Search
Close this search box.

Semoga Saya Tidak Naif, Memahami Motif: ARTJOG

Apakah ARTJOG edisi tahun 2023 yang mengambil tema “Motif: Lamaran” ini, mampu memberi suguhan karya seni yang membuat publik pecinta seni rindu dengan gelaran seni rupa terbesar di Yogya, bahkan konon masyhur di Asia Tenggara ini? Atau malah sebaliknya, ARTJOG sudah kehilangan ruh-nya. Atau apakah ARTJOG sebagai medan laga seni rupa kontemporer hampir mencapai titik nadirnya. Mari kita jelajahi ARTJOG Motif: Lamaran ini.

Mungkin saya terlalu berlebihan jika menyatakan bahwa saya selalu bisa memahami setiap karya yang hadir di gelaran ARTJOG selama lima tahun terakhir saya ikuti. Dulu, sebagai publik awam terutama dunia seni rupa, bisa memasuki ruang galeri ARTJOG tentu kemewahan bagi saya.

Saat itu, mungkin sekitar tahun 2018, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja National Museum (JNM) tempat ARTJOG berlangsung, pada bagian pertama saja saya sudah dibuat takjub dengan karya yang disuguhkan. ARTJOG edisi ke 11 dengan tema Enlightenment atau Pencerahan dengan karya luar biasa seniman Mulyana yang berjudul Sea Remembers membuat saya terkesima hingga hari ini. Kesan pertama tersebutlah yang akhirnya membuat saya saat itu berjanji pada diri saya sendiri untuk terus bisa hadir di gelaran ARTJOG di edisi-edisi selanjutnya.

Namun badai Pandemi Covid datang, dua tahun gelaran ARTJOG berjalan dengan standar kesehatan begitu ketat. Bahkan tahun 2021 ARTJOG hanya bisa dikunjungi melalui virtual. Tentu hal itu satu bentuk terobosan baru saat itu, seperti dinyatakan oleh Heri Pemad sang empunya ARTJOG, bahwa tetap berjalannya ARTJOG di waktu pandemi menjadi upaya menarik untuk menumbuhkan ekosistem kesenian yang saat itu hampir mati total. Ia memberi contoh dengan berani. Walaupun tidak tahu harus menanggung kerugian berapa gelaran ARTJOG pada saat itu.

Badai virus Covid kini telah usai, ARTJOG tampaknya mulai menggeliat kembali. Tetapi entah kenapa impresi pertama saya tak se excited lima tahun yang lalu. Tahun demi tahun, rasanya seperti ada yang hilang, tetapi entah apa itu. Mungkin ekspektasi saya terhadap ARTJOG terlampau tinggi, saat karya Mulyana di bagian pertama pintu masuk tahun 2018, membuat saya seperti memasuki lorong waktu. Saya tenggelam dalam semesta seni rupa kontemporer yang tak semuanya membuat saya paham maknanya itu. Tetapi getaran rasa dan ekspresi yang muncul melalui karya-karya seni yang dimunculkan saat itu terasa begitu mengesankan. Hal ini mungkin akan sulit terulang kembali.

Lalu, apakah ARTJOG edisi tahun 2023 yang mengambil tema “Motif: Lamaran” ini, mampu memberi suguhan karya seni yang membuat publik pecinta seni rindu dengan gelaran seni rupa terbesar di Yogya, bahkan konon masyhur di Asia Tenggara ini? Atau malah sebaliknya, ARTJOG sudah kehilangan ruh-nya. Atau apakah ARTJOG sebagai medan laga seni rupa kontemporer hampir mencapai titik nadirnya. Mari kita jelajahi ARTJOG Motif: Lamaran ini.

Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, turut membuka ARTJOG 2023 pada 30 Juni 2023. Kali ini ARTJOG dikuratori oleh Hendro Wiyanto dan Nadiah Bamadhaj, dengan tema “MOTIF: Lamaran”, yang melibatkan hingga 73 seniman. (Foto: Dok. ARTJOG)

Melepaskan Pandangan, dalam Motif: Lamaran

Sore, Jumat (30/6) pembukaan ARTJOG tampak begitu riuh dengan tamu undangan. tidak seperti tahun-tahun sebelumnya pembukaan ARTJOG di buka untuk publik luas secara gratis. Namun kali ini, ARTJOG di khususkan hanya untuk undangan. Walaupun begitu, sore yang cerah di halaman JNM tetap tampak ramai dipadati oleh undangan yang datang.

