami itu adalah kesan. Amat terpukau kau pada alat rumah tangga itu—yang berpadu antara keramik dan kayu. Dan kepalamu membayangkan bagaimana jika rangkaian benda itu jadi suatu yang dipertunjukan: sejenis performans. Lalu, karya Nayera Subaih benar bergema di kepalamu; dan kau menyaksinya dari berbagai sisi. Soalan tanah dan manusia begitu tebal; warna tanah, retak yang ditambal perbaiki, serta keterhubungan antargunci dengan tali lekas menjelma metafora di kepalamu. Akan tetapi, menyaksikan karya itu turut menggarisbawahi soal yang sebenarnya bisa ditingkatkan: penataan! Cahaya, dan bayangan karenanya, belum dimanfaatkan dengan maksimal. Andai itu digarap, pikirmu, karya Nayera akan kian bergema. Kau ingat pernyataan itu, keramik punya kemampuan menyatukan narasi-narasi transkultural dan transhistoris yang tampaknya tak dapat disatukan. Dan tentu, bukan hanya karya itu yang bergema bila soalan cahaya dan penataan dimaksimalkan: tapi juga karya-karya lain! Karya yang ada di depan tapi jadi karya yang kau lihat akhir adalah karya dari Suranto Kenyung. Karya itu telah membuatmu kembali mengingat jika skala berpengaruh. Karenanya, kau melihat karya itu dengan maju-mundur, berdiri-jongkok. Dan kenyataan karya itu dibangun dari bata-bata kecil membuatmu kagum pada bagaimana itu dicipta satu demi satu, disusun satu demi satu pula.
Kau melihat jam di gawai; memutuskan keluar mencari makan sejenak menepi. Kemudian, kau kembali—dan sejenak ngopi di sebelah Achive. Di situ, kau berbincang tentang keramik untuk foodgrade dengan seorang kawan; dan beberapa lintasan. Lalu, setelah habis kopi, kau kembali ke Achive dan berpamitan dengan beberapa kawan yang masih ada di sana. Hujan turun lagi, dan kau pulang dengan mantol lagi. Pada perjalanan pulang, kau memikirkan pameran yang baru saja kau datangi. Secara gagasan, kau dapati, bukanlah keramik yang merekam momen. Bagimu, berkeramik atau proses berkeramiklah yang sebenarnya mengekalkan momen secara lebih lembut: si keramikus membuat keramik sebagai proses menubuhkan momen, kenangan, atau narasi. Pada akhirnya, berkeramik adalah upaya merenung, menimbang, dan memahami—sembari membentuk, membakar jadi, dan menyiasati. Akan tetapi, di perjalanan pulang pula, kau tetap menaruh ragu dan curiga kepada dirimu sendiri: tentang bagaimana cara memandang dan memposisikan diri.

Kunjungan Kedua di Hari Kelima: Dari Liga ke Laga dan Kesibukan Membaca
Di hari kelima, kau baru genap mengunjungi lagi. Hari kedua, sebab hujan yang tebal, dan rasa lelah setelah seharian berkegiatan dan menyaksikan pertunjukan salah seorang kawan, kau tak jadi mengunjungi pameran. Dan amat kau sesalkan pula sebab di hari ketiga tak bisa mengikuti tur kuratorial dan bincang seniman; sebab selama dua hari kau mesti menyelesaikan tulisan ujian akhir dan tulisan ulasan. Kau mengupayakan menyaksikan lomba keramik, sebab salah satu kawan yang juga panitia berkata format lombanya berbeda dengan tahun lalu: berbentuk liga, menguji keterampilan, satu versus satu sampai final. Lomba sendiri diadakan di Jurusan Kriya ISI Yogyakarta; dan kau datang agak siangan. Sesampainya di sana, setelah agak bingung mencari gedung, kau menikmati lomba keramik itu. Ketentuan yang diberi sederhana: peserta membuat gelas dari tanah liat dalam ukuran dan ketebalan tertentu, bertarung satu-satu, dan diberi kesempatan penilaian tiga kali dan gugur. Lomba itu ada dua kategori, umum dan siswa; memakai mesin untuk umum, dan teknik pijit untuk siswa. Dan kau menyaksi keduanya dengan antusias.
