Search
Close this search box.

Mengenal Seni Rupa Indonesia dan Thailand Melalui Ranah Perbatasan

Bagaimana bisa Indonesia dan Thailand, yang terbatas oleh bahasa dan jarak, nyatanya serupa dalam merespons praktik seni kontemporer?

Beberapa waktu saya habiskan di Thailand saat menjadi kurator tamu Pattani Biennale. Pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa Indonesia dan Thailand memiliki kesamaan sejarah seni dan praktik seni kontemporer. Sayangnya, hal ini jarang disorot dan dibicarakan. Melalui esai ini, saya mencoba membawanya dalam diskusi.

Pluralitas, Spiritualitas, Perlawanan

Thailand dan Indonesia masing-masing didominasi oleh penganut agama Buddha dan Islam, dengan berbagai kepercayaan lain sebagai minoritas. Dominasi tersebut memengaruhi cara mengaplikasikan karya seni sebagai wujud spiritual atau sebagai ruang kritik terhadap kesakralan ajaran agama. Thailand memiliki aspek spiritual yang kuat, tercermin pada ajaran-ajaran Buddha, dekorasi, serta ornamen dalam seni pahat dan seni lukis yang mengisyaratkan semacam pengembangan spiritual melalui pendekatan artistik (Pattanachoti, 2019). Salah satu karya yang menonjolkan konsep tersebut adalah karya Montien Boonma (1953-2000) yang mengandalkan artefak-artefak Buddha dan arsip sebagai bahan untuk berkarya. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, budaya Indonesia turut dipengaruhi oleh sistem kepercayaan animisme, Hindu, Buddha, serta mitologi lokal yang telah hadir di tengah masyarakat sebelum kedatangan Islam (Soekmono, 1973). Karya Heri Dono adalah salah satu contoh yang mengangkat konsep wayang dan tokoh-tokoh spiritual yang diwujudkan dalam bentuk patung kinetik untuk mengkritik kehidupan sosial masyarakat.

Selain itu, tidak banyak pula yang membicarakan keterkaitan aspek sosial dan politik antara Indonesia dan Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hubungan erat dengan sejarah Nusantara bersama Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Sementara itu, Thailand berdekatan dengan Laos, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar, yang memiliki sejarah yang erat melalui penyebaran agama Buddha yang kental dan juga perang perebutan wilayah antarkekaisaran (Lieberman, 2003). Akan tetapi, perbedaan yang sangat mencolok bukan berarti tidak ada celah kesamaan di suatu daerah atau negara. 

Patung Buddha di Wat Phra Ram, Ayutthaya, Thailand, 2022. (Foto: Dok. Penulis, Amirahvelda Priyono)

Meskipun sistem pemerintahan kedua negara berbeda—Indonesia dengan sistem republik, sedangkan Thailand dengan sistem monarki konstitusional—keduanya menunjukkan respons politik yang serupa terhadap dominasi militer dalam pemerintahan dan ekonomi. Dalam artikel “Patterns of Political Opposition in Southeast Asia,” Justus M. van der Kroef (1978) mencatat bahwa di Indonesia dan Thailand militer tidak hanya mengendalikan politik, tetapi juga menguasai bisnis. Kondisi ini memicu oposisi dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Kesamaan inilah yang mendorong para seniman senior untuk lebih terbuka dalam membicarakan konteks politik dan sosial dalam karya-karya mereka. Dari pengamatan ini, muncul perspektif baru tentang cara memahami seni kontemporer Asia Tenggara; perspektif yang tidak dibatasi oleh perbedaan bahasa.

Terlepas dari kesamaan tersebut, terdapat pula perbedaan dalam adopsi seni kontemporer di Indonesia dan Thailand. Peraturan lèse-majesté yang ketat dalam sistem monarki konstitusional menuntut masyarakat untuk tidak mengkritik raja di media apa pun, termasuk dalam seni rupa. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa Thailand tidak pernah dijajah. Adapun Indonesia memiliki keberagaman etnis dan budaya yang masih perlu ditelaah lebih lanjut, terutama mengingat historiografi seni rupanya hingga kini masih berpusat di Jawa dan Bali.

