Search
Close this search box.

Yang Tersisa dari Reformasi

Pameran ini menghendaki titi mangsa 1998, dan sekelilingnya, untuk bisa dibicarakan secara kritis dan multivokal di ruang publik. Ada karya yang ragu bahwa pembangunan sudah berubah watak -ke arah yang lebih baik. Ada pula yang mengingatkan bahwa Soeharto boleh tumbang, tapi tidak dengan mode kekerasan oleh negaranya.

Suharto memang tumbang. Tapi, seperti Batman, dia bukan (hanya) sosok: Suharto adalah ide. Dan sebagai ide, dia terus hidup. Bukan tentang keterpusatannya, ide Suharto adalah tentang masyarakat yang diatur oleh modal. Reformasi berhasil mengubah Kapitalisme Kroni,[1] dengan Kapitalisme Neoliberal boyongan IMF,[2] —ketika pemerintah dituntut untuk membebaskan pasar.

Maka jelas, pemenang paling mutlak dari momen seperempat abad lalu adalah pasar. Situasi demikian membuat kita mesti berpikir: ke mana Reformasi bergulir saat ini? Bukan dengan policy brief, refleksi pertanyaan itu bisa disusuri lewat jalur seni. Maka hadirlah pameran Mengingat 25 Tahun Reformasi (M25TR).

Komitmennya bukan untuk memungkas perdebatan. Justru, pameran ini menghendaki titi mangsa 1998, dan sekelilingnya, bisa dibicarakan secara kritis dan multivokal di ruang publik. Ada karya yang ragu bahwa pembangunan sudah berubah watak -ke arah yang lebih baik. Ada pula yang mengingatkan bahwa Soeharto boleh tumbang, tapi tidak dengan mode kekerasan oleh negaranya. Satu karya mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang celetukan “Piye Kabare, Enak Jamanku Tho?”

Salah satu bagian dari karya Arif Furqan “Family to Nation”, sengaja memajang lembaran uang Rp. 50.000 yang dibuat era Orde Baru. Karya ini terdapat dalam pameran yang berlangsung paling awal, di Kedai Kebun Forum (20/2 – 20/3 2023). (Foto: Dok. Cemeti)

Titah Pasar dalam Pariwisata

Bagi Slinat, pariwisata adalah serigala berbulu domba. Karya-karyanya menunjukkan pernyataannya itu, termasuk yang terpajang di Kedai Kebun Forum dalam Pameran M25TR. Lima foto Bali tempo dulu disubversi olehnya untuk menggaungkan protes atas upaya mencetak citra Bali yang tipikal seturut nafsu pasar pariwisata.

Intervensi visualnya atas foto Bali tempo dulu memang efektif untuk membunyikan idenya. Seperti dalam karya “Topless”, Slinat merespon foto perempuan Bali yang telanjang dada dengan sapuan akrilik merah yang tegas dan bertekstur –tidak ada keraguan ketika menyatakan sikapnya. Baginya, bebas atau tidak, telanjang atau tertutup, tergantung kehendak pasar. Sikap yang makin terang dengan kata-kata yang dibubuhkan di samping foto, “It’s not about sensor. Because topless[ness] is held for the sake of tourism.”

Kalimat itu tidak asal bunyi. Saat sedang mengumpulkan arsip visual Bali tempo dulu, Slinat menemukan dua foto perempuan yang nyaris serupa. Selisihnya hanya pada dada; satu terbuka, satunya lagi dibebat. Bagi Slinat, ini semua akal-akalan pariwisata yang sedang membangun diri untuk mencetak citra Bali yang manis dan eksotis; tampak terang dalam karyanya, “Native Girl”.

