Search
Close this search box.

Adakah Situasi Kondusif bagi Seniman untuk Berkampanye?

Membaca karya Studio Pancaroba di Sewu Satu, meninjau cara seni dalam membangun sebuah narasi hingga kampanye kritik rezim.

Sebenarnya saya sudah membidik kolektif yang satu ini setelah kemenangannya di BACAA tahun 2024 dan pameran tunggalnya di Indeks berjudul “Who Makes the White Cube White?” Saya membayangkan pamerannya kali ini akan menghadirkan kembali found object lainnya bersama “sahabat karibnya”, aparat. Namun, alih-alih menjual ikan, saya pikir mereka menawarkan daging di tengah riuh pasar ikan. Begitulah umpama yang terlintas ketika saya berkunjung ke satu sudut galeri di lantai dua Wisma Geha, Sewu Satu (11/07/2026)

Pertama kali masuk, saya sedikit kecewa: “Lho, kok karyanya semua hilang?” Saya pikir mereka melakukan pendekatan karya tak kasatmata seperti seniman yang menjual karya berkonsep angin. Padahal satu hari sebelum pembukaan, saya melihat unggahan akun Sewu Satu yang berkolaborasi dengan kurator Axel Ridzky di Instagram—memperlihatkan keseluruhan hasil display yang paripurna dan menggugah selera saya untuk berkunjung.

Ruang pameran (Foto: Dok. Penulis)
Wall text pameran (Foto: Dok. Penulis)

Mempelajari Kondusif dari Dua Lensa

Selain kosong, konsep wall text pun terlihat seperti sudah digerogoti—beberapa terbaca, namun sisa helainya berkumpul di bawah seperti kumpulan stiker gagal pasang tapi tidak dibereskan. Setelah menodong percakapan dengan kurator dan perwakilan dari Stupa/SP—begitu sebutannya—dari Studio Pancaroba, barulah saya memahami bahwa inilah yang mereka maksud dengan Kondusif. Sesuai dengan judul pameran, ternyata alih-alih menggunakan konsep angin, angin dalam pameran ini justru seperti hembusan angin dingin bertegangan tinggi yang berusaha meluruhkan semua karya dari dinding. Poster, foto, frame, hingga wall text pun ternyata sengaja diturunkan guna menjadi metafora dari dua lensa kacamata. 

Lensa pertama dari sisi sang aparat—seolah-olah ruang galeri telah lebih dahulu “diamankan”. Apa yang tersisa menjadi penanda bahwa karya tersebut pernah hadir, namun harus segera diamankan dari dinding agar tidak menimbulkan stigma dan sesegera mungkin dapat dikondisikan sebelum dihadirkan kepada publik. Dalam bayangan ini, aparat hadir sebagai figur yang tidak selalu terlihat, tetapi cukup kuat untuk menentukan apa yang layak tampil dan apa yang harus disingkirkan. Kondusif dihadirkan bukan sekadar sebagai deskripsi keadaan, melainkan sebagai kode yang merujuk pada situasi yang telah dianggap aman, tertib, stabil, dan terkendali, khususnya dalam konteks yang melibatkan ruang publik dan kerumunan. Penggunaan istilah ini sekaligus menggeser perhatian dari peristiwa atau pelaku menuju gambaran umum atas keadaan yang telah dinormalkan.

Lensa kedua, dari sisi kolektif—kondusif justru menjadi ruang antisipasi—sebuah kemungkinan yang sudah lebih dulu dibayangkan mereka sebelum benar-benar terjadi. Mengingat sebagian besar visual berbicara tentang subjek yang ‘sensitif’, ada kesadaran akan potensi gesekan. Menurunkan karya dapat dibaca juga sebagai gestur mandiri: bukan semata-mata karena ditekan, tetapi sebagai bentuk kewaspadaan terhadap risiko apa yang bisa terjadi. Seolah-olah mereka lebih dulu “mengkondisikan” diri sebelum ada pihak yang menertibkan; antara tindakan sukarela dan tekanan eksternal menjadi kabur.

