Search
Close this search box.

Mengenang Trubus Sudarsono, Mengenang September Hitam

Trubus Sudarsono adalah seniman korban genosida oleh negara (manuver Angkatan Darat di bawah Soeharto dan memanfaatkan ormas serta didukung CIA) terhadap kaum kiri dan komunis/dituduh komunis; pasca Gestapu (Gerakan 30 September) 1965 hingga 1966; padahal karya-karyanya pernah dielu-elukan negara.

Selepas penghujung September tahun 1965,…

Trubus Sudarsono tak pernah kembali ke rumah.

Ia menjadi satu dari sekian ribu seniman korban pembersihan kaum kiri yang berlangsung setelah pecahnya peristiwa Gestapu. Pada masanya, Trubus dikenal sebagai seorang pelukis dan pematung muda berbakat. Meski pendidikannya tak pernah lebih tinggi dari sekolah dasar, kelak di kemudian hari Trubus diangkat menjadi dosen Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta.

Selain berguru pada seniman senior Affandi, Sudjojono, dan Hendra Gunawan, ia belajar melukis secara otodidak. Di luar aktivitasnya sebagai seniman, Trubus juga merupakan anggota dewan dari Partai Komunis Indonesia. Kecakapannya dalam seni dan politik kiranya yang membuat Trubus menjadi salah satu seniman kesayangan Presiden Sukarno.

Suatu kali, Presiden Sukarno mengundang Trubus ke Bogor untuk membuat patung yang akan menghiasi salah satu sudut halaman Istana Kepresidenan. Trubus melaksanakan perintah itu dengan sebaik-baiknya. Ia menatah sebuah patung perempuan muda yang duduk bersimpuh di atas sebongkah batu dengan wajah yang menyiratkan keteguhan dan tatapan jauh ke depan. Seolah patung itu menjadi personifikasi dari Indonesia yang saat itu baru saja merdeka. Belakangan, Presiden Sukarno memberi nama patung buatan Trubus ini “Si Denok”, yang kemudian menjadi salah satu koleksi ikonik dari Istana Bogor hingga saat ini.

Ratna Sari Dewi dengan latar patung “Roro Jonggrang” karya Trubus Sudarsono di Istana Bogor. (Sumber foto: Co Rentmeester / LIFE Magazine)
Ratna Sari Dewi dengan latar patung “Roro Jonggrang” karya Trubus Sudarsono di Istana Bogor. (Foto: Co Rentmeester / LIFE Magazine)
Trubus saat mengerjakan patung Roro Jonggrang. (Foto: Arsip Hersri Setiawan)

Setahun setelah menyelesaikan Si Denok, Presiden Sukarno kembali menugaskan Trubus untuk membuat sejumlah patung lain di Istana Bogor. Kerap kali Bung Besar menyempatkan diri menengok proses pembuatan patung-patung Trubus secara langsung. Ia juga meresapi momen ketika Trubus menatah batuan-batuan gunung sambil menembang ura-ura. Sebuah momen yang mempertemukan material yang pejal dan keras dengan jiwa lembut seorang seniman Jawa.

Berkat proyek-proyek patung istana inilah Trubus bisa membangun sebuah rumah besar yang kelak dijadikan sanggar di kawasan Pakembinangun, Sleman. Latief S. Nugraha mencatat bahwa di sanggar inilah berkumpul para seniman-seniman muda sekaligus anak didiknya yang dengan giat bekerja, belajar melukis dan mematung. Bahkan mereka bersama-sama membaca dan berdiskusi mengenai masalah-masalah seni budaya, kehidupan masyarakat, hingga persoalan politik sesuai pandangan ideologis yang dianut Trubus. Karena pengaruhnya yang kuat inilah, belakangan Trubus disebut oleh militer sebagai “gembong komunis Yogyakarta”.

Patung Selamat Datang di Bundaran HI (Foto: Co Rentmeester / LIFE Magazine)

Pada tahun 1962, Trubus menyelesaikan Monumen Selamat Datang yang dirancang bersama pematung Edhi Sunarso berdasarkan sketsa yang dibuat Henk Ngantung. Monumen yang menjulang di tengah simpang depan Hotel Indonesia ini juga dikerjakan atas komisi Presiden Sukarno untuk menyambut para atlet dan tamu yang segera tiba untuk menghadiri pagelaran Asian Games IV.

Bisa dikatakan, Trubus adalah sosok seniman par excellence. Ia nyaris memiliki segalanya, baik kecakapan artistik, pergaulan yang luas, ketenaran, maupun akses politik. Namun, semua miliknya itu lenyap dalam semalam. Melalui penuturan dan memoar yang ditulis oleh dua anaknya, Sri Sudaryati dan Sri Sulistyantuti, diceritakan bahwa tidak lama setelah diburu tentara, Trubus dinyatakan hilang. Tanpa jejak, tanpa batu nisan.

Kepergian Trubus kemudian menyisakan masalah. Keluarganya dicap kiri. Istrinya, Samsiah, ditangkap aparat saat sedang hamil tua. Dar, salah satu anaknya yang saat itu berumur 15 tahun, terpaksa meninggalkan bangku sekolah dan juga keceriaan masa remaja untuk memenuhi kebutuhan hidup adik-adiknya. Ia beberapa kali bahkan harus mengendap-endap mencuri lukisan ayahnya di rumah sendiri yang disegel dan diawasi oleh Koramil.