Nyaris seratus tahun setelah pariwisata  –cara menghayati keindahan dan perbedaan dengan mekanisme pasar– diperkenalkan di Nusantara, karakternya tidak ada yang berubah secara fundamental. Justru, pariwisata makin dipercaya sebagai cetak-biru kemajuan, bukan hanya di Bali, melainkan di seluruh penjuru Nusantara.[3]

Secara ekonomi-politik (ekopol), pariwisata memang trik mudah perluasan modal yang sudah jenuh dari Kapitalisme Pusat ke Kapitalisme Pinggiran —ya Indonesia inilah.[4] Secara kultural, pariwisata meneruskan tatanan kolonial ketika budaya negara bekas jajahan ditundukkan oleh persepsi negara-negara “maju” yang nyaris semuanya adalah bekas kolonialis.[5]

Salah satu karya Slinat “Native Girl” dalam salah satu dari lima pameran “Mengenang 25 Tahun Reformasi”, yang berlangsung di Kedai Kebun Forum. (Foto: Dok. Cemeti)

Dalam konteks ekopol dan kultural seperti di atas, karya Slinat jadi penting. Foto subversif ini menyadarkan bahwa alam kolonial tidak lapuk dimakan zaman, tidak tumbang diganyang Proklamasi —apalagi hanya Reformasi. Sebab, nyata sudah, pemenang babak 1998 itu bukan “gerakan rakyat”, melainkan gelombang reorganisasi kapital bernama neoliberalisme.[6]

Sebagai karya seni, dimensi materialitas atau medium perlu juga jadi bahasan. Penggunaan foto Bali tempo dulu sebagai dasar karya juga sangat tepat. Sejarah fotografi eksotik tentang Bali tidak bisa lepas dari kekuasaan, dan Slinat menyadari sepenuhnya hal tersebut.

“Foto Bali kuno merupakan foto yang diambil saat masa kolonial Belanda di Bali. Di dalamnya, ada keeksotisan Bali: ramah, damai, aman, lestari, dan indah. Sejak zaman kolonial sampai sekarang foto-foto tersebut sering menjadi bagian dari penyukses pariwisata di Bali. Ia menjadi penerjemah sebuah surga yang disebut dengan surga terakhir, the last paradise.”[7]

Pada paruh pertama abad 20, pariwisata jadi opsi masuk akal bagi Gubermen dalam membangun koloni di Bali. Selain menyusun ekonomi kolonial, wisata yang menjual eksotisme diyakini mengubur citra keji Gubermen pasca Perang Puputan 1906 di mata dunia.[8] Dalam misi pencitraan ini, fotografi ambil bagian.[9]

Slinat menyadari betul sifat politis dari medan seni fotografi ini, terlebih dalam konteks Bali. Untuk itu, dia ringan saja mengintervensi foto-foto Bali tempo dulu tersebut untuk kepentingan ideologisnya —memprotes komodifikasi keindahan lewat pariwisata. Intervensinya dengan simbol-simbol visual seperti tengkorak, gedung kota, dan masker adalah sebentuk subversi atas ide eksotisme Bali yang menguar dalam foto-foto tempo dulu yang kolonialis itu.

FX. Harsono dalam pembukaan salah satu dari lima pameran “Mengenang 25 Tahun Reformasi”, yang paling akhir dilangsungkan di Krack Studio (18/3 – 15/3 2023). (Foto: Dok. Cemeti)

Repertoar Kekerasan dan Romantika Masa Lalu

Seperti halnya Slinat, FX Harsono yang turut berpameran tidak mau cepat terbuai dengan imajinasi Reformasi yang mengkhayalkan “perubahan”. Karyanya, “Republik Indochaos”, adalah produk lama. Namun, suara yang keluar darinya sama sekali tidak ketinggalan zaman. Dimunculkan pertama kali pada 1998, sudah dipamerkan berkali-kali, karya ini justru makin nyaring bunyinya bahwa setelah Reformasi, ya kita masih begini-begini saja: bonyok digebuk negara.

Seperti yang tertuang di teks kuratorial M25TR, adalah omong kosong bicara tentang kesuksesan Reformasi ketika hajat hidup rakyat masih diujung jurang. Lewat “Republik Indochaos” yang dipamerkan di Studio Krack, teks itu menunaikan komitmennya. Tidak ada citra glorifikasi yang tipikal tentang Reformasi di sana; hanya kekerasan dan kekerasan —repertoar yang diputar hingga sekarang.