Karya Sandi & Jejak kaki dalam galeri (Foto: Dok. Penulis)

Foto Monumen awal (Foto: Dok. Sewu Satu)

Foto Monumen setelahnya (Foto: Dok. Penulis)

Dari kacamata inilah mereka menumpahkan seluruh makna kondusif ke dalam ruang, karya yang diturunkan dari dinding bertenggat turun sebelum hari pembukaan agar terasa pameran ini steril di mata para pemerhati, dan steril dari potensi kritik. Lalu bagaimana jika kita mau melihat bentuk awal karya sebelum momen “pembredelan”? Untungnya, pengunjung difasilitasi dengan kode QR yang ditempel untuk dipindai secara mandiri. Baru muncul dokumentasi karya versi awal.

Monumen-Wajib-Komposisi-Radio Komunikasi-Imam?

Dimulai dari membuka pintu galeri, kita pun bisa melihat jejak-jejak sepatu berkeliaran—abstrak tapi strategis. Jejak ini turut memeriahkan seolah-olah ada pergerakan yang terjadi—atau justru mau terjadi. Tekanan dari pihak-pihak tertentu terasa dibangun di tengah ruang, hadir tanpa disebutkan secara eksplisit. Namun, kita dapat menemukan bentuk tekanan ini lebih konkret ketika mulai menengok karya-karyanya.

Mulai dari karya Monumen. Posisi di tengah ruang memang strategis, bukan untuk mengukuhkan—justru untuk mempertanyakan letak monumentalitasnya jika yang tersisa hanya kerangka abu gosong saja? Setelah memindai kode, kita bisa melihat monumen awal, justru ternyata sosok humoris badut menggunakan atribut seragam yang mudah dikenal publik dengan senyumannya yang komikal. Ukurannya mini dan lebih layak disebut mini figur ketimbang benda monumental. Alih-alih merepresentasikan figur heroik, mini badut ini justru berfungsi sebagai sindiran—skala monumen dibuat kecil, bukan berdiri kokoh dan dianggap sebagai tonggak, melainkan hanya objek yang patut diabaikan dan ditertawakan. Karena dirasa merendahkan martabat sebuah institusi serta kewibawaannya, sisa abu secara fisik seolah menjadi bentuk pengamanan prosedur dari pameran. Monumen yang hancur karena terbakar ini pada akhirnya tidak hanya menjadi objek seni, tetapi juga menjadi objek yang wajib diawasi.

Karya Wajib saat pameran (Foto: Dok. Penulis)
Karya Wajib awal (Foto: Dok. Sewu Satu)

Sebenarnya, tidak hanya karya Monumen yang menjadi benda wajib waspada; dua karya di samping kiri dan kanannya juga lebih terasa di pinggir jurang. Dalam karya Wajib, posisi frame antara niat untuk dipasang atau ditunda, satu frame disandarkan di lantai, dan satunya dipasang di atas—keduanya masih lengkap dengan bungkusan gelembung hitam yang dirobek bagian tengahnya. Dari bungkusnya saja, seperti memberi pesan bahwa apa yang ada dalam bingkai berada dalam kondisi antara: tidak sepenuhnya hadir, tetapi tidak sepenuhnya juga disembunyikan. Mengintip sedikit, ada sosok siapakah dalam frame itu, sekilas pasti familiar. 

Potret resmi petinggi dan perwakilan tertinggi suatu negara yang lazim ditemui di ruang-ruang kelas sekolah, bahkan di ruang rapat formal. Dibalut dengan bingkai berwarna emas yang ringan, wajah-wajah dalam bingkai ini justru buram, ditambah sedikit bayangan api. Kita mungkin mudah mengenali dua figur petinggi ini—tapi buramnya menarik jauh dari kejelasan, entah tanda sedang bergerak atau memang sengaja dihapus dari fokus. Semua gestur ini menjadi penanda ketidakpastian, bukan menjadi simbol stabilitas, justru menghadirkan pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang dipertahankan? Figur kah, jabatan, atau hanya sekadar mandatori untuk tetap memasangnya pada ruang? 

Berbeda dengan karya di samping kiri Monumen, karya Komposisi saya rasa lebih menengadahkan kepala kita untuk melihat ketegangan dibalut jenaka, karena di dinding hanya tersisa sebaris potret dalam A3, tanpa bingkai, namun border putih dalam foto sangat tegas membingkai sekali bila dilihat dari jauh. Seperti gaya khasnya, Studio Pancaroba kembali menyisipkan humor di tengah jurang. Foto tersebut merupakan cuplikan dari badan seseorang buncit yang beratribut aparat. Tanpa wajah, potongan perut buncit ini mendominasi luas kertas, diperkuat juga dengan overlay garis golden ratio—sebuah sistem yang digunakan untuk menilai proporsi ideal dalam desain. Bukannya menghasilkan harmoni, justru penerapan rumus estetika yang satu ini menghadirkan jenaka yang kontradiktif pada perut yang jauh dari bentuk sehat. 

