Search
Close this search box.

Hantu Pembangunan dan Migrasi Kesunyian: Catatan atas Terawang Ambang

Diselenggarakan oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiarja dalam program Dialog Lensa, pertunjukan multimedia yang bertajuk Terawang Ambang ini menyajikan hasil pembacaan ulang foto-foto Kurniadi Widodo dengan menghadirkan Ari Ersandi sebagai penari, Hengga Tiyasa sebagai komposer, Aditya Kresna sebagai penyunting video dan Arif Furqan sebagai kurator foto. Melalui indera-indera mereka, foto-foto Kurniadi Widodo menemukan ruang interpretasi barunya, yaitu pembangunan dan ruang ambang dalam prosesnya. Sampai mana pertunjukan-foto mengungkap pembangunan kita?

Pembangunan bekerja di jagat bawah sadar manusia Indonesia sebagai trauma yang manis. Konon, saat Orde Baru (Orba), Indonesia mengalami pembangunan yang aneh, kontraproduktif, yaitu pembangunan yang menghancurkan. Hak Asasi Manusia babak belur. Infrastruktur pengetahuan bonyok. Infrastruktur fisik (fasilitas umum dan semacamnya) tidak seberapa dibandingkan yang dicolong. Pembangunan kemudian menjadi semacam kata keramat yang mengusik mental. Namun, ada yang selalu jatuh untuknya, atas manis janjinya, dan mempercayai pembangunan datang seperti seorang Juru Selamat, menebarkan keadilan dan kemakmuran untuk segalanya, dan trauma akan terulang lagi, dan ia pergi.

Biarpun arsip foto Kurniadi Widodo lahir setelah Orba tumbang, yaitu 2009- 2023, tetapi penarasian-ulang Arif Furqan (kurator foto) tentang pembangunan dan situasi antara dalam proses peristiwanya mau tidak mau membawa saya jauh pada residu-residu Orba yang melayang semasa saya kecil. Saya menyebutnya residu, karena saya tidak terlahir saat Orba masih berkuasa, tetapi ketika ia gentayangan sebagai horor. Seperti ancaman ibu tentang setan yang akan datang kalau saya tidak segera pulang sesaat magrib datang. Atau kedatangan hantu ketika ayam berkokok dini hari. Ketika anjing menggonggong malam-malam. Ketika bayi-bayi menangis. Bangunan imajinasi saya melawat ke masa lalu, trauma kisah horor itu, sesaat kata pembangunan muncul di catatan kuratorial yang saya baca sebelum pertunjukan berlangsung. Seperti nongol Soeharto atau utusannya yang ngemeng kalimat-kalimat kalem-menggetarkên-bulu-kuduk dari belakang kuping saya:

Menurut Petunjuk Bapak Presiden, jangan sekali-kali Nak Daril membangunkên daripada Taman Mini. Siapa suruh bicara begitu? Hmm? Hmm? Alangkah lebih baik kalau Nak Daril senantiasa menggalakkên daripada semangat kita SKJ, agar seni kontemporer bukan saja semangkin gempa dan dinamis, tetapi juga turut mensukseskên daripada pembangunan nasyonal. Hehehehehehe.

Mungkin hanya ketakutan bawah sadar, mungkin kesadaran isu yang melebar, tetapi Orba memang sering membuat jantung berdebar-debar lebih cepat. Bukan cinta, ini ngeri. Pembangunan menjadi semacam hantu atau benar-benar hantu.

Pada 1993, mengutip Seta, Jacques Derrida memperkenalkan istilah hauntologi dalam karyanya, The Specters of Marx, dengan mengacu pada ungkapan Karl Marx yang sangat populer: “Ada hantu berkeliaran di Eropa; hantu komunisme.” Derrida hendak menegaskan bahwa kehancuran komunisme di Eropa, khususnya Uni Soviet, tidak berarti kehancuran warisan marxisme, sebab justru memunculkan sebuah bentuk dekonstruksi marxisme secara radikal.[1]Terjadi dengan kata komunisme di negara ini setiap bulan September, begitulah juga yang kemungkinan terjadi pada kata pembangunan dan menjelaskan dari mana asal rasa ndredeg saya berasal. Residu-residu Orba yang menyebar dan menghantui Indonesia membentuk Orba yang Lain, hasil dekonstruksi, atau malah tersebar merata di segala lini kehidupan (mengingat ideologi Soehartoisme ngendon selamanya di benak setiap orang yang sadar pada masa Orba).

