Search
Close this search box.

Ruang Dalam VS Jadi X: Telusur Tubuh Ibu Rumah Tangga dalam Lokakarya Sakatoya

Tulisan ini menjadi ulasan yang akan menceritakan pengalaman tubuh penulis sendiri sebagai ibu rumah tangga, praktisi seni dan juga anggota internal Sakatoya yang menggunakan kesempatan Lokakarya Ruang Dalam Project untuk mengobrak abrik ingatan, kesadaran dan kecendrungan tubuh. Lantas adakah urgensi pengalaman khusus sehingga terjadi tegangan ketubuhan antara sebagai seorang ibu dan seorang performer? Simak catatan personal dari seorang seniman anggota kolektif Sakatoya dalam membaca pengalamannya selama lokakarya "Ruang Dalam Project".

Tulisan ini menjadi ulasan perdana saya yang akan menceritakan pengalaman tubuh saya sendiri sebagai ibu rumah tangga, praktisi seni dan juga anggota internal sakatoya yang menggunakan kesempatan Lokakarya Ruang Dalam Project untuk mengobrak abrik ingatan, kesadaran dan kecendrungan tubuh saya. Ulasan ini merupakan endapan setelah beberapa bulan kegiatan itu berakhir, jadi bersifat restrospektif dan reflektif. Namun, sepertinya tidak adil, apabila saya langsung bercerita tanpa menjelaskan dulu apa itu Ruang Dalam Project (RDP).

Apakah RDP itu? Mulanya, RDP adalah ruang presentasi karya seniman di sebuah pendopo hangat di dalam rumah akanan, milik Nirwan Dewanto. Pendopo kecil itu saksi bisu kami menanam bibit program ini. Di Pendopo itu, RDP hadir sebagai ruang intim antara seniman dan penonton. Yaa.. apabila diibaratkan seperti kamu mengundang tamu, tetapi suguhannya bukan makanan atau minuman, melainkan pertunjukan. Oiya, awal-awal RDP kami juga sempat mengadakan donasi suka rela. Hasil dari donasi itu nanti dibagi ke seniman penampil.

Poster Pertama Ruang Dalam Project (Dok. Instagram @komunitassakatoya).

Program ini menggaris bawahi jarak antara seniman dan publik, tatap muka, dan keintiman. Dulu program ini mengajak publik untuk melihat, tetapi kali ini publik diajak untuk mengalami pengalaman tubuh seniman melalui empat rangkaian lokakarya. Bertemakan Ecology Of Blur yang diusung oleh BM Anggana selaku Direktur Artistik Sakatoya, membawa saya dan peserta lainnya menyelami lebih dalam atas tubuh sebagai perlintasan dunia. Peserta yang mendaftar RDP kala itu berasal dari displin yang beragam, sehingga bisa dibaca bahwa hari ini kesadaran soal tubuh tidak lagi berpusat pada displin tari dan sekaligus mempertebal tema yang diusung dalam program ini. Meskipun, di awal pertemuan rata-rata pemateri akan bertanya “ada yang dari tari? Di sini ada yang penari?”

Sebelum masuk dalam pembahasan tentang VS yang berubah menjadi X: telusur tubuh ibu rumah tangga di dalam lokakarya ketubuhan RDP, saya akan sedikit mengulas apa yang terjadi selama lokakarya, sehingga saya menulis demikian. Kenapa di antara banyaknya perjalanan tubuh saya, saya memilih untuk menggunakan memori tubuh sebagai ibu dalam tulisan ini?

Kerja domestik yang dijalani oleh ibu rumah tangga seperti saya di Indonesia, terutama perempuan kelas menengah ke bawah, merupakan aktivitas vital yang menopang keberlangsungan keluarga dan masyarakat. Namun, kontribusi kami kerap tersembunyi dari pengakuan ekonomi formal dan nyaris tidak dianggap sebagai bagian dari penciptaan nilai artistik. Dalam kerangka produksi budaya dan institusi seni, kerja-kerja domestik yang repetitif, bersifat harian, dan dilakukan secara diam-diam jarang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai estetika, apalagi sebagai potensi performatif.

Dalam konteks ini, pengalaman pribadi saya sebagai seniman yang mengambil jeda kurang lebih dua tahun (2022-2024) dari dunia teater untuk menjalani proses melahirkan dan merawat anak menghadirkan krisis identitas yang tidak ringan. Selama periode tersebut, saya dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah saya masih bisa disebut seniman ketika hari-hari saya habis untuk memasak, membersihkan rumah, menyusui, dan tidak menyentuh naskah sama sekali? Namun dari titik kegamangan itu muncul sebuah pertanyaan yang justru membuka jalan baru: mungkinkah kerja domestik dianggap sebagai bentuk seni?