Ada ironi di sini yang menyentil cara kita memahami standar, entah standar estetika maupun standar otoritas. Sesuatu yang dianggap tidak ideal justru diposisikan sebagai sesuatu yang paling sempurna dan seimbang. Di titik ini, kita bisa menertawakan sekaligus mempertanyakan apakah ukuran paripurna benar-benar netral atau sesuatu yang justru dipaksakan? Atau malah membenarkan apa pun yang ditampilkan?

Karya Komposisi (Foto: Dok. Penulis)
Karya Komposisi awal (Foto: Dok. Sewu Satu)

Saat memindai kode, potret A3 ini ditempel dalam jumlah banyak, tetapi yang tersisa hanya satu baris; artinya jumlah foto yang diamankan banyak. Hal ini juga menjadi pertanyaan ironis: apakah potret yang jenaka dan ringan ini menyimpan potensi problematis? Saya melihat pattern yang sama: humor yang ditawarkan tetaplah tidak sepenuhnya terasa aman, selalu saja berisiko untuk ditarik sebelum semua beredar.

Semakin ke sudut ruang, justru kejenakaan ini perlahan tenggelam, oleh suara dan video. Suara yang berasal dari perangkat radio komunikasi atau walkie-talkie yang diletakkan begitu saja di lantai seperti benda tertinggal. Suara ini berasal dari rekaman salah seorang rekan yang tidak utuh tentang laporannya di suatu tempat, entah sedang ditangkap atau disekap. Suara-suara ini seperti sebuah potongan instruksi, laporan, berita yang terputus-putus dalam situasi tergesa-gesa. Berlapis, tumpang tindih, dan tidak bisa kita dengarkan secara utuh, tapi justru narasinya seperti sedang memberi sinyal agar situasi “terkendali”. Tidak ada lagi elemen visual yang mengundang humor, yang tersisa hanya kondisi yang mungkin lebih dekat dengan realitas dibanding representasi. Kita seolah ikut berada di dalam situasi yang tidak sepenuhnya bisa dipahami. Radio komunikasi ini membuka fragmen peristiwa, tapi tanpa konteks yang lengkap dan harus diterka. 

Dari fragmen suara-suara yang tergesa-gesa itu, narasi berlanjut dalam bentuk satu-satunya video yang mencolok. Suara dari walkie-talkie lama-lama menjadi suara latar sebuah video di layar kecil itu. Dari dekat, kita bisa melihat video seseorang bertopeng berdiri memimpin agenda salat, memimpin gerakan awalnya, lalu diikuti para aparat yang masih lengkap dengan atribut di belakangnya dan membentuk saf rapi. Judul dari karya ini, Imamtidak membuka penafsiran, tapi menurut saya menyimpan lapisan makna yang masih bisa dipertanyakan. 

Karya Radio komunikasi (Foto: Dok. Penulis)

Dalam durasi singkat, mungkin hanya sekitar beberapa detik, adegan berlangsung cepat, bahkan sebagai pengunjung, saya belum benar-benar mencerna video tersebut selain kegiatan ibadah itu sendiri. Justru itulah yang patut dipertanyakan: apakah ada upaya membalikan posisi relasi yang subtil namun signifikan: menjadi seorang imam anonim sama dengan memegang otoritas dalam ibadah? Sementara itu, aparat adalah posisi yang memegang otoritas aksi—bahkan pameran ini pun—tapi beralih menjadi pihak yang mengikuti. Relasi antarfigur terasa menggantung—perlu menerka apakah ini bentuk dari kepatuhan atau justru situasi yang lahir dari kata kondusif itu sendiri. Saya juga menerka, atau justru ini seperti jeda adegan kemanusiaan di tengah situasi yang tegang? 