Saya datang di pertengahan pembukaan. Ada tiga tokoh utama yang membuka ARJOG kali ini. Heri Pemad tentu menjadi pengisi sambutan pertama. Ia mengharapkan pembukaan ARTJOG tahun ini, bisa mengawali lebaran seni rupa sekaligus memberi dampak yang signifikan pada ekosistem kesenian dan tumbuhnya pariwisata di Yogya seperti sebelum pandemi.

Lalu sosok yang menyedot perhatian seperti Hilmar Farid dalam orasi budayanya juga menyampaikan bahwa multiplying effect dari ARTJOG yang telah diungkapkan oleh Heri Pemad dapat diapresiasi secara proporsional terlebih oleh pemerintah, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga dampaknya terhadap sosio-kultural masyarakat. Terutama keterkaitan dunia seni (rupa) dengan dunia pendidikan.

“Jangan sampai event seperti ARTJOG ini hanya di lihat dari kaca mata ekonomi semata. Tetapi jauh dari hal itu adalah dampak kesenian pada dunia pendidikan yang harus kita dorong sejak usia dini,” Ujar Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI tersebut.

Kalimat pak dirjen seketika menarik perhatian saya. ARTJOG dengan segala kemegahannya memang menjadi satu penanda yang hari-hari ini disebut sebagai “lebaran seni rupa”. Yang artinya dalam periode pagelaran ARTJOG banyak side event pameran di galeri-galeri seni lainnya. Para perupa secara individu maupun kelompok turun gunung menggelar karyanya. Banyak galeri hampir di gang-gang Yogya membuka pintunya menyambut para penikmat dan apresiator seni yang datang. Lalu meminjam kegelisahan Pak Dirjen, muncul sebuah pertanyaan; apakah gemuruh lebaran seni rupa ini benar-benar bisa dirasakan dampak edukatif selain kapital yang kabarnya selama pagelaran ARTJOG berputar hingga triliunan?

Potret suasana keramaian tamu undangan hingga padatnya pintu masuk ruang pamer ARTJOG 2023. (Foto: Dok. Primastri Jati)

Goenawan Mohamad seorang sastrawan cum perupa yang karyanya juga dipamerkan di ARTJOG dalam sambutan pembekalan wacana terkait seni dan kebudayaan, juga melayangkan refleksi yang tidak kalah menarik. Ia menyebutkan bahwa kritik terhadap seni di Indonesia masih sangat kurang. Menurutnya pemahaman atas kritik perlu di geser, dan hal itu tidak perlu dipahami sebagai kecaman. Kritik mestinya dipahami sebagai sebuah apresiasi bagi seni itu sendiri.

“Yang kurang dalam ekosistem seni ialah kritik. Kritik selalu diartikan mengecam, kritik tidak diartikan membahas dan menerima, mengapresiasi,” tegas seniman senior tersebut.

Ia juga menambahkan kurangnya kritik seni dimungkinkan disebabkan oleh dua hal. Pertama terjadinya komersialisasi dalam dunia seni yang menyebabkan ketergantungan seni terhadap permintaan pasar. Dan yang kedua tidak adanya media yang memiliki ruang untuk kritik seni.

Tetapi bagaimanapun itu, Goenawan Mohamad -yang akrab disingkat GM atau disapa Mas Goen- selalu merasa terharu setiap datang ke acara ARTJOG. GM terharu melihat karya seni yang selalu diperbarui, kemudian melihat seniman yang berjuang membuat instalasi yang tidak murah. Dan yang paling mengharukan baginya ketika melihat kebanyakan penonton adalah anak muda.

“Itu yang menyebabkan saya punya harapan, karena harapan tidak dibentuk dari janji, tapi perbuatan yang baik buat orang lain. Dan kesenian sebetulnya secara otomatis, boleh dikatakan membentuk harapan karena yang disajikan selalu, katanya indah tapi sebetulnya tidak terduga-duga,” papar GM.

Karya-karya Goenawan Mohamad (81) dalam Perhelatan ARTJOG MOTIF: Lamaran 2023. (Foto: Dok. Primastri Jati)

Terkait antusias kawula muda pada gelaran ARTJOG memang tidak bisa di sangkal lagi. Bahkan mengunjungi ARTJOG semenjak lima tahun terakhir ini, semacam menjadi lifestyle baru bagi anak muda yang singgah Yogya. Ada ungkapan yang tidak terbahasakan, di mana ketika kita sudah mengunjungi ARTJOG artinya secara tidak langsung kita seperti telah “diakui” sebagai publik seni. Hal tersebut mungkin tidak terbayangkan di masa-masa sebelumnya. Agaknya  dulu, pameran seni hanya menarik perhatian para mahasiswa seni, kolektor, dan orang-orang yang punya konsen di bidang seni.

