Search
Close this search box.

Back to The Roots: Refleksi Satu Dekade Nandur Srawung

Nandur Srawung Habitat: Loka Cerita membuka mata publik seni soal pelbagai isu yang sedang kita hadapi di dunia. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan solusi atas masalah-masalah tersebut. Para seniman melalui karyanya menawarkan alternatif pemecahan masalah di ruang pamer. Hampir semuanya mengajak pengunjung untuk kembali lagi ke akar, kembali memaknai dari mana kita berasal.

Nandur Srawung kembali hadir guna merayakan satu dekade eksistensinya dalam skena seni Yogyakarta. Pada helatan yang kesepuluh ini, Nandur Srawung tampil dengan logo baru. Harapannya semakin luas publik seni yang dapat dijangkau melalui tema Habitat: Loka Carita. Pameran dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., pada tanggal 15 Agustus 2023 secara simbolik dengan menyiramkan air dalam kendi ke pohon Burahol yang selanjutnya akan ditanam di Pesanggrahan Ambarrukmo. Prosesi simbolik ini semakin menegaskan bahwa Nandur Srawung bukan hanya sekadar pameran seni rupa saja, tetapi juga berkomitmen dalam gerakan aktivisme lingkungan.

Selain itu, Nandur Srawung juga memberikan Lifetime Achievement Awards kepada Yani Saptohoedojo, istri dari Saptohoedojo yang menginisiasi dibangunnya makam untuk para seniman di Imogiri, Bantul. Sepeninggal Saptohoedojo, Yani Saptohoedojo turut andil dalam merawat dan menjaga makam tersebut dengan tidak melakukan komersialisasi. Perempuan kelahiran Purwokerto, 25 November 1953 itu juga berinisiatif untuk membangun museum Giri Sapto meskipun belum dapat beroperasi karena kendala-kendala tertentu. Lebih lanjut, Nandur Srawung juga memberikan Young Rising Artist Award kepada seniman partisipan melalui program panggilan terbuka (open call).

Tema yang diangkat pada tahun ini ingin mengeksplorasi gagasan mengenai kesadaran akan lingkungan tempat tinggal yang sehat, aman, dan inklusif melalui pengamatan dan penyelidikan atas situs dan narasi yang muncul di sekitarnya. Taman Budaya Yogyakarta sebagai ruang pamer pada tanggal 15-28 Agustus 2023 dibagi menjadi enam bagian yang masing-masing menyajikan hubungan seni dengan tema-tema besar kemanusiaan, yakni spiritualitas, lingkungan (ekologi), identitas dan inklusivitas, aktivisme, teknologi, dan kesadaran sejarah (literasi) sebagai respons berbagai isu kemanusiaan yang terjadi akhir-akhir ini.

Nandur Srawung mengadakan beberapa program, baik sebelum maupun saat pameran berlangsung. Melalui program Nandur Gawe, beberapa karya dalam pameran dikerjakan melalui metode riset di lapangan yang diikuti oleh sepuluh partisipan, baik lokal maupun internasional. Residensi dilaksanakan di lima titik situs di Yogyakarta, antara lain Kampung Ketandan, Pesanggrahan Ambarrukmo, Resan Gunungkidul, Makam Seniman Giri Sapto, dan Cagar Budaya Bulurejo. Para pengunjung yang tertarik untuk ke situs-situs residensi tersebut juga diberi kesempatan untuk berkunjung melalui program Srawung Moro.

Selanjutnya, Nandur Srawung juga mengadakan Srawung Sinau sebagai sarana berbagi dan pertukaran ilmu dari praktisi di balik penyelenggaraan acara seni yang penting bagi keberlangsungan ekosistem seni. Program ini berkolaborasi dengan praktisi-praktisi yang ahli di bidangnya, antara lain Zulfan Amrullah untuk kelas Rancang Bangun Pameran Seni, Soga Studio untuk kelas Penangan Seni, dan Irene Agrivina untuk kelas Penulisan Proposal Pameran Seni.

Ketika menginjakkan kaki ke Taman Budaya Yogyakarta, pengunjung akan langsung disuguhi fasad bertajuk Awal Loka Carita. Melalui instalasi air, Zulfian Amrullah selaku perancang pameran, ingin menyampaikan muasal kehidupan selalu berada di loka yang berarti tempat yang kaya akan air. Air yang mengalir, menggenang, menguap, atau menetes. Di situlah kemudian kompleksitas makhluk hidup berkembang biak, bertumbuh, dan saling membangun peradaban, menjalin cerita.