Sesi Presentasi Lokakarya RDP Fitri Setyaningsih – Tubuh Kata: Membongkar Kesadaran dan Kesemestaan Tubuh/Diri (Foto: Dok. Sakatoya).

Jawaban atas pertanyaan itu saya temukan secara bertahap, salah satunya melalui keikutsertaan dalam empat rangkaian lokakarya tubuh Ruang Dalam Project. Proses-proses tersebut membuka kesadaran baru tentang tubuh saya—bahwa tindakan sehari-hari yang tampak sederhana ternyata menyimpan struktur dramaturgi yang tidak kalah kompleks dengan proses penciptaan artistik di atas panggung. Bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, bergegas ke pasar sambil menghitung anggaran, menyetrika sambil menenangkan bayi, semuanya memiliki ritme, urgensi, memori, dan gestur yang lahir dari latihan harian. Seperti yang dinyatakan Susan Leigh Foster, tubuh adalah tempat penyimpanan pengetahuan dan sejarah sosial.1

Kembali setelah sekian lama vakum tidaklah muda. Meskipun beberapa seniman perempuan ini mampu membuktikan cara mereka membabat alas. Perempuan yang tetap menjalani kerja domestik dan tetap bisa berkarya, berkesenian. Misal Ria Papermoon, Helly Minarti, Melati Suryodarmo. Mereka memang cukup bisa kita jadikan contoh atau semacam kiblat, tetapi untuk sampai ke titik itu sangatlah kompleks. Perlu kutipan untuk mempertegas asumsi saya, supaya kalian percaya tanpa perlu mengalami: …the relationship between body image and exercise in the first five years postpartum is complex and varies significantly among mothers. Research suggests that body image can improve, worsen, or remain unchanged during this period.2

Proses empat lokakarya tertata dengan baik. Otniel dan Leu menyasar hal-hal teknis dan basic, masuk ke Agatha yang melatih pusat atau core-nya tubuh dan Fitri Setyaningsih yang mengajari saya untuk menyadari dan mengaktifkan elemen alam yang ada di dalam tubuh saya. Entah ini memang sudah direncanakan oleh Direktur Artistik sebelumnya, atau memang sebuah keberuntungan dari pembacaan yang ulet.

Sesi Presentasi Lokakarya RDP Otniel Tasman – Membongkar Tubuh: Menembus Batas Gerak dan Identitas (Foto: Dok. Sakatoya).

Keempat seniman menggunakan kata kunci yang sama yaitu membongkar. Kalau dikatakan membongkar, ya saya terbongkar. Baru lokakarya kedua, saya seperti membuka kunci kamar yang sudah lama tidak pernah saya tilik lagi. Kuncinya sudah agak karatan, engsel pintunya bunyi dan daun pintunya seret karena kayunya mengembang terkena udara dingin. Di lokakarya bersama Otniel sebenarnya kondisi tubuh saya kurang fit, baru mendarat di Jogja, sesampainya di rumah harus melihat kerjaan domestik yang terbengkalai.

Pada karya Otniel, saya diingatkan soal nafas dan kerja otot. Bagaimana menyadari nafas dan udara yang masuk ke dalam tubuh sebagai dorongan otot untuk bergerak. Saya memiliki perasaan canggung untuk bergerak ketimbang peserta yang lain. Teman-teman terlihat luwes bergerak dan berekspresi, sementara memori tubuh dan ingatan saya hanya seputar dapur, pasar, cucian, dan gendong anak. Walaupun dengan modal itu, ternyata gerakan saya cukup clear, bisa jadi karena saya memang terus mengulangnya sepanjang hari di luar lokakarya ini. Otniel sampai menggaris bawahi atau kalau bagi saya semacam quote of the day: Dari nafas yang jujur akan menghasilkan gerakan yang jujur.3 Di hari itu saya belum menyadari bahwa sebenarnya saya sudah mulai membongkar tubuh melalui identitas baru saya, yaitu ibu rumah tangga dan pekerjaan domestiknya.