Indonesia dan Thailand adalah negara-negara plural dengan populasi pemeluk agama yang cukup dominan. Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dengan mayoritas penduduk Muslim yang tinggal di Pulau Jawa. Thailand didominasi oleh penduduk beragama Buddha dan berada di bawah monarki konstitusional. Kedua kaum mayoritas ini membentuk identitas masing-masing negaranya, tetapi pada saat yang bersamaan identitas itu mengaburkan pluralitas yang telah menjadi bagian dari Indonesia dan Thailand sejak awal. Merujuk pada pemikiran Mignolo (2006) tentang border thinking, kita patut mempertanyakan; bagaimana dominasi kaum mayoritas ini membentuk persepsi warga Indonesia atau Thailand yang berada di luar demografi tersebut? Dan apakah kehadiran mereka dirangkul sebagai bagian dari masyarakat yang utuh atau diperlakukan sebagai komoditas atau ancaman?

Masjid Yamiul Ibadah di Bangkok, Thailand (Foto: Dok. Penulis, Amirahvelda Priyono)

Berbagi Hening

Pattani Biennale adalah perhelatan seni rupa yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali di Pattani, sebuah kota kecil di selatan Thailand. Pameran ini hadir untuk pertama kalinya dengan tema ‘Simple Poetry’ yang diinisiasi oleh Anuwat Apimukmongkon, seorang seniman dan dosen sekaligus kurator yang berbasis di Pattani. Sebagai chief curator, Anuwat juga mengundang enam kurator tamu dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Jepang untuk berpartisipasi dalam pameran ini. Dalam memilih seniman untuk edisi Pattani Biennale, ada beberapa pertimbangan: bagaimana seniman memandang Pattani sebagai daerah dan sebagai simbol perlawanan? Bagaimana tema ‘Simple Poetry’ diterjemahkan secara visual di sebuah daerah yang mengalami gejolak politik, agama dan trauma yang sangat kompleks? Anuwat, sebagai chief curator, menyarankan saya, seorang kurator tamu, untuk mendekatinya melalui bingkai konseptual yang berbeda.

Dalam situasi ini, saya melihat puisi diwujudkan dalam sebuah kata, dan terkadang kata yang paling mudah diucapkan sebagai sebuah aksi adalah “diam”. Kita sering mendengar ungkapan ‘diam adalah emas’ atau ‘kalau tidak bisa berkata sesuatu dengan kalimat yang baik, lebih baik diam’. Inspirasi ini muncul dari hal yang nyeleneh. Berawal dari curhat dengan ChatGPT soal saran tentang hubungan romantis yang sempat mengecewakan, akal imitasi ini menjawab percakapan saya dengan mengucapkan ‘shared silence’ sebagai momen intim untuk saling mengenal tanpa harus dijabarkan melalui kata-kata. Diam bisa menjadi puisi yang menarik untuk disampaikan ketika kita berada dalam situasi yang tidak memerlukan penjelasan lebih rinci. Hal yang sama dapat dikatakan tentang bagaimana sebuah karya seni kerap membahasakan peristiwa atau momen intim melalui diam, alih-alih ucapan.

“Lotus Sound” karya Montien Boonma (1953–2000) di dib Bangkok, Thailand (Foto: Dok. Pribadi, Amirahvelda Priyono)

Membaca Perbatasan Sebagai Bentuk Pertahanan Melalui Biennale

Saya mengajak empat seniman dari Indonesia, Singapura, dan Myanmar untuk berdialog tentang konsep ‘Shared Silence.’ Konsep yang saya tawarkan dapat dituangkan secara visual dari perspektif mereka, berdasarkan pengalaman saya sebagai kurator, teks kuratorial, serta pengalaman pribadi mereka. Ketika mereka memutuskan untuk membuat karya baru, saya membebaskan mereka untuk berdialog dan bereksplorasi dengan elemen yang biasa mereka tekuni. Dua seniman Indonesia, Nisa R.A. dari Aceh dan Dwiki Nugroho Mukti dari Surabaya, menjawab dengan elemen yang berbeda-beda. Menggunakan kertas dan plastik yang diambil dari bahan daur ulang, Dwiki (atau biasa dipanggil Komeng) menyingkap bagaimana kedua material tersebut dapat bertindak sebagai saksi atas benda-benda yang tidak terpakai lagi. Mereka menyisakan narasi yang kemudian terekam dalam diam, terbagi dalam berbagai lapisan. Nisa, seniman perempuan dari Aceh, mengangkat tanah kelahirannya menjadi sebuah ajakan untuk duduk, minum kopi Gayo, mendengarkan harmonisasi dan destruksi secara bersamaan, serta merefleksikan seberapa jauh kita mengenal “diam” sebagai kegiatan mendengarkan, mengingat, dan memahami narasi tentang masyarakat Aceh yang dibentuk oleh perspektif militer dan ideologi yang masih dikenal hingga sekarang, terutama bagi seorang perempuan Aceh.