Kondisi pembangunan ini kemudian dibaca ulang dari segi tabiat dasarnya yang banyak direkam oleh Kurniadi Widodo, yaitu peralihan, “menuju ‘proses’ pembangunan atau menuju ‘jejak’ keruntuhan”. Tabiat dasar, karena begitulah pembangunan, ia sangat bergantung pada siapa pihak atau otoritas yang mengoperasikan pembangunan. Seringkali pembangunan justru mendestruksi subjek dan jejak-jejak yang tersisa ditinggal begitu saja. Kita biasa menyebut puing-puing atau jejak-jejak itu proyek mangkrak, atau, di skala yang kecil, buang sampah sembarangan. Dan Kurniadi Widodo banyak merekam momen antara itu (dan kecenderungan pembangunan di dalamnya) yang ditubuhkan ke media seni  di luar fotografi dalam kesempatan ini.

Diselenggarakan oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiarja dalam program Dialog Lensa, pertunjukan multimedia yang bertajuk Terawang Ambang ini menyajikan hasil pembacaan ulang foto-foto Kurniadi Widodo dengan menghadirkan Ari Ersandi sebagai penari, Hengga Tiyasa sebagai komposer, Aditya Kresna sebagai penyunting video dan Arif Furqan sebagai kurator foto. Melalui indera-indera mereka, foto-foto Kurniadi Widodo menemukan ruang interpretasi barunya, yaitu pembangunan dan ruang ambang dalam prosesnya.

Maka muncul pertanyaan: Mungkinkah menebas ketebalan jarak kesunyian dalam atau antara fotografi dan pertunjukan? Bagaimana menubuhkan fotografi (dan ditambah lagi horizon diam yang seolah telah menjadi metode Kurniadi Widodo) ke dalam ketebalan dimensi media, seperti gerak, bunyi, dan cahaya? Mungkinkah foto-foto Kurniadi Widodo ditampilkan dalam pertunjukan tanpa menjadi sebatas permainan salindia atau jerangkong pertunjukan, melainkan menubuh dalam anatomi pertunjukan yang bergerak lincah, atletis dan kekar? Lebih lanjut, bagaimana juga pertunjukan ini bertanggung jawab terhadap narasi peralihan yang dibawakan melalui teks-teksnya?

Dialog Lensa. Foto: Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK.

Migrasi Kesunyian

Sebelum pertunjukan dimulai, kita bisa memandang potret awan dari ketinggian ditampilkan melalui proyeksi besar di belakang-tengah panggung. Foto yang nyaman dipandang sangat lama. Lalu, ketika pertunjukan dimulai, foto awan berganti menjadi foto-foto yang lain. Infinity pool yang berbatasan langsung dengan laut. Bola karet di laut. Pagar pembatas bandara. Tanah yang bekas dikeruk. Susunan batako di tengah hutan. Pembelahan bukit untuk jalan raya. Aspal-aspal jalan. Tangga di hutan. Truk di bawah pohon. Tikar di atas pantai. Rafia yang terlilit di tiang. Dan jejak-jejak pembangunan yang lain. Dan terasa sunyi, beku sekali, foto-foto itu. Pembangunan ditampilkan melalui horizon-horizon sunyi yang bermigrasi ke bangku-bangku penonton. Dalam proses ini, foto-foto juga ditampilkan melalui dua layar di kanan dan kiri panggung. Dan begitu saja hingga akhir pertunjukan, foto berganti-ganti, terus menerus, dan sekali saja diam lama pada foto ruangan berwarna putih.

Foto-foto tersebut, biar banyak dan membutuhkan kemampuan multifokus yang sangat baik (ada tiga posisi tampilan foto!), dari pembacaan saya, sedang membentuk atmosfer kesunyian dan peralihan-peralihan dalam pembangunan, yang tanpa kita fokuskan satu per satu pun tetap mampu memberi jalan bagi migrasi subteks yang diproduksi selama pertunjukan berlangsung. Sebab, pengulangan foto menimbulkan sebuah pola yang dapat kita tangkap, dan dapat berposisi sebagai media regeneratif atau silang-isi terhadap media lain yang terjadi dalam pertunjukan. Kesunyian dan atmosfer peralihan terus mengisi di sela-sela yang paling tipis atau paling tebal dengan penayangan yang berulang itu. Apa yang membuatnya terhindar dari posisi sebagai slide show? Bunyi dan gerak yang mengisi kesunyian.