Tetapi hari ini pandangan seperti itu tampaknya sudah bergeser. Era media sosial seperti membuka kran baru bagi dunia seni rupa kita saat ini. Tak peduli seberapa jauh pemahaman kita atas karya seni yang ditampilkan akan di uji saat masuk galeri. Namun di masa kini, apresiasi dengan berswafoto atau selfie dengan beragam tampilan yang eksentrik, sepertinya menjadi hal yang lebih digandrungi dibanding meluangkan waktu membaca catatan kuratorial atau merenungi dan berlama-lama merasakan keindahan karya seni.

Lamaran Tubuh dalam Motif Bayangan

Pemukulan gamelan oleh Heri Pemad, Hilmar Farid dan Goenawan Mohamad menjadi penanda pembukaan ARTJOG sore itu. Tamu undangan kemudian berduyun-duyun bergantian memasuki area pertama ARTJOG. Tampak dua bangunan limasan berdiri gagah di depan gedung JNM. Bangunan pertama berbentuk limasan hampir semuanya didominasi oleh warna putih, mulus. Lalu bangunan kedua seperti bangunan limasan pada umumnya. Genteng tanah liat menjadi atap pada bangunan limasan ke dua tersebut.

Tampak dari luar bangunan limasan pertama, seperti tidak ada yang spesial. Hal ini tidak seperti gelaran ARTJOG sebelumnya yang mana bagian pertama pameran selalu menampilkan bentuk instalasi yang banyak mengundang tanya dengan karya yang tidak terduga. Walaupun begitu saya tetap berpikir bahwa kurator ARTJOG mungkin ingin menampilkan sesuatu yang berbeda tersembunyi di balik limasan klasik berarsitektur Jawa tersebut.

Motif: Lamaran menjadi tajuk utama dalam gelaran ARTJOG tahun ini. Seperti disampaikan dalam catatan kuratorial pameran. Kata motif sendiri memiliki dua makna sekaligus. Motif bisa berarti corak, pola, warna, tata rupa, bahkan juga himpunan lambang atau kreasi simbol. Tapi motif juga bisa diartikan sebagai kehendak, dorongan, alasan dan tujuan seseorang untuk melakukan tindakan atau sebuah praktik tertentu. Dari narasi gagasan yang seperti itulah gagasan pameran ARTJOG dikembangkan.

Lalu selang beberapa saat, akhirnya saya berkesempatan masuk ke dalam pameran. Di limasan yang entah di dalamnya ada apa. Mella Jaarsma seniman kelahiran 1960 di Emmeloord, Belanda ternyata menjadi karya pembuka dalam gelaran ARTJOG kali ini. Sebagai Commissioned Artist (seniman yang secara khusus di undang ARTJOG), ia menampilkan tiga bagian utama dalam jelajah artistiknya selama ia berkarya seni rupa di Indonesia yang hampir empat dekade ini. Tiga bagian itu adalah bayangan, selubung dan relasi raga dengan ruang hunian.

Karya bertajuk “Motif Bayangan” ini didasarkan pada kegelisahan Mella pada pengalaman antara yang nyata dan maya, antara yang material dan spiritual, yang eksis dan non-eksis dalam ekspresi budaya masyarakat yang diamatinya. Lalu motif terselubung bisa dimaknai sebagai penjelajahan Mella pada tema identitas yang selama ini Mella gumuli dalam karya-karyanya.

Melalui karya yang berbentuk instalasi, Mella mengubah dua bangunan berbentuk limasan Jawa menjadi semacam ruang pamer. Di dalamnya ada beberapa bentuk instalasi. Ruang pertama ada karya yang berjudul SARA-swati II 2000, menampilkan bentuk kain rumbai yang di dalamnya ada seorang performer yang tegak berdiri dengan diam. Bentuk kain rumbia ini identik dengan pakaian militer angkatan darat Indonesia. Karya ini semacam ingin menampilkan gambaran pada situasi pasca reformasi tahun 1998 sebagai basis idenya.

Pada ruang tengah-limasan ia mengulik rumah limasan dalam filosofi Jawa, arsitektur, antropologi dengan kajian yang mendalam. Ia membayangkan bahwa seluruh konstruksi arsitektural limasan dirancang untuk menciptakan keharmonisan antara tubuh dan ruang yang ditempatinya. Mella juga mendekati limasan sebagai objek dengan fungsionalitas dan fleksibilitas yang tinggi, serta sinkron dengan tantangan-tantangan yang ada di lingkungannya.