FX Harsono yang juga seorang fotografer punya banyak jepretan bukti kekerasan aparat negara selama gerakan protes 1998. Foto-foto itu kemudian diolah dengan teknik etsa, dicoret-coret demi penekanan pada brutalitas negara, lalu dibingkai dalam bentuk perangko. “Sengaja, sebab perangko sering dipakai untuk menandai momen bersejarah,” katanya kepada Tempo pada 2010.[10]

Karya format Perangko-perangko dari FX. Harsono. Tampak Bayu Widodo (kanan) sedang mengamati karya. (Foto: Dok. Cemeti)

Persis di sini lah yang membuat “Republik Indochaos” begitu bertenaga. Dia melakukan subversi atas dua hal: citra mapan tentang Reformasi -gedung DPR yang diduduki mahasiswa serta medium perangko itu sendiri. Sejarah, baginya, perlu juga dituturkan dari segi yang gelap agar jadi pelajaran untuk menaja jalan yang lebih terang. Kekerasan negara bukan aib, dia adalah sejarah yang perlu diingat dengan kritis.

Dan pengingat itu bisa dieksekusi dengan efektif lewat medium perangko -artefak yang hobi mengingatkan momen monumental. Tengok saja karya dari Unhistoried di galeri Cemeti yang memacak deretan perangko edisi PELITA sebagai strategi mereka untuk menunjukkan fetis Orde Soeharto atas pembangunan.

Bedanya, FX Harsono kemudian membajaknya, bukan sekadar menampilkan perangko. Pembajakannya pun tidak sebatas interupsi visual seperti Slinat sebab dia mampu kasih tandingan dengan objek foto alternatif. Tentara yang menembak massa dan kota yang membara; semuanya adalah kenyataan, bukan semata keluar dari kepala seniman.

Salah satu karya FX. Harsono yang bertajuk “Republik Indochaos”, dalam pameran yang berlangsung di Krack Studio. (Foto: Dhias Nauvaly)

Maka ketika sejarah tidak utuh dikisahkan, selalu ada ingatan yang menyelinap separuh-separuh tentang Orde Soeharto. M. Krismon lewat karyanya, “Petani Didudukkan Sebagai Minoritas” berangkat dari keluhan bapaknya tentang nasibnya sebagai petani di Indonesia. Bila mau dibandingkan, bapaknya lebih memilih Orde Soeharto; masa ketika -seingatnya- petani sejahtera.

Ingatan bapaknya tentang orde penuh kepastian, kontras dengan masa-masa peralihannya yang sering disebut dengan nada optimis sebagai Reformasi. Terlihat dari laku “memberi nama”, bapaknya lebih mengingat periode itu sebagai Krismon (baca: Krisis Moneter) alih-alih sebuah jalan terjal untuk membongkar tirani.

Ingatan yang separuh tentang kesejahteraan sektor agraris pada Orde Soeharto barangkali dipengaruhi oleh program Revolusi Hijau dan propaganda Swasembada Pangan. Namun, pengalaman adalah guru terbaik dan yang dialami bapak Krismon memang benar adanya: sebelum Reformasi, sektor agraris relatif lebih baik ketimbang saat ini.

Karya dari Moch. Krismon Ariwijaya, “Petani Didudukkan Sebagai Minoritas, dalam pameran yang berlangsung di Kedai Kebun Forum. (Foto: Dok. Cemeti)

Titik tolaknya, lagi-lagi, adalah neoliberalisme dengan satu agendanya yang disebut de-peasantization atau pemberangusan petani.[11] Strateginya adalah untuk mencerabut petani dari alat produksinya –lahan– dan mengopernya jadi tenaga kerja murah di industri. Abstraksi ini digambarkan burung artifisial dengan cuitan yang bercampur deru mesin; ketika industri dan agraris bertumbukan dan tidak dikelola secara sinergis.