Setelah berbincang dengan kurator, ternyata pada momen pasca demonstrasi atau aksi itu, pihak aparat meminta perwakilan warga untuk memimpin salat berjamaah ini begitu saja di jalanan terbuka. Dari hal ini tidak menutup tafsir, tapi justru membuka lebih jauh pertanyaan: gestur dapat dibaca sebagai cuplikan sisi humanis aparat, sebuah representasi dari toleransi, bahkan jadi bentuk penghapusan dosa sebuah institusional. Namun, di sisi lain, bisa juga dilihat sebagai performativitas: momen yang tampak organik, tapi tetap berada dalam ketegangan kuasa yang tidak berhenti.

Imam terasa lebih familiar untuk dikenali, tetapi tidak cukup untuk dipastikan dan disimpulkan. Sebenarnya masih sama dengan suara walkie-talkie, karya ini menyisakan potongan realitas lagi—yang dimaksudkan untuk menggambarkan keteraturan, kebaikan, tapi membuka peluang untuk dibaca sebaliknya. Lalu dimana posisi seluruh praktik ini berdiri ketika masuk ke dalam ekosistemi? Semua aktualisasi ini mungkin tidak ada tanpa rasa yang sama dari galeri, kurator dan kolektif. Mengapa juga saya mengumpamakan seperti pasar ikan? Hampir semua galeri di Wisma Geha secara bersamaan menggelar pembukaan pameran pada hari itu. Gedung ini dipenuhi pergerakan pengunjung, kolektor, percakapan dan seniman muda, karya pop yang padat—layaknya sebuah pasar yang hidup dengan ekosistem yang sudah terbentuk dan kompetitif.

Karya Imam awal (Foto: Dok. Penulis)
Karya Imam (Foto: Dok. Penulis)

Resiko Pancaroba di Sewu Satu, Resiko Kita Semua?

Dalam kunjungan saya, posisi Sewu Satu menjadi menarik, seperti menawarkan kumpulan daging di tengah penjualan ikan. Raihan selaku owner dan director juga mengatakan ia telah mengikuti praktik karya kolektif Pancaroba sejak mereka memenangkan BACAA. Sejak saat itu, ia jatuh hati pada pendekatan mereka yang ia lihat jujur, eksplisit, namun tidak simplistik dalam merepresentasikan situasi sosial, khususnya sistem hukum dan aparat di Indonesia. Ketertarikan ini kemudian berlanjut menjadi keputusan untuk memberikan ruang yang sebebas-bebasnya bagi kolektif dan kurator dalam merancang pameran. 

Di tengah gemerlap karya abstrak, ilustratif dan pop, keputusan sebuah galeri komersial untuk menawarkan hal kontekstual tidak mudah. Raihan dari awal perancangan tidak menetapkan batasan medium maupun bentuk karya, baginya, tidak ada keharusan Sewu Satu untuk memajang karya yang secara konvensional lebih “mudah” untuk masuk ke pasar. Bahkan ketika pihak kolektif telah menyampaikan karya-karya mereka, ada kemungkinan keterbatasan dalam kolektabilitas, respons galeri justru sangat-sangat terbuka. 

Alih-alih menyesuaikan karya dengan pasar pada hari itu, Sewu Satu memilih untuk mempertahankan pendekatan artistik kolektif yang konseptual dan kritis, sekaligus melihatnya sebagai peluang untuk membangun pemahaman baru di kalangan kolektornya. Upaya memperluas jejaring pasar tidak lagi hanya mengikuti selera yang sudah terbentuk, melainkan mengedukasi dan membentuk jejaring baru. Optimisme dan kebanggaan tersebut saya lihat di hari pembukaan, beberapa kolektor hadir dengan respon antusias sangat positif akan keseluruhan konsep dan keberanian yang hadir.

Dari perspektif kuratorial sendiri, Studio Pancaroba juga tidak secara eksplisit menempatkan dirinya sebagai upaya masuk ke dalam pasar. Pun ke depannya menjajaki pasar, bagi mereka, hal itu adalah nilai plus. Apalagi di tengah-tengah pasar pop. Bagi mereka, karya yang dihadirkan tetap berangkat dari posisi kritis dan tidak disederhanakan untuk komersial. Pada akhirnya, pertemuan ini tidak serta-merta dibaca sebagai relasi jual beli semata, justru menjadi ruang negosiasi wacana kritis, nilai artistik, dan pemahaman baru atas pasar yang sedang dibentuk. 