Dialog Lensa. Foto: Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK.

Posisi itu menguntungkan bagi Ari Ersandi yang menubuhkan peralihan dalam tarinya melalui tindakan-tindakan yang repetitif. Gerakan Ari keras dan cepat, tubuhnya melayang-lintas satu titik ke titik yang lain dengan perpindahan yang obskur. Ia seperti alur pembangunan, yang seringkali menyisakan kenangan-kenangan buruk tentang dirinya sendiri, sebuah peralihan yang menyakitkan dan berakhir sebagai kesunyian yang terisi dari foto-foto Kurniadi Widodo. Musik mengucapkan semacam lonceng-lonceng dan angin, yang menciptakan hening dan mempertebal obskuritas yang memendam sebagai dendam dan rindu yang diam atas pembangunan dalam arti yang positif (maksudnya, benar-benar positif).

Keterkejutan diciptakan pada babak terakhir pertunjukan ini, yaitu dengan memunculkan semacam tokoh rafia ke atas panggung tepat setelah foto rafia yang dirajut ke tiang besi ditampilkan. Rafia tampil sebagai sesosok manusia dan bergerak dengan pola-pola yang juga antropomorfik.

Pertanyaannya: Apakah mungkin jika rafia diposisikan sebagai rafia hasil dari pembangunan manusia? Dengan kata lain, digerakkan seperti rafia saja. Mungkinkah? Jika ya, sungguh, pertunjukan ini akan menjadi jauh lebih menarik. Tidak hanya realitas rafia yang diangkat, tetapi juga batako-batako, atau bahkan kalau bisa plastik-plastik kresek, yang dimimesiskan sebagai gerak dan bunyi.

Performativitas Fotografi

Perpindahan tubuh yang cepat, jeda-jeda dan kebekuan dari foto, bunyi musik yang teratur menciptakan peredaran kuasa antar media berjalan lancar merupakan pernyataan artistik yang tegas mengenai kesalingisian. Terawang Ambang menciptakan jalan baru menuju penebasan jarak kesunyian dalam atau antara fotografi dan pertunjukan, memberikan masa depan yang lain bagi pertunjukan multimedia, khususnya dalam faset pencairan fotografi, yaitu dengan menciptakan ruang kontestatif-regeneratif yang membiarkan media menjalankan fungsi kesalingisian satu sama lain. Fotografi dipertemukan dengan situs performatifnya yang dengan begitu memungkinkan pencairan atas kebekuan fotografi (atau bahkan seni visual pada umumnya?) yang selama ini menjadi kendala pengejawantahan ke dalam pertunjukan.

Dialog Lensa. Foto: Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK.

Mungkin ini juga yang terjadi dalam proses pembangunan, bahwa kontestasi ruang antara yang-membangun dan subjek-pembangunan saling bertumbukan. Negosiasi antar keduanya merupakan kesalingisian yang mengarahkan pembangunan menjadi lebih bertanggung jawab dan berpihak pada kebaikan yang multifaset di level yang beragam. Berbeda jika pembangunan tidak memberi ruang bagi kontestasi yang sehat, tanpa negosiasi, tanpa dialog, langsung hajar. Mungkinkah pertunjukan ini tengah berbicara tentang ketakutan (atau ketidaktakutan) terselubung kita terhadap pembangunan, dan dengan begitu juga merevitalisasi kenangan kita yang dihilangkan oleh Orba?

Namun, yang pasti, Terawang Ambang membagikan kepada kita potret pembangunan di saat tidak adanya pembangunan, ketika peralihan antara saat-belum-terbangun dan saat-telah-terbangun, suatu waktu antara, suatu situasi ambang. Yang sangat akrab dengan kita, di mana pembangunan tidak pernah selesai, selalu ada yang tertinggal, selalu dalam masa beralih. Entah karena korupsi atau kejahatan semacamnya, kita hanya menikmati pembangunan yang separuh, dan hanya jadi isu dan kabarnya saja. Pembangunan yang hantu.


[1] Lihat Martinus Ariya Seta, “Hauntologi Komunisme”, indoprogress.com, 30 November 2023.