Sedangkan pada lokakarya bersama Leu, diawali dengan nafas juga. Kurang lebih mirip dengan Otniel yang membuatnya terasa berbeda adalah Leu membawakan satu ciri khasnya yaitu prinsip gerak ping-pongnya. Leu memberi dua metode pendekatan prinsip ping-pong dengan dancing dan gallery. Saya sempat utarakan ke mbak Helly waktu selesai nonton presentasi karya Fitri Setyaningsih soal tubuh saya yang domestik ini dipaksa nge-dance. Mba Helly sempat bertanya, emangnya jadi ibu-ibu gak pernah gitu joged-joged sambil masak atau sambil nyuci? Agak hening sebentar, lalu saya menjawab. “Ya pernah mbak, tapi kan itu gerak asal, tidak dengan kesadaran dan tidak pakai metode apa-apa.” Saya pun paham maksud pertanyaan mbak Helly, meskipun tubuh saya ini tubuh domestik, tetapi sebenarnya kita tidak lepas begitu saja dengan memori tubuh kita sebelumnya. Mungkin hanya kurang kesadaran saja. Yaa.. surprisingly ternyata sendi-sendi yang sering bunyi kretek-kretek ini masih bisa bekerja dengan baik. Sepertinya “tubuh jompo” itu adanya dari pikiran dulu baru ke tubuh. Terkadang ketika mindset saya adalah IRT yang tak punya kuasa atas waktu dan tubuhnya sendiri, jadi susah sekali untuk berkembang dan lepas.

Sesi Presentasi Lokakarya RDP Leu Wijee – Ping Pong Principle: Membongkar Energi dan Sensibilitas Tubuh (Foto: Dok. Sakatoya).

Sehari setelahnya ketika saya memasak makan siang. Tiba-tiba kepala saya seperti disetrum. Terngiang kalimat Leu di saat saya sedang motong daun bawang. Saya tiba-tiba merasakan bahwa ada prinsip ping-pong dari gerakan yang saya lakukan. Sebagaimana Otniel, Leu juga punya quote of the day: Gerakan yang dilakukan terus menerus akan menghasilkan makna.4 Seperti menemukan makna walau tidak bisa dirangkai dalam satu kalimat.

Giliran ketika masuk ke lokakarya ketiga, dari Agatha. Sebagai penari dan Perempuan tentu core atau pelvic itu familiar banget kan apalagi ibu seperti saya. Saya familiar tetapi saya tidak punya kesadaran bahwa melatih core atau tulang pelvic untuk ibu-ibu juga sama pentingnya. Tiba-tiba teringat lagi sama celetukan mbak Helly, kamu dulu teater kan? Padahal prosesnya teater kan keras loh. Gara-gara itu juga saya jadi teringat, oh iya dulu saya pernah melakukan juga tetapi saya lupa.

Dengan ini, Agatha mengajak kami menyadari dan merasakan sensasi tubuh dengan body scanning. Ya, layaknya mesin scan, ia memberi instruksi perlahan dan bertahap dari ujung kaki sampai kepala. Awal mulanya kami memang diminta untuk memilih posisi ternyaman. Tetapi karena saya tahu tubuh saya cukup lelah, maka saya menghindari posisi yang saya rasa nyaman. Ternyata dari posisi duduk bersila saya justru merasakan banyak sensasi di setiap bagiannya. Bahkan sensasi itu berbeda-beda bentuknya. Di situ Agatha membenarkan, bahwa untuk menyadari sesuatu kita bisa berangkat dari ketidaknyamanan.5 Mengelaborasi quote Leu dan Agatha, bisa jadi kesadaran akan makna kerja domestik muncul dari ketidaknyamanan yang saya lakukan terus menerus.

Sebagai ibu-ibu yang pernah melahirkan, apalagi pernah terapi saraf kejepit karena salah posisi ketika menggendong anak dan pernah juga operasi hernia selang setahun melahirkan tentu ini jadi hal yang cukup traumatis ya untuk saya. Bukan hanya di tubuh aja tetapi juga di psikis. Kalau dulu saya melatih pelvic untuk jadi aktor, kali ini saya melatih pelvic dengan kesadaran sebagai seorang ibu yang harus punya tubuh prima untuk sekedar gendong anak, atau angkat galon ke dispenser. Makin hari makin percaya kalau kerja domestik ini tidak terlampau jauh dengan kerja-kerja kesenian yang dilakukan teman-teman di luar sana. Dan bahkan kerja domestik ini menjadi perangkat perfomatif yang jauh lebih holistik daripada praktik seni-senian yang saya lakukan dulunya. Atau saya yang terlalu naif untuk memisahkan diri saya sebagai pelaku seni dan ibu rumah tangga.