Dua seniman Asia Tenggara lainnya antara lain Akai Chew dari Singapura dan Yeyint Naing dari Myanmar yang menetap di Chiang Mai, Thailand. Chew membangun pengalaman berkeseniannya dari studi arsitektur, menggunakan bata putih sebagai tembok dengan delapan tingkat yang berjajar. Dia meletakkan mainan di dalam tembok tersebut sebagai representasi beban trauma, perbedaan budaya, dan perjalanan masa lalu yang dapat mencegah seseorang untuk tampil apa adanya. Akan tetapi, jarak dan ketegangan tersebut juga memberikan harapan untuk tetap terhubung dengan caranya sendiri, meskipun membutuhkan waktu lama. Adapun Naing mempertimbangkan bagaimana kaum diaspora hidup di lingkungan baru, yang dalam hal ini melibatkan kudeta militer yang tak kunjung usai, membuat mereka merindukan tanah kelahiran. Pada saat yang bersamaan, lingkungan baru itu membuat identitas mereka seakan terombang-ambing; di satu sisi, mereka berkeinginan mempertahankan memori kolektif yang telah membentuk identitas mereka sebagai bangsa, namun di sisi lain mereka juga memupuk harapan akan perubahan yang dapat mengarah pada masa depan yang lebih baik. Dikumpulkan dalam satu kota, “diam” mungkin tampak sebagai tema yang terlampau sederhana, tetapi melalui karya-karya ini para seniman mengungkap kompleksitas yang terkandung di dalamnya—yang terkadang sulit untuk dijabarkan.

Mengingat Pattani dan sekitarnya, banyak hal yang melekat dalam ingatan. Jauh dari ibu kota, namun tetap dikenal dan bertahan sebagai tempat berkesenian yang aman di tengah prahara. Berbeda dengan provinsi lain di Thailand, kawasan selatan ini biasa disebut sebagai ‘Deep South’. Selain Pattani, kawasan ini juga mencakup Yala dan Narathiwat. Ketiga provinsi ini didominasi oleh penganut agama Islam dan menggunakan bahasa Thailand serta bahasa Melayu. Kawasan ini berdekatan dengan Malaysia, sekaligus memiliki rekam jejak sejarah yang panjang sejak tahun 1948 ketika terjadi kerusuhan berdarah antara masyarakat setempat dan kepolisian Thailand (Haemindra, 1977). 

“I Think I Hid Myself From Her” karya Akai Chew (Singapura) untuk Pattani Biennale 2026 (Foto: Dok. Pattani Biennale 2026)

Sebelum terjun ke dunia seni, saya tertarik untuk mendalami konflik politik melalui artikel dan film. Judul filmnya adalah Latitude 6, film Thailand tahun 2015 yang disutradarai oleh Thanadol Nualsuth. Meskipun ini cerita fiksi, penggambaran situasi yang terjadi di Pattani pada saat itu memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi di kawasan Deep South. Rasa ingin tahu saya tentang Pattani dan sekitarnya akhirnya terjawab 10 tahun kemudian melalui seni rupa.

Pattani Biennale adalah pameran pertama yang saya kuratori dalam skala besar. Berkat relasi dengan seniman Anuwat Apimukmongkon pada pameran Layer by Layer tahun lalu, saya mendapat tawaran untuk menjadi kurator tamu di Pattani Biennale 2026. Pameran ini berlangsung dari 8 Agustus hingga 1 November 2026. Tanpa ragu, tawaran ini langsung saya terima dengan terbuka sejak Januari 2026. Mengangkat tema ‘Simple Poetry’, pameran ini mengajak para pengunjung, seniman, dan kurator untuk mengeksplorasi hal-hal sederhana yang mudah ditemukan di sekitar kita. Dengan persiapan yang cukup alot dan medan lokasi yang belum pernah ditemui sebelumnya, pengalaman ini menjadi tantangan yang seru. Selain Pattani Biennale, sudah ada gelaran pameran seni bernama Kenduri Seni Nusantara yang diadakan oleh Patani Art Space yang diresmikan sejak tahun 2018. Galeri ini didirikan oleh Jehabdulloh Jehsorhoh pada tahun 2012 sebagai pencetus pertama dalam perkembangan seni kontemporer di kawasan Deep South. Saat ini, mereka sudah mengadakan pameran pada edisi kedelapan dengan tema “Roso” yang juga tersebar di beberapa sudut kawasan Pattani.