Celakanya lagi, industri yang jadi buangan para petani tanpa lahan -atau petani yang lahannya sudah tidak lagi produktif sebab tata niaga yang tidak adil- adalah industri informal. Salah satunya adalah pariwisata; di banyak tempat, perampasan lahan diiringi oleh iming-iming bahwa desanya bisa diolah jadi situs wisata. Pada titik ini, karya Krismon resonan dengan manifesto protes Slinat.

Memang, selalu ada harga yang dibayar untuk pilihan politik —termasuk yang dianggap membawa kemakmuran. Namun, apakah harganya sepadan dengan sisa-sisa Reformasi yang kita kunyah saat ini? Nyawa demonstran dibayar dengan nyawa yang terus mati oleh kekerasan negara; pariwisata terus jadi serigala berbulu domba; dan petani yang lepas dari tanahnya. Sepadan? Sepertinya, tidak! (*)

Salah satu sesi “artist talk” (27/2) dalam pameran yang berlangsung di Ruang MES 56 (24/2 – 11/3 2023). Tampak dari kiri ke kanan: Arlingga Hari Nugroho -moderator-, Savitri Sastrawan -kurator-, dan para seniman: Amal Purnama, Gisela Maria, Tennessa Querida Waksman, Fionny Mellissa dan Syska La Veggie. (Foto: Dok. Cemeti)

Catatan:

[1] Sari, 2016, h.3

[2] Hermawandi, 2019, h. 243

[3] Lihat https://www.menpan.go.id/site/tentang-kami/tentang-kami/5-prioritas-kerja-presiden-2019-2024. Poin 1 bicara tentang pembangunan infrastruktur, termasuk pariwisata. Dalam RPJMN periode 2014-2019, pariwisata sudah jadi sektor andalan dan itu tidak berubah di putaran kedua pemerintahan Joko Widodo.

[4] Aulia, 2018, h. 34

[5] Pandya, dkk., 2021, h. 4

[6] Sangadji, 2009

[7] Takarir karya Slinat di Kedai Kebun Forum dalam Pameran M25TR

[8] Handitya, 2019

[9] Ibid., h. 100

[10] Lihat https://seleb.tempo.co/read/300573/harsono-kekuasaan-dan-korban

[11] Araghi, 1995

 

Kepustakaan:

Aulia, Selfa Septiani. “PARIWISATA INDONESIA DI MASA NEW IMPERIALISM ATAU IMPERIALISME MODERN: SEBUAH KRITIK DAN REFLEKSI TERHADAP PERENCANAAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI BOROBUDUR DAN MANDALIKA.” Jurnal Wilayah dan Kota 5, no. 01 (April 10, 2018): 32–44. https://doi.org/10.34010/jwk.v5i01.2449.

Handitya, Eliesta. “Bali: Estetika Pariwisata Budaya Dan Jejak Kekerasan Yang Disembunyikan,” January 22, 2019. https://indoprogress.com/2019/01/bali-estetika-pariwisata-budaya-dan-jejak-kekerasan-yang-disembunyikan/.

Hermawandi, Yandi. “Ekonomi Politik Neoliberalisme International Monetary Fund (IMF).” KEMUDI : Jurnal Ilmu Pemerintahan 3, no. 2 (March 22, 2019): 237–54. https://doi.org/10.31629/kemudi.v3i2.868.

Pandya, Revati, dkk. “Rendering  Land  Touristifiable:  (Eco)Tourism  and  Land  Use  Change.” Tourism Geographies, 2022, DOI: 10.1080/14616688.2022.2077425

Pramana, I Made Bayu. “Rediscovering Touristic Photography In Bali; Gregor Krause As A Pioneer” 1 (2021).

Sangadji, Arianto. “Neoliberalisme (2-Habis),” Agustus 2009. https://indoprogress.com/2009/08/neoliberalisme-2-habis/.

Sari, Maretta Kartika. “CRONY CAPITALISM AND POST- CRISIS ECONOMY IN INDONESIA AND THE PHILIPPINES.” Jurnal Kajian Wilayah 7, no. 1 (2016): 1–12.