Andai dimintai pendapat, kau akan berkata, lomba tahun ini lebih menarik. Lomba tahun lalu memang meriah dan berbobot gagasan, tapi terasa tumpang-tindih dengan panggilan terbuka pameran—sebab sama-sama membuat kreaksi keramik dan presentasi. Amatlah kau ingat gurauan tahun lalu pada salah satu kawanmu yang panitia: Bung, bukankah berarti aku bisa membeli gerabah, memecahkan atau melukis, lalu dilombakan asal bisa memberi narasi dan presentasi yang kuat? Ah, kau ingat wajahnya yang tertawa: Bisa saja, asal berani, Bung. Format lomba yang ditawarkan ini kali adalah menguji teknik dan kecepatan; dan seringkali hal yang begitu luput diuji; hanya dilihat sebagai keterampilan dan bukannya seni. Akan tetapi, kau juga bisa memahami, soalan antusias belum sebanding dengan tahun lalu. Padahal, bagimu, format berbentuk liga dan uji kemampuan amat performatif, yang berarti amat menarik disaksi-tonton. Seperti “TV Champion”, pikirmu. Lomba yang demikian mengingatkanmu pada jenis lomba pahat di Jepara, yang kau saksikan via media, yang menguji bagaimana kayu diukir-dipahat. Betapa yang menyaksikan lomba jenis itu ramai dan riuh; meski yang memahat senyap dan khusyuk! Tentu, soalannya adalah mencipta kultur di masyarakat.
Setelah menyaksikan lomba itu sampai sesi menuju semi-final, kau putuskan untuk bergeser; melihat pameran di Katamsi sebentar—lantas bergeser ke Achive Art Space. Di Achive, setelah sejenak istirah dan makan, kau menghabiskan waktu hingga petang menyaksikan pameran lagi; dan tentu saja menggenapi niatan awalmu: membaca arsip-arsip cetak yang disediakan di sana! Arsip digital kau pindai; menyimpan untuk dibaca di rumah. Setelah petang, setelah membaca sebagian besar, kau hendak ke Baravia Pottery: tetapi langit amat mendung. Kau pun pulang; dan melanjutkan sejenis catatan.

Sarasehan dan Penutupan: Menimbang Kini dan Tadi, Membayangkan Nanti
Setelah makan siang dan menyelesaikan beberapa kerjaan, kau berangkat ke selatan: menuju ke Jurusan Kriya ISI Yogya lagi; sebab ada sarasehan keramik dari JCF bertajuk “Apa Kabar Seni Keramik Jogja Hari Ini?”. Siang itu, kau menyimak ketiga pembicara itu dengan saksama, dengan menikmati hidangan dan membuat kecil catatan. Apa yang disampaikan oleh Sudjud tentang pameran keramik di Jakarta cukup mengejutkanmu—di samping soalan relasi antara manusia dan tanah, juga pengolahan limpah dan isu-isu global perihal keramik dan tanah. Lalu, apa yang disampaikan Dessy Rachma memperkuat sejenis kegelisahanmu bahwa amat sedikit tulisan-tulisan keramik, khususnya sejarah dan kritik atas seni keramik. Adapun, pernyataan yang menarik bagimu adalah sejenis sentilah bahwa seniman keramik itu banyak dan memiliki gagasan dan ide-ide yang menarik, tapi sedikit yang mencatat dan membuat kritik-apresiasi—sehingga citra seniman, karya, bahkan peristiwa tak genap muncul ke permukaan. Lalu, Dyah Retno menyampaikan proses kreatifnya; lintasan persentuhannya dengan kerja keramik.
Setelah rampung sarasehan, kau turun ke lantai satu; menikmati segelas kopi—sambil melihat persiapan penutupan seremonial. Sambil menikmati kopi itu, kau kembali berbincang membuat kenalan. Ah, eksperimen keramik seperti menolak akhir, batinmu kala menyimak kawanmu itu. Namun, di satu sisi, kau teringat pada paradoksnya: keramik adalah sesuatu yang memiliki tebal batasan—bahkan amat paham batas dirinya sendiri. Kemudian, setelah kopimu habis, kau memutuskan pulang; dan pamit pada beberapa kawan. Tentu saja, kau dihujani tanya kenapa tergesa; dan kau menyampaikan hendak merampungkan beberapa hal. Dan setelah mengetahui keisenganmu pada seni keramik, dikenalnya kau pada Dessy: untuk meminta arsipnya tentang keramik di Jogja, Jakarta, dan Bandung pada kurun 2016 ke belakang. Lalu, setelah genap, kau pun pulang kembali ke kontrakan. Di perjalanan, kau baru sadar, semestinya berkata, bahwa penulis keramik itu ada meski belum banyak; tapi soalan lainnya adalah media untuk mewadahi tulisan itu—sebelum menimpang pertanyaan: Siapa yang akan membaca?