Awal Loka Carita karya Zulfan Amrullah. (Foto: Penulis)

Berakar dan Berkesadaran

Pada penutupan Nandur Srawung lalu, saya beruntung bisa bertemu dan berbincang dengan Iwan Wijono, salah satu seniman partisipan Nandur Srawung. Karya yang ia pamerkan bertajuk Performativitas Nusantara – Seni Berakar dan Berkesadaran. Ketika melihat meja, saya menjadi bertanya-tanya, apa yang ingin disampaikan Iwan melalui tangan-tangan yang disusun berjejer, dan empat buah wajah manusia yang saya kira bermaterial gipsum. Di tengah-tengah empat wajah itu diletakkan dupa-dupa dari para pengunjung yang telah menuliskan harapannya untuk perkembangan seni di Indonesia maupun dunia, kemudian ditempel di papan pengharapan.

Setelah berbincang dengan sang seniman, ternyata empat buah wajah itu adalah wajah Iwan sendiri yang dibuat dari material olahan limbah plastik. Maksud dari empat wajah itu adalah sebuah falsafah hidup orang Jawa, yakni sedulur papat lima pancer. Falsafah hidup ini merupakan sebuah kepercayaan orang Jawa mengenai kelahiran seorang manusia yang tidak lepas dari empat duplikasi penyertanya. Sedulur papat berperan sebagai potensi atau energi aktif dan pancer sebagai pengendali kesadaran. Mereka adalah saudara penolong dalam mengarungi kehidupan duniawi hingga seseorang kembali lagi kepada Sang Maha Agung (Dewi, 2017).

Performativitas Nusantara – Seni Berakar Berkesadaran karya Iwan Wijono. (Foto: Penulis)

Karya Iwan Wijono ini pada dasarnya ingin menggelitik kesadaran publik seni mengenai kondisi peradaban manusia masa kini. Menurutnya, hari-hari ini peradaban dan praktik seni budaya terlalu mengikuti pasar. “Seni tradisi dikembangkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Seni kontemporer mengekor pada tren global sebagai pemenuhan kebutuhan hiburan manusia saja. Seniman-seniman sekarang hanya memikirkan keindahan visual di ruang pamer saja sehingga pesan yang ingin disampaikan jadi terlampaui, tidak tersampaikan,” tuturnya. Sedangkan kondisi lingkungan kian menggila dengan pelbagai urgensi isu yang belum terpecahkan, tetapi tidak mau memikirkan seni sebagai alternatif pemecahan pelbagai isu lingkungan di sekitar. Selain itu, ia mengkritisi praktik seni yang tidak fleksibel. Padahal proses berkesenian, media, teknis, dan program tidak selalu terdefinisi (free form), jadi bisa berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi.

Maksud dari berakar dalam tajuk karyanya kali ini adalah bahwa pada prinsipnya manusia berhubungan langsung dengan alam dan leluhurnya, ada hubungan sebab-akibat di dalamnya, demikian pula hubungan dengan manusia lain. Berkesadaran dimaknai sebagai kemampuan manusia untuk melampaui ego dan nafsu. Hari-hari ini publik seni kian berjejal di ruang galeri hanya untuk memenuhi konten di media sosial saja. Termasuk ketika menuliskan harapan untuk perkembangan seni di Indonesia maupun dunia, sebagian besar pengunjung malah menuliskan harapan pribadinya. Dari fenomena ini, ia melihat bahwa memang manusia sekarang sangat besar egonya, tidak mau peduli terhadap lingkungan sekitar dan susah berisiniatif.

Namun, saya sendiri menyadari bahwa untuk melampaui ego dan nafsu bukan perkara yang mudah. Prosesnya memakan waktu yang tidak sebentar dan melelahkan. Sedangkan peradaban kian cepat dan kita dituntut untuk selalu bisa mengikuti perkembangan zaman. Barangkali seni tidak bisa menjadi solusi atas permasalahan duniawi kini, tapi ia memberikan ruang alternatif untuk ‘menikmati’ permasalahan dengan karya yang membuka mata lebih lebar lagi dalam merefleksikan peradaban manusia sekarang ini.

Bias Dunia Nyata dan Dunia Maya

Ketika memasuki bagian seni dan literasi, mata saya langsung tertuju pada iluminasi yang dicetak secara besar-besar di dinding, lengkap dengan teks yang tidak bisa saya baca. Bukan karena tidak bisa membaca aksara Jawa yang tertera dalam karya itu, melainkan karena aksara-aksara ditulis secara serampangan sehingga sulit untuk memahami apa maksudnya. Saya termenung, mencoba untuk memahami apa yang ingin disampaikan dalam teks tersebut, tetapi tidak menemukan jawaban. Kemudian saya membaca caption karya ini dan ah, pantas saja, saya tidak bisa memahami teks dalam ‘naskah’ tersebut. Awalnya saya mengira bahwa karya ini terinspirasi dari Google Translate yang seringkali serampangan menerjemahkan bahasa. Namun, melalui karya ini, ternyata Eddy Susanto ingin menyampaikan bahwa meskipun sama-sama Java, aksara Jawa dan JavaScipt tidak memiliki korelasi sama sekali.