Jika galeri dan kurator membuka ruangnya, maka dari mana praktik ini sebenarnya berangkat? Sebelum masuk ke ruang pameran, praktik mereka berawal dari kampanye visual di Instagram. Mereka memproduksi gambar dan narasi yang merespons isu-isu demonstrasi, aparat, hingga kebijakan publik yang amburadul secara konsisten, khususnya di Bandung dan Jakarta. Dari media sosial, keterlibatan publik mulai terbentuk; akun mereka berkembang, bahkan sesekali menjadi ruang aduan informal, di mana orang-orang juga berbagi informasi tentang aksi, keresahan, hingga laporan situasi di lapangan. Materi-materi ini tentu tidak hanya menjadi arsip digital; mereka diolah kembali menjadi karya yang lebih luas.

Bagi mereka, menggandeng seni rupa menjadi langkah yang cukup strategis; seni menawarkan sedikit kelonggaran—baik dari sisi medium maupun penerimaan, walau tidak semudah itu juga. Ketika di ruang pamer, pendekatan bisa berkembang tidak hanya sekadar ukuran 16:9—tapi juga melalui instalasi, objek temuan, hingga video dari pengalaman spasial. Humor yang mereka sisipkan berfungsi sebagai strategi—membuat kritik sedikit lebih cair, mudah diakses tanpa mengurangi ketegangan yang dibawa. 

Konsep riset kolektif ini juga bergerak lima langkah lebih awal daripada sekadar langkah preventif. Bukan berangkat dari eksplorasi material atau riset pendekatan teknis yang sering kita jumpai dalam praktik seni rupa, mereka justru memulai dari pertanyaan yang sangat dasar dan sederhana: bagaimana jika suatu hari visual atas nama seni rupa ini berhadapan langsung dengan sistem hukum? Maka dari itu, riset mereka dimulai dengan berbincang dengan lembaga bantuan hukum, praktisi, hingga pihak-pihak yang memahami kehidupan meja hijau. Pendekatan ini saya lihat bukan hanya membangun kekaryaan; mereka tidak hanya memikirkan dampak kampanye untuk sampai ke telinga publik. Tapi dampak keberlanjutan kolektif ke depan hingga konsekuensi yang akan mereka dapat.

Karya Kondisi pameran awal (Foto: Dok. Penulis)

Posisi kolektif juga menjadi penting untuk dicatat. Mereka tidak hadir sebagai figur publik yang menonjolkan identitas personal, melainkan dalam anonimitas dan menjaga jarak dari eksposur yang sifatnya performatif belaka. Sikap ini secara tidak langsung membedakan mereka dengan kolektif atau seniman lain yang kerap mengatasnamakan aktivisme sebagai identitas, tetapi masih berkelindan dengan kepentingan tertentu di belakang layar. Bahkan di hari pembukaan pameran, saya rasa pengunjung tidak mengetahui keberadaan kolektif ini yang mana, dan dalam wawancara saya dengan kolektif berlangsung pun, identitas dirahasiakan. Konsistensi ini saya rasa perlu dicatat sebagai cara mereka mempertahankan posisi—tetap berpihak pada isu yang mereka angkat, tanpa mengubah arah hanya karena tekanan atau peluang kapitalis yang muncul. 

Walau begitu, saya tahu mereka tidak sepenuhnya lepas dari risiko. Selama menjalankan kampanye digitalnya saja, mereka perlu menghadapi respons negatif hingga ancaman-ancaman kecil dari berbagai pihak. Namun respon tersebut tidak dihadapi secara konfrontatif, mereka tetap lanjut ‘’produksi’’ dan membiarkan karya yang berbicara. Riset bagi Studio Pancaroba membaca situasi sosial secara aktif serta menampung suara yang sebelumnya tidak terorganisasi. Material yang mereka gunakan mungkin sederhana—kompleksitasnya terletak pada proses di baliknya. 

Dari sini saya jadi semakin mempertanyakan apakah sang subjek dalam karya mereka memang tidak mampu menerima kritik walau hadir dalam bentuk seni? Keberpihakan Studio Pancaroba pada akhirnya tidak hanya diuji oleh sistem yang lebih besar, tetapi juga oleh cara mereka menyikapi kritik tersebut—yang bagi saya justru memperlihatkan situasi yang miris—ketika ruang berbicara memang masih ada, tetapi keberaniannya terus dipersempit. Pun demikiankah kondisi kita kini? []