Karya Mella Jaarsma dalam bagian fasad utama ARTJOG 2023. (Foto: Dok. Mella Jaarsma)

Selain bentuk limasan, Mella tampak banyak menggunakan bantuan performer untuk memperkuat jalinan karya yang dipamerkannya. Para performer mengisi kekosongan karya Mella yang menyiratkan metafora akan bentuk, yang mana hal itu tidak mudah untuk dipahami. Hal ini bisa di lihat dari karya yang berjudul Blinkers dan Minset 2017. Dalam karya tersebut Mella menyuguhkan bentuk pakaian yang tidak utuh menutupi performer hingga terlihat matanya saja.

Terlepas dari hal itu, karya Mella yang sangat mencuri perhatian saya adalah saat saya keluar dari limasan dan masuk ruang pamer berikutnya. Karya Mella membuat saya sontak kaget, dengan adanya sebujur manusia terbungkus seng baja tergeletak hanya terlihat dua betis hingga mata kakinya. Lalu bagian atas tertutup seng yang atasnya semacam ada kain sarung yang menutup ruang bernafasnya. Jujur saja, sebagai penonton yang tergolong awam dengan performance art, saya akui, saya terkecoh. Saya sempat mengira bahwa yang dihadirkan adalah tubuh asli dari performer. Gagal paham saya ini adalah bukti keahlian artistik dan estetik dari Mella untuk menghadirkan kesan dan isu yang ia usung dalam karya. Namun saya merasa ada kelabilan Mella. Mengapa tidak semua menggunakan patung atau manekin saja?

Dalam sesi MTA (Meet The Artist) yang berlangsung dalam ARTJOG (6/7), Mella sempat menjelaskan bahwa dalam soal penggunaan tubuh manusia (talent), memang sengaja dipekerjakan sebagai performer yang ditujukan untuk menjembatani antara karya dengan penonton atau audiens. Melalui performer tersebut, diharapkan sanggup melahirkan impresi dan ketegangan intens dalam berdialog dengan karya.

Akan tetapi kesan yang saya dapat justru sebaliknya. Beban wacana dan segudang makna yang berusaha di bangun Mella pada bagian awal karya-karyanya seketika runtuh, dengan sebujur seng baja melilit manusia yang menjadi pekerja performer, yang entah bagaimana mesti melihatnya. Ada juga manusia-manusia yang berpose berbalutkan karya lalu berdiri saja, tak ubahnya manekin. Bagimana lamaran Mella untuk mempekerjakan tubuh-tubuh manusia itu?

Seketika saya membatin, dalam urgensi apakah ketika seorang manusia dibayar menjadi patung. Sebagian penonton lain juga merasakan kesan yang sama dengan saya. Bahkan informasi yang saya dapat, orang yang dipekerjakan sebagai talent atau peraga tadi bukanlah seorang seniman profesional yang memang berfokus dalam bidang performance art. Artinya ia mentransaksikan tubuhnya menjadi ibarat benda mati, entah dengan harga berapa. Saya jadi teringat King’s Guard di Istana Buckingham yang diam mematung dan tak boleh bicara, konon hanya boleh bicara; “Make Way For The Queens Guard” atau “Beri jalan untuk Penjaga Ratu/Raja”. Sehingga tubuh-tubuh yang dipekerjakan Mella ibarat, “Make Way For The Motif Bayangan”. Ah sudahlah, saya menahan gejolak batin saya, barangkali saya yang terlampau awam. Semoga saya tidak naif, memahami motif [ARTJOG] Bayangan Mella.

Selain Mella ada beberapa karya seniman besar yang karyanya juga dipamerkan dalam ARTJOG tahun ini. Butet Kartarejasa, Ugo Untoro, Goenawan Mohamad dan para seniman lainnya, dengan total 73 seniman, terlibat dalam perhelatan terbesar seni rupa di Yogyakarta ini. Tiga lantai saya melewati satu-persatu karya di setiap ruangnya. Banyak karya dengan seniman multi dimensi dari berbagai kota. Tentu saya tak akan mengulas semua karya mereka.

Tetapi bagaimanapun itu, dalam pandangan subjektif saya ARTJOG telah menjadi rumah bagi seni rupa Yogyakarta. Hal yang juga mempertegas harapan GM terhadap dunia seni rupa kita, bahwa kritik seni mesti menjadi hal utama agar gelaran ARTJOG terus bertumbuh. Tidak hanya secara festival dengan segala gemerlapnya, namun benar-benar menjadi kawah candradimuka kesenian kita. Semoga!