Illuminations of Google.com karya Eddy Susanto. (Foto: Penulis)

Aksara dan bahasa Jawa sebagai sebuah sistem tanda, layaknya bahasa-bahasa lainnya, memiliki–apa yang disebut Saussure sebagai–langue dan parole. Sebuah sistem kaidah dan praktik bertutur dalam bahasa. Demikian pula dengan JavaScript sebagai bahasa pemrograman yang memiliki sistemnya sendiri. Jika aksara Jawa diaplikasikan di dunia nyata, JavaScript hidup dan berkembang dalam dunia maya. Aksara-bahasa Jawa dan JavaScript ini kemudian, menurut Eddy, membentuk suatu opini bahwa tidak ada hubungan yang jelas dan tegas antara dua dunia ini. Masing-masing berdiri sendiri dan tidak saling memengaruhi.

Berbanding terbalik dengan opini Eddy, kenyataan di dunia maya sekarang justru sangat bisa mempengaruhi kehidupan di dunia nyata. Banyak kasus pembunuhan berasal dari perkenalan lewat dunia maya. Banyak orang terlilit kasus human trafficking karena diiming-imingi pekerjaan yang nyaman melalui seseorang yang dikenal lewat media sosial. Banyak perempuan terseret kasus revenge porn karena dendam orang di dunia nyata, kemudian ingin menghancurkan hidup mereka secara digital. Sekarang ini, kehidupan di dunia maya sama kuatnya dengan kehidupan di dunia nyata.

Salah satu pengunjung berfoto di depan karya “Menggema Kebebasan dalam Ketidakmungkinan” oleh Gema Gulma x Gulma yang Benar. (Foto: Nandur Srawung)

Karya-karya interaktif lainnya yang menarik berada di kluster teknologi dan ekologi, seperti karya “Menggema Kebebasan dalam Ketidakmungkinan” oleh Gema Gulma X Gulma yang Benar. Karya ini berbicara tentang pertumbuhan gulma-gulma yang tumbuh subur di tempat-tempat yang seolah tak memungkinkan untuk tumbuh, persis serupa puisi Wijil Thukul yang berjudul “Bunga dan Tembok”.

Selain seni dan ekologi, kita akan menemukan kemungkinan gagasan yang interaktif dan canggih melalui karya “Grumbul Pangkalan Dimar” oleh Prewangan yang berisikan “teknologi” barongan yang mempunyai tubuh sibenertik untuk merepons bunyi gamelan. Seniman Aii Wijayanti dan Ikbal Lubys melalui karyanya berbicara tentang industri sawit yang membabat habis hutan di Sumatra dan Kalimantan; konflik sawit, ekologi, ekonomi, sosial, politik hingga pola pikir masyarakat menjadi salah satu fokus utama karya berbasis penelitian ini. Maka, ketika kita melihat “Fast in Slow Motion (MK2)” kita akan melihat instalasi yang menggunakan microhpone, di samping kanan dan kiri terdapat minyak goreng yang ditaruh dalam wadah kecil, saat pengunjung melafalakan suara yang tertulis di dingin, minyak di wadah itu akan bergerak perlahan.

Secara keseluruhan, Nandur Srawung Habitat: Loka Cerita membuka mata publik seni soal pelbagai isu yang sedang kita hadapi di dunia. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan solusi atas masalah-masalah tersebut. Para seniman melalui karyanya menawarkan alternatif pemecahan masalah di ruang pamer. Hampir semuanya mengajak pengunjung untuk kembali lagi ke akar, kembali memaknai dari mana kita berasal. Pengunjung yang datang, meskipun sebagian besar hanya menjadi parade di media sosial, setidaknya dapat memahami bahwa ada isu-isu yang tidak kita sadari hadir di sekitar. Dengan demikian, ekosistem seni terus melakukan regenerasi dan tidak mati. Sampai jumpa di Nandur Srawung berikutnya!


Referensi:

Dewi, Suci Ofita. 2017. “Sedulur Papat: Deskripsi Tugas Akhir Karya Seni”. Skripsi. Surakarta: Program Studi Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Surakarta.