Dokumen, memori, arsip yang dideklasifikasi, rekaman cerita para penyintas kekerasan–subyek karya Tintin Wulia dalam Pameran bertajuk Disclosures begitu dekat dengan sejarah. Hasil perkawinan seni dan sejarah memang banyak menjamur dalam ranah seni kontemporer. Terma-terma speculative history, critical fabulation, reexamining history muncul sana-sini dalam berbagai artist statement dan proposal hibah seni.
Namun, dalam banyak kalangan sejarawan Indonesia, terma-terma ini membawa keringat dingin, penyebab bergidik ngeri. Jejak historiografi Indonesia telah membawa berbagai institusi sejarah dalam negeri berpegang erat pada akurasi. Ini tak mengherankan. Puluhan tahun akademisi telah dibungkam negara, penyintas direnggut suaranya, dan masyarakat dijejali propaganda.
Kini, banyak pihak menggaungkan pentingnya ‘pelurusan sejarah’. Metode dan metodologi yang ketat terus ditekankan agar masa lalu dapat direkonstruksi dengan seakurat dan seobjektif mungkin. Di sisi lain, seniman mengutak-atik kronologi atau meleburkan fakta dan fiksi untuk mengundang refleksi.
Ketika seni acapkali bermain-main dengan batas dan pengandaian serta menantang status-quo untuk memunculkan perspektif baru, sedangkan ilmu sejarah mementingkan kesetiaan terhadap sumber dan akurasi, tidakkah sejatinya mereka menantang satu sama lain? Bagaimana posisi ‘seni’ dan ‘sejarah’ dalam pencampuran ‘seni dan sejarah’? Di Galeri Baik Art, Tintin Wulia dengan pamerannya yang bertajuk “Disclosures” mengundang refleksi atas persoalan ini.

Memori itu Lemah (dan Kebenaran itu Rapuh)
Jika suatu buah jatuh ke atas tanah dan tidak ada yang menjadi saksi, apakah kejadian itu benar terjadi?
Suatu cerita mengenai kakekku mengatakan bahwa ia ditembak di bawah pohon di sebuah pemakaman, ‘menjerit seperti seekor babi’. (Jika) tidak ada orang di sana untuk mendengarnya, apakah ia bersuara?
Puluhan sketsa dan tulisan dari arang berserakan dengan rapi pada dinding-dinding ruangan sempit itu. Mereka mencakup hasil gambar ulang dari arsip foto, adegan film, memori, cuplikan berita, dan penggabungan berbagai materi visual. Di sela-sela gambar, terdapat narasi yang dituliskan Tintin Wulia. Ia membuat pengalaman berkeliling dalam ruang melihat gambar statis serupa menonton film pendek dalam kepala.
Narasi yang dipaparkan Tintin Wulia dalam karya ini tidak linear. Alih-alih sebuah cerita dengan sebuah titik awal dan akhir, Tintin Wulia bercerita dengan melompat sana sini, membiarkan berbagai cerita tumpang tindih, keluar masuk. Ia memulai dengan gambar seorang guru memutar kapur di papan tulis sebagai penanda perhitungan satu menit. Gambar itu berulang di beberapa permukaan dinding, dengan kapur pertama menunjuk ke atas, lalu ke kanan, ke bawah, dan ke kiri. Kemudian, ketika pengunjung berhasil memutari satu ruangan, mereka kembali ke gambar pertama dengan kapur menunjuk ke atas. Penempatan gambar semacam ini menekankan penuturan narasi yang bersifat sirkular alih-alih linear.
Substansi narasinya juga bermacam-macam. Terdapat refleksi atas memori, atas film Pengkhianatan G30S/PKI, dan atas kebenaran. Ada juga cerita mengenai Tintin Wulia dan teman perkuliahannya yang merupakan anak D. N. Aidit, cerita mengenai kakek Tintin, serta proses mereka ‘mengingat’. Ada juga memori atas berita mengenai 9/11 dan peluncuran roket Mariner 4 ke Mars oleh NASA. Kemudian Tintin Wulia berbicara soal pengandaian atas penciptaan dunia–undangan untuk membayangkan kemungkinan jika dunia tidak terdiri dari realitas tunggal. Semua refleksi ini menekankan kembali poin Tintin Wulia yang hadir sebagai judul karya: memori itu lemah dan kebenaran itu rapuh.