Penulis sebagai ibu, bersama anak (Foto: Dok. Penulis).

Di lokakarya terakhir yang diisi oleh Fitri setyaningsih yang membantu saya mengaktifkan keempat elemen alam dalam tubuh. Materi ini diibaratkan seperti kertas minyak yang membungkus nasi, lauk dan sayur di dalamnya. Di lokakarya ini saya benar-benar merasa semua yang ada di ingatan kepala, tubuh dan emosi saya terpanggil hampir seluruhnya. Dari keempat rangkaian, bagi saya ini yang paling menyentuh dan meditatif. Meskipun saya akui keempat lokakarya ini bagi saya juga meditatif. Bukan hanya sekedar gerakan yang diulang-ulang lalu saya menganggap ini meditatif, melainkan karena mendorong saya untuk tenang dan sadar dalam setiap gerak dan nafas yang saya lakukan.

Dari setiap elemen yang diaktifkan me-recall hampir semua memori saya sebelum dan ketika
menjadi ibu. Traumatis, dilematis dan meditatif. Saya merasa terbolak-balik kadang menemukan titik tenang, kadang berjumpa dengan titik terendah dan berusaha menghindar. Seperti keluar masuk di beberapa fase hidup saya. Di sesi sharing, saya menjelaskan kepada mbak Fitri, apa yang saya rasa, imajinasi apa saya yang muncul dan ingatan apa yang kembali. Ia pun membenarkan bahwa diri kita terdiri dari 80% diri kita yang kemarin, dan 20% diri kita yang hari ini. Sangat wajar apabila memori ingatan dan emosi terpanggil dan saling bertautan.6

Beberapa penemuan dan kesadaran yang muncul sebelum – saat – setelah lokakarya mungkin bisa kita kuatkan dengan pendapat Amelia Jones yang mangatakan bahwa ...body art makes the body—particularly the artist’s own body—the explicit site of artistic production, analysis, and meaning.7 Seni tubuh (body art) tidak hanya menggunakan tubuh sebagai media, tapi menjadikan tubuh itu sendiri sebagai lokasi produksi makna. Tubuh bukan cuma penyalur ide, tapi subjek utama yang aktif: mencipta, merasakan, menolak, dan membentuk identitas. Tubuh ibu rumah tangga; yang mencuci, menggendong, memasak, menenangkan, menyusui adalah tubuh performatif yang terus memproduksi makna. Ia bukan tubuh pasif. Ia menciptakan pengalaman, nilai, bahkan estetika dari kerja-kerja sehari-hari yang selama ini tidak dianggap seni.

Olah Tubuh dalam Agenda Latihan Pementasan Octagon Syndrom 2018 produksi Sakatoya di Pendopo Rumah Akanan, Kotagede bersama Pranayonu (Foto: Dok. Penulis).

Judith Butler, dalam Gender Trouble, yang menyatakan bahwa “tak ada identitas gender yang berada di balik ekspresi gender; identitas itu justru dibentuk secara performatif oleh ekspresi-ekspresi yang dianggap sebagai akibatnya”.8 Kutipan ini juga menyoroti bahwa identitas bukan sesuatu yang esensial atau tetap, melainkan dibentuk dan diciptakan terus-menerus melalui tindakan yang diulang.

Kenapa ibu rumah tangga erat kaitannya dengan pekerjaan domestik? Pertama karena kita di Indonesia sebuah masyarakat yang masih sangat kuat mewarisi pembagian peran berbasis gender. Perempuan, terutama setelah menikah dan melahirkan, secara sosial dan kultural diarahkan (dan seringkali ditekan) untuk mengambil alih tanggung jawab domestik: dari mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, hingga mengelola emosi anggota keluarga. Peran ini tidak muncul begitu saja, tapi lahir dari kontruksi budaya patriarkis yang menempatkan rumah sebagai “ranah kodrati” perempuan.

Performa Harian Antara Ibu dan Kegiatan Domestiknya: Meditasi di Bawah Jemuran. Upaya Perawatan dalam Gerakan Berulang (Foto: Dok. Penulis).