Sesampai di kontrakan, setelah berganti pakaian dan merapikan ruang kerja, kau melanjutkan catatan kecil-kecilanmu. Di catatanmu, kau tulis, perpindahan dan pergantian JCF dari Fest ke Forum, meski tetap berformat festival, adalah hal menarik. Amat kau pahami, ada serangkaian perbedaan antara JCF tahun lalu dan tahun ini. Ada hal-hal yang di satu soal bertambah luas dan dalam; dan ada pula yang berkurang dan mengecil, bahkan menghilang-berganti. Bagimu, soalan yang demikian itu lumrah saja; sebab memang kultur sedang dibangun. Amat kau ingat pula rujukan awal kemunculan festival keramik itu. Setelah berbincang dan sekilas menelusuri, kau memang merasa janggal bila Jogja tak memiliki sejenis festival atau peristiwa kesenian keramik. Karenanya, JCF memiliki posisi unik; dan mesti terus memperbaiki via kritik. Di kamus, dengan keisengan yang biasa menghinggapi, kau lihat pengertian forum; bahwa forum adalah wadah, adalah tempat pertemuan bertukar pikiran. Hal demikian jelas menggarisbawahi perihal wacana, perihal kesejarahan dan kritik yang seringkali luput dari kerja seni keramik.
Akan tetapi, ketika ditanya apa yang hilang, atau seminimalnya berkurang, bagimu, adalah soal perayaan itu sendiri. Apabila tahun lalu perayaan itu begitu tebal, meski dengan catatan, tahun ini soalan meriah dan perayaan agak berkurang. Amat kau ingat, kala pembukaan, bahkan sejak siang-petang, ada ruang bagi publik umum tuk bergembira dengan keramik, baik sebagai benda maupun kerja. Ada hal-hal yang bisa dirayakan bersama; dan karenanya, membawa publik umum perlahan menjadi publik seni yang gandrung. Kecurigaanmu adalah pijakan lokasi dan sejenis ketokohan. Namun, tentu, soalan yang demikian adalah sebuah di antara sekian. Sambil mengingat-ingat dan mencatat, kau mendapati, pertunjukan keramik ini kali tak genap muncul. Amat kau sayangkan, sebab bagaimana juga keramik memiliki unsur performatik yang tebal. Diskusi-dikusi keramik pun juga tak setebal tahun lalu; meski sarasehan yang kau ikuti pada tahun ini begitu bergema. Ah, kau paham, membanding enam hari dengan sepuluh hari jelas tak sebanding. Karenanya, amat wajar beberapa hal yang dulu ada jadi hilang atau berkurang; dan kau berharap, tahun depan apa-apa yang berkurang dan hilang bisa bertambah dan muncul kembali.
Saat berkunjung ke rumah kawan, yang sedang merintis karir sebagai seniman keramik, meski telah memiliki kekokohan pada jenis seni yang lain, berkata padamu: Sebuah festival mestinya hadir secara organik, dan bukan hanya berisi acara-acara yang mengundang seniman-seniman. Dan kau lekas menulis di catatan, semestinya seni keramik hadir paling depan di soal demikian. Kurang organik apa seni keramik? Betapa seni keramik punya lintasan keterhubungan dengan berbagai hal sejak mula, sastra-sejarah, kimia-fisika, juga antropologi-geologi. Karenanya, kau membayangkan bahwa festival seni keramik adalah perayaan bagi setiap lapisan dan golongan. Kau juga teringat pada ucapan kawanmu yang berambut ikal dan bercita memiliki media seni yang rapi: Bung, seni keramik mestinya tampil terdepan kala menyoal seni kontempor nggak sih? Dan kau amat tergoda untuk lekas mengamini. Di akhir catatanmu, yang kau tulis di kertas buram, dan akan kau pindah ke laptop nanti, kau kembali menulis… Manusia dan tanah amat dekat; dan tak berlebihan untuk berkata rasanya bahwa keberjarakan manusia dari tanah adalah keberjarakan manusia dari dirinya sendiri, dari kemanusiaan dan asal-usul kesejarahan yang awali. Dengan demikian, tulismu kemudian di kertas buram, upaya merayakan keramik adalah upaya merayakan manusia: dan menjadi manusia adalah proses tiada henti—yang mesti terus diupayakan dan dievaluasi…[]
(Yogyakarta, Desember 2024)