Realitas yang dibawakan Tintin Wulia, saya rasa, adalah hasil dari jamaknya situs produksi pengetahuan sejarah. Terdapat banyak situs-situs di luar akademia yang mendorong masyarakat untuk mengingat dan memberi tahu apa yang perlu diingat. Film-film berbau sejarah seperti seri Gadis Kretek atau dokumenter Jagal membicarakan apa yang perlu dipikirkan dan diingat mengenai Tragedi 1965. Masyarakat banyak belajar mengenai sejarah lewat visitasi di museum, pameran arsip, atau persinggungan mereka dengan monumen. Terlebih lagi munculnya konten edukasi di media sosial yang menarasikan sejarah lewat reels, meme, atau artikel populer. Kondisi ini menghasilkan mode mengingat yang tumpang tindih–antara memori individu dan memori kolektif serta kemunculannya dalam berbagai medium.
Poin yang disampaikan Tintin Wulia ini relevan bagi masyarakat. Terlebih lagi, saya rasa poin ini perlu menjadi bahan refleksi para sejarawan. Seperti yang dituliskan Michel-Rolph Trouillot, aktor-aktor lain seperti guru, pemimpin agama dan adat, politisi, jurnalis, berbagai organisasi sipil dan warga negara berperan dalam produksi pengetahuan sejarah. “Keragaman narator ini merupakan salah satu dari banyak indikasi bahwa teori-teori sejarah memiliki pandangan yang terbatas terhadap bidang produksi sejarah. Mereka (para sejarawan) terlalu meremehkan ukuran, relevansi, dan kompleksitas situs-situs yang tumpang tindih di mana sejarah diproduksi, terutama di luar dunia akademis.” (Trouillot, 1995: 19)
Selain “meremehkan ukuran, relevansi, dan kompleksitas,” lebih jauh lagi, saya rasa banyak sejarawan meremehkan potensi dari situs-situs ini. Dalam lingkup akademia, ilmu sejarah yang dianggap dapat menemukan masa lalu sebagaimana mestinya diagungkan. Kacamata ini pula yang digunakan untuk menilai situs-situs lain, salah satunya seni. Kehadiran karya-karya seni-sejarah dalam berbagai pameran memang sering diselebrasi para sejarawan. Namun, seni yang dimaksud diposisikan sebagai alat untuk menyampaikan narasi yang dikonstruksi menggunakan ilmu sejarah. Ketika metode dan metodologi penelitian artistik digunakan untuk membahas masa lalu, contohnya spekulasi dan fabulasi, ia bisa saja dianggap menyesatkan. Pembahasan mengenai masa lalu seakan-akan hanya milik sejarawan dan ilmu sejarah.
Namun dalam karya-karyanya di Pameran Disclosures, Tintin Wulia menunjukkan kemungkinan untuk membicarakan masa lalu di luar metode sejarah. Selain Memory is Frail (and Truth Brittle), A Thousand and One Martian Nights juga banyak mencakup cerita mengenai tragedi 1965 dan kebangkitan Orde Baru. A Thousand and One Martian Nights merupakan karya instalasi video berisi wawancara dengan penyintas, proses Tintin Wulia belajar memainkan kembali piano, dan cuplikan video peluncuran roket NASA. Di sela-sela pemutaran, audiens dapat menyaksikan diri mereka sendiri yang tengah direkam oleh CCTV dari belakang, menghasilkan pengulangan gambar tak hingga pada layar proyeksi.
Dalam kedua karya ini, berbeda dengan cara bercerita para sejarawan, Tintin Wulia bermain dengan fiksi. Alih-alih 1965, Tintin Wulia menulis 2065. Alih-alih 1998, Tintin Wulia menulis 2098. Alih-alih menyebut kamp di “Buru” atau “Plantungan”, Tintin Wulia mengubahnya menjadi kamp di “Mars”. Alih-alih menyatakan bahwa rezim Orde Baru mengirimkan para penyintas ke kamp, Tintin Wulia menuliskan bahwa NASA dengan roket merekalah yang melakukannya.
Rekonstruksi semacam ini tentu tidak sejalan dengan rekonstruksi yang diinginkan ilmu sejarah. Namun, ia memiliki potensi lain, yakni menghindari sensor. Seniman dan akademisi adalah dua di antara banyak pihak yang rentan terhadap sensor dari penguasa–entah itu pemerintah nasional, organisasi masyarakat, dan lembaga internasional lainnya. Tintin Wulia sengaja menumpang-nindihkan dua narasi, peluncuran Mariner 4 oleh NASA dan pembantaian para tertuduh komunis, yang dua-duanya terjadi pada 1965. Ia sengaja mengubah tahun–dari apa yang telah terjadi, menjadi apa yang akan terjadi–seakan-akan cerita ini adalah fiksi ilmiah. Dua cerita masa lalu digabung dan dilempar ke masa depan. Tak ada nama lembaga atau kata kunci sensitif.