“Humming Presence” karya Nisa R.A. (Indonesia) pada Pattani Biennale 2026 (Foto: Dok. Pattani Biennale 2026)

Pattani bukan sekadar tempat di dekat perbatasan, tetapi juga tempat identitas kerap dipertahankan di tengah prahara. Ketika menjajaki perbatasan Malaysia-Thailand, saya merasakan suasana yang berubah. Kawasan imigrasi ini cukup berjarak dari kota besar, sehingga mereka mempertimbangkan keselamatan dan aksesibilitas bagi masyarakat. Selain itu, ketiga kawasan ini sangat ketat dalam mengatur data pribadi pada perangkat komunikasi, termasuk data internet dari luar negeri. Ketika sampai di kawasan ‘Deep South’, aturan komunikasi yang ketat ini membatasi jaringan komunikasi luar negeri, sehingga data roaming yang sudah saya siapkan untuk tujuh hari ke depan tidak bisa digunakan sama sekali, dan harus menggunakan kartu SIM fisik agar dapat berkomunikasi secara normal. Pembatasan ini mencerminkan otoritas negara yang bekerja secara masif di daerah-daerah tertentu.

Melampaui (Per)Batasan

Kesamaan antara Indonesia dan Thailand dapat mengerucut pada ranah seni rupa kontemporer, sehingga dapat memperluas perspektif tentang bagaimana para seniman dan kurator membuka ruang kritik di kalangan masyarakat. Dua negara ini, yang responsif terhadap isu sosial, budaya, dan politik, serta dominan secara spiritual, juga memiliki sejarah yang lekat dengan keberagaman ras dan budaya, sehingga dapat menjadi perspektif baru. Meskipun terkendala bahasa, ada peluang untuk membuka diskursus tentang perkembangan seni rupa kedua negara untuk membuka ruang refleksi dan kritik dalam melihat isu secara lebih intens. Ada beberapa perbedaan antara Indonesia dan Thailand, seperti latar belakang kolonialisme dan aturan sensor yang mengekang kebebasan berpendapat secara visual. Keberadaan perbedaan tersebut juga mencerminkan identitas yang tidak terpisahkan sebagai bangsa dan negara.

Membahas politik melalui seni rupa berujung pada keberpihakan. Ada tantangan yang menuntut semua insan seni untuk menentukan pilihan tentang siapa yang mereka dukung dan apa yang ingin mereka bahas terkait isu-isu tertentu. Tentu saja, hal ini tidak akan lepas dari perhatian otoritas yang merasa terancam. Apa pun sistem pemerintahannya, masyarakatlah yang dapat menentukan cara mereka bereaksi dan bersikap ketika situasi di lingkungan mereka terancam. Apakah mereka berdiam diri sama sekali, bertindak dalam diam, atau bersuara dengan caranya sendiri? Bagi saya, Pattani adalah salah satu kota yang dapat menunjukkan sisi lainnya melalui seni rupa terlepas dari propaganda politik dan agama yang berjalan cukup kencang selama bertahun-tahun. Diwadahi oleh perhelatan seni dan dibekali oleh keterampilan, para seniman dari kawasan Deep South menampilkan perspektif visual mereka yang segar di Thailand, Asia Tenggara, hingga kancah internasional. Demikianlah perbatasan tidak lagi menjadi persoalan.[]

 

Referensi

Haemindra, N. (1977). The problem of the Thai-Muslims in the four southern provinces of Thailand (part two). Journal of Southeast Asian Studies, 8(1), 85–105.

Lieberman, V. (2003). Strange parallels: Southeast Asia in global context, c. 800–1830: Vol. 1. Integration on the mainland. Cambridge University Press.

Mignolo, W. D., & Tlostanova, M. V. (2006). Theorizing from the borders: Shifting to geo- and body-politics of knowledge. European Journal of Social Theory, 9(2), 205–221. https://doi.org/10.1177/1368431006063333

Pattanachoti, O. (2019). The development of Thai contemporary art and its influences: Overlay memories, overlay imaging and individual spiritual identity. International Journal of Art and Design, 1(1), 1–15. https://ir.uitm.edu.my/id/eprint/29535

Soekmono, R. (1973). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia [Jil. 1/2]. Kanisius.

van der Kroef, J. M. (1978). Patterns of political opposition in Southeast Asia. Pacific Affairs, 51(4). https://doi.org/10.2307/2757240]