Dalam sebuah artikel, Agus Dermawan T. mengingat bagaimana selama ia kuliah, nama Trubus menjadi persona non grata di lingkungan Kampus Akademi Seni Rupa Indonesia. Tidak ada yang ingin membicarakan sosok dan karya-karyanya. Fadjar Sidik, yang saat itu menjabat Kepala Jurusan Seni Lukis, menuding Trubus sebagai pelukis “lama” yang tidak menawarkan gagasan baru. Bagong Kussudiardja, pelukis dan penari tersohor, pernah mengatakan kepada Dermawan bahwa kala ia kesulitan memperoleh kanvas untuk melukis, kadang ia membongkar gudang lukisan di kampus ASRI, lalu menemukan beberapa lukisan Trubus untuk dilabur dengan cat sehingga dapat digunakan sebagai kanvas baru.

Dermawan, dalam artikel yang sama, juga menulis:

Menyatunya pendapat “Trubus kuno” dan “Lekra-phobia” semakin mengkristal ketika kekuasaan Orde Baru menguat. Buku-buku seni rupa yang ditulis pada zaman ini nyaris tidak pernah menyebut Trubus sebagai pelukis penting. Kusnadi, Baharrudin Marasutan, Sudarmaji, sampai Sanento Yuliman seperti alergi terhadap Trubus. Kritikus seperti Dan Suwaryono, Marakarma, Oesman Effendi, sampai Bambang Bujono juga sering melupakannya.

Trubus Sudarsono (Wates, Yogyakarta 23 April 1926 – (?) September 1966) (Foto: Dok. Keluarga Edhi Sunarso)
Buletin TAPOL No 83 / 1980 (Sumber)

Kisah Trubus di atas adalah kisah tentang kekerasan negara terhadap warganya. Bagaimana perbedaan pandangan politik menjadikan kebebasan berekspresi dan mencipta sebagai sebuah kegiatan berbahaya hingga patut diberangus. Ini seperti kisah yang terus berulang. Dalam setahun terakhir, jumlah tahanan politik meningkat seiring semakin banyak mahasiswa atau anak-anak muda yang diringkus ketika menyuarakan pesan kritis lewat aksi lapangan atau sekadar unggahan di media sosial.

Setiap September, selain mengenang Trubus, perlu juga kiranya kita mengingat kembali berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang pernah dilakukan negara terhadap warganya. Munir. Salim Kancil. Pendeta Yeremia Zanambani. Immawan La Randi. Muhammad Yusuf Kardawi. Nama-nama itu hanya sebagian kecil saja dari daftar yang tampaknya akan bertambah panjang begitu rezim kekuasaan melalui perangkat militer merangsek masuk ke ujung jalan desa melalui pembangunan koperasi; menerobos batas-batas tanah adat melalui pembukaan lahan perkebunan; atau bahkan menerjang gerbang sekolah melalui program makan siang gratis. Sementara negara terus merawat impunitas pelanggar hak asasi manusia, di saat yang sama negara terus melupakan para korban yang tetap tegak menanti tanggung jawab sejarah.

Pada situasi yang semakin gelap, seni, sebagaimana jurnalisme dan sastra, sepantasnya menjadi pelantang bagi ruang kritik yang perlahan-lahan dibisukan negara. Memperjuangkan seni untuk terus hidup dapat menjadi sebentuk laku perlawanan atas berbagai metode pelupaan sistematis, sebagaimana penghilangan yang menimpa Trubus dan berbagai kisah korban pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu yang sirna tanpa penanda.

Presiden Sukarno tampak sedang berpose dengan sejumlah seniman anggota Sanggar Pelukis Rakjat, Yogyakarta, yang dipimpin perupa Hendra Gunawan. Dalam foto tahun 1955 itu terlihat antara lain Hendra Gunawan, Affandi, A. Rachmad, Itji Tarmizi, dan Trubus Sudarsono (berdiri paling kiri). (Foto: Dok. Museum Affandi)

Tuti, salah seorang anak perempuan Trubus yang tak pernah lelah mencari keberadaan ayahnya, suatu hari mendapatkan jawaban singkat dari seorang petugas Kodim yang mengatakan dengan nada sengit penuh teka-teki bahwa: “Trubus sudah disukabumikan”. Tak pernah ada keterangan tambahan lain, bahkan hingga tahun ini ketika Trubus genap berusia seabad.

Meski begitu, Trubus cukup beruntung karena semangatnya masih dapat diziarahi melalui berbagai karya seni. Si Denok dan beberapa patung lain masih terjaga di halaman istana. Monumen yang ia rancang masih tegak berdiri di Bundaran HI. Buku memoar tentangnya masih bisa dibaca dan diterbitkan kembali. Singkatnya, sosok Trubus masih hidup dan menginspirasi. Apa yang terjadi pada Trubus ini seolah meneguhkan pandangan bahwa sepanjang zaman rezim kekuasaan tumbuh dan lalu runtuh, sementara karya seni mampu bertahan melampaui gerusan waktu.[]