Kegusaran sejarawan terhadap metode kesenian ini sering kali adalah satu: bahwa kebenaran masa lalu terkaburkan dan informasi yang ditangkap audiens menyesatkan. Namun, seniman dapat menggunakan metodenya untuk memaparkan rekonstruksi berbentuk ‘undangan’. Mereka bercerita untuk bertanya: bagaimana jika …. Bagaimana jika orang-orang yang ada di video A Thousand and One Martian Nights ini, yang tengah bercerita tentang pengalaman mereka di sebuah kamp di Mars, tengah bercerita tentang kisah nyata? Bagaimana jika seniman menggunakan roket Amerika, roket yang dituduh membawa mereka ke kamp, sebagai simbolisasi atas pelaku? Bagaimana jika ini benar terjadi? Jika orang-orang Indonesia kulit berwarna ini benar-benar dibawa oleh roket NASA ke Mars, apa reaksi masyarakat Amerika? Apakah akan ada penentangan besar-besaran yang kemudian surut, mengingat kesengsaraan tersebut ada di planet lain dan bukan di hadapan mereka–sebagaimana kondisi di Kuba, Indonesia, dan Palestina?
Selain itu, klaim bahwa ilmu sejarah dapat mengakses suatu kebenaran tunggal juga sering dipertanyakan. Ilmu sejarah bersandar pada sumber–residu, jejak, atas peristiwa masa lalu. Sumber-sumber itu dikumpulkan, dicek kebenarannya, lalu diinterpretasi oleh sejarawan untuk menghasilkan suatu narasi sejarah. Tentu metode ini tidak hadir tanpa komplikasi. Sumber sendiri berisi bias karena ia dihasilkan oleh aktor tertentu, sebagaimana arsip Kolonial Belanda penuh dengan pandangan diskriminatif dan superioritas kulit putih. Belum lagi banyaknya orang, kisah, dan perspektif yang ter(di)bungkamkan akibat eksklusi mereka dari arsip–seperti buah jatuh yang tidak pernah disaksikan atau kemungkinan atas jeritan kakek Tintin Wulia yang tak pernah terdengar.

Selain itu, interpretasi atas sumber-sumber itu juga dipenuhi oleh bias sejarawan, seperti sumber apa yang mereka pilih, keberpihakan mereka, atau kerangka berpikir yang mereka gunakan. Tidak ada yang bisa mengakses masa lalu sebagaimana mestinya karena setiap orang terikat oleh posisi mereka yang berada pada masa kini. Trouillot menulis, “… subjek kolektif yang mengingat tidak ada pada saat peristiwa yang diklaim diingat terjadi. Sebaliknya, konstitusi mereka sebagai subjek berjalan seiring dengan penciptaan masa lalu yang terus menerus. Dengan demikian, mereka tidak mewarisi masa lalu: mereka adalah orang-orang sezamannya.” (Trouillot, 1995: 16)
Ada tidaknya masa lalu menjadi subjek yang masih terus diperdebatkan dalam ilmu sejarah. Namun, ada kebenaran dalam apa yang ditulis Trouillot, bahwa apa yang kita ketahui tentang masa lalu terus berubah dan berkembang seiring apa yang kita pahami pada masa kini. Kita tak pernah dapat mengakses masa lalu secara utuh karena kita terikat pada masa kini dan kita memahami masa lalu lewat ke-masa kini-an kita. Kita semua menerima kutukan yang sama–seniman ataupun sejarawan, dengan metode seni ataupun sejarah.
Ilmu sejarah berguna. Sangat berguna. Ia memberikan alat untuk mengakses masa lalu dengan seobjektif mungkin. Namun, saya rasa ia tidak agung pun adiluhung. Ia hadir dengan berbagai keterbatasannya dan ia bukan satu-satunya alat yang berhak membicarakan masa lalu. Tintin Wulia telah menunjukkan apa yang dimungkinkan dengan menggunakan metode lain untuk membahas sejarah: menghindari sensor, mengundang pertanyaan refleksi yang lebih jauh, dan menantang (juga mengisi) batas ilmu sejarah dalam merekonstruksi masa lalu dengan kemungkinan.
Karya-karya Tintin Wulia menjadi bukti bahwa dalam karya yang mencampurkan seni dan sejarah, seni bukan sebatas alat pewarta hasil riset sejarah. Pencampuran itu memungkinkan seni yang bersifat kesejarahan, sejarah yang bersifat kesenian, dan semua yang ada di antara mereka. Tiap bentuknya hadir dengan potensi, fungsi, dan nilai masing-masing.
Dengan menerima penggunaan metode semacam itu, kemungkinan atas adanya jeritan kakek Tintin Wulia atau keterkaitan Amerika Serikat dalam Tragedi 1965 dapat (setidaknya) hadir dan direfleksikan.
Bacaan:
- Trouillot, Michel-Rolph (1995). Silencing The Past: Power and The Production of History. Boston: Beacon Press.