Kedua, negara sendiri, lewat regulasi dan narasi kebijakan, seringkali memperkuat posisi ibu rumah tangga sebagai pilar domestik. Misalnya, dalam UU Perkawinan (1974) disebutkan bahwa istri berkewajiban mengatur rumah tangga sebaik-baiknya—yang secara implisit memisahkan ruang domestik (perempuan) dan ruang publik (laki-laki). Maka tidak heran jika ibu rumah tangga hampir selalu diasosiasikan dengan kerja-kerja domestik, meskipun di realitasnya, banyak dari mereka juga bekerja, berkarya, dan berpikir jauh melampaui dapur dan ruang tidur.

Namun, kerja domestik bukan sekadar beban; ia adalah performa tubuh yang kompleks—yang bisa dibaca, dihayati, dan bahkan dicipta ulang. Di sinilah tubuh ibu rumah tangga bisa dibaca sebagai ruang artistik dan politis, bukan hanya alat produksi keluarga. Dengan kesadaran itu, saya mulai membayangkan dapur sebagai panggung, tubuh sebagai arsip, dan kerja domestik sebagai pertunjukan yang utuh. Ini bukan bentuk romantisasi, tetapi pembacaan ulang yang memosisikan kerja rumah tangga sebagai ruang pengolahan estetik dan epistemologis. Adrienne Rich menulis bahwa pengalaman menjadi ibu selalu terfragmentasi antara institusi dan pengalaman tubuh itu sendiri,9 dan di dalam fragmentasi itu saya justru menemukan kemungkinan metode kerja yang baru—sebuah pendekatan artistik yang tidak memisahkan hidup dari proses kreatif.

Giat Malam Bersama Ibu-ibu Dawis Strawberry – Lomba Menghias Tumpeng HUT RI ke 80 (Foto: Dok. Penulis).

Maka, ketika saya membongkar dikotomi antara peran seniman dan ibu rumah tangga, saya sebenarnya sedang membongkar asumsi bahwa identitas itu tunggal dan terberi. Tubuh saya bisa menjadi tempat negosiasi, bahkan kolaborasi peran—bukan karena saya memilih satu peran atas peran yang lain, tetapi karena tubuh saya memerankan banyak hal sekaligus. Dalam perspektif Butler, inilah wilayah performatif yang paling jujur dan penuh potensi: ketika tubuh tidak lagi dilihat sebagai hasil akhir, tapi sebagai proses yang terus terjadi.

Setiap hari saya mengandalkan satu tubuh untuk melakukan semuanya: kerja domestik dan kesenian secara bersamaan, tetapi hanya dengan sedikit menggeser kesadaran saya atas kerja domestik yang perfomatif dan meditatif ini paling tidak kerja domestik ini bukan lagi sekedar beban melainkan saya anggap seperti rangkaian pertunjukan kehidupan sehari-hari yang harus saya selesaikan satu persatu, tanpa terburu-buru.

Aktivitas Pagi Para Ibu – Transaksi Jual Beli Bawang di Pasar Legi Kotagede (Foto: Dok. Penulis)

Lokakarya ketubuhan Ruang Dalam Project sejauh yang saya tempuh tidak hanya membongkar tubuh domestik melainkan cara pandang dan kesadaran atas identitas dan pola kerja keseharian. Maka dari itu, saya tidak lagi bertanya apakah saya ini seniman atau bukan ketika saya tidak menyentuh naskah sama sekali. Garis tebal antara peran ibu rumah tangga dan pelaku seni yang selama ini bertentangan, kini menjadi samar – Blur. Dari versus menjadi lebur.


Catatan Kaki:

  1. Susan Leigh Foster, Choreographing Empathy: Kinesthesia in Performance (New York: Routledge, 2011).
  2. Raspovic et al., (2020), Mothers’ Experiences of the Relationship Between Body Image and Exercise, 0–5 Years Postpartum.
  3. Otnil Tasman, dlm. Lokakarya RDP, “Membongkar Tubuh: Menembus Batas Gerak dan Identitas”.
  4. Leu Wijee, dlm, Lokakarya RDP, “Ping Pong Principle: Membongkar Energi dan Sensibilitas Tubuh”.
  5. Agatha Irena, dlm, Lokakarya RDP, “The Deep Core: Membongkar Pelviks Menyalakan Taksu”.
  6. Fitri Setyaningsih, dlm, Lokakarya RDP, “Tubuh Kata: Membongka Kesadaran dan Kesemestaan Tubuh/Diri”.
  7. Amelia Jones, Body Art: Performing the Subject (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1998), 13.
  8. Judith Butler, Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity (New York: Routledge, 1990), 25.
  9. Adrienne Rich, Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution (New York: W. W. Norton & Company, 1976).